“PERSAHABATAN ANTARA KURA-KURA DAN ANGSA

Publikasi : Kasdin Sihotang

“Mungkin netters sudah pernah baca cerita ini, cerita dari negeri dongen, yap…ada hikmah yang terkandung didalamnya….”

Kumadhawati adalah danau yang indah dan jernih airnya, penuh bunga teratai beraneka warna. Di danau itu hidup sepasang kura-kura, jantan dan betina. Yang jantan bernama Dhurbudhi, yang betina bernama Kacapa. Kedua kura-kura jantan-betina itu bersahabat akrab dengan sepasang angsa, juga jantan dan betina. Cakrangga nama yang jantan, Cakranggi nama yang betina.

Musim kemarau mendekat, air danau menyusut. Berkatalah angsa itu kepada sahabat mereka si kura-kura, “Kami minta diri sahabat, mau pindah ke danau Manasasara, di Gunung Himawan, karena danau ini akan kering. Kami tidak dapat jauh dari air karena itu kami pergi dari sini”. Berkatalah si kura-kura, “Angsa sahabatku, kami pun tidak dapat jauh dari air, karena itu kami ikut anda, ke manapun anda pergi.”

Jawab angsa, “Baiklah sahabat. Kami mendapat akal: Ini kayu! Gigitlah di tengah-tengah kalian berdua. Kami berdua akan mematuk kedua sisinya. Dengan cara demikian kalian kami terbangkan. Jangan sampai kalian lepas menggigitnya! Jangan berbicara di tengah jalan! Apapun yang terjadi jangan ditanggapi. Kalau ada bertanya, jangan dijawab! Itulah yang harus anda lakukan. Taatilah petunjuk ini. Kalau tidak anda tak akan sampai pada tujuan, tetapi akan binasa di tengah jalan!”

Maka digigitnya kayu itu di tengah-tengah oleh kura-kura, sedangkan angsa jantan-betina mematuk kedua ujungnya, lalu penerbangan dimulai dari danau Kamadhawati ke telaga Manasasara.

Telah jauh mereka terbang sampai di atas ladang Wilangga. Di sana ada dua ekor anjing, jantan dan betina bernaung di bawah pohon mangga. Nahan nama yang jantan, Babyan nama yang betina. Babyan mendongak melihat angsa menerbangkan kura-kura. Berserulah ia kepada Nahan suaminya, “Hai lihat itu! Kura-kura diterbangkan oleh angsa.”

Nahan, si anjing jantan menjawab, “Itu bukan kura-kura; Itu tahu kerbau kering, oleh-oleh untuk anak bangsa.” Mendengar kata-kata ejekan dari anjing jantan itu, kura-kur menjadi panas hatinya dan marah. Ia membuka mulut mau menjawab. Maka terlepaslah ia dari kayu pegangannya, jatuh ke tanah bersama betinanya, menjadi mangsa anjing. Dengan sangat menyesal angsa melanjutkan perjalannya, selamat sampai di telaga Manasasara.

Diambil dari Percikan Kebijakan, hlm. 24

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

4 Responses to “PERSAHABATAN ANTARA KURA-KURA DAN ANGSA

  1. intinya?

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. hurang topek do judulna i bah, tumagon do: sikura kura na patangi hu di hata ni deba.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. G. Meha! toho do daba judul na niusulhon muna i. Alai ala kebetulan kutipan do carita on, ba binaen ma asli na, songon manghormati penulis. Molo diterjemahon tu bahasa Batak pas hian ma ra usul muna “Si Kura-kura na Patangi Hu di Hata ni Deba” akke!

    Menjuah juah banta karina
    Horas di hita sude!
    KS

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. Dang i na lobi sossok bang Kas….baen ma judulnya, KURA-KURA na JUGUL

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>