Oleh: Henry Simanullang, ST
(Forum Komunikasi Masyarakat Papatar, Berdomisili di kota DOLOK SANGGUL )
sumber : www.beritapapatar.com
Humbang Hasundutan merupakan kabupaten yang dipisahkan dari kabupaten induknya Tapanuli Utara sesuai dengan Undang – undang Republik Indonesia No.9 Tahun 2003 Tentang “PEMBENTUKAN KABUPATEN NIAS SELATAN, KABUPATEN PAKPAK BHARAT, DAN KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA”
Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai luas wilayah 251.765,93 Ha dengan Jumlah Penduduk Humbang Hasundutan adalah ± 164.421 jiwa (Tahun 2009) dan terletak dibagian tengah Sumatera Utara, berada pada 2° 13 – 2°28 dan 98°57 BT dengan batas-batas sebagai berikut :
ü Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Samosir
ü Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara
ü Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah
ü Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Pakpak Bharat.
Kabupaten Humbang Hasundutan terdiri dari 10 kecamatan yaitu Kecamatan Parlilitan; Kecamatan Pollung; Kecamatan Baktiraja; Kecamatan Paranginan; Kecamatan Lintong Nihuta; Kecamatan Dolok Sanggul; Kecamatan Sijama Polang; Kecamatan Onan Ganjang; Kecamatan Parlilitan; Kecamatan Pakkat; Kecamatan Tarabintang, Pembentukan khusunya Kabupaten Humbang Hasundutan tujuannya adalah tetap pada kepentingan masyarakat umum untuk lebih sejahtera dalam arti untuk memperbaiki hidup menjadi lebih baik.
Masih jelas di ingatan kita bahwa pada hari Senin, 27 Juli 2009, Masyarakat Humbang Hasundutan baru saja merayakan Humbang Hasundutan tahun ke-6, dengan diselenggarakannya berbagai acara dan kegiatan yang di ikut sertakan dari 10 Kantor Kecamatan dan Dinas – dinas dan juga sekolah – sekolah, untuk memeriahkan tahun ke-6 Kabupaten Humbang Hasundutan dimana diperingati di Bukit Inspirasi atau dulunya disebut Dolok Sipalakki tepatnya di Perkantoran Bupati Humbang Hasundutan yang baru selesai di bangun.
Bangga menjadi masyarakat Humbang Hasundutan, itu harus..! tapi untuk berbicara tentang keberhasilan perjalanan Kabupaten Humbang Hasundutan yang usianya sudah 6 (enam) tahun, namun apakah menjadi sebuah kontroversi dimasyarakat. Kita sepakat atau tidak, berbicara masalah perubahan yang lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya seperti bahasa filsafat “ Haruslah lebih baik hari esok dari pada hari kemarin”. Kita kaitkan bahasa ini pada perubahan Kabupaten Humbang Hasundutan yang lebih baik dari tahun sebelumnya kita harus menganalisa dan mempelajari sejauh mana perkembangan itu, program apa yang telah berjalan dan apa yang telah dicapai semua ini adalah hanyalah rakyat yang bisa menjawab.
Humbang Hasundutan yang mempunyai misi “HUTAMAS” (Humbang Hasundutan Mandiri dan Sejahtera) adalah misi yang baik dan arti hal sederhananya pemerintah dan masyarakat yang mandiri untuk tercapainya kesejahteraan, sekarang perlu kita sebagai masyarakat Humbang Hasundutan yang peduli dengan perubahan yang lebih baik, apakah misi “Hutamas” itu sudah sukses atau misi “Hutamas” itu gagal. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa pembangunan Humbang Hasundutan sudah sangat maju dari tahun sebelumnya seperti pembangunan sarana infrastruktur, pertanian, peternakan, pendidikan, dan juga kesehatan. Inilah sebuah pernyataan membanggakan bagi pemerintah daerah dan masyarakat yang menjadi bomerang dimasa yang akan datang, dalam arti masyarakat Humbang Hasundutan sudah mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera, dan apakah ini realita di kehidupan masyarakat Humbang Hasundutan…?. Berarti Pemerintah Pusatpun sudah beranggapan bahwa masyarakat Humbang Hasundutan sudah sejahtera dan pastinya kita harus siap menerima apabila setiap tahunnya Dana Perimbangan dari pusat akan berkurang, pada hal pendapatan asli dareah belum bisa kita andalkan. Padahal banyak potensi sumber daya alam kita yang belum di kelola dengan baik untuk menambah PAD. Seperti potensi parawisata, pertanian (apabila tidak susah mencari pupuk subsidi), perkebunan (kemenyan yang ada di Kec.Pollung, Karet, kakao,kelapa sawit di Kec.Pakkat kurang mendapat perhatian),peternakan, dan banyak lagi potensi di Kecamatan lain.
Kalau Dairi punya Taman Iman dan enaknya kopi sidikalang, Tarutung punya Salib Kasih dan terkenal kacang garingnya, Tanah Karo terkenal dengan parawisata dan buah jeruknya yang manis, jadi Humbang Hasundutan punya apa….? Mampukah kita seperti mereka….?, Bukankah ini bagian dari keberhasilan ….? Saya setuju karena dapat menambah PAD dan pendapatan masyarakat dan merekalah kemungkinan dapat mandiri dan sejahtera.
Ungkapan cap jempol untuk Pembangunan Humbang Hasundutan siapapun bisa menyampaikan, dan itu sah – sah saja. Saya mengharapkan kepada kita semua marilah kita berbicara sejujurnya dan seadanya tentang keberhasilan Humbang Hasundutan ini.
Semoga tulisan saya ini menjadi sebuah instropeksi yang dapat membangun, dan bangkit dari keterpurukan untuk tercapainya cita- cita kita masyarakat yang mandiri dan sejahtera.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Dang adong naso olomaju da? alai boha lao maju huta Pakkat dalan pe dang ra denggan ai molo denggan dalan i OTOMATIS ittor ro perekonomian mangihut manang aha pe di gadis hasil ni tanaman ni akka NATUA-TUA i di huta adong argana contoh na: gadong garikkau dohot suhat tambana Salak nga godang sian huta Pakkat je ninna roha nian di padenggan ma jolo dalan tok porlu hian ,IMA NEAH…nebege sarita sian akka tutur sian Pakkat nga denggan dalan sian D.sanggul sahat tu Arban piga km nai ma sahat tu Pakkat ipe dakkodo di karejoi..eeehh amang oi.
[Balas...]
Mengutip:
“Ungkapan cap jempol untuk Pembangunan Humbang Hasundutan siapapun bisa menyampaikan, dan itu sah-sah saja. Saya mengharapkan kepada kita semua marilah kita berbicara sejujurnya dan seadanya tentang keberhasilan Humbang Hasundutan ini”.
Ucapan cap cempol itu dari siapa, dan kapan?
Humbang Has sangat tertinggal di bandingkan dengan daerah lain, terutama Pakkat.
- Pendapatan Daerah bagaimana
- Pendapatan masyarakat
- Infrastruktur Jalan rusak parah, listrik
kurang, air bersih kurang
- Pariwisata hampir tidak ada di Pakkat
- Sarana umum kurang (lihat pasar-pasar seperti
apa)
Terlebih lagi kalau kita menengok daerah Jawa, wah…….wah……Jalannya, rumah sakitnya, bank-banknya, pariwisata, hotel-hotelnya, sekolahnya.
Sekarang ini daerah-daerah di Jawa berlomba-lomba melakukan Sistem Pelayanan Satu Atap (SINTAP), bahkan sudah ada yang satu pintu, tapi kalau kita kan sangat jauh tertinggal.
Jadi, maksudnya cap jempol apa ?. cap jengkol ya!
[Balas...]
henry:
August 11th, 2009 | 18:26
sebenarnya kita tak perlu menuduh dari siapa,dan saya rasa saudara sudah tau ketika HUT ke 6 Humbang Hasundutan. dan saya ajak kita semua masyarakat humbang hasundutan melihat jelas sejauh mana kemajuan itu. trims
[Balas...]
Maju..?
Lae si Manullang on mengutip kata-katai sian dia do naeng angke.?
Masalah “Jempol” na lupa do si Manullang i manuratto, maksudna ujungna tu toru do ra…!
Horas ma.
[Balas...]
admin:
August 10th, 2009 | 08:23
@Jesron Debataraja, Lae Jesron, arnold, par-pakkat dll…..
Ai so adong na salah di tulisan ni Lae Simanullang i.
Denggan jo ta jaha sude sian gijjang opini ni lae on.
Disok “Ancungan Jempol” ai HALAK do mandok i, datung lae i. Tutu, taida do i, sude do mamuji-muji bupati, mulai sian Gubernur, sahat rodi TB Silalahi, jala SAH-SAH saja do i molo penilaian ni lae SIMANULLANG.
Alai, taringot tu NYATA ni pembangunan, terbalik do sian UCAPAN Jempol i,..ate dang i Lae, dongan SAGOAR??
[Balas...]
Jaullus (raja mullus-ullus):
August 10th, 2009 | 11:03
@admin, Saya belum pernah membaca tulisan tentang kemajuan Hubanghasuddutan secara faktual, selain acungan jempol dan “katanya”. Walaupun TB Silalahi sebagai tokoh dan pemauka masyarakat Batak, pada waktu itu, saya tidak melihat indikator yang diperbandingkan. Hanya katanya “bagus” “hebat” dan “pesat” Tidak memperbandingkan terhadap sesuatu indikator yang menguatkan kata pesat, bagus, dan hebat. Mungkin kata-kata itu bisa tepat, untuk dua daerah Dolok Sanggul dan Littongnihuta. akan tetapi Kabupaten Hubbang Hasuddutan, Bukan hanya Littongihuta dan Doloksanggul, tetapiu mencakup seluruh daerah naungan kabupaten Humbang Hasuddutan.Horas…Maju… Terus…GBU
[Balas...]
henry:
August 11th, 2009 | 19:24
pengertian jempol nai lae….. ta artihon ma dohot denggan, molo asing tapikiiri asing muse do artina, dang holan tu toru, dohot tuginjang adong, tu samping pe adongdo. mauliate
[Balas...]
Arnold LG:
August 12th, 2009 | 20:09
@henry,
molo tu sapping lae, na penggor do ra i.
kwkwkwkwkw…
[Balas...]
Horas Lae Henri Manullang,
(sattabi hula-hula di sangap muna, pakke goar sidanak ahu ate, hanya ingin mempertegas Lae sebagai penulis artikel ini).
Lae Manullang tentu mengharapkan sesuatu dari artikel ini. Paling tidak terjadi pembentukan opini,ada trasformasi gagasan atau di tingkat yang lebih jauh, terjadi perubahan sikap dari pembacanya.Tentu saja, sebagai bagain masyarakat akademis (lae yang sudah melalui tahap pendidikan di universitas) tentu lae mengharapkan ada diskursus setelah artikel ini dipublikasi. Ruang web ini memberi tempat untuk itu.
Maka sebagai salah satu pembaca artikel lae, saya akan menyampaikan beberapa hal terkait informasi dan analisa yang lae lakukan. Tentu saja, setelah taggapan ini, saya sangat berharap lae akan memberi argumentasi.Biar lebih mudah mamahaminya, saya akan menanggapi bagian per bagian dari artikel lae, tentu saja hal ini tidak akan mengartikan bahwa saya memahaminya sepotong – sepotong.
Pertama,ketika lae melontarkan pertanyaan “apakah ini realita di kehidupan masyarakat Humbang Hasundutan…?” untuk merespon opini yang berkembang di masyarakat : “banyak kalangan yang mengatakan bahwa pembangunan Humbang Hasundutan sudah sangat maju dari tahun sebelumnya seperti pembangunan sarana infrastruktur, pertanian, peternakan, pendidikan, dan juga kesehatan.”
Saya beranggaban, pada bagian berikutnya lae akan mengungkapkan beberapa fakta dan data. tetapi lae tidak melakukan itu.Dengan data yang saya maksud, pembaca akan terbantu untuk menyimpulkan opini yang berkembang tersebut benar atau tidak. Kemudian, Lae juga tidak menyebut “kalangan” yang lae maksud itu siapa dan capaian yang mereka kemukakan di berbagai bidang kemajuan apa saja. Analisa lae akan semakin tajam jika lae mengutarakan mereka siapa dalam lingkaran stakeholder Humbang Hasundutan.
Kedua, “Kalau Dairi punya Taman Iman dan enaknya kopi sidikalang, Tarutung punya Salib Kasih dan terkenal kacang garingnya, Tanah Karo terkenal dengan parawisata dan buah jeruknya yang manis, jadi Humbang Hasundutan punya apa….? Mampukah kita seperti mereka….?, Bukankah ini bagian dari keberhasilan ….? Saya setuju karena dapat menambah PAD dan pendapatan masyarakat dan merekalah kemungkinan dapat mandiri dan sejahtera.” Saya lebih sepakat bahwa produk unggulan seperti yang lae sampaikan di atas hanyalah salah satu CARA mencapai kesejahteraan. Artinya, kita tidak dapat secara langsung menyimpulkan jika suatu daerah memiliki produk ungulan maka masyarakat di daerah tersebut sudah sejahtera. Pakkat memeiliki salak yang selalu dibanggakan, tapi apakah dengan salak itu petani salak di Pakkat sudah sejahtera? Maka meletakkan produk unggulan sebagai indikator kesejahteraan tidak tepat menurut saya lae, akan lebih tepat jika kita gunakan pendapatan (per kapita), Indeks Pembangunan Manusia dan sebagainya.
Tentang acungan jempol dua (ke atas), saat ini saya berikan ke lae, atas tulisan lae ini.
Horas dari Medan
Arnold Lbn Gaol
[Balas...]
Arnold LG:
August 9th, 2009 | 14:39
@Arnold LG,
Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup , melek huruf , pendidikan dan standar hidup. Human Development Indeks digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah daerah maju atau tidak.
[Balas...]
henry:
August 11th, 2009 | 18:38
mauliate ma lae Arnold, alana huantusi maksudmunai opini berbicara secara akademis, sengaja dipergunakan bahasa sederhana asa sude masyarakat Humbang Hasundutan dapat lebih cepat mencerna. alana opini i masuk do tu surat kabar.indikatornya adalah pendidikan Masyarakat Humbang Hasundutan masih dalam pembenahan. maklumma ate………………!!!!!!!!!!!!!!! lae.
[Balas...]
henry:
August 11th, 2009 | 18:59
Lae Lumban Gaol, “Kalau Dairi punya Taman Iman dan enaknya kopi sidikalang, Tarutung punya Salib Kasih dan terkenal kacang garingnya, Tanah Karo terkenal dengan parawisata dan buah jeruknya yang manis, jadi Humbang Hasundutan punya apa….? Mampukah kita seperti mereka….?, Bukankah ini bagian dari keberhasilan ….? Saya setuju karena dapat menambah PAD dan pendapatan masyarakat dan merekalah kemungkinan dapat mandiri dan sejahtera.”
saya tanya kembali kepada lae…!
1. Dari mana Orang lain tau Humbang Hasundutan ?
2. Setujukah kalau Humbang Hasundutan punya ciri khas ?
ketika orang bertanya pada saya “dimana daerah Sidikalang pasti di ingatan saya ada ciri khasnya”
ketika orang lain itu bertanya kepada saya.
adakah untungnya bagi masyarakat sidikalang dan pemdanya ?
itulah sebagian arti tulisan diatas. trims
[Balas...]
Arnold LG:
August 12th, 2009 | 19:53
@henry,
Horas Lae,
Orang tau Humbang Hasundutan, ciri khasnya ada LAe Henri di sana.hehehe..
mkasud tanggapan kemarin lae lebih kepada, bagaimana produk unggulan atau meminjam istilah lae, “ciri khas”, dapat memberi manfaat langsung kepada masyarakatnya. Faktanya, petani salak Pakkat belum merasakan manfaat setelah produknya dijadikan “produk unggulan” oleh pemkab humbang hasundutan di berbagai pameran.
Pameran hanya selesai di atas etalase. setelah itu, tidak ada aksi pemangku kebijakan untuk meningkatkan produktifitas, misalnya. atau untuk menambah margin dari penjualan salak.
Maka saya sebutkan di tanggaban sebelumnya Saya lebih sepakat bahwa produk unggulan seperti yang lae sampaikan hanyalah salah satu CARA mencapai kesejahteraan. Artinya, kita tidak dapat secara langsung menyimpulkan jika suatu daerah memiliki produk ungulan maka masyarakat di daerah tersebut sudah sejahtera. Kira – kira begitu lae.
Horas dari Medan
Arnold Lbn Gaol
[Balas...]
sangat menghargai inisiatif sdr Henry Simanullang
atas nama Forum Komunikasi Masyarakat Papatar, memberikan informasi, penjelasan, kabar berita mengenai Humbahas sejak berdiri hingga ulang tahunnya yang ke-6 beberapa waktu yang lalu.
yang saya rasakan, beliau diberondong dengan pertanyaan dan pernyataan yang meminta, mengharap, menuntut, memaksa, menyarankan, harus demikian, harus begitu sebelum jelas juntrungannya – apa kapasitas sdr Henry, apa kaitan tulisannya dengan posisinya pada Forum Komunikasi Masyarakat Papatar, serta apa posisinya dilingkungan pemda maupun dprd Humbahas.
tapi saya tetap salut dan acung dua jempol keatas pada sdr Henry, yang telah dengan berani menduduk kan kepentingan masyarakat Humbahas secara umum dipundaknya, sesuai dengan muatan tulisannya diatas, sekalipun saya belum mengetahui apa kapasitasnya selain aktivis pada Forum Komunikasi Masyarakat Papatar.
Maju terus bung Henry, semoga Tuhan menerangi jalan anda – untuk kebaikan kita semua.
[Balas...]
Arnold LG:
August 12th, 2009 | 19:37
@zul azmi sibuea,
Pada prinsipnya, siap saja “boleh” menulis, mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang suatu hal. Sebab itu bagian dari kebebasan yang di jamin undang-undang. jadi tidak perlu mempertanyakan identitas Lae Henri berkaitan dengan opini yang beliau tulis di web ini. bagaimana sikap pembaca setelah membaca opini ini berpulang kepada masing-masing individu.
[Balas...]
yang saya agak “loose tract” adalah kaitan antara judul tulisan diatas dengan isinya masih belum terlihat benang merahnya – barangkali saya juga perlu bersabar, karena juduk diatas diberi tanda (1), dengan ini saya berharap akan ada seri (2) dan (3) serta tulisan-tulisan berikutnya.
kemudian mengenai penggunaan kata “paradigma”, tentu akan dijelaskan sesuatu yang sangat mendasar, sesuatu pemikiran yang mendalam, karena biasanya paradigma dikaitkan dengan pergeseran atau pembalikan logika yang sekarang mapan, menjadi sebuah paradigma yang sama sekali baru dan mengoreksi pemikiran-pemikiran lama sehingga lebih praxis dan emansipatif. semoga
[Balas...]
@zul azmi sibuea,
Saya tidak mengenal sdr. H. Simanullang, dan tdk perlu tau apa dan bagaimana tulisan itu terjadi.
Tapi pada tataran tulisan itu sudah terpublikasikan, itu akan menjadi tanggung jawab si penulis untuk menjelaskan apa apa yg orang yg membacanya tidak sepaham. Dan lae simanullang pun seharusnya sudah memahami itu. Karena apa yg tersurat pada tulisan diatas adalah real dilihat dan dirasakan. Mauliate
[Balas...]
Siapapun yang menganganggap bahwa pembagunan di Humbang telah maju, jangan senang dulu Bung.
Kalau melihat kemajuan, kita harus membandingkan dengan daerah lainnya. Nah, di sini ada (3) tiga daerah Kabupaten yang sepengetahuan saya sudah maju bila di bandingkan dengan daerah lainnya misalnya:
Kab. Jembrana, Kab. Banyuangi dan Kab. Sragen
Kemajuan yang telah dicapai :
1. Di ketiga daerah ini telah menggratiskan biaya sekolah mulai dari SD sampai SLTA.
2. Sarana dan prasarana sangat lengkap
3. Pelayanan umum misalnya pembuatan KTP dan perizinan dilayani secara on-line sampai ke desa-desa.
4. Rumah sakit gratis bagi orang miskin
5. Beasiswa untuk masyarakat umum (dengan kriteria tertentu).
6. Membantu masyarakat di bidang peternakan, pertanian dll.
Itu hanya beberapa contoh kemajuan yang meraka capai.
Nah, kalau ditanya dari mana untuk membiayai itu semua termasuk pembanguna yang megah, jalan yang mulus, sekolah-sekolah yang bagus.
Hanya satu kata “DAU”. Katanya kalau dimanfaatkan dengan baik lebih dari cukup. Konon pada saat Pemerintah mengembor-gemborkan alokasi biaya untuk pendidikan 20%, mereka sudah lebih dulu mengalokasikan lebih dari 20%.
Selengkapnya baca di :
http://www.jembranakab.go.id, http://www.sragenkab.go.id, dan http://www.banyuangikab.go.id.
Mudah-mudahan bermanfaat
[Balas...]
Radot Manalu:
March 22nd, 2010 | 16:35
Apa yang dapat/harus kita lakukan, sebagai warga Kab.Humbanghas???
[Balas...]
Nunnga bakkona i, parjolo do sinukkun “ise namakkatai” sian “aha nanidoknai….”
Hape naniandolhon manang hatopan ni surat manang hatai do na makkorhon.
nang pe songoni, tong do ikkon nihormatan akka opini ni dongan, na jumolo mandok, namandukung manang mendistorsi, memacu manang …….
Gabe sila nihilala tung pola tasukkun ise si Henry Simanullang on, aha posisina di negara on, di Sumut, Humbahas, manang di Pakkat. Ba… Songoni ma jolo hata sian au….., ditabbai akka dongan…..!
[Balas...]
Jaullus (raja mullus-ullus):
August 21st, 2009 | 13:55
@Timbul Purba,
If we enter into a discussion, which we need to note is the “topic” discussion. Do not we try to enter in the discussion, but we are not interested to the “topic” discussion. But if so it is, the background is not important to be the speaker. However, if we need “Who spoke?” general, the President, and the degree bachelorship other, the discussion topics are usually not so important.
[Balas...]
Henry Manullang:
August 25th, 2009 | 17:02
Terima kasih lae Timbul Purba, tetap saya hargai responnya, bagaimanapun niat dan maksud opini saya adalah untuk kepentingan kita bersama kalau memang kita satu prinsip. saya tidak memandang latar seseorang dan apa kapasitasnya bilamana opininya mengarah sebuah kemajuan kepentingan public.
dikaji lebih jauh dan lebih dalam maka dapat kita temukan arti yang sebenarnya.
“Peduli dan berbuat kepada sesama adalah hidup yang sebenarnya:” Henry Manullang(Penulis:Batak Pos,Bona Pasogit,Aktual,SIB,Suluh Pendidikan SUMUT)
[Balas...]
ndang pola adong sikomentaran ampara di apala tikki on, namun seiring dengan perkembangan suatu daerah hendaknya perlu kita garis bawahi bahwa seisi daerah tersebut janganlah seperti melihat-lihat apa yang berkembang namun jadilah mengisi perkembangan tersebut yang artinya jangan jadi penonton budiman aja bung bangso papatar i ate…
[Balas...]
boss… ambal ni hata adong naeng sidohonku tu ampara bah….
[Balas...]
OPINI, selalu punya resiko untuk diserang dan dikritik, jika disajikan dengan gaya yang tidak sistematik, dan tanpa data/indikator yang jelas sebagai acuan. (alai ipe tahe nga nipuji ho disi, ai poso dope ho nga boi ho hape manurat, boha na asing holan marhatamanggang do boi, dan boi merumuskan na niantusanna melalui tulisan
[Balas...]