Pitonggam dari Sampuran Sipulak

Akhirnya….

Setelah berjalan ditengah hutan karet dan persawahan, sampai juga ke lembah, dataran rendah yang cukup luas. Dengan bantuan lampu senter yang aku bawa, terlihat padi yang sedang menguning. Beberapa orang-orangan sawah yang berdiri tegak di pematang sawah bergoyang-goyang akibat tiupan angin. Sekilas, benda ini seperti manusia hidup. Bagi yang tak biasa melihatnya bisa kaget setengah mati, apalagi malam hari seperti saat ini, karana orang-orangan ini bisa bergerak sendiri. Orang-orangan sawah ini saling berhubungan dengan menggunakan tali rapiah, lalu di ujung simpulnya di ikatkan pada sebuah alat dari pohon bambu. Didesain sedemikian rupa, hingga dengan bantuan air pancuran kecil, bambu ini menggerakkan secara otomatis seluruh rangkaian orang-orangan ini bisa bergerak, baik tangan maupun kepalanya.

Pun pohon-pohon tebu dan karet di sisi kiri-kanan jalanan yang saya lalui sudah mulai meranggas, berbeda dengan empat tahun lalu ketika saya datang mengunjungi tempat ini untuk poertama kali. Kebun tebu ini masih produktif dan tebu-tebu ini berdiri dengan tertata rapi seperti prajurit tentara yang sedang berbaris.  lalu ada areal penggilinggan tebu hingga ada areal produksi air tebu menjadi gula merah. Anjloknya harga gula tebu membuat pemiliknya mengabaikan kebun ini. Belum lagi pohon karet yang sudah tua, yang berdiri kokoh di sisi jalan, kelihatan sudah tak diurus oleh pemiliknya. Padahal, seingatku, kampung ini adalah petani karet yang lumayan besar. Mungkin disebabkan banyaknya penduduk kampung ini yang pergi merantau ke kota sehingga kebun tradisional ini seperti terabaikan.

Setitik cahaya dari lampu teplok kelihatan memancar dari rumah yang menurut saya lebih cocok disebut sebagai pondok yang menandakan aku hampir sampai ke tempat tujuanku malam ini. Tak ada yang berubah dari empat lalu waktu pertama saya kunjungi. Hanya beberapa pohon rambutan dan kelapa sudah mulai meninggi. Sementara, bentuk pagar dan ini halaman masih sama.

Tak ada orang di kampung ini yang tidak tau penghuni pondok ini, merekalah Oppung Parbulang-bulang dan istrinya. Sepasang kakek tua yang memilih hidup menyendiri ditengah kebun ini. Sekitaran satu kilometer jauhnya dari Sampuran Sipulak. Sampuran dalam bahasa Indonesia adalah air terjun. Air terjun ini sangat jarang dikunjungi orang, mungkin karna jalan kesana dangat sudah, atau mungkin karena berita keangkeranya. Menurut cerita yang kami setahui sebagai penduduk kampung, air terjun ini adalah milik Oppung. Sebutan buat sesosok mahluk yang tak kelihatan. Konon katanya banyak orang yang kesasar di sekitaran air terjun ini bila mereka kesana tanpa permisi kepada si empunya. Air terjun ini sebenarnya bisa saja diusahakan untuk keperluan masyarakat, sebut saja untuk pembangkit listrik, lalu tempat wisata alam. belumlagi, disana katnya banyak IHAN sebagai biantang peliharaan oppung, yang sebenarnya bisa menambah daya tarik wisata. Tapi, kembali ke persoalan tadi, belum ada yang berminat untuk itu.

Aku tau pasti kenapa disebut Oppu Parbulang-bulang, mungkin karena si kakek sering pake sorban untuk menutupi kepala nya. Menurut cerita yang pernah aku dengar, bahwa si kakek harus pergi ke satu tempat di lembah Air Terjun SIpulak untuk memotong rambutnya. Dan tak sembarang tempat atau hari untuk melakukanya. Cerita ini menambah keyakinanku sama ‘pengetahuan’ yang dimilikinya.

Sesayup terdengar suara Air terjun Sampuran Sipulak mendayu-dayu dibawa gelombang angin, Lolongan anjing liar dan suara jangkrik serta ditimpali nyanyian kodok sawah menjadi sebuah simpony malam. Lalu sesekali suara burung hantu terdengar membuat bulu kudukku berdiri.

Aku mencoba menggeser pagar bambu yang hampir peot itu, dan melangkah menuju tangga pondok itu. Tiba-tiba anjing oppung Parbulang-bulang menyalak. Nyaliku merasa ciut.

“Hush…jangan goppul…..sana masuk” terdengar suara dari dalam pondok, pelan tapi sungguh menakjubkan, anjing besar yang di panggil ‘si goppul’ itu mengerti apa yang diucapkan si pemilik suara, lalu beringsut ke bawah kolong pondok dan tidur kembali. Dari namanya dan suaranya  pasti sangat besar sekali. Goppul itu dalam bahasa indonesia adalah beruang.

“Masuk saja….pintu nggak dikunci, dari tadi sudah saya sudah  menunggu…”

Bah!!…dalam hati kaget mendengar perkataan itu. Rupanya dia tau kedatanganku malam ini. Aku semakin takjub akan ‘kemampuan’ oppung ini. Lalu sekelebat, seseosok orang tua yang bertubuh sedang keluar dari pintu pondok, sembari membawakan lampu teplok. Aku bisa melihat dengan jelas wajah dihadapan saya. Tak ada yang berubah dari fisiknya, dari nada suaranya atau dari caranya memandangi saya.

Dulu, waktu pertama berkunjung dan bertemu dengan oppung ini, aku agak grogi juga, bagaimana tidak, dengan pandangan mata menusuk ulu hati memuat saya sedikit ragu untuk mengutarakan maksud kedatangnku.

“Kenapa datangnya kemalaman? kenapa tidak kemarin datangnya??” seraya mempersilahkan saya duduk dibale-bale bangku yang terbuat dari bambu tak berserut itu. Kembali saya kagum, bagaimana mungkin dia tau kalau saya mau datang dari hari kemaren?. Memang rencananya, kemarenlah saya datang bukan malam ini. Namun apa daya, pulungan dan sesajen yang biasa harus saya bawa susah untuk mendapatkanya.

Sebutir telur ayam kampung berbulu hitam dan madu asli yang baru diambil dari sarang lebah serta ranting pohon yang belum dilangkahin burung. Bah,…mungkin karena mahalnya harga daging ayam saat ini, sehingga sudah jarang orang pelihara ayam hingga bertelor. Dibanding daging sapi, kerbau atau babi, maka daging ayam lebih murah sehingga pilihan penduduk kampung tak lari dari daging ayam untuk santapan dikala ada pesta.

“Siapa kau??..” seraya mendelikkan matanya mencoba mengenali wajahku di bawah temaran lampu teplok yang samar-samar.

“Aku nya itu oppung, si Hendry par Pakkatnews itu, oppung masih ingat sama saya? Sehat oppung??” sapaku setelah aku duduk

“Aku sudah tau kedatanganmu sejak tiga malam lalu, dan aku juga sempat bertanya-tanya kenapa kau belum sampai juga? apa kau kesasar hingga ke Sampuran Sipulak sana? gimana kabar bapakmu? kapan kau datang dari Jakarta? kalau oppung beginilah keadaanya, seperti biasa, akhir-akhir ini banyak tamu yang datang…” ujarnya.

Oppung Parbulang-bulang mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaanya setelah saya perkenalkan siapa diriku.

“Berobat oppung??” tanyaku, sedikit penasaran mendengar perkataan oppung tadi. Aku tau, kalau penduduk kampung sering datang berobat ke oppung ini. Selain dia jago dalam hal ilmu spritual, pengobatan tradisonalpun banyak dilakoninya. Mulai dari mengurut kaki yang terkilir atau patah hingga menurut orang yang masuk angin. Dan semuanya pulang dengan hasil yang memuaskan alias sembuh.

“Baru tadi malam datang tamu berlima, katanya mereka dari Partai Anu, mereka mau minta petunjuk supaya di pemilu 2009 ini mereka berhasil duduk di de pe er de. Ini  adalalah rombongan yang ke tujuh dari beberapa partai yang berbeda. Saya juga nggak habis pikir, kenapa mereka datang kesini. Bukankah seharusnya mereka mendatangi masyarakat kampung sana dan mengutarakan maksud mereka.”

“lalu, oppung kasih nasehat apa??”

“Nggak ada….saya juga bingung mau ngasih nasehat apa, kau bayangkanlah kalau semuanya minta nasehat, lalu siapa yang nanti akan berhasil. Alangkah bagusnya mereka mencoba mendekati penduduk kampung dan  mengambil hati mereka….”

“Mungkin udah nggak mempan kali omongan mereka itu oppung…”
“Itulah yang aku herankan, apa karena mereka dulu kebanyakan ngasih janji-janji sehingga penduduk kampung sudah nggak mau dengar obrolan mereka?”

“Apa oppung pernah mereka menjanjikan sesuatu…”
“Iya…sebagian dari tamu itu adalah orang-orang yang datang beberapa bulan lalu waktu pemilihan bupati, mereka minta saya datang diacara kampanye calon bupati itu, mereka minta supaya saya ‘manarang udan’ agar kampanye mereka berjalan dengan baik, tak terganggu hujan. Disitulah mereka menjanjikan banyak sekali kepada orang-orang kampung. Mereka bilang mau memperbaiki jalanan yang rusak, lalu memberikan pupuk pada petani, panen lancar dansembako tidak mahal di onan. Kau perhatikannya tadi sawah-sawah itu? seolah menguning namun tak berisi, banyak lapungnya. Hama tikus dimana-mana, belum lagi hama amporik…”

“Namanya juga kampanye oppung, pasti mereka martiga-tiga janjilah, biar dipilih..” seraya mencoba memahami jalan pikiran oppung.
“Itulah yang aku tak mengerti oppung, saat ini kan penduduk kamung seperti kami yang sudah peot ini tidak mengerti apa itu politik, yang kami tau, siapapun yang duduk sebagai penggomgomi di negara ini, harusnya berbuat untuk kemakmuran penduduk bukan? kami-kami ini sudah tinggal menunggu hari, mungkin tahun depan kalau kau pulang kampung, yang kau temui bukan aku lagi, tapi batu nisan kami. Kami penduduk kampung tak mengharap muluk-muluk, ingin jadi kaya, ingin punya motor, yang ada dipikiran kami adalah bagaimana partaonan bagus, salak bisa kami jual, lalu gota ada yang beli dan harga gula sakka normal kembali…”

“Merokok dulu oppung…..” kataku seraya menyodorkan gudang garam merah kegemaranya.

“sudah tak merokok aku, semenjak harga-harga naik, rokok sudah tak bisa saya beli lagi, jangankan rokok, minyak tanah saja sudah jarang. Makanya oppungmu boru menyalakkan satu lampu teplok saja. PAdahal berita di radio, harga minyak di pasar dunia sudah turun, tapi kenapa minyak tanah di kampung ini masih langka dan mahal, belum lagi harga karet. Alasan tokke gota, krisis global di Amerika serikat, sehingga harga gota nggak naik-naik, darimanalah nanti orang kampung dapat uang untuk membeli baju natal dan baju tambaru……sudalah, kita ngobrolnya nanti saja…” lalu oppung terdiam.

Sesaat dia memandangi saya, sangat dalam dan menusuk. Lalu pelan dia berujar…”Tak ada yang kau cari ada padaku oppung, semuanya ada dalm dirimu…”

“MAksud oppung apa?? aku kan belum mengutarakan maksud kedatanganku…”

“Marilah masuk ke dalam oppung….” ajaknya dan segera aku mengekor mengikuti langkahnya yang sudah duluan masuk ke pondok dengan lampu teploknya.

Sesat dia mempersiapkan tikar kecil dan dupa juga tempat pembakaran kemenyaan, lalu mengambil ikat kepala warna merah, hitam dan putih yang sudah memudar itu, seraya melilitkanya di kepalanya menutupi matanya. Lalu dia memulai ritualnya.

“letakkan pulungan yang kau bawa…” ujarnya hampir tak kedengaran, lalu aku dengan pelan mengeluarkan bawaanaan ku dari tasku.

“kesinikan tanganmu…” lalu dia meraih ibu jari tangan kiriku, lanjutnya ” aku mengerti maksud  kedatanganmu, dan sudah tau apa ang ada di pikiranmu, kau mau minta pitonggam bukan??…”

” Iya oppung….”

“Buat apa…”
“Begini oppung, perusahaan tempatku bekerja sekarang hampir bangkrut terimbas dari krisi global, lalu pimpinan perusahaan menjalankan kebijakan untuk mengurangi karyawan, saya kuatir, kalau saya kena imbasnya di PHK, untuk itulah kiranya oppung memberikan saya pitonggam supaya nanti, ketika saya ketemu sama atasan saya, dia akan bimbang untuk mengikutsertakan saya di program PHK ini….
“Apalagi yang kau inginkan…?”

“Sekalian oppung, saya mau meng-upgrade parmanison yang pernah oppung berikan itu, beberapa bulan yang lalu pernah saya pergunakan merayu siboru yang brou cina di kantorku tapi tak berhasil, aku pikir parmanison ini sudah expaired dan lewat masa garansinya, tolong lag di upgagrade oppung….”
“Bah…kau bilang sudah expaired, menurut database yang ada padaku, parmanison yang aku berikan itu adalah versi terbaru dan genue alias asli dan  sudah dicocokkan dengan EYD, ejaan yang disempurnakan, jadi nggak mungkin salah lagi…” ujar oppung seraya tangan kirinya meraba kitab kuno yang teronggok didekat tungku sesajen.

“BEnar….itu sudah uptudate, dan otomatis akan update sendiri parmanison itu, apa mungkin pantanganya kau langgar…”
“Nggak oppung,….”
“Coba kau ingat dulu, apa pernah kau makan jagal biang alias RW?…
“sering oppung, dicibitung sering oppung…”
“Bah…bah….itu pantanganya……”
“waktu itu, oppung nggak bilang kalau makan RW itu melanggar pantangan….yang oppung bilang, hanya ada tiga, nggak boleh beli togel, udah kulakukan, kebetulan togel sudah lama tutup. Lalu nggak boleh minum alkohol, dan nggak boleh manuruh ke bawah tiang jemuran…”
“iya…iya…saya lupa memberitahukan pantangan yang ke empat…..”

“Okelah….. nanti akan saya berikan ramuan-ramuan dan kumpulan tabas-tabas yang paling komplit, yang bisa kau pergunakan, dan tidak kadaluarsa lagi. Nanti kau praktekkanlah di tempat kerjamu niscaya kau tidak akan dipecat, dan akan banyak orang yang tunduk kepadamu…..

Lalu dengan diiring doa-doa yang mirip erangan, oppung mengakhiri ritual ini dengan senyumnya yangkhas. Selekas dia beranjak dari tempat duduknya dan membuka kain berwarna-warni penutup matanya dan meraih satu bungkusan sedang yang dibalut dengan kain lusuh. Juga dengan tabas-tabas dan doa ala oppung parbulang-bulang, dia menyerahkan bungkusan itu.

“Sesampai di jakarta, kau bukalah bungkusan itu, kau gunakanlah itu di dimana saja, niscaya apa yang kau cari akan ditemukan. Ingat, bungkusan ini hanya boleh dibuka sesampai kau di Jarta, kalau tidak, ritual ini tidak akan berguna…

“baik oppung….” lalu aku permisi untuk pulang. Taklupa saya menyelipkan dua lembar ratusan ke kantongnya sebagai pengganti gula dan kpi yang aku minum tadi.

—–o0o——

Tak tertahankanlah rasa penasaran di  hati ini untuk segera mengetahui apa isi bungkusan yang diberikan oleh oppung parbulang-bulang, sebuah ilmu kebthianan, pitonggam dari sampuran sipulak. Akhu akkan menaklukan dunia ini dengan pitonggam ini. PAsti semua akan bertekuk lutut dihadapanku, jangankan boru cina, boru batak pasti akan terkelepar dengan pitonggam baru ini. Jangankan anggota milis Pakkat, pembaca setia pakkatnews akan takut melihatku. Tak sabar lagi, aku segera membuka bungkusan ini.

Hah!

Aku hampir melompat dan kaget setengah mati melihat isi bungkusan uang diberikann oleh oppung parbulang-bulangs ebagai pitonggam yang saya cari. Dua buah buku!!!! Salahsatunya adalah SEVEN HABITS karangnya Stephen covey dan satu lagi adalah Strategi Samudra Biru alias  (Blue Ocean Strategy) yang dikarang oleh W. Chan Kim….

Aku merenung sejenak…..Benar juga kata Oppung…aku butuh pitonggam ini!!…pitonggam dari sampuran sipulak.

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

5 Responses to Pitonggam dari Sampuran Sipulak

  1. Tommy M J Sihotang

    Wakakakak….(sappe neng mittop)….

    Lanjut……….Horas

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. Hahaha, Strategi Sampuran Biru Sipitu Dai sian Sipulak.
    Sian dia ma di boto oppung i istilah up grade akke jo.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. YULINDA SIMBOLON

    hahaha….

    Horas Oppung ninna si HENDRY Par Pakkat News mangalului oppung na di Aek Sampuran Sipulak pajumpang na mar Oppung dohot pahompu ningon akke songo na melepas kangen nimmu ma.

    Alai molo na binoto Si HENDRY L.Gaol do adong di Par Pakkat News saonari molo songoni ise do i na di Aek Sampuran Sipulak i, alai goarna sarupa sada dang MAR MARGA sada nai L. gaol do

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. hehehehhehe……..

    ito on nian….ai nunga godang rittik nuaeng jolma olo marhata-hata sandiri ala ni krisis global on. molo parhobas ni web on do, olat ni na serom-serom sandiri kodo, dang sampe marhata-hata…alai nunga huhut dipangan ubat asa sai sadar torus….

    nga boha kabar di palembang ito,..sipata kirim hamu akka karupuk palembang i tu hami dibariba selat on bah,….hehehehe

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. YULINDA SIMBOLON

    Kabar nami di Palembang ito sehat – sehat do , molo karupuk do ito naeng kirim tu hamu di baribai na denggan lean hamu ma alamat na lengkap2 , asa niluluan akka inanta panggoreng karupuk di onan ipe asa nikirim karupuk tu hamu ito di baribai songon i majolo akke hahahaha

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>