PENGGALI INTAN
TEATER KOMA hadir kembali dengan pentas teranyar: PENGGALI INTAN. Lakon getir bekas pejuang yang dikuasai dendam. Ia mengejar impiannya dengan menggali intan di pedalaman Kalimantan. “Untuk mencintai diri sendiri, kita boleh berbuat apa pun”, katanya.
Digelar pada 1 & 2 Agustus 2009, setiap pukul 20.00 wib, di Teater Studio (Teater Kecil) Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Tanggal pementasan kali ini mengusung makna khusus. Produksi perdana TEATER KOMA (Rumah Kertas) digelar pada awal Agustus pula. Tapi tahun 1977, sudah 32 tahun lalu.
Produksi ke-118 ini merupakan upaya regenerasi. Seluruh pekerja, termasuk sutradara, merupakan angkatan muda (2000, 2005, dan 2008). Diantaranya: Paulus Simangunsong, pemeran Sampek dalam lakon Sampek Engtay. Tuti Hartati, Pemeran Engtay, juga Limbuk dalam Republik Togog dan Republik Petruk.
Rangga Riantiarno berperan sebagai Priambada dalam pentas Republik Petruk. Ia juga menerjemahkan naskah Kenapa Leonardo. Adri Prasetyo pernah bermain sebagai Nio (Ayah Sampek) dan Pak Miring di Kenapa Leonardo. Ledy Yoga pernah memainkan Ritalubing dalam Republik Petruk.
Lakon terjadi pada sekitar tahun 1950-an. Dikisahkan, Sanjoyo (Adri Prasetyo) nekat merantau ke pedalaman Kalimantan menjadi penambang intan. Siswadi (Rangga Riantiarno) yang berutang budi turut menemani. Perantauan itu terjadi akibat gurauan Sunarsih (Tuti Hartati) yang menginginkan suami kaya.
Suatu pagi, ketika menggali di belokan sungai, Sanjoyo mendapatkan intan seharga tiga ratus ribu. Keberuntungan sebesar itu tidak membuat Sanjoyo puas. Dia ingin mendapatkan intan lebih banyak lagi.
Jiwa Sanjoyo rusak oleh dendamnya sendiri. Kilau intan yang ia sangka bisa membahagiakan justru menghancurkan jiwa. Tubuhnya pun ikut hancur jatuh ke jurang akibat mengejar Sarbini (Ledy Yoga), temannya, yang ia curigai telah mengambil intannya.
Naskah KIRDJOMULYO · Sutradara PAULUS SIMANGUNSONG
Asisten Sutradara RANGGA RIANTIARNO · Penasehat Sutradara N. RIANTIARNO
Penata Cahaya DONNIE BIRKOED · Penata Rias & Rambut SENA SUKARYA
Penata Grafis ALDIN SIAHAAN · Penata Artistik CACINK
Sketsa Kostum RAHAYU PRATIWI · Manajer Panggung ZAINAL ABIDIN
Pimpinan Produksi RASAPTA CANDRIKA
===========================================================
Pameran Memorabilia KIRDJOMULYO
Bersamaan dengan pementasan PENGGALI INTAN, tanggal 1 dan 2 Agustus di Teater Kecil – TIM. Teater Koma juga menyelenggarakan pameran kecil tentang Kirdjomulyo berupa lukisan dan karya-karya lainnya.
Bertempat di lobby Teater Kecil, pameran terbuka untuk umum. Pameran diadakan sebagai acara pendukung pementasan Penggali Intan, yang juga merupakan karya Kirdjomulyo.
Pameran juga akan menampilkan beberapa materi pementasan Teater Koma yang berhubungan dengan proses regenerasi.
Dalam sejarah Teater Koma, terdapat 5 produksi yang merupakan wujud regenerasi. Antara lain: Raja Ubu (1993), Rampok (1993), Kala (1997), Sampek Engtay 2005 (2006), dan Festival Topeng (2006). Materi-materi tersebut ditampilkan sebagai pengingat bahwa regenerasi adalah sesuatu yang penting dan perlu. Dan Teater Koma sudah melakukannya sejak lama.
Sekali lagi diinformasikan bahwa pameran akan dibuka untuk umum, di Lobby Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki pada 1 & 2 Agustus 2009.
Salam Budaya,
TEATER KOMA
==============================================================
PAULUS SIMANGUNSONG
“Tak bisa dipungkiri, menyutradarai di Teater Koma adalah kesempatan emas.”
Sejak sekolah dasar saya gemar membaca sobekan koran dan majalah. Setiap menemukannya, saya akan menjumput lalu membaca isinya. Suatu waktu, sepulang dari Sekolah Dasar, saya menemukan potongan koran. Isinya tentang berita ulangtahun ke-10 Teater Koma. Potongan koran itu mengenalkan saya pada nama Teater Koma.
Selama kuliah saya menumpang di rumah Namboru di Bintaro. Jaraknya sekitar 500 meter dari sanggar. Tahun 2000, teman-teman di Universitas Bina Nusantara meminta saya mengantarkan formulir pendaftaran ke Sanggar Teater Koma di Jalan Cempaka Raya no.15. Tiba-tiba saya ingin mencoba pula mendaftar menjadi calon anggota. Padalah formulir yang dititipkan sudah terisi semua. Akhirnya dengan Microsoft Excel formulir itu saya tiru. Jadi kalau diperiksa, formulir saya tidak sama persis dengan formulir teman-teman satu angkatan.
Sudah sembilan tahun saya berproses di Teater Koma. Dari latihan Forum Jumat hingga pementasan belasan hari, dari rebutan baca koran hingga membuat Mas Nano cemberut karena saya sering mengacaukan susunan buku perpustakaan pribadinya.
Sudah sembilan tahun atau baru sembilan tahun? Tidak terasa. Padahal baru kemarin rasanya mengambil duduk di bangku paling belakang untuk membaca buku Kahlil Gibran sementara kelas kuliah Medan Elektromagnetika sedang berlangsung. Rasanya baru kemarin melakukan kekonyolan dengan nekat ikut pementasan Sampek Engtay di Yogyakarta dan baru terbang ke Jakarta jam 06.00 wib padahal sidang skripsi berlangsung jam 11.00 wib. Karena hanya punya celana bahan hitam, kemeja putih lengan panjang untuk sidang beli di Malioboro. Dengan segala proses “ajaib” ini, di tahun ke sembilan, saya mendapat kesempatan untuk menjadi sutradara. Berikutnya akan disusul pula oleh Rangga Riantiarno.
Penyutradaraan perdana ini adalah ujian besar bagi saya. Beruntung, saudara-saudari Teater Koma, dengan senang hati mendukung proses ini. Sungguh terharu mendapatkan dukungan moral yang begitu melimpah. Terima kasih untuk semuanya.
Begitu ada lontaran bahwa saya yang akan maju menjadi sutradara lebih dulu, terus terang sungguh degdegan. Apalagi harus melewati Quality Control dari kakak-kakak angkatan. Sungguh, ini bukan pekerjaan gampang. Beberapa sutradara, dan sekian banyak pemain hebat lahir dari kelompok ini. Dan saya harus meyakinkan mereka semua agar layak berpentas di khalayak umum.
Banyak hal saya pelajari sepanjang proses latihan. Belajar berkompromi, berimprovisasi, dan mendekatkan diri dengan para pendukung, merupakan sesuatu yang alot pada awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, kesulitan-kesulitan sedikit demi sedikit teratasi.
Mungkin banyak kekurangan ketika karya ini digelar. Namun tahapan ini jadi pondasi untuk penggarapan karya-karya berikutnya. Semoga ke depan semakin matang dan menjadi sumbangan kecil bagi perkembangan Teater di Indonesia.
Pada akhirnya, semoga pementasan Penggali Intan ini diterima khalayak umum, utamanya penonton setia Teater Koma. Selamat menonton!
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Selamat selamat lae, semoga semakin banyak orang2 Pakkat yang bergelut di tingkat nasional dan di tingkat internasional. Unang lupa mulak tu huta dah….. ai arga do bona ni pinasa….
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:02
@swandy sihotang,
Pasti do ingkon mulak dah Lae. Sapala habang, habang ma jolo. Ingkon adong do tingkina songgop.
[Balas...]
Selamat buat putra Pakkat, sebagai putra kelahiran kota tua Barus dan katanya sewaktu kecil sering ke Pakkat naik kuda beban dibawa ompung yang tinggal di Pakkat sangat bangga. Sukses terus Lae dan kalau dapat buat pementasan juga di Pakkat
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:03
@Fadmin Prihatin Malau,
Mauliate ma Lae. Ai takkas marlae do hita. Dainang pangintubu boru Batubara.
[Balas...]
Toho mai lae, dibaen muse ma DERAMA i di pasar pakkat ningon, di balerong i..iteng!!…hadirin yang berbahagia…mari kita saksikan pementasan derama, yang disutradarai oleh paulus simangunsong…inilah dia….( dungi di tarik ma layar na binaen sian kain paroppa i..teekkk hebat nai i ra akke)
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:04
@Hendry Lbn Gaol,
Ha ha ha… Opera Batak. Apala i dope nipikku tu joloan on. Sai anggiat ma. Ingkon do on.
[Balas...]
Risma:
August 11th, 2009 | 11:07
pitor marendema akka pemain ” Selamat datanglah kami ucapakan kepada Bapa dan Ibu semua dst……
tutup layar.. untuk penampilan selanjutnya 1 buah lagu dari Ros Siadari..dan Ramli Sihombing lagu Supiiiir motor tarik layar.. ” Dilombang siserasera hadabuan ni motor ..dst. tek mandam hianma pittor manyumbangma si Swandi dht si Hendry dan anggota FIP. hehehe hira nipi nisi Hendry akke
[Balas...]
swandy:
August 11th, 2009 | 11:21
unang lupa lagu-lagu naditoru on bah:
” TIRIS SOPO iiiii ”
Yang dibawakan olehhhhhhh … MUURRRPIIIII SIMAMORAAAAAA….
molo lagu pa duahon, judulna :
” MALOS SI SOPIA “
Molo ende patoluhon, judulna :
” SI UNTE MANIS ”
Mandam nai akke.
[Balas...]
Sai sukses ma tutu kale-kale.
Tambaha museng, tarikan ni layar i, sian GALENDONG ma dibahen.
Sekarang !!!!!, MARILAH KITA LAGU-LAGU, dengan JUDUL ” ARGADO BONA NI PINASA “…..(huhut di ultong SULIM i ” tiittiiiii…tulililllitlit ?!”, ninna songon pandok ni amanta “si Ajir” najungkan i. hehehe………..
Tek !, tutu hian do arga bona ni pinasa, minimal BAHEN SAKKALAN.
hehehehe……
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:05
@Ricardo AP Marboen/edo,
Ha ha ha… sangkalan laho marbinda. Nga tok jim i. Adong muse do ra upa ni sankalan kan? Dang holan upa ni parhobas he he he…
[Balas...]
Awal yang hebat. Dunia Teater adalah awal dari kesuksesan, semua orang Film (dari Sutradara, aktor dan aktris, begitu juga penulis script) berlatar belakang teater.
Di suatu universitas, biasanya ada Unit Kegiatan Mahasiswa bidang Teater. Orang Teater biasanya nyentrik dan cuek dari segi penampilan. Mentalnya menjadi kuat karena gemblengan dan mampu tampil di depan umum tanpa ragu-ragu. (Dulu di tempat saya kuli ah, dekat dengan orang-orang Teater (Seriboe Djendela Univ. Sanata Dharma, cewenya cakep-cakep, yang laki-laki kumuh dan bulukan, beda-beda tipis dengan gaya anak mapala. Mereka juga suka gondrong dan tak mandi berhari-hari serta suka juga marmitu he he).
Semoga Lae Paulus bisa mencapai impiannya dari langkah awal yang indah ini.
Horas…mauliate !
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:08
@Parbatto,
Mauliate Lae. Anggiat unang lomos ahu nian tu joloan on. Anggo komentar ni media apala positif do tu pentas on. Angket nahuedarhon hami pe rata-rata Memuaskan dohot Sangat Memuaskan do.
Film dohot Sinetron i apala efek samping do i. Molo adong tole, molo so adong ba di son ma iba marsigulut. Asa adong ganti ni si Rendra he he he…
[Balas...]
Slamat berkarya Ito Paulus Simangunsong di dunia Teater Koma ini adalah prestasi na seleleng on di cita-citahon ito.
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 10th, 2009 | 20:09
@YULINDA,
Mauliate Ito. Godang dope nahuparsitta. Rupani marhamulian ha ha ha… Alai parpudi mai ah. Tanggung dope sita-sita.
[Balas...]
Iteeennnnnnng hamuna ito si Hendry on mambaen layar ninna sian kain paroppa ? dang adong be saonari i nga diganti dohot plastik songon mamboan anak ni bodat….hehehe……
Arga do bonani pinasa tutu doi dangholan sakkalan da tulang tarlumobi mambaen losung pandudaan ni baiyon …..hahaaaa
[Balas...]
“Penggali Intan”, Pentas Regenerasi Teater Koma
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Sabtu, 1 Agustus 2009 | 14:22 WIB
JAKARTA, KOMPAS.COM–Teater Koma kembali mengadakan pentas yang ke-118 dengan mengambil lakon “Penggali Intan” karya seniman serba bisa dari Yogyakarta, Kirdjomulyo (1930-2000) pada 1 – 2 Agustus 2009.
Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno dalam jumpa pers di Teater Studio (Teater Kecil) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat, mengatakan, pentas Penggali Intan merupakan pentas regenerasi Teater Koma karena keseluruhan produksi ditangani oleh angkatan X Teater yaitu angkatan 2000, 2005 dan 2008.
“Pementasan ini bisa dikatakan program regenerasi,” kata Nano.
Dia mengatakan “Penggali Intan” dipilih sebagai salah satu lakon aliran realisme dari kurun waktu 1930 – 1960 yang merupakan tahun peletak dasar teater realisme Indonesia.
Setelah diadakannya workshop lakon “Penggali Intan” dari angkatan muda Teater Koma, Paulus Simangunsong dipilih sebagai sutradra karena dirasa berhasil memvisualisasikan karya Kirdjomulyo tersebut.
Pentas Penggali Intan ini disutradarai oleh Paulus Simangunsong, pimpinan produksi Rasapta Candrika dengan pemain utama yaitu Adri Prasetyo sebagai Sanjaya, Rangga Riantiarno sebagai Siswadi, Ledy Yoga S sebagai Sarbini dan Tuti Hartati sebagai Sunarsih.
Sedangkan Paulus Simangungsong mengatakan dirinya berusaha mengeksplore “Penggali Intan” dengan bertemu putri Kirdjomulyo, Ika Yuni Purnama yang datang pada jumpa pers tersebut.
“Penggali Intan” yang mengambil latar 1950-an ini bercerita mengenai kisah dua mantan pejuang kemerdekaan yaitu Sanjoyo (Adri Prasetyo) dan Siswadi (Rangga Riantiarno) yang merantau ke pedalaman Kalimantan untuk menambang intan.
Sanjoyo nekat mendulang intan di Kalimantan setelah sakit hati akbiat gurauan pacarnya Sunarsih yang menginginkan suami kaya.
Suatu pagi, Sanjoyo mendapatkan intan seharga Rp300.000 ketika menambang di belokan sungai.
Bukannya bersyukur karena mendapatkan intan mahal, Sanjoyo merasa tidak puas dan ingin mendapatkan lebih banyak intan lagi meski pacarnya Sunarsih datang kepadanya.
Akan tetapi kilau intan yang disangka membahagiakannya, akhirnya malah membunuhnya karena jatuh ke jurang akibat mengejar Sarbini yang ia curigai telah mengambil intannya.
Lain dari biasanya, pentas Teater Koma di TIM hanya berlangsung dua hari (1-2 Agustus) karena hanya sebagai pembuka bagi teater yang didirikan tahun 1977 untuk mementaskan “Penggali Intan” ke sekolah-sekolah dan universitas serta pusat kebudayaan.
Tetapi Teater Koma sendiri, jelas Ratna Riantiarno, belum memastikan sekolah, universitas dan pusat kebudayaan mana saja yang akan disinggahi untuk mementaskan karya Kirdjomulyo tersebut.
Sumber : Ant
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/01/14224715/Penggali.Intan..Pentas.Regenerasi.Teater.Koma
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 4th, 2009 | 17:28
“Realisme Penambang Intan”
Minggu, 02 Agustus 2009 00:50 WIB
Posting by : ega
Melalui bahasa seni, realitas tentang keserakahan yang purba dalam diri manusia diterjemahkan dengan apik oleh Teater Koma. Teater pimpinan Nano Riantiarno ini juga berhasil melahirkan regenerasi, bukan sekadar duplikasi.
Melalui bahasa seni, realitas tentang keserakahan yang purba dalam diri manusia diterjemahkan dengan apik oleh Teater Koma. Teater pimpinan Nano Riantiarno ini juga berhasil melahirkan regenerasi, bukan sekadar duplikasi.
Bedeng para penambang intan di Sungai Gula, Kalimantan Tengah itu sangat sederhana. Sebuah meja kayu, beberapa kursi reot, juga sebuah ambin yang tak kalah reotnya. Di halaman, tali jemuran membentang dan baju-baju yang disampirkan, juga tumpukan kayu bakar. Di dinding bedeng yang terbuat dari kayu dan dilapisi lembaran koran itu, sebuah gambar perempuan manis tergantung. Sanjoyo –Adri Presetyo- tak berkedip memandanginya. Perempuan dalam gambar itu, Sunarsih –Tuti Hartati- yang dalam tujuh bulan terakhir ini ditinggalkannya. Sanjoyo gelisah meratapi nasibnya.
Lumpur yang digelutinya tetap lumpur. Tak secuilpun intan didapat. Dibakar kesumat, Sanjoyo menantang peruntungannya menyusuri Sungai Barito dan menenggelamkan diri dalam lumpur pertambangan intan itu. Siswadi –Rangga Riantiarno-, karena utang budi pada Sanjoyo, suka rela mengikuti. Siswadi tak kurang gelisahnya, selain karena Bandung kampung halamannya yang melela-lela memanggilnya, Siswadi lebih gelisah akan keadaan sahabatnya itu.
“Sebelum aku mendapat intan itu selamanya aku tinggal di sini,” ujar Sanjoyo yang berharap menemukan intan dan kekayaan itu akan cepat datang. “Aku bisa mencapai apapun. Aku bisa menghancurkan tiap hati perempuan yang datang. Mula-mula kuangkat ia di atas sanjunganku. Kemudian akan kulemparkan ke tengah pelimbahan paling dahsyat,” Sanjoyo benar-benar terbakar kesumatnya.
“Tapi kau tak ada harta sampai sekarang! Apa yang akan bisa kau capai?“ Siswadi menukas. “Akan aku gali tanah-tanah intan tiap detik selama aku masih tetap bisa bergerak,” tekad Sanjoyo mantap. “Untuk mengejar impianmu yang akan kau beri sayap darah itu, jiwa ragamu tak akan tertolong lagi.” ujar Siswadi putus asa melihat sahabatnya yang berubah.
Sanjoyo, Siswadi, dan Sarbini adalah para penggali intan dalam kisah Penggali Intan karya almarhum Kirjomulyo yang kembali dipentaskan oleh Teater Koma, kemarin dan hari ini di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Penggali Intan bercerita tentang manusia-manusia yang berada di tubir kemanusiaannya. Siswadi yang buta setia karena ingin membalas budi, Sanjoyo dengan dendam sosialnya, atau Sarbini yang sumeleh, hingga Sunarsih yang karena menyesal, rela menyeberang laut menyusuri Barito untuk mendapatkan maaf Sanjoyo.
Siswadi membalas budi, karena Sanjoyo rela melindunginya ketika dia ditangkap Belanda. Sanjoyo memilih bungkam walau disiksa daripada harus menunjukan tempat persembunyian sahabatnya. Sayang, di masa damai bekas pejuang-pejuang itu tak “terpakai” dan terlantar begitu saja. Mereka harus menghidupi diri sendiri. Siswadi mengikuti kemanapun Sanjoyo pergi, juga ketika Sanjoyo membenamkan kesumatnya pada lumpur-lumpur penambangan intan di Sungai Gula itu.
Satu hal yang tak dimengerti Siswadi adalah kesumat Sanjoyo, kesumat yang tepicu oleh gurauan Sunarsih –pacarnya- ketika mereka mengangankan sebuah keluarga. “Kau ingin suami yang seperti apa?” tanya Sanjoyo kala itu. “Aku ingin seorang suami lebih kaya, tidak macam kau”, Sunarsih membalasnya dengan gurauan. Sayang, yang dianggap Sunarsih tak lebih dari gurauan itu, ternyata membakar kesumat Sanjoyo seumur hidup.
Regenerasi
Sanjoyo terpojok di lingkungan sosialnya, kemiskinannya, juga mukanya yang bopeng. Dia disudutkan kenyataan pola pikir dan perilaku masyarakat yang mengukur kemanusiaan dari kekayaan dan penampilan. Hingga saat Sunarsih nekat menyusul ke pertambangan intan itu, jiwa Sanjoyo sudah terlanjur rusak parah dan tak tersembuhkan lagi. Bahkan, dia tega membiarkan Sunarsih terperosok dalam lubang galian dengan hanya meninggalkan senyum sinis untuk kekasihnya itu.
Intan yang dikiranya bisa membahagiakan justru malah makin membenamkan kemanusiannya. Intan besar seharga tiga ratus ribu rupiah, tak membuatnya bersyukur. Bandingkan dengan Sarbini yang hanya menemukan intan seharga tiga ribu rupiah, tapi berani merancang masa depannya. Kawin dan hidup normal. Di akhir kisah, Sanjoyo hancur oleh dendamnya. Tubuhnya juga, hancur tergelincir ke dalam jurang karena mengejar Sarbini yang dicurigai mengambil intannya yang hilang.
“Tema ini akan abadi karena bicara tentang manusia dan keserakahan. Sangat manusiawi sekali,” ujar Nano Riantiarno menjelaskan mengapa kali ini teater yang dipimpinnya memilih lakon-lakon realis seperti karya almarhum Kirjomulyo.
Tak hanya menjadi pertunjukan yang menarik, Penggali Intan oleh Teater Koma sekaligus menjadi ajang untuk regenerasi. Disutradarai dan dimainkan oleh angkatan termuda di kelompok itu. Generasi baru ini tak kalah dengan pendahulunya.
Paulus Simanungsong, sang sutradara berhasil menerjemahkan naskah Penggali Intan sebagai problem kemanusiaan yang laten sekaligus digunakan sebagai ajang pembelajaran terhadap realisme sekaligus penghargaan terhadap Kirjomulyo sang dramawan kondang itu.
Hasilnya? Adri Prasetyo, Rangga Riantiarno, Ledy Yoga, dan Tuti Hartati –para pemain Penggali Intan itu- tampil memikat. Tak hanya menjadi sekadar tontotan tapi lakon ini juga menyediakan ruang yang luas bagi penonton untuk berpikir. Proses regenerasi itu bukan duplikasi. Pada titik ini, Teater Koma boleh dibilang berhasil memoles “intan-intan” baru tersebut.
adiyanto/teguh nugroho
http://www.koran-jakarta.com/ver02/detail-news.php?idkat=124&&id=14327
[Balas...]
Paulus Simangunsong:
August 4th, 2009 | 17:31
Lakon Keserakahan Manusia
Sunday, 02 August 2009
MANUSIA adalah makhluk yang tidak pernah puas dan selalu ingin mendapatkan yang terbaik dalam hidup.Untuk mendapatkan segalanya,orang menghalalkan segala cara.
Termasuk dengan melupakan hati nurani, bahkan meninggalkan kesucian sebuah persahabatan. Keserakahan manusia dituangkan Teater Koma dengan pementasan lakon bertajuk Penggali Intan. Pentas teater yang diangkat dari karya Kirdjomulyo dan disutradarai Paulus Simangunsong ini diawali dengan munculnya dua penggali intan dengan baju yang dekil karena lumpur menempel di mana-mana.
Panggung ditata sangat sederhana mewakili kehidupan para penggali intan di pedalaman Kalimantan. Sebuah rumah panggung dengan dinding koran, balebale tanpa alas,dan sepasang kursi menjadi penghias pentas yang dimainkan oleh empat aktor,Andri Presetyo (Sanjoyo), Rangga Riantiarno (Siswadi), Ledy Yoga S (Sarbini), dan Tuti Hartati (Sunarsih). Lagu Indonesia Raya dan orasi Soekarno memenuhi ruangan.
Dua penggali intan terdiam seolah-olah mendengarkan radio yang kemudian menyuarakan proklamasi kemerdekaan.Pentas dilanjutkan dengan perdebatan dua penggali intan, tentang pulang atau bertahankah mereka di tempat tersebut. “Apakah kau tidak rindu kampung halaman? Aku rindu Bandung, tujuh bulan sudah kita merantau di tempat ini.
Tiga hari lagi makanan kita habis,” kata Siswadi sambil mengajak temannya agar pulang saja. Perdebatan panjang itu tidak digubris oleh Sanjoyo. Dia bersikeras untuk mencari intan dan merasa yakin akan mendapatkan intan terbesar dibandingkan yang pernah didapatkan semua penggali intan.Perdebatan itu akhirnya membuat Sanjoyo marah hingga nekat mencari intan di malam hari.
Diambilnya linggis dan berencana meninggalkan Siswadi. Namun, niatnya sempat terhenti sebentar ketika Siswadi bertanya tentang sosok perempuan bernama Sunarsih. “Aku sudah melupakan nama itu, karenanya aku terdampar di tempat ini. Akan aku buktikan bahwa aku bisa mendapatkan intan tiga kali lipat dari yang bisa didapatkan yang lain. Akan aku buktikan aku bisa menjadi orang kaya,”katanya.
Di tengah kebingungan Siswadi karena temannya pergi, muncul Sarbini dengan polahnya yang lucu. Sarbini kemudian bercerita bahwa dia mendapatkan sebongkah intan dengan harga Rp300.000. Saking senangnya, Sarbini memasak makanan untuk teman-temannya. Sanjoyo yang kembali datang mulai heran mendengar Sarbini mendapatkan intan. “Sarbini saja yang tidak berharap mendapatkan intan bisa mendapatkan intan.
Sebenarnya siapa yang menguasai nasib kita,” sesal Sanjoyo. Iri dengan keberhasilan Sarbini yang mendapatkan intan,Sanjoyo akhirnya nekat mencari intan di belokan sungai yang dipenuhi semak-semak. Tidak lama kemudian Sanjoyo muncul sambil berteriak kegirangan karena mendapatkan intan seharga setengah juta.
Namun, keserakahannya kumat dan tidak mau pulang.Ia ingin mendapatkan intan dengan harga yang lebih mahal dan bisa memikat hati wanita untuk kemudian mengecewakan nya. “Pulanglah sendiri, siarkan di kampung halaman tentang aku yang telah memiliki intan seharga setengah juta,”kata Sanjoyo. Siswadi berusaha menyadarkan teman dan sahabat yang dianggapnya menjadi pencari intan karena melarikan diri dari derita cinta dan kecewa kepada negara yang telah memenjarakannya tanpa alasan.
“Aku sudah tidak mau lagi di sini, aku akan pulang besok pagi. Aku tidak butuh apa-apa lagi darimu dan aku tidak bisa lagi membantumu dalam pekerjaan ini,” kata Siswadi yang kecewa karena Sanjoyo masih ingin mendapatkan intan yang lebih banyak. Setelah perdebatan,datanglah Sunarsih yang mengaku rindu kepada Sanjoyo.
Wanita yang dulunya kekasih Sanjoyo itu ingin meminta maaf atas kejadian delapan bulan lalu karena dirinya telah mengecewakan Sanjoyo. “Delapan bulan lalu Sanjoyo pernah bertanya kepada saya, suami seperti apa yang aku inginkan? Waktu itu saya jawab sambil bergurau saya ingin suami yang lebih kaya,” terang Sunarsih bercerita kepada Siswadi. Sejak Sunarsih mengatakan itu, Sanjoyo tidak datang lagi.
Dia hanya meninggalkan surat, juga wanita yang dicintainya itu.“Yang menarik dari Penggali Intanadalah naskah dibuat berdasarkan keserakahan manusia yang sebenarnya tidak pernah puas dengan harta yang telah didapatkan,” kata penasihat sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno. Penggali Intan, kata Nano, juga merupakan naskah teater realis yang pernah dipentaskan di manamana pada 1950-an.
“Dulu Penggali Intan malah dipentaskan dalam peresmian kodam. Namun, sekarang kita membutuhkan regenerasi agar teater tetap diminati berbagai kalangan,” kata Nano Riantiarno menanggapi pentas ke-118 teater tersebut. Keunikan teater realis seperti yang sering dipentaskan oleh Teater Koma adalah tingkat kesulitan pementasan yang tinggi karena harus berani menampilkan permainan yang sama dengan kehidupan sehari-hari.
“Teater realis membutuhkan banyak latihan karena selalu berkembang,” kata Nano. Tercatat, Penggali Intan akan dipentaskan pula di kampuskampus, SMA-SMA atau di tempattempat di mana teater diundang. “Intinya kita ingin menjemput bola. Kita ingin teater ini ditonton banyak orang. Bukan hanya kita mainkan di pusat kebudayaan saja,”tuturnya. Penggali Intan ditutup dengan hilangnya intan berharga setengah juta milik Sanjoyo.
Adapun Sunarsih basah kuyup dan bergelimang lumpur ketika dibiarkan tergelincir dalam lubang penggalian intan oleh Sanjoyo. Namun, ia masih bisa diselamatkan oleh Siswadi. (bernadette lilia nova)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/259284/44/
[Balas...]
Theater Koma drama gives young crew center stage
The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 08/01/2009 2:12 PM | Headlines
They’re young, they’re fresh and they’ve got something to prove; the younger members of the seasoned theater company, Teater Koma are as solid as their predecessors.
Armed with a script from the 1950s by poet Kirdjomulyo, young actors, actresses and directors are set to take over the stage.
“This performance will be fully staged by the future operators of Teater Koma. This is the first time that our seniors will be watching from behind the scenes only,” said Rangga Riantiarno, assistant director of the show Penggali Intan (Diamond Miner), playing on stages Aug. 1 and 2.
The play will be the group’s 118th show and will mark the 32nd year of N. Riantiarno, who founded Teater Koma in 1997.
“In a way, this will be different because we are adopting the perspective of the younger members who grew up in the 1980s and 1990s,” said Rangga, adding the script was loaded with poetic lines from the past.
“Imagine having to say lines that are not commonly used today and having to act them out,” said Rangga, son of the company’s founder.
The play tells a story of a man who travels to Kalimantan to become a diamond miner, only to be corrupted by his own greed and end fueled by vengeance.
The script was proposed by director Paulus Simangunsong and is the first in the troupe’s history that has not been adapted or edited by N. Riantiarno. Paulus performed the role of Sampek in the troupe’s 2005 production Sampek Engtay.
One of the organizers, Suntea, explained that this was not the first time the troupe’s younger members had taken to the stage. “This attempt at regeneration has occurred several times before,” he said.
Realizing the need to nurture young talent in the world of performing arts, Teater Koma has previously staged “regeneration” plays including, Raja Ubu in 1993, Kala in 1997, Sampek Engtay in 2005 and Festival Topeng in 2006.
What sets this one apart is that it is the first time the younger members have taken full artistic control.
“In a way it’s more relaxing to work with our peers because most of us are of the same age, the discussions seem to flow more easily,” he said, adding that most of the cast and crew were in their 30s.
“But there is still the challenge of upholding the big name of Teater Koma.”
Since 1997, the 12 founding members of Teater Koma have encouraged young talent, launching 10 batches of aspiring cadets by 2005.
The founders’ aim was to create a group of artists interested in performing local stories using Western theatrical techniques. This evolved into a style unique to Teater Koma, combining acting based on solid socio-cultural research with music and dance.
The group also developed into an informal training ground for those interested in theater, either as actors, directors or stage crew.
In 1994, the theater company began to make official shortlists of trainees, with each batch receiving six months of training in the basics of theater. At the end of training, each batch was tested by producing a performance.
The play will be accompanied by an exhibition about poet Kirdjomulyo and Teater Koma’s “regeneration efforts” to date.
Penggali Intan, Teater Koma’s 118th production, will be performed at the Teater Studio, Taman Ismail Marzuki, Central Jakarta, on Aug. 1 and Aug. 2.
[Balas...]
Tanpa Nano, Koma tidak jadi titik
Kelompok teater terlalu banyak bersandar pada sutradara
Awal Agustus salah satu naskah seniman serbabisa Kirdjomulyo berjudul Penggali Intan dipilih oleh Teater Koma untuk dipentaskan. Sepintas seakan tidak ada yang istimewa dalam produksi ke-118 ini, selain informasi yang melekat di benak para penggemar bahwa Teater Koma kembali pentas.
Apa benar seperti itu? Jelas tidak. Jika ingin melihat lebih dekat sebenarnya ada hal istimewa dari sekadar Teater Koma kembali berlakon di panggung. Pementasan yang disutradarai oleh Paulus Simangunsong ini merupakan kelanjutan proses regenerasi yang dilakukan oleh teater yang dimotori Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno.
Pascapementasan Raja Ubu yang disutradarai Joshua DP, Rampok dan Kala yang keduanya disutradarai oleh Idris Pulungan, dan Festival Topeng oleh Budi Ros, pementasan Penggali Intan merupakan sinyal ke publik bahwa proses regenerasi yang berlaku sejak teater ini berdiri pada 1977, tak bergeming.
Begitu menyenangkan melihat proses regenerasi teater masih terus konsisten dilakukan di tengah minimnya dukungan pemerintah yang -sebenarnya-bertanggung jawab menggerakkan kesenian di Tanah Air.
Regenerasi menjadi begitu penting saat ini tak hanya di tataran sutradara dan pelakon, tetapi juga di semua lini yang mendukung hingga satu produksi teater dapat dipentaskan. Namun, tak dapat dimungkiri bila kelompok teater terlalu banyak bersandar pada sutradara.
Posisi sutradara yang dijadikan sebagai penguasa tunggal sering kali mengikis kebebasan pelakon itu sendiri. Kreativitas sutradara yang absolut pada akhirnya membatasi kreativitas calon sutradara dan pelakon itu sendiri.
Masalah sutradara yang memerankan peran sentral ini membuat banyak teater yang sudah banyak pengalaman seperti Bengkel Teater dengan WS Rendra, Teater Populer dengan Teguh Karya, Teater Kecil dengan Arifin C. Noor seakan gagap menghadapi regenerasi.
Toh, kalau regenerasi dilakukan, nama besar pendahulu seakan menjadi beban bagi para penerusnya. Akibatnya saat sang sutradara atau penulis naskah tak lagi terjun dalam proses kreatif maka teater itu akan vakum atau hanya tinggal nama saja.
Fenomena ini dipahami betul oleh Nano Riantiarno dan menempatkan regenerasi menjadi satu bagian yang tidak mungkin ditinggalkan dalam teater.
Paulus Simangunsong tegas menyatakan saat dirinya dipercaya sebagai sutradara, dirinya mendapat ruang untuk memilih pelakon, dan menerjemahkan naskah ke panggung.
Memberi arti
“Para senior memang memberikan banyak masukan dan kritikan, begitu pula Mas Nano sebagai penasihat sutradara. Namun, mereka tak sakit hati jika sarannya tidak diterima,” ujar Paulus.
Menurut dia proses regenerasi yang baik justru saat setiap generasi dalam teater memiliki ciri tersendiri. “Itu yang dikatakan Mas Nano sebagai regenerasi buntut cicak. Murid tidak akan sama dengan gurunya kecuali murid hanya sebuah buntut cicak.”
Adri Prasetyo yang dipercaya sebagai pemeran Sanjoyo dalam Penggali Intan kali ini menilai keberhasilan regenerasi lebih ditekankan pada proses bagaimana menghidupkan apa yang sudah diberikan oleh para pendahulu.
“Proses itu yang penting. Jika prosesnya benar, setidaknya hasil akhirnya akan lebih benar pula,” ujarnya. Adri menilai bagian dari proses itu adalah bagaimana memelihara, meneruskan, dan menghidupkan kreativitas dalam berkarya.
Sejak bergabung pada 2005, Adri mendapatkan pemahaman satu pertunjukan teater dinilai sukses jika tontonan yang diberikan sarat edukasi dan memberikan kesan pada penikmatnya.
“Ada tiga hal yang harus dipenuhi agar terjadi harmonisasi dalam satu pertunjukan. Estetika, esensi, dan etika. Tiga hal itu yang selalu kami pegang,” ujarnya.
Sementara itu, Rangga Riartiarno dalam produksi ini selain sebagai pemain juga dipercaya menjadi asisten sutradara menyatakan aspek senioritas tidak boleh menjadi faktor penghambat regenerasi.
Generasi penerus juga menyadari beban sejarah yang telah ditorehkan generasi sebelumnya untuk membangun teater itu. Setiap pelaku regenerasi perlu bertanggung jawab dan berkorban waktu dan energi, karena jika tidak pasti tak akan sanggup bertahan lama, karena sudah merasa tidak betah.
Teater memang memiliki fungsi sosial yang sangat besar. Ciri khas Teater Koma yang sering mementaskan fenomena sosial yang terbaru dengan kritik yang tajam tetapi disampaikan dengan santun dan canda berhasil menarik penonton yang loyal.
Pemilihan bentuk pementasan dan proses regenerasi adalah dua perkara yang mudah dan minus risiko. Sajian yang dianggap terlalu berat dan tidak familiar bagi penonton merupakan tantangan tersendiri.
Hanya saja, dalam komentar tertulisnya Nano menyatakan jika teater kehilangan daya tarik lalu ditinggalkan masyarakatnya, yang pertama harus disalahkan adalah orang teater sendiri. “Jika tidak ada lagi masyarakat peminat dan generasi penerus, itulah ujung dari riwayat teater.”
Bagus atau tidaknya satu pertunjukan membuat penonton berhak memutuskan untuk tetap loyal atau berhenti menonton.
Akan tetapi seyogianya hal itu tak membuat para penggiat teater mandek, dan hanya puas melahirkan pertunjukan yang tak lebih dari sekadar ritual kelompok untuk sekadar eksis.
Ibarat metafora Koma yang diartikan gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tak ada henti, tak mengenal titik, regenerasi harus terus dilakukan.
diena.lestari@bisnis.co.id)
Oleh Diena Lestari
Wartawan Bisnis Indonesia
[Balas...]
Wah!!! Asyik banget kayaknya cerita “penggali intan” itu Ito (mamaku juga br Batubara). Bagaimana kalau Ito pertimbangkan juga agar acara pementasan ‘Penggali Intan’ dimasukkan dalam Pakket “Tour De Pakkat” 2010?
Bahwa orang-orang Pakkat sudah memasuki dunia seni secara profesional, salah satu indikasi bahwa kita sudah maju, tidak hanya memikirkan pangan, sandang dan papan saja.
Tentunya dengan harga sangat khusus (with very special discount…he he he) yang nantinya bisa ditawarkan kepada Panitia Tour De Pakkat yang akan memanage para sponsor.
Berikutnya kita harapkan pula akan ada seniman lukisan dari Pakkat karena ada banyak obyek yang indah2 disana yg selama ini terabaikan.
Horas,
Beliana Purba
[Balas...]