Op. Tonggi “KALE” Sihombing

Op. Tonggi “KALE” Sihombing: Kesetiaan 54 Tahun Berdagang Lemang

Ditulis oleh :  Hardi Purba

”Sian Tuhan i do jaloonhu pasu-pasu. Anggo angka ulaonhi holan parhitean do i. Na penting taulahon dohot sintong dan tekun

kale1Benarlah kata orang bijak, ”apabila kita melakukan satu aktivitas atau kegiatan rutin yang kita senangi, maka kita akan terus berupaya melakukannya sampai kita benar-benar sudah tidak mampu lagi”.

Prinsip ini pula rupanya yang dipegang teguh oleh partiga-tiga lomang (pedagang lemang) yang sangat terkenal dari Kecamatan Pakkat, Op. Tonggi Sihombing. Betapa tidak, profesi berdagang lemang yang dibuatnya sendiri sudah dilakoni selama 54 (limapuluh empat) tahun.

”dang sonang roha molo dang martiga-tiga ahu”, ungkapnya ketika ditemui penulis di rumahnya yang asri di Temba, Desa Purba Bersatu, Kecamatan Pakkat pertengahan bulan lalu.

Lebih dari setengah abad, Oppung 31 cucu ini memasarkan sendiri lemang buatannya sampai ke Siborongborong, Doloksanggul, Lintong ni Huta, Onanganjang dan daerah lainnya, manjadikan nama dan lemang buatannya tidak asing lagi di hampir semua wilayah di Kabupaten Humbang Hasundutan. Pembawaannya yang ramah dan humoris, menjadikan siapa pun yang berbincang dengannya selalu penuh tawa. Mungkin, gelar “siKale” lebih dikenal orang daripada nama aslinya, marganya, atau bahkan  nama kampungnya Temba.

kale3Nama aslinya adalah Undangan Sihombing, namun kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan si Kale, yang biasanya memasarkan dagangannya ketika ari onan (hari pekan).  Misalnya setiap Hari Sabtu di pasar Onanganjang, Hari Jumat di Doloksanggul, Hari Selasa di Siborongborong dan seterusnya. Beberapa  sumber mengatakan kalau beliau di anugrahi gelar “Kale” karena beliau selalu menawarkan lemang daganganya terlebih dahulu dengan menyebut “kale” pada si pembeli.  Kata “kale” ini sendiri bermakna, “kawam, teman, sahabat”. Ya, Op. Tonggi selalu memanggil pembelinya dengan sebutan “kale, ssahabat”.

Op. Tonggi rata-rata mengolah 2 kaleng pulut seklai pekan. Sekitar satu kaleng diolahnya menjadi lomang bulu, sisanya lemang ketupat.

”Alai sipata olo do 4 kaleng. Bagi rata, lomang bulu dohot hatupet”, Op. Tonggi menjelaskan dengan wajah serius, ketika ditanyakan berapa banyak lemang yang dibuatnya sekali memasarkan.

kale6Di usianya yang memasuki 79 tahun, Op. Tonggi dengan sangat bersemangat menceritakan pengalaman hidupnya khususnya selama menggeluti usaha ini. Ketika ditanya, pengalaman yang paling sulit selama menjual lemang buatannya tersebut, Op. Tonggi dengan santai menjawab ”Totop do las rohangku. Laku atau tidak laku saya tetap mensyukurinya”, sambil menambahkan bahwa biasanya lemang dagangannya yang tidak laku dibagi-bagikannya kepada orang di sekitar are tempatnya berjualan.

Barangkali pengalaman dan sikap hidup dan prinsip berdagang Op. Tonggi perlu diteladani di tengah-tengah banyaknya keserakahan dan menghalalkan segala cara demi sukses sekejap.

”Sian Tuhan i do jaloonhu pasu-pasu. Anggo angka ulaonhi holan parhitean do i. Na penting taulahon dohot sintong dan tekun”, pesan Op. Tonggi mengakhiri pembicaraan.

“Si Kale” merupakan salah satu legenda hidup yang dimiliki masyarakat Pakkat. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kegigihan, ketekunan, dan semangat hidup dalam menjalani kehidupan ini.

(beritapapatar.com/hp).