www.harian-global.com
Masyarakat petani di Kecamatan Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang (Papatar) Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) resah akibat anjloknya harga gabah, kelapa sawit dan karet.
Harga yang dipatok para penampung saat ini untuk kelapa sawit Rp 600/kg, cokelat Rp2.500/kg, dan getah karet Rp 5.500/kg, padahal sebelumnya harga bandrol kelapa sawit Rp 1.200/kg, cokelat Rp12.500/kg dan getah karet Rp 10.000/kg.
Demikian dikatakan dua petani, Morasian Silaban didampingi Armen Nainggolan kepada wartawan, Rabu (8/9), saat pulang dari onan (pekan) Pakkat, seusai menjual hasil pertaniannya.
Menurut mereka, masyarakat petani resah akibat anjloknya harga hasil pertanian. Sebab, warga Papatar selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Disebutkannya lagi, masyarakat petani Papatar rata-rata memiliki kebun kelapa sawit, coklat dan karet yang menjadi andalan hidup keluarganya. Namun saat ini, biaya pemeliharaan dan pengelolaan sangat berat. Mulai dari penanaman sampai panen sangat membutuhkan pupuk kimia dan obat-obatan dengan harga mahal.
Di samping itu, tenaga kerja harus tetap ada untuk memelihara, sehingga dengan situasi harga saat ini sangat merugikan masyarakat karena kalkulasi biaya pengelolaan dan penghasilan tidak sebanding.
Masyarakat mengharapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Humbahas dapat mencari solusi agar nasib petani tidak semakin terpuruk lagi akibat fluktuasi harga hasil pertanian yang tidak seimbang dengan hasil yang diperolehnya.
Selain itu diharapkan juga peran serta Pemkab Humbahas untuk membuat pelatihan-pelatihan cara menanam dan memelihara tanaman yang efektif dan tepat guna, sehingga cara-cara tradisional yang selama ini mereka lakukan akan ditinggalkan.
“Seiring dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat akan bercocok tanam yang lebih modern maka cara-cara lama yang dianggap kuno dan tidak efektip tidak lagi. Disamping itu pemberian/penyaluran bibit-bibit unggul sangat diharapkan guna mendukung pengetahun yang baru tersebut. Sehingga dengan hasil tersebut akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat atas penghasilan yang meningkat tersebut,” ujar Morasian Silaban.
Senada dengan itu, Agave Simanullang warga Desa Pulogodang Kecamatan Pakkat menyatakan masyarakat sangat mengharapkan perhatian Pemkab Humbahas meningkatkan pembangunan jaringan irigasi, sebagai salah satu pendukung berhasilnya tanaman persawahan.
“Sehingga dengan berfungsinya saluran jaringan irigasi, maka program pemerintah membuat panen padi 2 kali setahun akan dapat segera terealisasi,” kata Simanullang.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Petani Papatar Resah – Harga Kelapa Sawit, Cokelat dan Karet Anjlok= patut do langa onan, dang lakku parubat ubat dohot seddor be
[Balas...]
Boasa ma naeng tutu tok godang turun ate…ai komoditi export do sasude nai ra molo sosala, je dang pola songoni nian pardabu ni arga i ate..”atik na tokke i do na marmain disi??!!!…ha..ha..daong ate..! (atik boha adong anak ni tokke dison, sotung digedap iba annon..)
[Balas...]