Ada beberapa sumber yang membuat sejarah tentang Pakkat, bebrarapa artikel yang saya ambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pakkat%2C_Humbang_Hasundutan adalah sebagaian kecil kisah sejarah kota Pakkat itu sendiri. berikut adalah petikannya…
Sejarah Pakkat
Sejarah Pakkat dimulai dari migrasi orang-orang marga Pohan (Pardosi) ke Gotting atau Tukka yang sekarang masuk dalam wilayah kec. Pakkat atau dikenal dengan negeri Rambe.
Naskah Jawi yang dialihtuliskan di sini dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.
Kisah dalam buku tersebut dimulai dengan kata-kata “Bermula dihikayatkan suatu raja dalam negeri Toba sila-silahi (Silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan .” Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian dan dalam kisah itu tercatat bahwa anaknya, Alang Pardoksi (Pardosi), meninggalkan jantung tanah Toba untuk merantau.
Alang Pardosi meninggalkan keluarga dan rumahnya sesudah bertikai dengan ayahnya; bersama istri dan pengikutnya dia berjalan ke barat. Dalam sepuluh halaman pertama diceritakan perbuatan-perbuatan Alang Pardosi yang gagah berani, tanah yang dinyatakannya sebagai haknya di rantau, jaringan pemukiman baru yang didirikannya, dan perbenturannya dengan kelompok perantau lain dari Toba.
Alang Pardosi mengklaim hak atas sebidang tanah yang luas, yang merentang dari Kampung Tundang di Rambe (Pakkat sekarang), tempat ia menetap, ke barat sampai Singkil, ke timur sampai perbatasan Pasaribu, ke hilir sampai ke tepi laut. Termasuk di dalamnya Barus.
Keluarga yang berselisih dengan Alang Pardosi adalah keluarga Si Namora. Si Namorapun telah meninggalkan rumahnya di Dolok Sanggul sebagai akibat percekcokan dalam keluarga. Bersama istrinya dia menetap di Pakkat, dan Alang Pardosi, Sang Raja, menyadari kehadirannya ketika pada suatu hari dilihatnya sebatang kayu yang mengapung di sungai. Raja memungut upeti dari Si Namora sesuai dengan adat berupa kepala ikan atau binatang apapun yang dapat dibunuh Si Namora.
Si Namora berputera tiga orang yang beristrikan ketiga puteri Alang Pardosi. Akhirnya yang sulung dari ketiga putera Si Namora yaitu Si Purba, mengambil keputusan untuk mempermasalahkan hubungan antara kedua keluarga sebagai pemberi dan penerima upeti. Maksudnya itu dilaksanakan dengan mengakali Pardosi.
Untuk itu dia harus kembali ke kampung ayahnya di Toba; dia harus mengumpulkan kekayaan keluarga berupa kain dan pusaka. Lalu dari kain-kain itu Purba membuatkan patung seekor rusa yang rupanya bukan main hebatnya dan kepalanya dipersembahkan kepada Pardosi sebagai Upeti. Alang Pardosi begitu takut melihat persembahan tersebut dan begitu takut melihat binatang tersebut dan membebaskan keluarga Si Purba dari ikatan memberi upeti.
Setelah Alang Pardosi diperdaya, dia mencium adanya gugatan mengenai kedudukannya sebagai raja. Perang meletus dan si Purba memakai penghianatan untuk mengusir Alang Pardosi dan mengambil alih pemukimannya di Si Pigembar. Sebuah kudeta terjadi. Alang Pardosi kemudian mendirikan pemerintahan “in exile” di Huta Ginjang, kota yang baru dibangunnya.
Namun ada pembalasan dari pihak raja yang terusir. Saat kepemimpinan Si Purba pemukiman dirundung kelaparan. Raja yang sah, Alang Pardosi, diminta kembali untuk mengobati keadaan. Namun dia menolak dan meminta supaya si Purba membuatkannya rumah di Gotting, sebuah bukit antara Pakkat ke Barus, bukit tersebut dibelah oleh sebuh jalan yang menyempit di antara dinding batu napal yang keras, sekita lima kilometer dari Pakkat menuju Barus, di atas sebuah jalan sehingga semua orang yang ingin melalui jalan tersebut harus lewat di bawah rumahnya. Kedudukannya di sedemikian di persimpangan jalan-jalan penting memberi kekuasaan besar kepada Alang Pardosi yang menjadi raja yang paling berkuasa dari raja-raja Negeri Batak. Si Purba, kemudian, tinggal di tanah yang dibukan ayahnya yaitu Tanah Rambe atau Pakkat.
Jadi dalam kronik, Raja Alang Pardosi dengan demikian ditentukan sebagai pendiri garis keturunan baru. Proses ini berlanjut terus seusai dia wafat. Kedua anaknya, dari istri kedua puteri Aceh; Pucara Duan Pardosi dan Guru Marsakot Pardosi berpisah dan pindah ke arah yang berlainan supaya tidak bertikai.
Pucara Duan tinggal pindah ke arah pantai dan menetap di daerah Tukka yang pada abad ke-19 merupakan pusat besar untuk penghimpunan persediaan kapur barus dan kemenyan dan dari sana dibawa ke Barus.
Guru Marsakot pindah lebih dekat lagi ke tepi laut, ke suatu tempat yang bernama Lobu Tua. Di sana dia berjumpa dengan komunitas Tamil dan Hindu yang kapalnya terdampar. Guru Marsakot dijadikan raja mereka berdasarkan tuntunanya bahwa keluarganya mempunyai tanah tersebut. Maka tanah tersebut berkembang menjadi negeri yang makmur dengan nama Pancur atau Fansur menurut istilah Arab dikenal juga bernama Fanfur, yang didatangi orang India, Arab dan Aceh untuk berdagang.
Kedua cabang keluarga tersebut tetap berhubungan sampai dalam generasi berikutnya. Maka ketika anak Pucaro Duan, Raja Tutung (Raja Tuktung), terlibat dalam perselisihan dengan anak dan pengganti Si Purba, cabang keluarga dari Lobu Tua datang membantunya.
Saat Guru Marsakot wafat, ia digantikan oleh anaknya, Tuan Namura Raja. Anaknya, Raja Kadir, adalah raja pertama yang menjadi Muslim. Akhirnya Fansur diserang oleh orang “Gergasi” dan penduduk lari menyeberangi sungai untuk mendirikan dua pemukiman baru, Kuala Barus dan Kota Beriang.
Pada masa inilah, seorang putera Pasaribu, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu mendirikan pemukiman di Barus bersama pengikutnya yang datang dari negeri Tarusan, di Minagkabau dan singgah terlebih dahulu di Bakkara. Mereka adalah keturuna Dinasti Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti, putera Tatea Bulan. Saat pemukiman Sultan Ibrahimsyah telah berkembang, dia baru menyadari bahwa tanah tersebut sudah ada yang menguasainya.
Anak dari Sultan Mualif, pengganti Raja Kadir setalah wafat, Sultan Marah Pangsu Pardosi, menggugat Ibrahimsyah yang menetap di negerinya. Namun Ibrahimsyah mengangkat sumpah untuk membuktikan bahwa dialah yang menjadi pemiliknya. Kompromipun terjadi dan didirkan dua pemukian di barus, yang satu di Hulu dan yang lain di Hilir.
Sultan Ibrahimsyah kemudian menikah dengan Putri Sultan Marah Pangsu. Dalam perkembangan politik berikutnya, saat wafatnya Sultan Marah Pangsu, Ibrahimsyah membunuh semua anak laki-laki Marah Pangsu agar dia bisa menjadi satu-satunya raja di Barus.
Ternyata otoritas kerajaan hulu dipegang oleh saudara Marah Pangsu yaitu Sultan Marah Sifat yang telah mengunsi dan membuka wilayah baru bernama Si Antomas (Manduamas?) pada tahun 710 Hijriyah. Marah Sifat berkoalisi dengan Aceh untuk memeriangi Ibrahimsyah Pasaribu. Sultan Aceh menyatakan perang kepda penguasa tunggal Barus, Ibrahimsyahpun dipenggal dalam sebuah perang penyerbuan ke Barus pada tahun 785 Hijriyah.
Kepalanya dibawa ke Aceh dan Raja Aceh menendang dan menghinanya. Sebagai akibat perlakukan Ibrahimsyah yang marah dan tidak mau menyesal. Namun, karma terjadi kepara penguasa Acej tersebut dan dia jatuh sakit. Supaya sembuh, dia memutuskan untuk membayar kerugian kepada kepala tersebut.
Kepala Sultan Ibrahimsyah dikirim kembali ke Barus dengan kekhidmatan dan upacara kerajaan, diiringi sepucuk surat yang membebaskan Barus dari keharusn membayar upeti kepada Aceh.
Sesudah itu kedua keluarga raja Barus; Pardosi dan Pasaribu, hidup berdampingan selaman beberapa generasi dalam hubungan yang kurang lancar. Marah Sifat digantikan oleh anaknya Raja Bongsu, Sultan Marah Bongsu. Ibrahimsyah digantikan oleh Sultan Yusuf dengan gelar Raja Uti yang kemudian gugur di Aceh ketika membalas dendam atas kematian ayahnya. Dia digantikan oleh Sultan Alam Syah yang mempunyai dia anak Raja Marah Sultan dan Sultan Nan Bagonjong Pasaribu.
Pada masa ini peraturan dan undang-undang negara dikodifikasi. Termasuk adat dan tatacara upacara dan pengangkatan pembesar. Hukum dan undang-undang yang berlaku adalah perbaduan adat Batak, adat Melayu, adat Aceh, adat Hindu dan adat orang Islam. Lebih jelas mengenai detail undang-undang tersebut lihat nahkah asli dari hikayat tersebut.
Pada tahun 1050 Hijriyah atau atahun 1644 M, Belanda datang dan meminta ijin untuk bermukim dan mendirikan koloni perdagangan di Barus.
Kronik dalam buku hikayat ini juga menceritakan bahwa kepemimpinan raja-raja belia dari hulu dengan bendahara (perdana menteri) berasal dari hilir selama mereka belum akil.
Yang pertama dari bendahara itu ialah Marah Sultan, wali untuk anak Maharaja Bongsu, Raja Kecil. Sultan Maharaja Bongsu sendiri pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya. Pada waktu itu Marah Sultan beristrikan saudari Raja Kecil. Sesudah Marah Sultan wafat, anaknya, Sultan Marah Sihat, memfitnah Raja Kecil; kepada Daulat, raja Minang, diceritakan bahwa Raja Kecil tidak mengenal agama dan tidak mau mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan. Termakan oleh fitnah jahat tersebut, Daulat membunuh Raja Kecil. Pendukung Kesultanan Pardosi, yakni orang-orang Manullang mengajak Belanda untuk memerangi Raja Daulat. Dia akhitnya melarikan diri.
Meskipun demikian Sultan Marah Sihat menyarankan agar Raja Muda di Hulu Sultan Marah Pangkat Pardosi yang diangkat menjadi pengganti raja dan bukan anaknya sendiri yang bernama Sultan Larangan Pasaribu. Sultan Pangkat dianggapnya layak menjadi raja tunggal sebab dialah yang memegang pusaka-pusaka yang tepat.
Sultan Marah Pangkatpun diangkat menjadi raja pada tahun 1170 Hijriyah. Setelah dia wafat dia digantikan oleh putera mahkota Sultan Baginda Pardosi pada tahun 1213 Hijriyah. Di masa kepemimpinan Marah Pangkat, dia melakukan banyak pembaharuan olitk dan hukum. Diantaranya, beberapa peraturan mengenai hak tanah, perbatasan kerajaan dan adat yang berlaku kepada rakyatnya di Barus.
Pada tahun 1194 Hijriyah, perusahaan Belanda hengkang dari Barus karena tumpur dan bangkrut. Beberapa tahuan sebelum abad ke-20 mereka kembali lagi.
Raja di Hilir, Sultan Larangan marah dan kecewa dengan sikap ayahnya tersebut. Maka dia meninggalkan Barus dan menetap di Sorkam. Di sana dia menamakan diri Tuanku Bendahara meskipun dia tidak memegang tampuk pemerintahan.
Kompetisi kekuasaan antara penguasa Hulu dan Hilir yang digambarkan sebagai pertikaian Barus dan Sorkam berlangsung beberapa generasi. Di Barus, putera Sultan Marah Pangkat yakni Raja Adil, menggantikan ayahnya dan memperkukuh perjanjian-perjanjian yang ada antara Barus dan berbagai daerah Batak pedalaman. Raja Adil diangkat menjadi raja pada tahun 1213 Hijriyah (1789 M). Pada tahun 1241 H (1824 M) digantikan oleh anaknya sendiri Sultan Sailan Pardosi.
Di Sorkan sesudah Sultan Larangan wafat, saudaranya Sultan Kesyari Pasaribu mengadukan kepada komunitas Batak Pasaribu kedudukannya yang rendah, wewenangnya yang kurang besar dan alat kerajaan yang tidak boleh dipakainya. Dia berhasil, akhirnya dia diangkat menjadi Raja Bukit di Sorkam, meskipun raja Barus tidak mengakui otoritasnya.
Sultan Kesyari wafat dan digantikan oleh puteranya Sultan Main Alam. Dia terlibat perselisihan dengan kesultanan Pardosi, Sultan Sailan yang bergelar Tuanku Raja Barus. Tuanku Raja Barus tidak mengijinkan Sultan Main Alam Pasaribu untuk menggunakan alat-alat dan simbol-simbol kerajaan dalam pernikahannya.
Sultan Pasaribu ini meminta pertolongan politk dengan komunitas Meulaboh (Aceh) yang berdomisili dalam koloni mereka di Kota Kuala Gadang, Barus. Main Alam mendapatkan keinginanya saat dia diakui menjadi raja mereka dan memberinya gelar Tuanku Bendahara. Perang meletus. Antara Pasukan Pardosi dengan Pasukan Pasaribu yang didukur prajurit-prajurit Meulaboh dan Aceh dari Kuala Gadang. Dikisahkan, orang Meulaboh ternyata juga ingin mendapat pembagian kekuasaan di Barus.
Sultan Baginda pardosi wafat pada tahun 1241 Hijriyah dan digantikan oleh Putera Sultan sailan. Setelah Sultan Sailan wafat dia digantikan oleh putranya Sultan Limba Tua. Di era ini belanda sudah mulai berkuasa. Mereka berhasil menduduki Barus dengan mengadu domba antara penguasa Hilir dan Hulu Barus yang selama beberapa genarasi saling bunuh-bunuhan walau mereka sudah terikat tali perkawinan satu sama laina. Selama tiga generasi berikutnya Kesultanan Batak yang dipegang oleh Kesultana Pardosi dari Tukka dan Kesultanan Pasaribu keturunan Kerajaan Hatorusan, Raja Uti, pun akhirnya punah. Kesultanan Pardosi berakhir ditangan generasi terakhir Sultan Marah Tulang yang menjadi raja pada tahun 1270 H atau sekitar tahun 1856.
Kesultanan Pardosi, mulai dari Raja Kadir Pardosi yang masuk agama Islam sampai generasi terakhir berasal dari satu keluarga dan pewarisan tahta yang dipegang oleh satu keluarga. Yaitu orang Batak yang berasal dari Tukka.
Silsilah Dinasti Kesultanan Batak Pardosi di Barus.
Raja Tua Pardosi Raja Kadir Pardosi Raja Mualif Pardosi Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah) Sultan Marah Sifat Pardosi Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H) Tuanku Raja Kecil Pardosi Sultan Daeng Pardosi Sultan Marah Tulang Pardosi Sultan Munawah Syah Pardosi Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H) Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H) Sultan Sailan Pardosi (1241 H ) Sultan Limba Tua Pardosi Sultan Ma’in Intan Pardosi Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)
Benar tidaknya cerita ini sangat perlu untuk di kaji ulang, mengingat bahwa daerah pakkat merupakan pertemuan dari beberapa marga/klan dan sampai saat ini belum ada alur sejarah yang resmi dari pemerintahan kota pakkat sendiri.
GEOGRAFIS

DATA PENDUKUNG
Luas Wilayah : 459,10
Penduduk : 220.203 Kepadatan : 48,36
Hasil Bumi : Salah, Karet, Kakao, Padi.
( sumber : http://www.humbanghasundutankab.go.id/index.php?menu=data_penduduk)
Parluasan : Wednesday, December 10, 2008, 6:52
Molo BARUS kan termasuk kategori kota tua doi di DUNIA,
berarti dohot do ra akke PAKKAT najoloi bagian kota BARUS, berarti pakkat juga kota tua dong!!
[Nialusan jo Komentar on]
Adonia sihotang : Sunday, December 14, 2008, 7:31
Bagak ate, gambar berjalan na di ginjang ni tulisan on. Memang difoto di Pakkat doi manang luat na asing.
Molo pakkat doi, tung bagak nian gabe dikembangkan wisata alam.
Alai tahe nungga denggan dalan tu Pakkat ? Dang be sai matobahan ?
Horas di hita sude
[Nialusan jo Komentar on]
adi : Tuesday, January 6, 2009, 20:31
andigan do boi denggan dalan tu pakkat tai ate..????
[Nialusan jo Komentar on]
Lismawati Hansel - Sinaga : Wednesday, January 7, 2009, 12:50
taringotna bage lam tamba sepi do bagas partukkoan ta on akke?
ima dah…molo nunga lao dakdanak sude mangaratto, tinggal ma bagas lam langa..
Holan hita akka namatua ma tinggal di bagas haha..
Ito Latteung, nga tudia donganta hian si Pittor Pakpahan? diboto ho do kabar ni imana? Pasahat ito jo tabe akke? Mauliate.
[Nialusan jo Komentar on]
latteung : Thursday, January 8, 2009, 0:52
imadah….ai anggo nikku dang sepi ito,..alai na manatap-natap do sian passa-passa ni parbattoan i, mamereng-mereng, atik boha nga ro rombongan ni palmal i, dungi dung tabaen pasilitas chat nadi samula hambirang i, gabe tusi do hita markombur..heheheh
anggo si pittor mangolu dope sue, sasude ma mangolu, nunga mangoli ibana, jala boru marbun, itonami di alap tinggal di lampung do nasida saonari…
[Nialusan jo Komentar on]
YULINDA SIMBOLON : Thursday, January 8, 2009, 1:18
kwakakak…. anggi Lisma holan namatua ma didokkon ho di bagas taon???
godang do da akka doli -doli dohot akka namarbanju da ? sipata marguna do namatuai manjaga jabu ni pear ma nian akke .
[Nialusan jo Komentar on]
Parluasan : Thursday, January 8, 2009, 4:57
bah
ai dia do
ai akka naung namatua do hape dongan di luat on.
marnapuran ma ningon dahh, manete-netek ma hua-hua ni napuran i
kwkwkwkw
[Nialusan jo Komentar on]
YULINDA SIMBOLON : Thursday, January 8, 2009, 7:39
Dibondut do anggo hua – hua ni napuran i da?? dang di bursikkon ai obat doi ima gabe didokkon halak awet matua hahaha.
[Nialusan jo Komentar on]
Lismawati Hansel - Sinaga : Thursday, January 8, 2009, 15:38
bah..marrara ma sude…ngingi i…
Ale di Pakkat kale hamuna nga tong maju be akka namatua sonari. Dang masa be huida marnapuran. jala ummantap do sasak nasida molo mar koor.
eh..taringotna aha do musim nuaeng di huta he akka dongan…asa puas jo iba annon mangallangi puang…
[Nialusan jo Komentar on]
Hendry : Friday, January 9, 2009, 1:16
Musim ni partai do ito saonari,..ro ma hamu…..
[Nialusan jo Komentar on]
YULINDA SIMBOLON : Friday, January 9, 2009, 3:13
Didokkon Parbatto manarutung ninna tu Sijarango je ro ma anggikku.
[Nialusan jo Komentar on]
IRA SERIOSA PANDIANGAN : Monday, March 23, 2009, 9:38
sungguh indah kiranya jika kita bisa tetap mencintai kota tempat kelahiran kita. saya pribadi sangat bangga kepada dosen saya yang tetap mencintai kota kelahirannya pakkat. beliau menunjukkan bahwa dari desa kesilpun dapat muncul bibit yang bermafaat. selamat berkarya buat bapak dan keluarga. keluarga Victor Tinambunan salah satu contoh bahwa orang pakkat pun dapat sukses. salam sayang kak Ira buat adik kristi dan Willeam.sampai bertemu lagi di Pematang Siantar
[Nialusan jo Komentar on]
edyleng : Thursday, April 2, 2009, 12:14
Horas dongan sa huta……..
Sebelumnya saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu…
nama saya Edy
tempat tinggal pancur batu…
melalui forum ini saya ingin mencari temen lama saya yg dulunya anak Pakkat dan mungkin sekarang masi di Pakkat atau di Medan saya kurang tau…
namanya Ray nekson Sihotang, dulu dianya skolah di SMA Era utama pancur batu dan abangnya dulu juga guru kami di SMA tersebut yg mengajar mata pelajaran KIMIA, nama abangnya Mangidoasi Sihotang atau Mangasi Sihotang, sayangnya beliau pada thn 87 mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan Derusalam medan dan meninggal dunia, kami selaku siswa sana sangat sedih atas kecelakaan ini… temen akrab dr beliau namanya Runggu Manulang yg juga guru Fisika kami di SMA tersebut… Manggasi Sihotang dan Runggu manulang juga menjadi TENTOR di salah salah satu bimbingan test di Medan… demikian informasi yg bisa saya sampaikan…
bagi temen2 yg mengetahui informasi di atas mohon hubungi saya di email saya edyleng@hotmail.com saya sangat ingin bertemu dengan temen saya ini atau mantan guru saya Bapak Runggu manulang… sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih pada temen2 dan forum Pakkat ini… GBU…
[Nialusan jo Komentar on]
dono : Tuesday, May 5, 2009, 23:41
si dono do au parsiuor2
[Nialusan jo Komentar on]
Ja ULTOP : Sunday, May 10, 2009, 19:59
Agia, Neah ! si DINI par LOBU pe taho ! Padulikku i.
[Nialusan jo Komentar on]
Jaullus (raja mullus-ullus) : Thursday, June 4, 2009, 13:47
dang au i bah, si Jaullus do au. anungi so hea dope au sian pancur Batu holan sian passue Pkkat dodohot sian passur hau agong, sedangkan panssur pisang nga lupa au. Jadi dang au i. jala sihotang do muse margana.
[Nialusan jo Komentar on]
B.SOFIYAN SITUMORANG : Tuesday, June 30, 2009, 3:14
alai tugu salak pakkat i dang olo busuk akke,hebat hian,hape ngamalukkang kulit nai dibaen partarompet ( T.RJ GUKGUK).alana turun harga ni salak pengaruh nidalan i …..holan hata do sude,
[Nialusan jo Komentar on]
eva marbun : Thursday, July 2, 2009, 9:27
ooooohhhhhhhhh tahe ni sangka mng ise ai hodo hp dono???????????? di tanda hodo au kan???????? nga didia ho kale???????????
[Nialusan jo Komentar on]
Mangatas Simorangkir : Sunday, August 16, 2009, 21:20
Ahu namargoar Mangatas Simorangkir, On dang komentar alai mangido tolong ahu boha do carana asa parsidohot ahu di http://www.pakkatnews. on nungnga hu coba masuk alai sai gagal. ai di tano pakkat do hatubuanku 18 Oktober 1955, mauliate parjolo
[Nialusan jo Komentar on]
swandy sihotang:
October 5th, 2009 | 09:40
tu amanta Simorakkir, molo nungga boi dibukka hamu partukkoan on (boi manurat dison), berarti nungga imana be i. Horasma
[Nialusan jo Komentar on]
tolpus rambe purba : Saturday, October 3, 2009, 10:17
au ma si tolpus nasian sorga……………………….
[Nialusan jo Komentar on]
Ricardo AP Marboen/edo : Monday, October 5, 2009, 12:13
Bah, horas ma tutu TULANG a/ LAE, molo na par Pakkat hian do hamuna, santabi, namarjabu di dalan tu SINAMO (Pulobali) ima tukang meubel najolo do ? Alana adong hian do niingot sekitar tahun 60′an Marga SIMORANGKIR marjabu disi, alai pindah ma nasida sian Pakkat (sekitar tahun 70′an ma ra i). Alana namanubuhon ahu /Inong nami BORU SIMORANGKIR do.
Songon ido tong di Ktr (BTN) on, adong marga Harianja minta tolong tu ahu asa dibantu pindah sian Cab. Jayapura tu Medan. Ibana mambuat Boru Simorangkir. Dung pindah tu Medan, baru pe binoto (menurut suhutanna) bahwa Simatuana i hea do najolo ro tu Pakkat, dohot manukangi jabunami nauju i. Jadi Horas ma di hamuna, selamat datang dan selamat bergabung.
Horas Jala Gabe, Tetap semangat dan GBU, Amen.
[Nialusan jo Komentar on]
Lina Simanullang : Friday, October 9, 2009, 10:51
Horas ma di hita sasudena…
perkenalan ma jolo au akke…
nama : Lina Simanullang, Asal huta sian Sipagabu…
songoni ma jolo saotik perkenalan sian au..
salam sejahtera..
[Nialusan jo Komentar on]
swandy sihotang:
October 9th, 2009 | 12:00
HOras ma ito, selamat bergabung ma di partukkoan ta on. Baen hamu sian i akka nonang i akke, naserius boi, namambaen mekkel sappe medep-medep pe tong boi hehhhe. didia do tinggal muna ito di pangarattoan on?
[Nialusan jo Komentar on]
Lina Simanullang:
October 10th, 2009 | 10:43
@swandy sihotang,
Horas ma tutu Ito,,,
ianggo tinggalhu di JakTim do Ito, lobi topat na di daerah cipinang. alai dang di LP Cipinang i da ito. hehehehe…
[Nialusan jo Komentar on]
lora simamora/sijarango 1 : Friday, January 15, 2010, 14:18
Bersyukurlah kita pada Tuhan sebab kota kita yang namanya PAKKAT sungguh indah dan sejuk dikelilingi pegunungan. Pakkat memang tergolong kota tua, karena zaman dulu (dang huingot be) di Desa Sijarango I telah dibangun bangso Bolanda alias si bontar mata ima BARONJONG digunakan untuk mengairi sawah2 yang ada disijarango dan tali air itu disebut BONDARAN. Selain mengairi sawah juga digunakan untuk air minum mandi dan cuci oleh warga setempat. Sayang sekali Baronjong kini sudah rusak bahkan bondarannya tidak ter urus lagi alias kering. Apakah masyarakat Pakkat atau pemerintah Humbahas peduli dengan ini, mudah2an ke depan Baronjong di Sijarango 1 segera di bangun dan kembali menjadi tempat wisata seperti dulu. Horassss Pakkat. Lorayati Simamora tubu di Kodepinasa Sijarango 1, 9 juli 1969 saonari tinggal di Tambun Bekasi.HP. 0818698109-081288591930. Tuhan memberkati.
[Nialusan jo Komentar on]
Masdi sihaloho : Friday, January 29, 2010, 17:48
mauliate ma tutu disudena i, memang sekilas huboto di pakkat pada umumnya adalah pendatang, termasuk marga rambe, pardosi, naiambaton, simamora, sihaloho, Pane, Tambunan marpaung nang angka marga naasing dope. Jala dang dao sian pesisir Barus , Dairi dohot Toba ima asa adat mang kebiasaan termasuk logat bahasa di Pakkat merangkum sian Pesisir, Dairi dohot Toba. Jala sada nadengan do sudenai molo di lului asal mula ni Pakkat jala molo adong dapot boi do antong di perjelas di joloan ni ari Horas mauliate
[Nialusan jo Komentar on]
lora simamora : Friday, January 29, 2010, 18:26
ito masdi, santabi jolo tinggal didia do hamu, molo dang sala rap tammat do hita sian sma rk pakkat taon 1989, hami ips hian jala ito si risanto simamora ma sakalashu di kalas 1 hian. horass
[Nialusan jo Komentar on]
yan steven situmorang : Wednesday, March 3, 2010, 11:19
alai denggan do nian unang holan hata dihita pangaratto, molo so adangdo perjuangan padengganton dang na jadi berkembang be hutattai.
[Nialusan jo Komentar on]
Hendry HM Lbn Gaol:
March 3rd, 2010 | 11:38
@yan steven situmorang, horas laekku situmorang. rajinlah baca-baca web ini, maka lae akan temukan, bahwa pangaratto pakkat, lewat FIP telah berbuat dan tidak hanya omong doang. mari bergabung lae, supaya kekuatan kita tambah!!
[Nialusan jo Komentar on]