Oleh : Hardi Purba MT
( Penasihat F. I. P )
Boleh Juga diakses di www.hardipurba.com
Berita lama? Iya sih memang. Buku Strategi Samudra Biru (Blue Ocean Strategy) tergolong buku yang relatif lama. Edisi versi English sudah beredar tahun 2005, disusul dengan versi Bahasa Indonesia tahun berikutnya, 2006. Namun entah kenapa, saya kok nggak bosan-bosan ya membaca buku strategi yang satu ini. Ya,..ini memang bukan buku sembarangan. Disajikan sebagai hasil kajian dan penelitian terhadap perusan-perusahaan kelas dunia dalam rentang waktu yang cukup lama 15 tahun, dengan data yang merentang mundur hingga seratus tahun lamanya. Tak tanggung-tanggung, buku yang ditulis W.Chan Kim dan Renee Mauborgne ini telah didaulat menjadi buku bestseller di Wall Street Journal dan BusinessWeek. Mereka memplot strategi persaingan bisnis dalam dua jenis, pertama Red Ocean Strategy (Strategi Samudra Merah) yang menekankan kepada kompetisi dan persaingan ketat dan “berdarah”, saling hantam, dan mematikan. Sedangkan yang kedua adalah Strategi Samudra Biru (Blue Ocean Strategy), yang diusung oleh W.Chan Kim dan Renee Mauborgne. Suatu strategi yang membidik ruang pasar baru dengan sentuhan inovasi nilai (value innovation). Menjadikan persaingan tidak relevan!.
Begitu memulai membaca bab pertama, pembaca langsung disuguhkan kasus menarik perusan sirkus, Cirque du Soleil. Ya, Cirque du Soleil merupakan profil contoh sebuah bisnis yang dikembangkan dengan konsep strategi samudra biru, di samping banyak perusahaan lannya baik yang bergerak di bidang produk (barang) atau jasa. Semua perusahaan sirkus mengalami masalah finansial yang cukup parah. Bisnis sirkus sungguh tidak lagi menggiurkan. Betapa tidak, perkembangan industri hiburan rumah tangga (home entertainment) telah memungkinkan orang untuk memperoleh hiburan yang beragam dan relatif murah dengan membeli VCD atau DVD player serta tontonan yang disuguhkan stasiun-stasiun televisi. Anak-anak lebih memilih main game atau playstation daripada menonton pertunjukan sirkus. Singkat cerita, orang semakin kurang bergairah menonton sirkus, pendapatan turun dan terus merosot. Secara garis besar, bisnis ini mengalami beberapa kendala yang siap menghadang diantaranya:
1. Biaya melatih binatang yang relatif mahal (melatih binatang buas membutuhkan keahlian dan keberanian tinggi).
2. Gelombang protes para pecinta binatang, yang tidak menginginkan adanya eksploitasi binatang untuk bisnis seperti pertunjukan sirkus umumnya.
Guy Laliberte, sang CEO Cirque du Soleil, telah menjelma menjadi seorang penyumbang ekspor kesenian terbesar dari Kanada. Sejak didirikan pada 1984 pertunjukan Cirque du Soleil telah disaksikan oleh sekitar 40 juta penonton di 90 kota di seluruh dunia. Selama kurun waktu kurang dari 12 tahun Cirque du Soleil telah mampu meraih pendapatan yang sangat besar, dimana Ringling Bros dan Barnum & Bailey – sang pemain nomor wahid di industri sirkus dunia saat itu – membutuhkan waktu lebih dari seratus tahun untuk menggapainya.
Lalu, langkah-langkah apa yang dilakukan Cirque du Soleil?.
Cirque du Soleil membidik dan menggarap pasar baru (new market). Menciptakan ruang pasar yang belum ada pesaingnya (create uncontested market space). Faktor-faktor kompetisi (competition factors) pertunjukan sirkus ditinjau dan dievaluasi. Hasilnya, ada faktor kompetisi yang dihilangkan (Elimination), dikurangi (Reduce), ditingkatkan (Increase) dan diciptakan (Create), E-R-I-C. Pertujukan binatang adalah salah satu faktor kompetisi yang dihilangkan. Adegan berbahaya dikurangi. Kenyamanan tempat petunjukan adalah faktor kompetisi yang ditingkatkan. Penonton menjadi lebih nyaman. Lalu faktor kompetisi apa saja yang diciptakan ?. Tematik acara, musik dan tarian yang artistik menjadikan Cirque du Soleil menjadi tontonan yang menarik, sementara pesaingnya masih mengandalkan pola-pola lama.
Strategi Samudra Biru berorientasi pada inovasi nilai (value innovation). Ya,..memang banyak perusahaan yang terjebak dengan selalu mengedepankan inovasi teknologi (technology innovation). Mereka berasumsi bahwa menjual produk dengan teknologi tinggi dan super canggih akan secara otomatis diterima pasar dan meraih sukses besar. Kenyataannya tidak!. Kenyataanya, banyak produk (barang) atau jasa dengan teknologi ”biasa” namun apabila value yang ditawarkan tepat dan menarik bagi konsumen, akan laris manis. Strategi Samudra Biru memberikan penekanan yang sama terhadap value dan innovation.
Kanvas Strategi dipakai sebagai tool dalam memplot kondisi dan perbandingan dengan pesaing (competitor). Metode ini tergolong simpel dan dengan mudah memberikan gambaran dimana kompetisi saat ini sedang terjadi. Sumbu-X terdiri dari faktor-faktor kompetisi, semua faktor yang menjadi ajang kompetisi suatu produk (barang atau jasa). Contohnya untuk produk handpone; harga, fitur, kemudahan pemakaian, layanan purna jual dan yang lainnya, menjadi faktor-faktor kompetisi. Bagimana dengan bisnis hiburan (misalnya bioskop), atau bisnis roti?. Ya jelas, faktor-faktor kompetisinya berbeda. Sedangkan Sumbu-Y merupakan relative level, yang terdiri dari level rendah (low), menengah (medium) dan tinggi (high). Kemudian dibandingkan dengan pesaing (competitor).
Bagaimana mengembangkan bisnis ke zona Samudra Biru?.
Salah satu yang paling penting adalah menemukan new value factor. W.Chan Kim dan Renee Mauborgne memberikan tool six paths framework. Batasan-batasan konvensional kompetisi terdiri dari:
- Path 1 : across alternative industries
- Path 2 : across strategic groups within industries
- Path 3 : across the chain of buyers
- Path 4 : across complementary product and service offerings
- Path 5 : across functional or emotional appeal to buyers
- Path 6 : across time
Banyak perusahaan kelas dunia yang disajikan sebagai contoh sukses, juga dideskripsikan bagaimana mereka mampu mengeksplorasi batasan-batasan kompetisi dengan mengembangkan dan menyajikan produk atau layanan inovatif.
Pada bagian kedua buku ini, W.Chan Kim dan Renee Mauborgne menuliskan bahwa terdapat tiga ciri atau karekteristik strategi yang baik:
- focus (fokus)
- divergence (divergensi)
- compelling tagline (slogan/motto yang menarik)
Yang tidak kalah menarik perhatian saya adalah yang ketiga ini; ”slogan/motto”. Hanya sekadar kata-kata menarik dan indah-kah?. Oh.. ternyata tidak!. Slogan/motto ini yang akan ”berbicara” ke pasar mengenai keunggulan produk atau layanan yang ditonjolkan. Jadi tidak sekadar rangkaian kata-kata puitis nan indah. Lebih dari itu.
Lalu, mungkinkah Strategi Samudra Biru dapat diaplikasikan pada negeri tercinta ini sehingga dapat segera lepas dari jerat keterpurukan dan menjadi bangsa yang kompetitif?.
Yang jelas, Prof. Kim pernah mengatakan bahwa Bule Ocean Strategy merupakan a way of thinking. Suatu cara pikir yang mendorong kita untuk lebih kreatif dalam menciptakan new value.
Para pebisnis, mahasiswa, praktisi pengembangan produk dan perencana strategi perusahaan sepertinya sangat cocok membaca buku international bestseller ini.
Bagaimana dengan strategi bisnis Anda; sudahkah fokus, divergence, dan memiliki slogan/motto menarik yang mampu berbicara ke pasar?.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
…Lalu, mungkinkah Strategi Samudra Biru dapat diaplikasikan pada negeri tercinta ini sehingga dapat segera lepas dari jerat keterpurukan dan menjadi bangsa yang kompetitif?.
Jawabannya: mungkin!
Bagaimana caranya?
Nah…, caranya ini yang susah, tidak segampang menangkap harimau liar. Elus saja telinga harimau liar tersebut, anda tinggal mengikat lehernya dan membawanya. Bagaimana cara mengelus telinga harimau liar itu? Nah, itu dia yang susah.
Bah, banyak sekalipun permainan sirkus di negara ini yang harus dieliminasi dan direduksi. Sirkus KKN khususnya ‘Korupsi’; Adegan Premanisme; sikap tidak perduli terhadap penderitaan wong cilik. Adegan KKN dan premanisme harus di eliminasi samasekali, dalam bentuk apapun itu, dan bukan di reduksi.
Adegan yang harus direduksi adalah penjualan sumber alam negeri ini kepada pihak/modal asing dimana perbandingan pembagian hasil hanya15:85, dengan jalan meng-increase kemampuan sendiri untuk mengolahnya. Bukankah orang indonesia “Pintar pintar?” Juga dengan jalan menumbuhkan etika bisnis, agar bisnis itu bersaing dengan bebas dan sehat.
Semuanya ini tergantung kepada ‘Kebanggaan’ yang dimiliki oleh negara ini. Bila bangga secara bangsa, bangga bila tidak ada lagi masyarakat yang untuk mendapatkan nasi aking saja sudah setengah mati, maka strategi Lautan Biru itu dapat di terapkan.
[Balas...]
SADA Contoh na gelleng rupani, molo di Pakkat terkenal do ima si KALE dohot lomang na, jala nunga melegenda on, dungi muse BENGKEL SITABA GOJE,….
Molo so i, DANGKET-DANGKET NI SI LOMBANG, hebatna, semua merek terkenal dan melegenda ini adalah YANG BERTETANGGA,…..
Seandainya dibikin jadi PErusahaan Perencais, dan buka cabang dimana-mana , maka akan jadi perusahaan kelas dunia. Mungkin cocok juga teori dan aplikasi dari Strategi LAut na BAlau on paboaon tu nasida.
Ai binoto holan POTE do dibaen silombang dongan ni dangket-dangkaet i, alai terkenal do, jadi asa dibaen nasida muse akka innoveasi i masakan nasida i…
[Balas...]
Nga marusrus be panasapan i, jala ditutupi nungnga lombang-lombang i, bage DUKKUL, je goar nasida pe nungga be di ganti jadi SIDUKKUL. Ala ni i, merek ni produk i pe nga bage di ganti jadi : DANGKET-DANGKET NI SI DUKKUL-DUKKUL, hahahaha………
Je Marketing strategy ni on pe ikkon segera nama dibenahi SI DUKKUL eks SI LOBBANG i. hahaha…
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU Amen.
[Balas...]
@pakkatnauli
Sipata togihon iba mangan ampara. Haduan, hutogihonpe ampara mangallang lomang. Hehehe.
Sarupa hian do hita ampara, aupe ndang apala huantusi. Buktina, strategi ni perusahaan do di hatai di postingan on, pintor mangararati komentar niba tu pemerenta. Ai bohama tahe, asal ditaringotima negeri tercinta on dohot hatarpurukanna, sai manigor pamarenta dohot kkn do na ro tu pingkiran. So jolo binereng manang na adongdo kontribusi niba tu hamajuon ni negara on manang na ndang. Marjangko tahe i.
Alai, nangpe songon i, tongdo ingkon hona pamarenta. Ba bohama bahenon ni perusahaan mang-eliminasi- biaya biaya siluman tu pamarenta, pareman, dohot angka na asing dope molo so mardalan uhum? Uhum do bonana. Molo suda suda tu biaya siluman do pansarian i, ba, aha be bahenon laho mangembangkan teknology dohot value?
Songon bisnis transportasi darat ma jolo rupani, so sundatdo arga ni miak sumalim, ditambai ma muse setoran tu organda, mandur, pareman, pangarepas, polisi swasta, supir tembak, dohot musema ningon na sai hurang mangalehon ongkos. Ba, Strategi aha be pangkeon tu son ompung? Roa ni dalan pe sum, aturan tahan ban sataon, gabe holan dua bulan nama. Ima jo tusi, gabe lam nau nau annon. Heheheheh.
Ambal ambal ni nonang, tong ma jolo na di huta an tapingkiri. Ia na coklat do hape na boi suanon, ia na pohon jarak do, manang na kacang kedele, unangbe adong tano i na so di suani. Mauliate.
[Balas...]
Horas,
on, topik na hangat, walau memang nungga hampir stahun buku ini terbit. Menurut au, Blue Ocean Strategy identik dengan “Siap bekerja Keras”
Horas
[Balas...]
panasapan nadia do kale kale….nadi aek lakasa i do….
manang dalan na tu sd 2.
horas jala gabe
[Balas...]
Ai so huboto anaha Coleby, manang na DIKKAN dia si LOBBANG kale-kale.
Na hu ingot si MUNTE na marjabu pas di jolo ni pintu gerbang Pastoran ido (dijolo jabu ni si Pahala Situmorang), tetangga ni bere i Togar Sidabutar, Anggitta Katua i manang anggitta si Tomy, i do na termasuk na leleng marlapo.
Je adongma par SORGA (Sosor Gadong) mangalanja babi (pinahan) laho gadisonna tu si Munte i.
Topekma lewat sian hambirang ni jabuntai (dalan laho tu Pargodungan/Pastoran i).
Tep ro ma amang udam si GUNTUR MARBUN (nahutodohon i), disukkun ma amanta parSORGA na mangalanja babi i, songon on ma didok. :
Guntur : ” Bah, ai naeng laho tudia babi i ?” ninna.
Pangalanja : ” Ai naeng tu lapo ni amanta si Munte an do lae bah! ” ninna mangalusi.
Guntur : ” Denggan-denggan bahen hamu bah ” ninna.
Pangalanja : ” Olo lae bah ” ninna huhut ditorushon nasida na mardalan i..
Dung hira-hira lewat nasida sekitar 7 langkah, baru ma sadar amanta i, didok ma hatana :
Pangalanja : ” Bah, ai bage iba do didok hamu babi lae” ninna.
Guntur : ” Ai so na hamu hudok babi dah lae, ai naeng tu dia babi i nikku do”. (ninna ibana mangalusi)
Pangalanja :” Eeehh, dah tunggane, molo ndang nialusan sukkun-sukkun muna i, hira naso maradat iba, alai molo ni alusan tong salah iba ningon dah” ninna mangalusi huhut bage mengkel.
Memang sai olo do gantung akka sukkun-sukkun dihitaan, molo adong halak mardalan mamboan huntianna, na disukkun jolmai huttianna ido, ndang bage jolma na i na disukkun.
Je bage olo do sipata mar-ambalan alus ni jolma i, ningon dah.
hehehe,…….sukkun-sukkun na MAR-ABBALANGAN.
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU Amen.
[Balas...]
[Balas...]
Hahhahha, hahahayooooooooooo (songon on do ekkel di huta nami, adong ikkur ni ekkel i.)
Ido tutu bah, ndang masa di hutanta ningon mandok “apa kabar” akke kale kale. Bah, ai lao tu dia hamu? Ai aha nabinoan muna i? Sogotma hamu/bornginma hamu?
Asing luat asing adatna. Adong do luat, na sai parjolo kabar/keadaan ni jolma i di sungkun. Apa kabar? Ninna.
Molo hata batak do tutu, ba bohama dohonon manungkun kabar parjolo? Hehehheeh. Apalagi do tutu molo binereng mangalanja pinahan, tontu kabar na denggan do on, ai marhepeng ma annon pangalanja i.
[Balas...]
Porlu do tutu tuhoron jala jahaon bukku i, asa lam godang na bonoto, jala asa lam malo iba
[Balas...]
Jala porlu do tong buku on disumbanghon tu perpustakaan FIP nalaho baenonta di Pakkat. Angka dongans, unang lupa ate, masing-masing sumbangan buku 10 judul untuk perpus.
Horas.
swy
[Balas...]
memang bukku on sangat relevan do tu masa2 krisis na masih berlanjut sampe saonari. Inti dari “Blue Ocean Strategic” ondeng napina tolhas na tikki on, ima menciptahon hal2 na imbaru, naso lao tu si pikkiran ni halak alias competitor. Sada contoh ima perusahaan starbucks, molo di hita an di dokmai SETARBAK, jala sarupa dohot lapo do on, ima tempat lao mangopi dohot mangallang kue panukkup. Tapi itulah hebatnya “paman sam”, boi do ibana mambuka lapo na i di negaratta on, hape godang do lapo ni an naung leleng di luatta on, alai dang boi berkembang, tong songon si marunap-unap. Ima mungkin alana hurang “value added” ni lapotta i sian lapo ni paman sam i.
Horas!
BRGDS.
[Balas...]
Teori Blue ocean strategy boleh juga diterapkan oleh para pelaku bisnis, disamping orientasi ke Value Innovation perlu juga diperhatikan faktor Geografi dan Demografinya apakah teori tersebut dapat diterapkan atau tidak, namun bagi anda pelaku bisnis beberapa panduan dibawah ini perlu juga di pahami agar strategi anda effective dan efisien.
Pertama: Anda harus membedakan KONSEP PENJUALAN DENGAN PEMASARAN
Levitt, Theodore, 1980. The Marketing Mode, York : Mc Graw-Hill, menarik suatu kontras perspektif :
Konsep Penjualan menfokuskan pada kebutuhan penjual. Karena itu penjualan sibuk dengan kebutuhan penjual untuk mengubah produk/jasanya menjadi cash atau uang kontan.
Konsep Pemasaran memfokuskan pada kebutuhan pembeli. Karena itu pemasaran sibuk dengan pemikiran memuaskan kebutuhan pelanggan melalui produk dan keseluruhan barang yang berhubungan dengan penciptaan, pengantaran, dan akhirnya pengkonsumsiannya
Pemasaran adalah fungsi bisnis yang mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi, mendefinisikan dan mengukur besarnya, menentukan pasar sasaran mana yang paling baik yang dapat dilayani, menentukan produk/jasa dan program – program yang sesuai untuk melayani pasar (Kotler, 2003).
Perubahan pemasaran dari orientasi produk ke pola pemasaran yang berorientasi pasar dewasa ini menjadikan persaingan semakin kompetitif. Oleh karenanya untuk berhasil sesuatu perusahaan didalam persaingan disyarakatkan harus menciptakan nilai tambah bagi para konsumen serta memperhatikan kebutuhan dan ekspektasi mereka (Band, 1991).
KEGAGALAN PELAYANAN TERHADAP PELANGGAN
1.Kesenjangan Antara Harapan Pelanggan dan Pandangan Manajemen.
2.Kesenjangan Antara Pandangan Manajemen dan Spesifikasi Mutu Pelayanan.
3.Kesenjangan Antara Spesifikasi Mutu Pelayanan dan Sajian Pelayanan.
4.Kesenjangan Antara Penyajian Pelayanan dan Komunikasi Eksternal.
5.Kesenjangan Antara Pelayanan yang Dirasakan dan Pelayanan yang Diharapkan.
Kegagalan lainnya adalah kurangnya kemauan untuk meningkatkan efisien/penghematan sehingga dapat menerapkan mutu gratis bagi konsumen (Lintong Nababan, 2008). Artinya perusahaan harus selalu mengupayakan nilai tambah pada konsumen/ pemakai produk/jasa tanpa harus menimbulkan biaya tambahan. Dengan cara demikian maka pelayanan akan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.
I. KERANGKA & PROSES PEMASARAN
1. 1. Memahami misi organisasi dan peran pemasaran dalam memenuhi misi
tersebut.
2. 2. Menyusun sasaran pemasaran.
3. 3. Mengumpulkan, menganalisis, dan mengartikan informasi tentang situasi
organisasi, termasuk SWOT dalam suatu lingkungan.
4. 4. Pengembangan suatu strategi pemasaran melalui keputusan secara benar
tentang kebutuhan mana dan siapa yang akan dipenuhi oleh organisasi
(target pasar).
5. 5. Mengimplementasikan strategi pemasaran.
6. 6. Mendesain pengukuran kinerja.
7. 7. Secara periodik melakukan evaluasi upaya pemasaran, dan membuat perubahan
jika diperlukan
Source : Lamb, C.W., Joseph F. Hair, Carl Mc. Daniel. Marketing. Singapore : South-Western College Publishing, 2000 : 19)
PELUANG PASAR
A.Sistem Informasi Pemasaran dan Penelitian Pemasaran
B.Analisa Lingkungan Pemasaran
C.Menganalisa Pasar Konsumen dan Perilaku Membeli
D.Analisa Pasar Bisnis dan Perilaku Pembeli Organisasi
E.Menganalisa Pesaing
A.Sistem Informasi Pemasaran dan Penelitian Pemasaran
1.Sistem Pencatatan Internal :
a.Sistem Pemesanan – Pengiriman – Penagihan
b.Sistem Laporan Penjualan
c.Sistem Pelaporan yang Berorientasi pada Pemakai
d.Sistem Intelijen Pemasaran (Marketing Inteligence System)
2.Sistem Penelitian Pemasaran
a.Pemasok untuk Penelitian Pemasaran
b.Jangkauan Penelitian Pemasaran
c.Proses Penelitian Pemasaran
d.Karakteristik Penelitian Pemasaran yang Baik
e.Penggunaan Penelitian Pemasaran oleh Manajemen
B.Analisa Lingkungan Pemasaran
1.Pelaku dalam Lingkungan Mikro
a.Perusahaan
b.Pemasok
c.Perantara Pemasaran
d.Pelanggan
e.Pesaing
f.Publik/Masyarakat
2.Kekuatan dalam Lingkungan Makro Perusahaan
a.Lingkungan Demografi
b.Lingkungan Ekonomi
c.Lingkungan Alam
3.Peran Pemerintah yang Berubah dalam Perlindungan Lingkungan
a.Lingkungan Teknologi
b.Lingkungan Politik
c.Lingkungan Alam
C.Menganalisa Pasar Konsumen dan Perilaku Pembeli
1.Faktor Utama yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
a.Faktor Kebudayaan
b.Faktor Sosial
c.Faktor Pribadi
d.Faktor Psikologis
2.Proses Keputusan Membeli
a.Peranan dalam Pembelian
b.Jenis – jenis Perilaku Membeli
c.Meneliti Proses Keputusan Membeli
d.Tahap – tahap dalam Proses Keputusan Membeli
D.Analisa Pasar Bisnis dan Perilaku Pembeli Organisasi
1.Pasar Industri
a.Siapa yang Berada dalam pasar Industri ?
b.Keputusan Pembelian Apa yang Dibuat oleh Pembeli Industri ?
c.Siapa yang Berperan dalam Proses Pembelian Industri ?
d.Apakah Pengaruh yang Paling Penting terhadap Pembeli Industri ?
e.Bagaimana Pembeli Industri Membuat Keputusan Pembelian Mereka ?
2.Pasar Penjual Kembali
a.Siapakah yang Ada dalam Pasar Penjual Kembali ?
b.Keputusan Membeli Apakah yang Dibuat Penjual Kembali ?
c.Siapakah yang Berperan dalam Proses Pembelian Penjual Kembali ?
d.Apakah yang Merupakan Pengaruh Utama pada Pembeli Penjual Kembali ?
e.Bagaimana Penjual Kembali Membuat Keputusan Pembeliannya ?
3.Pasar Pemerintah
a.Siapakah yang Berada dalam Pasar Pemerintah ?
b.Keputusan Pembelian apakah yang Dibuat Pemerintah ?
c.Siapakah yang Berperan dalam Proses Pembelian yang Dilakukan Pemerintah ?
d. Apakah yang Merupakan Pengaruh Penting terhadap Pembeli Pemerintah ?
e.Bagaimana Pembeli Pemerintah Membuat Keputusan Pembelian Mereka ?
E.Menganalisa Pesaing
1.Mengidentifikasi Strategi Pesaing
2.Menentukan Tujuan Pesaing
3.Memeriksa Kekuatan dan Kelemahan Pesaing
4.Memperkirakan Pola Reaksi Pesaing
5.Merancang Sistem Intelijensi Persaingan
6.Memilih Pesaing untuk Diserang dan Dihindari
7.Menyeimbangkan Orientasi Pelanggan dan Pesaing
Business Unit Strategic Planning – the business mission
Each business unit needs to define its specific mission within the broader company mission
Corporate & Division Strategic Planning
1. Define the Corporate Mission
• What is our business?
• Who is the customer?
• What is of value to the customer?
• What will our business be?
• What should our business be?
Business Unit Strategic Planning – SWOT Analysis
monitor
external & internal
environment
disajikan Oleh:LINTONG NABABAN, SE.MM
Dosen Tetap STIE Bisnis Indonesia
Finance Manager PT. Indotrac Cargo Perkasa
[Balas...]
Mantap…… bisa menjadipenambah wawasan akan dunia bisnis ateh…..
yang kek gini-ini nih yang kudu sering kita postingin
[Balas...]
bpk Lintong Nababan,SE.MM sya minta tolng bisa buatin kerangka seperti di atas ga? sblumnya trimakasih dengan konsep Bos sya pusing dengan skripsi sya pngen menyerah di tambah dosen pembimbing saya susah untuk ditemuai alhasil saya bingung mau memulai dari mana karna jujur saya masih awam dan ga ngeri soal BOS dan perusahaannya juga restoran ayam goreng, sebenernya nyambung ga pak dengan konsep BOS?
trimakasih banyak
[Balas...]
@ rukhida
sedikit mengenai Blue Ocean Strategy (BOS), secara umum kerangka/alur mengembangkan produk (barang dan atau jasa) adalah:
1. Tuliskan dulu sebanyak-banyaknya faktor-faktor kompetisi (dalam hal ini Rukhida membahas bisnis restoran ayam goreng), coba kamu pikirkan apa saja (saat ini) yang menjadi faktor kompetisi restoran ayam gorang. Faktor harga (price), kecepatan layanan, kelezatan makanan, dll……teruskan! gampang kan?
2. Plot poin no. 1 di atas menjadi bentuk gambar yang dalam BOS dikenal dengan istilah As-Is kanvas strategy dalam bentuk sumbu-X (semua faktor kompetisi) dan sumbu-Y (level: rendah-medium-dan tinggi). Jangan lupa!, plot juga beberapa pesaing restoran tsb. Tinggal menarik garis levelnya, sehingga nanti ada/terlihat strategi kanvas As-Is retoran yang kamu bahas dan beberapa pesaingnya (competitor).
3. Mencari dan menentukan new value factor (faktor nilai baru) yang akan kita usulkan untuk ditambahkan kelak pada restoran yang kamu sedang studi. Caranya bagaimana? Prof. W.Chan Kim (Blue Ocean Strategi) sesungguhnya sudah membuka jalan melalui six paths framework. Silahkan baca bukunya, akan sangat membantu. Versi Bahasa Ind. (terjemahan) juga sudah tersedia di toko buku Gramed / Gunung Agung. Ini memang sedikit agak sulit, karena sesungguhnya bagian yang sangat penting, kita mesti bisa eksplor 6 framework bisnis yg. ada saat ini. Output bagian ini adalah kita menentukan satu, dua atau tiga faktor kompetisi yang di-create (ciptakan).
3. Sekarang tiba saatnya menggambarkan Strategi kanvas To-Be (yang akan dikembangkan/rencana pengembangan ke depan). Grafik berisi FK yang di eliminasi, kurangi, tambahkan, dan ciptakan (create) yang dikenal dengan E-R-I-C. Singkatnya, melalui To-Be canvas strategy, Rukhida memberikan argumen kepada pengelola restoran tersebut, ke depannya seperti apa pengembangannya.
4. Selesai….selamat mengerjakan skripsi…semoga sukses
“……sebenernya nyambung ga dengan konsep BOS?”…ya, nyambunglah
[Balas...]
sekalian berkenalan, Purba apa, bisa bantu saya buat thesis management ?
[Balas...]
Hendry HM Lbn Gaol:
May 25th, 2010 | 09:38
@perdiman purba, nggak enak bangat pertanyaanmu lae. hubungilah abang itu. lihat websitenya http://www.hardipurba.com……salam
[Balas...]
horas tondi madingin,…. .nga rarat be.
[Balas...]