Thursday, March 11, 2010

Horas Pakkat...!! Selamat datang di website par-Pakkat, dimanapun berada, sai parhorason ma dihita.---beta be marsoban tu Uccim---Cuaca di Dolok Pinapan...marhobot--

Mudar na Makkuling

Penanda berita: ,
Tuesday, April 28, 2009, 9:25
diposting pada kategori SUHUTAN. Ada 4 Komentar pembaca.

Mata saya sibuk membolak-balik lembaran daftar caleg yang terpampang di TPS itu. Kalo dipapan ini, foto dan nama caleg di cantumkan maka di kertas pemilihan, hanya nama saja.  Satu persatu caleg dari tiap partai saya baca. Kekritisan pikiran ini mulai meradang ketika membaca satu persatu caleg dari partai-partai kontestan pemiliu 2009. Yang kutahu, puluhan caleg orang batak ada disana. Mulai dari caleg DPR hingga Caleg DPRD tingkat 1.

Pertama, mata saya mencari caleg DPRD tingkat II, dimana ada saudara yang ikut jadi calegnya. Istri saya yang dari tadi nanya melulu ikut memperkeruh pikiran ini. Seolah saya ini tim sukses dari seorang caleg, saya mempromosikan si caleg tersebut pada istri saya. ” Siapasih itu pa? teman mu?…”

“Iya, temanku sintua di perumnas 2 bekasi, kau pilih dia ajalah”

Jujurnya, dari lubuk hati yang paling dalam, pengen golput saja, tapi mengingat untuk ikut terdaftar di DPT saja sudah merupakan keberuntungan, maka sikap golput uni saya pinggirkan dulu. Mumpung ada saudar dan teman yang butuh suara kita, gak ada salahnya kita berikan, perkara menang atau kalah itu urusan dia.

Beberapa partai yang didirikan oleh orang kristen seperti PDS, menjadi partai yang membuatku jijik. Partai ini yang katanya partai kristen, tapi kok nggak punya sikap dan perbuatan seperti orang kristen yah. Calegnya berlomba-lomba untuk maju, lalu ada caleg dari agama lain, dan ketika memilih pengurus pusat, ada percekcokan. Sungguh tak menggambarkan iman kristen. Saya memilih caleg PDS tak lebih karena dia teman saya, dan kebetulan saya di email-in sama teman saya ini, minta dukungan.

Duh, orang batak.

Seandainya bersatu, mungkin lima sampai sepuluh orang bisa duduk di dewan. Entahlah, apa yang ada didalam pikiran mereka ini. Mulai dari pegawai biasa, pengusaha, hingga pendeta maju menjadi caleg. Lalu siapa yang memilih? bukankah hanya orang mengandalkan suara orang batak?. Di negara yang penduduknya masih belum dewasa dalam soal demokrasi, belum  dewasa dalam soal platform partai, mungkinkah orang yang bukan batak memilih caleg batak?. Kemungkinanya kecil!.

Dasar batak, dang diho, dang di au, tumagon di begu!, guman ku

“Adapa seh?’ tanya istriku yang sedari tadi memperhatikanku yang senyum-senyum sendiri. Iya neh, orang batak ini punya sifat nggak mau kalah. Eme namsak di gagat ursa, i namasa i ma ni ula, marsaleg dongan, marsaleg ma iba.

Alangkah indahnya kalau budaya jelek ini di ubah. Belum pernah saya lihat ada orang batak yang bilang gini “  Ho ma jo maju bah, hudukung hami pe, agiat pala sada sian halak batak adong na maju, ho mamboan soaratta”

Yang ada bilang begini, ” Bah…marga Lumban Gaol sudah pada mengajukan caleg, yang macam mananya marga kita ini, masak kalah sama marga orang lain? lecce kali marga kita ini, nggak main marga kita ini…”

Ujung-ujungnya semua marga ada calegnya, sega bangso i. Hal lucu, setiap ada perkumpulan, arisan, pesta hingga acara keagamaan, maka kalender dan kartu nama berseliweran. Entah dari marga dongan tubu, atau dari marga boru. Tak heran, yang marhula-marsimatua saling menjegal di pemilu ini.

Mataku kemudian tertuju ke ke lembaran DPD, dan mencoba melihat siapa-siapa saja DPD yang saya kenal. Tak semua orang di TPS kami ini tahu apa DPD ini. Dan bisa kupastikan, kalau salah satu calon  anggota DPD ini wajah lama yang sudah cukup dikenal masyarakan lewat media. Maka, tak heran pula, orang-orang di TPS kami ini, seolah setuju memilih dia saja, karena cuman dia yang dikenal.

Calon DPD paling bawah adalah Texin Sirait MM. Dari puluhan calon DPD jawabarat, Texin Sirait satu-satunya BATAK.  Bah, siapa pulak ini Texin Sirait ini?. Saya panggil pardijabu untuk mendekat, lalu kubilang ” Nanti lebaran DPDnya polih Texin Sirait…”

“Napa? kenal, Pa?”

“Nggak…cuman karena dia doang yang Batak”

Ya. Kebetulan dia sendiri yang batak dari beberapa puluh calon anggota DPD itu. Makkuling do mudar i. Perumpamaan yang menunjukkan, kalau ikatan benarng merah kebatakan ini langsung bicara. Walaupun, saya nggak tau dan tidak kenal siapa itu Texin Sirait, tapi saya memilih dia. Sekali lagi Makkuling do mudar i.

Hanya darah orang batak yang makkuling, darah suku lain cukup mengalir. Dan saya yakin, semua orang batak punya rasa yang sama dengan saya. Terbukti, ketika beberapa teman saya wawancarai, maka semua mereka yang ikut memilih pada pemilihan kemarin, memilih Texin Sirait sebagai calon DPDnya. Apa mereka kenal?. Jawabanya TIDAK!. Hanya karena ikatan ke-batakan, mereka memilihnya.

Seandainya nanti Texin Sirait MM ini terpilih menjadi anggota DPD, apakah dia juga punya darah yang makkuling?. Jawabnya tidak tahu, terserah dia saja.

Dang di ho, dang di au, tumagon di begu. Maka tak heran kalau dikampungnya sendiri, orang batak keok!.

Lalu bagaimana dengan di Pakkat??

Menurut informasi akurat yang saya peroleh, semua orang berlomba dan saling sikut untuk merebut satu kursi di DPRD Tk II. Ratusan juta melayng sia-sia, sogok sana sogok sini. Apakah ada optimisme dan asa yang kita peroleh dari caleg yang telah terpilih ini?. Biarlah waktu yang menjawab. Secara hitungan kalkulator saya, kalau seorang caleg sudah menggelontorkan dana hingga diatas tiga ratus juta, maka yang menjadi pekerjaan pertamanya adalah, kapan baliknya??.

Ai nuinga targade SK ni inanta niba, nunga targade tano maraek tano mahian tu SE U, nunga targade jabu tu Be Er I….

Je makkuling kodo mudar i kale-kale???

sebuah repleksi paskah pemilu

Tulisan yang sama:

You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Komentar pada tulisan “Mudar na Makkuling”

  1. Lintong Nababan : Tuesday, April 28, 2009, 11:49

    “Dang di ho, dang di au, tumagon di begu. Maka tak heran kalau dikampungnya sendiri, orang batak keok!”.

    saya sependapat dengan kalimat ini, inilah salah satu kelemahan kita (batak khusunya) ketika orang mau melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain,bukannya merapatkan barisan memberi dukungan tetapi sebaliknya.

    godang contoh kecil naboi tabereng dibonapasogit: Molo manuan tomat si A, petani yang lain juga berklomba-lomba manuan tomat, dohot akka naasing dope.

    contoh kecil diperkotaan:
    Martambal ban si A, martambal ban ma muse si B, C, D dohot naasing

    [Nialusan jo Komentar on]

  2. Bidicoff : Tuesday, April 28, 2009, 14:20

    Kesimpulanhu?
    Ini budaya judi.

    Kenapa judi?
    Setiap caleg pasti tahu hitung-hitungan peluangnya. Tetapi, mrk tetap maju. Setiap caleg jg berpikir makin banyak modal makin banyak peluang.
    Maka dana digelontorkan.

    Mengapa begitu?
    Bukan rahasia lagi klo legislatif di negara ini adalah lahan besar uang “haram”. Disokong lagi dgn sedikitnya peluang usaha dan pekerjaan di negeri ini.

    Jadi, Anda punya uang? Mari berjudi!!

    [Nialusan jo Komentar on]

  3. zul azmi sibuea : Tuesday, April 28, 2009, 16:08

    dang holan di pakkat, gejala na songon on , menyebar do on diseluruh indonesia, jala dungi muse, keadaan di pakkat attar sarupa do dohot rata-rata bagian indonesia na lain.
    aha mai,

    pai sada, psikologi massa pemilih seluruh indonesia attar sarupa dope dohot kira-kira pemilu kedua masa suharto, ima “massa mengambang”, indang adong anggota partai na fanatik, na jelas ideologina, pinda mangakkat do aktivis i tu parte na asing ala tujuanna dang naeng mar politik.

    pai dua, psikologi sosial partai peserta pemilu dang kodo dewasa,ima “partai mengambang”, tung sai lalap mar lalap manyusun koalisi, dang sian dasar cita-cita dan ideologi parta, alai sian untung rugi berdekatan dengan penguasa.

    pai tolu, gabe sude mangambang , dang binoto be aha do porluni dpt, ise do na martanggung jawab – gabe sude mangambang, jangan-jangan dak porlu pemilu barangkali, na porlu sampling sajo hira na binahen ni konsultan quick count – asa gira sae, jala mura biayana.

    [Nialusan jo Komentar on]

  4. Jesron Simamora : Wednesday, April 29, 2009, 23:14

    Sarupa hian bah, alana sama-sama di bekasi gabe si Rait naso tinanda i ma ni contreng (holan ala ni mudar namangkuling; sama-sama batak).
    Anggiat ma tutu molo jadi ibana gabe anggota DPD, asa boi hami pajongjong gareja di bekasi-mustika jaya on.

    Horas ma dihita sude!!!

    [Nialusan jo Komentar on]

Komentar anda pada tulisan ini