Duapuluh lima tahu yang lalu……
Pagi-pagi sekali, Oppung (alm) ini sudah bangun, memasak nasi dan menyiapkan sarapan pagi. Dengan cekatan, beliau mambebe ikkau rata ini di anduri yang baru dibeli dari amang boru paranduri di huta seberang. Sedari tadi, si Oppung ini mengoceh alias marbete-bete, karena kami berlima pahompunya belon ada yang bangun. Masih segar di ingatan saya, kejadian duapuluh lima tahun yang lalu. Udara pagi yang sangat dingin, memakasa saya untuk menggulungkan Lage Podoman ke tubuh saya. Walau sedari tadi oppung sudah memanggil saya dari dapur, dengan nama kecil saya ‘endi”. Siapa anak yang suka dibangunkan jam 5 pagi di kampung saya di kaki Dolok Pinapan?.
Namun dengan berat hati, saya mencoba bangun dan memicingkan mata, melihat ke arah tumpukan piring kotor, satu tugas yang harus saya kerjakan sebelum makan pagi. Sembari terkantuk-kantuk, saya memerhatikan oppung yang sedang mambebe ikkau itu. Sementara ibu sudah dari tadi berangkat ke saba yang tidak jauh dari rumah untuk menaburkan boni padi. Dan amang saya juga sudah pergi ke aek godang yang jaraknya sekitar 3mpat ratus meter itu. Walaupun mereka guru, namun inong tau kalo gaji guru di pedalaman tidak seberapa. Sehingga untuk menutupi kekurangan, maka kami juga harus Imangula di saba. Seingatku, kami tidak pernah beli beras.
“MAsak apa oppung”
“Udalah, cepatlah kau cuci itu piriing, dah ginjang ari on ” ( persepsi saya dan oppung ini sama yang dikatakan ginjang ari, sangat bebeda. Bagi saya, ginjang ari itu sekitar jam delapan ke atas, sedangkan versinya oppung ini, kalau sudah keliatan orang berjalan, maka sudah ginjang ari……).
Beliau selalu berpesan kalau sempat kita bangun keduluan sama ayam yang keluar dari sarangnya maka rejeki akan lari. Ah,..anak kecil mana masuk diakalnya kek gitu. PAling kalau sudah dapat tanggalan buat bayar uang sekolah tinggal minta ke inong atau ke amang. Repot amat pikirku.
Sembari memasukkan piring kotor ke tempayan, saya melihat si oppung mamulos semacam daun berwarna putih, yang di gabung sama daun singkong ini. Saya penasaran, karena seingatku, saya belum pernah makan daun ini. Dah kek jaman susah aja. Oppung lalu menjelaskan kalau itu adalah bulung motung yang muda , saya sempat protes, karna setauku, daun itu adalah daun untuk makanan horbo. Saya sering nyari daun itu buat makanan si GUNDUR yang sedang beranak dibelakang rumah. Kini, sayur daun sikkong bebe itu dicamur dengan daun bulung motung??. Kek horbo aja kami i.
LAlu si oppung bilang, “Ah….dang diboto ho siallangon? najolo dijaman ni pusat suda do niallang, sehat do” katanya sambil mangaroi nasi dari priuk yang sudah keluar puriknya.
“Oppung,…ini kan sudah merdeka” sanggah sya masih belon terima.
“Udalah, kau teruskan mencuci piring itu, kau bangunkan dulu anggimu, asa dilean mangan manuk i”.
Seterusnya saya perlahitan lagi, si oppung meraih sekantongan warna hitam dari atas para-para itu, saya makin bingun, campuran apa lagi ini. ternyata adalah setumpuk monis yang sudah dipiari, sehingga tinggal berasnya saja. Bah!…Si oppung lalu mencampur monis ini ke sayuran daun singkon ditambah bulung motung tadi. Tak lupa dia memasukkan RIMBANG yang sudah di iris kecil-kecil itu. Katanya rimbang bikin sayuran itu manis. dan rimbang itu banyak vitaminya. Walau pas saya tanya, kira-kira vitamin aoa yang ada di rimbang, si oppung cuman jawab “Nagodang sukkun-sukkunmu, karejoi ma karejom,…pitami R” mungkin karena rimbang diawali dari huruf R.
Memang bener kata oppung ini, kalau setiap sayuran yang dihidang kan sangat enak. BElum lagi kalau kami pergi ke tombak di dolok pinapan. Si oppung selalu menyempatkan mengambil siborutiktik untuk sayuran nanti sore. Dengan campuran yang sama, rimbang dan monis, maka sayuran ini menjadi sayuran pavoritku hingga saat ini. Saya nggak tau siapa duluan yang makan sayuran dari belukar di hutan itu. Mulai dari siborutiktik, bulung motung, sikkam, pahu, dan banyak lagi, yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kalau saya bandingkan dengan sayuran kaman sekarang, mungkin anak – anak sekarang akan meras heran, sama herannya dengan saya ketika dikasi bulung motung.
Sekarng ini sudah banyak orang yang tidak mengenal rimbang, atau mungkin pura-pura tidak kenal, karena rimbang bukan makanan dari salah satu restoran siap saji?. Nggak taulah. Tapi yang jelas saya adalah seorang produk rimbang, na pinagodang ni rimbang.
Rimbang oh rimbang,….
Saya selalu nanya sama pemilik LApo yang saya singgahi, apa mereka pakai rimbang sebagai sampuran dari daun singkon tumbuk mereka?. YAng jelas, sangat arang dari mereka yang menambahkan tumbuhan ini ke menu masakan mereka. Mungkin karena jarang didapat, atau mungkin dengan menggunakan santan air kelapa akan lebih enak?.
Banyak makanan khas dari daerah yang dari waktu ke waktu akan hilang, seiring dengan pergantian generasi. Ah…rimbang, entah dimana kini kau berada…tak tau dimana rimbanya….
bersambung nanti sore…….
KOsa kata:
siborutiktik : Sejenih tumbuhan liar, mirip bayam, tumbuhnya hanya di daerah pegunungan,
Bulung motung : Juga tumbuhan liar yang punya dua warna, satu sisi adalah warna putih, yang lain hijau
Sikkam : juga sejenis pohon, susah saya gambarkan keknya…..bah!
Pahu : tumbuhan paku….(bukan labang yahhh!)
Monis : menir?? butiran beras yang kecil-kecil??
Ikkau : BAhasa batak, sayur
MAmbebe ikkau : meremas daun singkon, sebagai pengganti di tumbuk
Mangaroi : mengurangi air pemasak nasi dari periuk.
Purik : air dari nasi yang mirio santan…aha do bahasa indonesia ni purik on tahe???
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Ah..Ito, iba pe dang pola maila iba disi dah, tong do napinagodang ni garikkau iba,dohot rimbang , mardongan rias sipata. Inumonna Purik, enak…benar!!
Ale siborutiktik dohot sikkam dang hea hubege kodo i bah…manang na asing do naeng goarna di hami an di Siambaton tikki gelleng iba.
Na sering muse naujui niallang ima Genjer, molo marbabo disaba, nibuat mai batang na paling muda.
Paling enak direbus, dimakan pake bumbu kacang.
Bah…bage ro ijur ne…
[Balas...]
Tubu Latong dohot Rimbang
Di topi ni tao i
Nang pe Gadong dohot Rimbang
Ale bisuk do par Pakkat i…
Horas
[Balas...]
Iteng, jo.
Molo sai holan gadong do di altupi, bah bage GADONGON ma jolma i nimmu ma.
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Molo didok lae Ricardo nakin, “Molo sai holan gadong do dialtupi, bah bage GADONGON ma jolmai”
Berarti lae Molo Rimbang dialtup gabe RIMBANGON do Jolmai? manang na gabe Marimbang (Poligami).?
Ha…………haaaaa. bercanda lae
[Balas...]
ahhh kpn internet masuk pakkat???
kayak nya ngk akan masuk dh kalau ngak ada
kerjasama ama pemerintah setempat
pemerintah setempat juga harus ikut donk
berpartisipasi jgn cm mengandalkan para perantau
hehehehe
[Balas...]
Pingback: Baru sekarang baru tahu. ‘Rembang’ « Melayan Tingkah