Siapa yang berhak atas rumah warisan?

Oleh Op. ni So Tarjua Ro Berkat Rambe

Sering menjadi persoalan di dalam bersaudara, seiring dengan sepeninggalnya orang tua. Persoalan ini, selalu terwarisi hingga sekarang. Orang tidak berani memberikan sesuatu yang pasti dari segi hukum adat. Kalau pun ada secara pribadi, belum tentu diterima oleh yang bersangkutan, Hukum adat pun tidak ada yang secara tegas menunjuk, siapa yang berhak atas rumah peninggalan orang tua.

Mungkin kalau rumah peninggalan orang tua cukup kebagian satu per satu tidak menjadi masalah. Di Samosir kebiasaan yang dipakai sebagai dasar petunjuk yang berhak mewarisi rumah, adalah, apabila orangtua laki meninggal, maka adek-adek dari anak tertua disebut, “ndang matean ama hamu. Adongdo abang mu ganti ni ama di hamu…..”

Bahwa pewaris tahta kerajaan adalah yang tertua. Maka rumah sebagai istana, jatuh kepada pewaris tahta.

Itulah alasan di sana bahwa rumah harus kepada anak laki-laki tertua, yang melanjutkan kerajaan ayahnya. Di luar wilayah Samosir, kepemilikan rumah warisan, sering menjadi masalah di antara kakak ber adik sebagai ahli waris, karena yang sering disaksikan orang, yang menempati rumah warisan adalah anak yang paling bungsu. Sehingga orang-orang yang menyaksikan itu, mengklaim bahwa aturan adat, mengharuskan yang berhak atas rumah warisan adalah anak yang paling bungsu.

Secara depakto, memang sudah demikian kebiasaan yang dilakukan oleh pendahulu kita. Hal ini terkait dengan masyarakat yang menganut konsep “manombang” atau “marimba”. Masyarakat yang demikian memikirkan bagaimana kelak akan “pajaehon anak”. Maka dimana daerah yang masih luas untuk di garap, masyarakat akan berbondong-bondong ke sana dengan harapan bisa mendapatkan tanah yang lebih luas agar bisa melaksanakan tugasnya sebagai orang tua yaitu pajaehon.

Sebab konsep harajaon sudah ditinggalkan di tanah lelehurnya. Mereka hanya memikirkan, bagaimana anak-anaknya bisa mendapatkan sebidang tanah untuk perumahan dan kebun untuk bertani, maka perlu mangarimba atau manombang. Belakangan muncul trend merantau, namun tetap dalam konsep manombang, maka kita kenal hingga sekarang daerah daerah Bamban, Bimpot, Percut, dan terakhir Pulo Raja di Sumatera Timur.

Kemudian masyarakat atau secara pribadi merantau dengan mengandalkan ilmu dan kemampuan, untuk bekerja secara menetap di kator atau di perusahaan, seperti kita sekarang ini. Konsep mangarimba di tinggal abis. Kemudian muncul pemikiran hak atas tanah leluhur sebagai tanda daerah asal, yang sudah ditinggal untuk merantau mencari penghidupan yang lebih layak, dibanding dengan mengolah tanah warisan orang tua yang tidak begitu luas dan tidak akan mungkin untuk menghidupi sekian keluarga kakak ber adik.

Secara dejure memang benar, bahwa pemindahan hak atas tanah dan rumah warisan orang tua belum pernah terjadi. Sehingga wajar kalau kemudian perantaupun berhak menuntut haknya. Disinilah muncul persoalan “Siapa Yang Berhak Atas Rumah Warisan?” Kita harus berpikir jernih melihat persoalan ini, sehingga di kemudian hari, persoalan keluarga semacam ini bisa diselesaikan dengan jelas dan jernih. Jatuhnya kepemilikan rumah warisan kepada anak bungsu, bukanlah didasari oleh adat Batak, tetapi didasari oleh pembagian akibat kebiasaan pajehon anak tadi.

1. Setelah anak tertua menikah, maka orang tua mendirikan rumah dan sebidang tanah sebagai Panjaean.
2. Demikian pula anak ke-2, ke-3, ke-4 dst.
3. Tiba saatnya anak yang paling bungsu menikah, tidak ada lagi sebidang tanah untuk dibangunkan rumah, demikian pula tanah sebidang untuk diolah. Tinggal rumah yang ditempati oleh orang tua, dan sebidag tanah kebunnya, maka didorong oleh rasa keadilan, maka rumah dan tanah yang merupakan bagian dari orang tua itu diserahkan kepada anak bungsunya, tetapi dengan syarat, selama orang tuanya hidup mereka tinggal serumah dan hidup dari tanah yang masih dikuasai oleh orang tua.

Perkembangan perjuangan dan trend dalam satu keluarga selalu berobah mengikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat.

Pesoalan jatuh nya rumah warisan akan berbeda. Belakangan orang berani berkorban untuk memajukan saudaranya dalam hal menuntut ilmu di sekolahan. Maka anak tertua tadi dengan penuh kesadaran akan kemajuan jaman, maka dia bersama istrinya, membantu orang tua untuk menyekolahkan adek-adeknya, bahkan menjual sebahagian tanah untuk menyekolahkan adek-adeknya ke perguruan tinggi.

Bukan persoalan berhasil atau tidak di dalam sekolahnya, tergantung pribadi yang disekolahkan. Tetapi yang mau kita lihat, adil tidaknya pemikiran seseorang didalam satu keluarga terhadap warisan seorang orang tua. Kalau kita katakan bahwa aturan adat, yang berhak atas rumah warisan adalah anak bungsu, lalu untuk yang tertua, yang sudah bersusah payah membantu orang tua, bahkan rela untuk tidak mendapatkan apa-apa asal adek-adeknya sekolah.

Yang menjadi pertanyaan, apakah penetapan menurut adat tadi tetap benar? Persoalan lain adalah dengan sekuat tenaga, orang tua banting tulang bekerja untuk mendapatkan uang demi menyekolahkan anak-anaknya, dari yang tertua hingga kepada anaknya yang bungsu. Orang tua tidak memikirkan lagi sebidang tanah untuk yang tertua, kedua, ketiga dst.

Karena warisan itu sudah ditukarkan oleh orang tua dengan pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah.

Lalu pertanyaan timbul kembali, siapakah yang berhak atas rumah peninggalan orang tua mereka? Masihkah kita katakan menurut adat? Lalu siapakah ahli adat batak yang merekomendasikan bahwa si bungsu yang berhak atas peninggalan orang tua? Atau buku berjudul apakah yang mengatakan demikian sebagai refrensi pernyataan tersebut? Tidak ada yang bisa menjawab, dan tidak ada yang bisa menunjukkan bukunya. Lalu kenapa ada pernyataan demikian? Tidak lain adalah karena melihat suatu momentum yang menjadi monumenatal sampai sekarang di dalam satu keluarga yang hidup dalam konsep mangaribba atau manombang.

Menurut penulis, yang paling adil adalah menjadi milik bersama terhadap rumah warisan, yang lainnya dibagi bersama secara adil dan merata.(rb.14)

 

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

25 Responses to Siapa yang berhak atas rumah warisan?

  1. Ai attar maitton tu ngadol do tulisan on nian, ibban na anak siahahaan i iba, ia jinaha di gijjang, las roha. Di au do hapoe jabu ni natua-tuai ;) hape dukkon di toru, di si charli do hape….. gabe bingung iba, di au do manang di di si charli. Je bohama di si arnold nang di si bernardo, hape sada do jabu ni natua-tua i….iteng!!

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Risma:

    Hendry : dokkon dibaen Baba/Uma jabu muse asa adong disi Arnold dht si Bernardo. agia kettek hian pe dibaen 4 x 3 mtr ai tong do jabu goarnii. jadi jabumunai nabalgai dihomai attong. iiiiima namangait tu ngadol hahahaha teng jo

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @hendry lbn gaol,
    Tulisan on ndang di dok ikkon di siappudan alai boasa di si appudan? ido napinatorang na
    Horas…!majuuuu…..terusss……GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. Sepaham tu ho ito Hendry.. bohama molo sada do jabuni naua tuai alai dibaen natua2ido tikki dingoluna surat kepemilian (Akte Jual Beli) atas goarni boruna si nomor 3. songon dia do museng urusan nii? repot nai akke hape adongdo anak anak siangkangan adong anak siappudan. molo jinaha tulisan on bingung do. alai nasittongna jala dengganna mardosniroha memiliki bersama, unan marsigulut ( alai manang bohape ninnmu hamu tok uttabodo menikmati nanihirni hodok nasinari saddiri misalna marjabu BTN type 21 pe manang RSS teng tabo hian do ala hasil keringat sendiri akke)

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. Ito Jaullus alias Opung Sotarjua ro Berkat, songonna pasunggul sidangolon do tulisan mon ba. au he 2 jabu nisi Matuakku jala 3 anak na baoa. hami ma sinomor dua. jadi Jabunaduai sadama disiangkangan sadamai disiappudan, je dihami dang adong ai partonga tonga hami tek jo jim hian ma akke, dijolo ni Onan muse do jabui tok strategis..hahaha molo makkatai warisan dang marnasidung agia sataonon hea,

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @Risma,
    Ito br. Pajaitan, ! molo tabereng akka namasa parsalisian di sada keluarga na marhaha anggi, hira naholan siappudan dohot siakkangan do dukak. Partonga-tonga dianggap sepi. Hape tong do durus mudar ni inongta lao mamulsikon hita sian siubeonna, jala sada do nang dalanna. Rap mamolus do siakkangan sahat rodi siappudan. hape siakkangan dohot siappudan, ndang hea mamikkiri bahwa sibitonga tong do anak ni amongna dohot inongna. jala naunjotjot marsalisi, siakkangan dohot siappudan di sada bagas warisan. Biasana si paitonga, menerima apa adanya. kadangkala sukkunsukkun do roha. Boasa dang apala olo sipaitonga margulut? au pe heran do di persoalan on. Alai songon i do pada umumna na terjadi. Horas…! majuuu…..terusss…..GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. “dang siguluton arta ni natua-tua, lului be dibana”. Songoni ma sai hudok tu akka tinodohonku nang tu abangku mulai sian najolo. Jala gabe sada motivasi do on di hami akka gelleng ni natua-tua i asa ringgas marsikkola jala gogo karejo alias banting tulang hehehhe.

    Boi do songoni kan?

    Horasma

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Risma:

    Satolop, jala sapandohan.. ido tutu molo boi mangalean tu natua tuai asa las rohana namaranakkoni akke. imma tutu

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    admin:

    @swandysihotang, Ai didok muse ma ra ningon, anggo jabu nadi blok L on nunga nappuna ni si Ade be i…Iteng!! mittop hian ma sipetonga nimmu ma…Beta masi RSS hita

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    swandy sihotang:

    hahahhaa, tabo hita. Ianggo komandan i nungga diantisipasi hian huroa, ittor dibaen do 2 jabu di blok L i. Disiankangan dohot siampudanku, ianggo sipetonga i, dirambai pe taho boi do modom i, inna rohana ra (nanget) kwakwkawkk

    NUngga hubuat be RSSSSSSSSS hu kale-kale. Rumah Sangat Sederhana Sehingga Susah Selonjoran Sama Susahnya Seperti Sinajukkani.

    Horas

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @admin,
    DANG HOLAN DUA “S” NA ADONG MANANG NA PIGA MARJOJOR TU PUDI. BERENG MA TULANG DA,!!!!!!!
    RUMAH S-ANGAT S-EDERHANA, S-ANGAT S-EMPIT, S-USAH S-ELONJOR, S-ANGAT JAUH JADI IKKON RSSSSSSS DO
    HAHAHAHAH….HAHAH…ITENG PORSUK NAI!!!!!
    HORAS….MAJUUUU…..TERUSSS….GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    hh:

    @swandysihotang,
    toho hian doi bah, ampara. Alai, tungpe adong be di hita, ianggo arta ni natua tua i tongdo ingkon bagion kan? Ndang bage halak nampuna i.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. Sahat tu saonari sai tong dope momok parsalisian bagas warisan sisada-sadi di hampir sude marga. godang do dongan konsultasi mengenai warisan nasa-sada on. marmassam alana jala marmassam kasusna. songon sontoh; nunga adong bagian ni sude anakkon, alai adong dope diingani natua-tuai tong margulut di sisada-sada on. Tulisan on bertujuan pahembangkon roha songon dia menyelesaikan persoalan on molo tung adong diantara na manjaha mengalami persoalan na sarupa. Namassai ironis jala lungun roha umbege persoalan ima sahalak siakkangan naso adong taruli nanggo aha, hape marado so diboto ari udan dohot las ni ari, lao pasikkolahon tinodohonna. Ia humurang hasil nasinari lao biaya sikkola rela do ibana manggadis tano naung di ingani, jala maisolat tu tano ni halak, asalma saut sikkola akka tinodohon na. Jumpa tikkina tong manggulut tu bagas napinukka ni natua-tuai. Alani hasomalan dohot proses ni hasomalan i nunga tajaha di tulisan i. Tulisan on mengajak secara hati terbuka dan jujur mamereng hasomalan naung terjadi diakka naparjolo i. Ndang persoalan sarjana manang naso sarjana, marjabu di pangarantoan, manang naso marjabu. tapahembang ma persoalan i, songon dia partutur ni parhembangna. horas! majuuu….terussss….GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  6. Setuju hian au,.. torushon lanjutkan, lebih cepat lebih bagus. .

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  7. Bohado admin nami! Ta torushon do tu adat mamasuki bagas? molo na olo do hamu dok hamu ma
    “olo”

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Risma:

    Ito. Op So tarjua ro berkat. alias Jaullus.. baenma tutu adat mamasuki bagas. adong rencana mambaen pesta mamasuki jabu RSSSSSSSS, songon dia do aturanna adatna alana di luat nami on marasing asing do kale pendapati. baenma asa tamba jo parbinotoab kale.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @Risma,
    Anggo RSSSSSSSSSSS do ito tasuruk sambing ma songoni. ai ro annon pamili dua keluarga pe nunga loja iba lao humosing. Didia kodo tulang? didia hula-hula? didia dukak? nunga i kale ito! loja ho. Suruk sambing ma songoni. khah….khak.kha..kha…kak. a-tok-jim-i
    Tenang ma ito! diluar ni RSSSSSSSSSSSS i tabaen pe
    Horas…..majuuuuu…..terusss…..GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Risma:

    kwakakakak hahaha, hata halusna doi ito rumah RSSSSS, dang tabo tu dongan hurang suman dohonon jadi nidokma RSSSS. baenma dia do beda ni Mamasuki Bgas dht Mangapiapi i bagas? rap sarupado namamasuki Bagas. baenma hatoranganna kale

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    swandy sihotang:

    Sekalian ma patorang hamu akke, boha molo silom do sambola parnijabui kwakwkawkwk, asa huevaluasi jo nanaung hubaen bah. Ai sempat songon na marbeda pendapat tikki i sotik, hape nungga sai hudok, silom do deba dison doh nungga sai nikku kwakwkaw, sai mekkel sambing ma au neh. Hajab be namarboru sileban i!!!

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @swandy sihotang,
    Sabotulna adat mamsuki bagas, ndang adong hubunganna tu agama. alai ala naung marugamo hita, tontu bage nisangkuthon ma tu agama nani anut. Jala alani agamai bage boi mura ulahononthon, alana songon na mangapi-api i, manuruk bagas, jala sudenai dibagasan acara partangiangan mamsuki bagas. jala ise do jouon dison? Molo mamsuki bagas adat na uttimbo siani ima nomenklatur “mamsuki bagas”Dison do godangan keliru, di atas na mangoppoi. jala isema jouon dison, jala tudia do padoppakon tudu-tudu ni sipanganon? Di son do godangan keliru akka namangulahon ulaon mamsuki bagas. Kekeliruan godangan ala ni pengaruh “boru ni raja i”
    Soal mardua agama nasa bagas, tontu adong naikkon patalu diri, bukan berarti “kalah” terhadap menurut agama siapa yang kita ikuti. tentu ada pertimbangan lain, yang perlu kita lihat urgensi keberadaan pengamut agama tersebut di dalam acara.
    walaupun berbeda agama kalau sama-sama orang batak, adatnya sama.
    Mengenai ini, kapan bisa kita baca di web ini?
    Tunggu tanggal mainnya. selalulah buka web site kita agar tidak ketinggalan Horas!…..majuuuu….terusss…..GBU

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    swandy sihotang:

    hahahaha, hurippu nungga naeng dibahas, hape gattung mokmok, menunggu edisi berikut hehehehe.

    Beda agama, beda suku dah amang kwkwkawk

    Horas, ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Jaullus (raja mullus-ullus):

    @swandy sihotang,
    boha tulang dang boi ditampilhon rapot ni biang i

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  8. SLAMAT BERGABUNG

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  9. p.lumban gaol

    horas ma dihita akka dongan par pakkat. Manukkun majo iba masalah harta warisan hususna di hita batak, pertanyaan >ala holong do rohanta namarboru/mariboto,dilea n dilean hula hula ma uloss nasora buruk lapatanna tano maraek, gabe hak patedoi manang satu genrasi? ala adong do gabe parsoalan di haha anggi/dongan tubu masalaon.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  10. Ini kan logika dan argumentasi, terima kasih Menurut saya perlu musyawarah yang baik antar sesama anggota keluarga dengan didasari kasih sayang dan rasa damai,

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>