Publikasi : Tommy Sihotang
Istilah ini mungkin adalah istilah yang paling populer belakangan ini. Semua orang mengatakan global warming, dari anak sekolahan sampai kakek nenek renta, para ahli dan pengamat atau yang mengatakan dirinya pengamat atau ahli. Politikus sibuk meramu issue ini agar menjadi komoditas politik untuk mendongkrak popularitas.
Negara-negara maju dan kaya tampaknya sangat peduli dengan issue ini. Mereka mengkampanyekan ke seluruh dunia agar melakukan upaya-upaya nyata sehingga dampak yang lebih buruk tidak terjadi kepada bumi ini. Mereka melakukan penetrasi kepada negara-negara yang masih mempunyai hutan agar menjaga kelestarian hutan, sehingga diharapkan dapat memperlambat bencana akibat pemanasan global ini.
Apa yang dilakukan oleh negara-negara maju ini, menurut saya sangatlah ironis. Mereka mempengaruhi dunia agar upaya serius dilakukan dalam penyelamatan lingkungan, tetapi tahukah anda? Bahwa Amerika dan Eropa, serta China (belakangan ini), adalah penyumbang emisi karbon terbesar di bumi ini. Mereka adalah pengkonsumsi BBM paling banyak, hasil dari pemakaian BBM ini menghasilkan emisi berbahaya. Peningkatan pemakaian BBM pada negara-negara tersebut meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Hasilnya, emisi karbon pun meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, mengganggu keseimbangan atmosfer bumi (ozon).
Mari kita lihat gambar di atas, arsir merah adalah negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia ini, berturut-turut menjadi merah pucat, dst.
Sumber gambar EIA, wikipedia
Setujukah anda bahwa setiap individu manusia di dunia ini pada hakekatnya memiliki hak yang sama persis? Kalau anda menjawab ya, maka anda akan tahu bahwa masyarakat Indonesia bukanlah penyumbang gas emisi terbesar seperti yang selama ini diteriakkan oleh negara-negara lain termasuk yang diteriakkan oleh Guiness Book of The Record ketika bercerita tentang penggundulan hutan dan issue lingkungan lain yang mendiskreditkan Indonesia. Bahkan kalau dilihat dari skala dunia, Rakyat Indonesia masih bisa bangga bahwa secara individu Manusia Indonesia BUKAN penyumbang karbon emisi. Masyarakat Australia yang konsen dengan lingkungan inilah yang seharusnya malu karena menyumbang emisi terbesar di kawasan Asia Pasifik (lihat gambar di atas).
Tetapi soal penggundulan hutan jangan dilupakan begitu saja ya. Ada hubungannya dengan emisi juga. Harus diketahui juga bahwa kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-1998, diestimasikan sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau terbakar, kerugiannyapun mencapai 3 milyar dollar Amerika. Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon ke atmosfer (itu kira-kira setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya) yang berarti tetap berkontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Walaupun kalau dilihat perkapita pada tahun itu tidak juga menimbulkan gejolak pada grafis EIA.Yang perlu diketahui juga adalah Indonesia masih jauuuh dan kecil dalam penyumbang karbon karena pemanfaatan energi fosil. (EIA, wikipedia)
Dampaknya sangat dirasakan di negara-negara tersebut, terjadi perubahan iklim yang serius sehingga mengganggu pertanian, akibatnya kekhawatiran akan kekurangan bahan pangan sangat menghantui. Iklim dan cuaca sulit diprdiksi karena ketidakseimbangan ini, padahal ketidakseimbangan ini sebahagian besar adalah sumbangan dari negara-negara tersebut. Mereka akhirnya mendesak semua negara agar memulai perilaku ramah lingkungan.
Indonesia masih diperhitungkan luas hutannya dan diakui sebagai paru-paru dunia sama seperti hutan Amazone di Amerika Selatan dan sebagian di daratan Afrika. Mereka bahkan mulai mulai mencampuri kebijakan hutan dan lingkungan negara yang masih tergolong ‘hijau’ dan ‘aman’ itu agar menjaga hutan dan lingkungannya bahkan terkesan sangat mendikte. Lihat saja mereka akan memberikan ‘uang’ apabila mengikuti kebijakan hutan ala mereka, sementara mereka terus meludahi langit. Kita terus disuruh menjaga paru-parunya sementara mereka terus merokok! Ketakutan mereka sangatlah berasalan, karena dampaknya sangat mereka rasakan. Sementara di daerah dengan hutan yang masih relatif luas, masih dapat menetrasilir dampak global itu. Memang debit air laut naik (beberapa penelitian yang dipublikasikan) akibat dari percepatan es mencair di kutub. Semua daratan mempunyai resiko yang sama untuk terendam sedikit demi sedikit. Lalu bagaimana dengan perubahan suhu dan cuaca? Daerah tropis masih relatif aman, sedangkan di daerah sub tropis suhu bisa sangat ekstrim sehingga mengganggu pola kebiasaan manusia termasuk pertanian sehingga berdampak pada alam, kesehatan manusia serta produksi pangan yang menurun.
Kesadaran negara-negara Eropa dan Amerika yang diperlihatkan kepada dunia adalah lebih karena ketakutan mereka sendiri dimana dampaknya sangat mereka rasakan. Illustrasinya, jika di sana tidak sadar dan cinta terhadap lingkungannya, maka bencana akan lebih mereka rasakan 10 kali lebih cepat daripada di Indonesia walaupun tidak berbuat apa-apa terhadap pelestarian lingkungan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita (baca: Indonesia) tidak perlu menjaga kelestarian lingkungan dan alamnya, hanya mau menggambarkan betapa Amerika dan Eropa, China dan Australia di Asia Pasific adalah para penjahat lingkungan. Belum lagi bahwa negara-negara di dunia ketiga yang tergolong miskin adalah tempat pembuangan sampah dan limbah dari negara-negara maju. Lalu apa bedanya? Masihkah mereka meyebut dirinya pahlawan? Iya mereka adalah pahlawan, pahlawan bertopeng alias si Bopeng yang sok pahlawan (karena mereka telah membopengi alam ini dengan sangat serius).
Kenthie
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Menarik!!
Kenyataan yang lain adalah meningkatnya jumlah pengungsi akibat Global warming.
Beberapa pulau di samudra pasifik sudah mulai terendam air. Tanah Bangladesh yang rendah makin sering terendam. Gurun sahara yang semakin meluas, dst..dst..dst…
Negara negara maju mengira dirinya Pahlawan ,negara berkembang ingin seperti negara maju. Planet ini yang membayar, yang ada kita hidup di planet ini dan nggak ada planet lain!!
Tidak ada yang lebih tolol dari spesies bernama MANUSIA!!!
[Balas...]
Sekarang Amerika memaksa Indonesia untuk mananam tanaman algae, capekkkk deh…..
swy
[Balas...]
Bah !, occe jo. Ai masa dope sipaksa-paksa ?
Attong molo songon i do KANI, hita pe tapaksa ma nasida manuan “LATONG”, asa RINDOR diahap akka sibottor mata i. hehehe,….sude do mata ni jolma adong nabottarna akke kale-kale ?
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Ale paksa mantap do dibaen amerika bang. Molo dihitaan takko raja ma goarni on. Adong do sekian triliun disediahon Amerika dana tu Indonesia, ise naolo manuan tanaman algae, disediahon halaki hepengme. Memang takko raja do dabah. Tanaman algae on, bahasa pasaranna lumut do. Jala boi do disuan on di daratan. Dang holan di laut. Jepang memenuhi kebutuhan minyak nasida 70 persen sian hasil pengolahan algae gabe minyak.
Neng Takko Raja nimmmu dah….. Hebat ne rai.
Swy
[Balas...]
Hehehe,… berarti DIPAKSA asa tunadenggan do nimmuma.
Berarti boi do i bage sada masukan tu Bidang Ekonomi di FIP.
Hehehe,…didia do hita mangan siang on, kale-kale ?
Boi do ro apparatta Hendry (hh) ? Tommy, Bidicoff, d.n.a, paboa tu ibana boh, arahon nasidah bah, annon sotung dilagai hita kale-kale.
Boha do anggia Hendry, dohot do ho kale-kale? Unang sai holan hambing i di urus ho,
Ennggg.. dah, tok naburju do nian ho anggia bah, ai ittor kebutuhan ni saluhutna do sai na parjolo di urusho. hehehe…..
Molo malua annon hambing i, taganti museng dohot kelinci. Ai Kelinci i pe, tong do songon hambing i, tong do opat patna, holan tandukna do na so adong.
I do akke Katua ? boha inna roham appara Tommy, parbedaanna na asing : Hambing mabiar tu udan, kelinci mangakkat-akkat. hehehe…….
Kade brita ni laenta P.Manalu, di dike mo lae ?
Apparatta si Coleby ? nga boha kale-kale, na sai sibuk do ho manakkup labi-labi ? hehehe,… namargait do ahu dah, anaha.
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Molo lam tumohopnan haduan portibi na mangilas on, KUNTAR ma di ahap jolma manisia on.
Adongdo bahasa langka ni Pakkat tahe kuntar?
Molo muruk Amerka ala sai ta tabai/ta pasuda sude hau i, termasuk hau ni dolokpinapan,,,Kuntar di ahap ho he???? ningon mangalusi.
[Balas...]
Molo appara tokke Lateung lagi sibuk dope bang. Sai lalap do di sms au taringot tu akka nahombar tu Raker on. Sega ninnga masin di perusahaan nasida, jala holan ibana do naboi padenggathon i. Ikkon sae do ninna sadarion, molo dang, digedaphian do ninna ibana ha hahah.
Boan ma tu baru saruppaet nikku tahe.
(Mungkin ibana do ra namanegai masin i, asa adong karejona ha hahah)
Mauliate abang bah, songon nasomal dang boi au siang on bah hehhehe
nakkinong mar sms do uda Coleby, dipangido alamat tempat ni Raker i. Naeng ro do ninna uda i. dang kodoa sempat uda i manilik pakkatnews.
Horas,
swy
[Balas...]
Na hurang miak do ra masin na i, miak tano i di sampur dohot miak makkan i. Heheheheh.
[Balas...]
Molo na sega do masin na i, tu si PITENG / tu Lobu ma diboan, ai anak ni si Piteng i pe, tong do na jago i, sagaru SITUMMALAS boi di pauli, hehehehe….
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Halak Amerika on pe tahe luar biasa tamakna.
Hape halaki do nomor sada panegai planet on. Baru baru on sada ilmuwan Perancis dilarang seumur umur dang boi tu Amerika, ala dikritik imana Perkebunan Soya ni USA di Amerika Selatan, na membabat hutan Tropis menjadi homogen, dan memalak tanah masyarakat setempat.
Ale sude do negara maju songoni. Masibaen nadibana be. Dipikkir do holan planetna planet on jala holan halaki na berhak hidup sejahtera di planet on.
Memang tu sude jolma di planet on sudah saatnya berpikir balik. Jika kita mencintai anak cucu kita, kita cintai dan rawatlah planet ini !!
[Balas...]