Pakkat, Hutakki..

oleh Tommy Sihotang

Pakkat dewasa ini seperti gasing yang berputar cepat tapi tidak bergerak kemana-mana. Sepertinya tidak tampak kemajuan berarti padahal jaman sudah berlari dengan sangat cepat. Teknologi di berbagai bidang sepertinya tidak bisa membuat Pakkat bangkit dari kertertinggalan dan keterpurukan terutama dalam cara berpikir dan memandang permasalahan.

Saat pulang pada waktu yang lalu, begitu menyedihkan melihat situsai yang tidak berbeda jauh ketika saya meninggalkannya 15 tahun yang lalu. Infrastruktur buruk, seburuk cara berpikir sebagian besar orang-orangnya. Keheranan yang amat sangat mengapa masyarakat membiarkan keterpurukan dan keterbelakangan selalu menjadi bagian hidup yang seolah-olah tidak dapat berubah. Apakah masyarakatnya benar-benar tidak berdaya? Apakah tidak bisa bersatu padu dan bangkit dari situsasi yang sangat buruk ini. Berangkat dari keresahan-keresahan dan segala situasi dan kondisi buruk yang melingkupi Pakkat, maka Forum Intelektual Pakkat (FIP) dideklarasikan. Pendeklarasian ini diprakarsai oleh putera-puteri Pakkat yang ada di perantauan untuk mencoba memberikan kontribusi nyata agar perubahan bisa terjadi. Sangat berat dan terlalu berat untuk cita-cita itu, tetapi FIP akan berbuat, sekecil apapun itu diharapkan bisa untuk memberi angin sejuk di Pakkat. Dengan berprinsip bahwa tetesan air yang terus menerus akan bisa menghancurkan batu yang keras, maka kaki haruslah tetap dilangkahkan agar tujuan bisa dicapai.

Ada apa dengan Pakkat sekarang ini? Berdasarkan pengamatan dan masukan banyak pihak maka dapat dideskripsikan sebagai berikut ini.

Dalam mencapai suatu tujuan, umumnya berpikir bahwa segala cara harus dilakukan. Tidak peduli cara itu sehat atau tidak atau bahkan melanggar kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip serta etika dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lalu cara-cara tidak sehat itu menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya berterima secara umum. Lembaga-lembaga formal yang ada di tengah masyarakat seperti gereja dan mesjid tidak berfungsi untuk meredam segala tindakan-tindakan tidak sehat tersebut. Perangkat pemerintahan dan hukum pun telah gagal melaksanakan fungsinya karena tindakan tidak sehat itu sudah begitu menginfeksi. Akhirnya tidak ada kontrol dan semuanya berjalan dengan berbagai generalisasi dan pembenaran-pembenaran atas tindakan tersebut.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa untuk duduk pada suatu kedudukan di bidang tertentu, uang begitu sakti. Lalu profesionalitas, kompetensi dan pendidikan tidak ada artinya. Orang berpikir dan bertindak dengan cara-cara praktis dan dalam jangka pendek. Tidak melihat jauh ke depan karena yang terpenting adalah ‘ego kesayaan’ dan kepentingan sesaat. Maka banyak orang menduduki jabatan baik di bidang pemerintahan, bidang pendidikan serta bidang lainnya bukanlah berdasarkan kompetensi dan prestasi tetapi karena praktek suap menyuap. Kondisi ini sangatlah menyedihkan karena mereka pun akhirnya setelah menjabat akan menjadi maling yang harus mengembalikan uang suap yang telah dikeluarkannya ketika mengincar jabatan atau kedudukan tersebut. Sangat jauh dari ketulusan hati dan semangat untuk memajukan.

Pakkat adalah termasuk daerah tertinggal sehingga mendapat bantuan dan subsidi pemerintah dalam pembangunannya. Tetapi kemanakah semua realitas dari bantuan dan subsidi itu?

Pertanyaan akan datang beruntun, mengucur dengan deras dikarenakan banyak ketidakjelasan serta telah terjadinya proses pembusukan tatanan kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara.

Bagaimana dengan bantuan di bidang pendidikan untuk perbaikan fasilitas sekolah-sekolah di kecamatan Pakkat yang hampir tidak membawa perubahan? Apakah jadinya bila orang-orang yang menjadi kepala sekolah tidak mendedikasikan dirinya kepada pendidikan yang sehat karena dia menjadi kepala sekolah tidak dengan cara-cara yang sehat, yang selalu berpikir bagaimanakah caranya agar uang dikantong selalu tebal? Apakah jadinya institusi pendidikan di Pakkat kalau guru-gurunya membeli gelar? Apakah anak-anak muda di Pakkat mau melanjutkan sekolah lagi bila ada jalan pintas menjadi sarjana hanya dengan waktu singkat yang penting berani bayar sekian? Bagaimanakah pertanggungjawaban akademis atas gelar itu sendiri? Lalu bagaimana dengan mutu pendidikan itu sendiri sedangkan gurunya menempuh jalan tidak sehat tersebut?

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan masyarakat? Bagaimana dengan fasilitas-fasilitas sosial dan umum lainnya? Bagaimana dengan alam lingkungan di Pakkat? Bagaimana dengan hutan dan kayu? Siapa yang menjadi dalang illegal logging yang menggunduli hutan, siapa pula yang menjadi pelindung pencurian kayu-kayu itu?

Bagaimana dengan kebersihan di Pakkat? Apakah perilaku cinta dan bersih lingkungan bisa menjadi bagian hidup masyarakat Pakkat?

Bagaimana pengawasan pendistribusian ‘raskin’ (beras bantuan pemerintah untuk masyarakat kurang mampu) yang dipungut bayaran dari masyarakat peneriman bantuan itu? Apakah ada yang tahu mekanisme dari subsidi pupuk untuk para petani? Apakah tugas dari lembaga-lembaga pemerintahan di Pakkat yang digaji dari uang rakyat oleh Negara? Bagaimana dengan lembaga penegak hukum? Sejuta pertanyaan akan selalu muncul dan menghantui lipatan pemikiran.

Banyak orang pintar tetapi lebih banyak lagi yang suka memintari yang dengan licik menipu masyarakat. Sebagian lagi tahu tetapi tidak dapat berbuat apa-apa karena orang yang berpikir kritis akan dianggap musuh dan harus disingkirkan. Sementara sebagian lagi sudah menjadi masyarakat yang apatis dan acuh tak acuh.

Lalu dari semua cara-cara tidak sehat itu tentu saja akan menghalalkan segala cara untuk mengambil keuntungan pribadinya sendiri yang jelas bukan merupakan haknya.Lalu siapakah yang bersuara untuk membela ketidakadilan, kesewenangan dan tindakan-tindakan tidak sehat ini? Karena sudah begitu terkontaminasi pada setiap lapisan, persoalan ini menjadi lingkaran setan yang berputar disitu-situ saja. Semuanya berjalan begitu saja seolah-olah sesuatunya berjalan sewajarnya.

Maka FIP dengan rendah hati bertekad bulat untuk mengikis semua tindakan-tindakan tidak sehat itu agar Pakkat bisa mengubah cara berpikir itu ke arah yang lebih sehat sehingga diharapkan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. FIP tidak gentar menghadapi ganjalan dan antipati dari orang-orang yang merasa terusik karena FIP melangkah pada jalur yang benar. FIP berani karena benar dan takut karana salah. HORAS!!! HORAS!!!.HORAS !!!

Hai Putra-Putri Pakkat, Mari Berbuat Sesuatu Untuk Pakkat….

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

6 Responses to Pakkat, Hutakki..

  1. Berputar seperti GASING karena semasa kecil, orang pakkat paling doyan mar-KAPULEN……juga Mar-SALEndur

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. Lismawati Hansel - Sinaga

    Inang..semangat 45 hian ma Ito on…bage terbawa semangat dhot iba.
    Ima da, sada ra tong ganjalan ni hita par Pakkat on( halak Batak secara umum) ala ni sistem Marga i ma ra na tung ketat hian dope.

    Ibaratna kani tabereng ba molo sian marga Siregar Gubernur na ma hampir sude ma tong sahat tu panapu napuna marga Siregar, tak perduli kemampuan dohot kedisiplinan ni seseorang.

    Songoni do hampir di sude jabatan jala di sude tingkatan,mulai sian ginjang sahat tu toru.

    Saya pikir ini bukan hal sepele!! Buktinya ada yang memenangkan suatu Pilkada atau semacamnya karena disana banyak marga tertentu…walaupun sebenarnya ada calon lain yang lebih kompeten..

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. Salut buat Forum Intelektual Pakkat. Mulailah bertindak. Jangan tunggu lagi.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. appara HH…ai dohot ma antong ho,..jala baen jo bareita ONLINE sian huta…..OK

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. Lismawati Hansel - Sinaga

    Ai nga boi haroa marinternet di huta?

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  6. Tommy M J Sihotang

    Tanpa meniadakan keberhasilan dan perjuangan para orang yang sungguh-sungguh berjuang untuk membangun PAKKAT.

    Uneg-uneg ini harus dikeluarkan dari dalam hati, sharing bersama kawan-kawan, lalu MARSITOGUAN dan BERGANDENGAN TANGAN untuk berbuat sedikit untuk PAKKAT…

    HORAS

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>