Pengantar
Bapak Pendeta Victor Tinambunan
Lahir di sebuah desa di ‘ujung dunia’: Siringoringo, Parlilitan, 18-10-1964. Kalau Tuhan menghadirkan kita di dunia ini melalui ibu yang melahirkan kita pastilah dengan tujuan baik. Saya menjalani SD dan SMP di kecamatan yang sama, SMA HKBP Tarutung, STT HKBP Siantar,Pascasarjana di UKDW Yogyakarta dan Lutheran Seminary at Philadelphia,USA. Meski kehilangan masa anak-anak karena sejak usia 6 tahun sudah bekerja di sawah, masa SMP-SMA sambil menarik ojek dan menyadap kemenyaan di hutan belantara, saya melihatnya sebagai bagian dari ‘pendidikan’ tanpa uang kuliah.
**************************************
Harapan saya kiranya meditasi menjadi bagian kehidupan kita. Apa dan bagaiamana meditasi silahkan mengakses dalam blog ini.
**************************************
Buku yang ditulis: 1. Bergereja dan Berteologi dalam Konteks Indonesia (2001) 2. Renungan Seputar Kehidupan Keluarga dan Masyarakat (2003) 3. Menjadi Gereja Pro-Kehidupan (2004). 4. Gereja dan Orang Percaya: Oleh Rahmat Menjadi Berkat (2006). 5. Bohal ni Parhalado Dohot Ruas ni Huria (2006). 6. Apa Yang kamu Cari? (2008) 7. Engkel Sipature Na Sega (2008).
Saya mengenal beliau melalui google search engine. Lalu saya baca tulisan-tulisannya, banyak sekali yang bisa member inspirasi. Lalu saya menyurati beliau untuk meminta ijin sehingga saya bisa merepublish tulisannya di PakkatNews. Beliau membalas permintaan saya dengan senang hati. Saya sangat gembira, kebetulan pula beiau berasal dari kampung yang sama dengan asal Bapak saya.
MENJADI BERKAT BUKAN MENJADI HEBAT
Publish by : Tommy M J Sihotang
Sumber : victor-tinambunan.blogspot.com
Ada saja yang terasa agak aneh dalam kehidupan keseharian kita. Sebut saja soal ‘kehebatan’ dan ‘kejagoan’ yang terkadang diidentikkan dengan ‘keberanian’ melawan tatanan kehidupan yang baik atau aturan yang berlaku. Di beberapa kota di Indonesia, mereka yang ‘berani’ naik sepeda motor tanpa menggunakan helm pengaman sambil bonceng tiga dan menerobos lampu merah pula, justru dianggap orang atau menganggap diri sendiri ‘hebat’ atau ‘jago’. Saya jadi teringat ‘cerita’ Ayub Yahya tentang seseorang yang menerobos lampu merah di jalan raya. Ketika polisi menghentikan dan bertanya, “Mengapa Anda menerobos lampu merah? Anda tahu apa artinya merah?” Dengan entengnya si pengendara sepeda motor menjawab, “Tahu Pak Polisi. Merah artinya “berani”.
Kita juga dapat melihat bagaimana keanehan serupa terjadi dalam hubungan jabatan dan kekayaan. Jarang sekali –kalau tidak mau dikatakan sama sekali tidak ada– pejabat negara yang kaya di Indonesia yang menjadi kaya kalau bukan karena korupsi. Tetapi, anehnya (lebih tepat celakanya) justru mereka itu yang dianggap hebat dan berhasil. Mereka pun disambut meriah, didaulat sebagai orang terhormat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Tidak heran mengapa banyak orang yang ingin seperti mereka. Tetapi jangan kita membenci mereka. Kita boleh membenci perilaku buruk atau kekurangan orang lain, tetapi kita mesti tetap mengasihi dan menghormati orangnya. Kita perlu membantu mereka dengan mendoakan, menegur dengan cara hormat dan bersahabat.
Selain dalam konteks kehidupan masyarakat dan bernegara, baik juga kalau kita melihat diri sendiri sebagai gereja. Kecenderungan serupa juga bukan pengalaman asing dalam kehidupan bergereja. Sepanjang sejarah gereja kita menemukan orang-orang yang membelokkan ayat-ayat Alkitab untuk mengabsahkan konsep, sikap dan perbuatan tertentu yang justru bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tidak sedikit orang yang membusungkan dada tatkala berhasil melanggar tata gereja tanpa merasa risih apalagi bersalah. Kita tidak perlu menguras tenaga membahas itu semua. Cukup bagi kita melihat fakta-fakta itu tanpa mengingkarinya sambil melangkah dalam menapaki kehidupan, menekuni pekerjaan dan pelayanan keseharian dalam pimpinan Tuhan dan dalam semangat pertobatan. Ketika kita disebut berhasil dalam melakukan yang baik pun kita bukanlah orang hebat, apalagi kalau ‘keberhasilan’ kita justru mengaburkan dan menguburkan kebenaran demi pengejaran kepentingan kita. Sesungguhnya, Tuhanlah yang hebat, kita dipanggil untuk menjadi berkat

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Horas…
Saotik sukkun-sukkun sian ahu taringot BERKAT…
Aha do lapatan ni BERKAT. Molo berdoa adong mandok TUHAN MEMBERKATI KITA (Menuruthu on benar). Adong do muse mandok KAMI MEMBERKATI si ANU …danseterusnya (On benar do on?) Baen hamu jolo pandapot muna.
Mauliate…
Horas..Selamat bekerja dan oraet labora
[Balas...]
molo na huboto,…berkat ima goar ni boru-boru do i,…
je molo baoa didok Pahala….molo so sala
[Balas...]
Horas..
Tu Amang Pdt. Victor Tinambunan molo ahu tubu di hutaNapahorsik do ima na di toru ni huta Siringo-ringo.
Boha do pandapot ni Amang Pdt. Victor Tinambunan na di Singapura taringot lapatan ni BERKAT.
Molo tulisan ni Amang : Sesungguhnya,Tuhanlah yang hebat, kita dipanggil untuk menjadi berkat.
Adong na deba mandok : molo dapot rezeki didok dapot BERKAT. Dang hurasa maksudna dapot boru-boru i. hehehe..
Mauliate… Selamat Bekerja dan oraet labora.
[Balas...]
Molo tu baoa naso dapot rokkap dope, toho ma ra “mendapat berkat” lapatan na dapot boru-boru, akke hamuna…
KS
[Balas...]
Nyambung lebih seriusssss….
Refleksi Pdt Victor Tinambunan, sangat menarik dan mendasar, kendati sederhana. Saya melihat dua hal yang mau dinyatakan. Pertama, bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan. Kebiasaan umumnya yang terlihat ialah bahwa kita sangat sulit memisahkan antara perbuatan (kesalahan yang dilakukan) seseorang dengan pribadi orang yang melakukan kesalahan. Apalagi melihat kesalahan itu dibarengi dengan HOTEL. Tetapi refleksi etis Pak Pendeta sekurang-kurangnya menyadarkan kita bahwa harus mampu membedakan perbuatan orang dan pribadi orang bersangkutan. Dalam ilmu Logika dibedakan antara ARGUMENTUM AD REM dari ARGUMENTUM AD HOMINEM. Yang pertama, dimaksudkan kita melihat permasalahan (perbuatan), yang kedua dimaksudkan pada pribadi orang bersangkutan. Membedakan ini memang butuh waktu dan pembiasaan diri.
Kedua, refleksi ini secara implisit juga mengajak kita untuk memikirkan secara mendasar filosofi nenek moyang kita ( si jolo-jolo tubu) tentang, “Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon” ( Ingat lagu, Alusi Au”.
Mungkin ada komentar Netters Pakkat tentang ini.
Salam
KS
[Balas...]
Nah .. ini yang ditunggu-tunggu…..Kadang kita tidak mampu menahan emosi kita (apalagi karena kita orang Batak). Kalau kita tahu seseorang itu melakukan kesalahan, rasanya tidak mampu selalu menghormati orang tersebut. Misalnya Seseorang yang kaya membagi-bagikan hartanya (katanya dapat BERKAT) padahal hasil korupsi, semua orang tahu. Apakah kita mampu untuk menghormati beliau. Rasanya tidak.
Atau contoh sederhana: Seorang Pendeta dalam kesehariannya banyak melakukan hal-hal yang tidak baik dipandang orang. Saat dia “marjamita” rasanya kita mau usahakan jangan lihat “oknum pendetanya” tapi kotbahnya, susah…
Bagaimana pendapat rekan-rekan yang lain…ditunggu.
Horas. selamat bekerja dan oraet labora.
[Balas...]
Jujurnya saya paling kagum melihat professi seorang pendeta, pastor, karna dengan pilihan hidupnya itu, berarti dia sudah menandatangani kontrak selama HIDUPNYA, harus sihup BERSAHAJA,…..dan inilah yang tak ada pada jiwa saya, anggo iba nian, manang bohama carana asa mamora iba.
Tapi saya PALING MUAK melihat para pendeta yang tak sesuai perbuatan dengan professinya…..
Bicara soal ‘pendeta’ saya banyak teman dari professi ini, karena saya dari bebera;a tahun ini saya bergelut dan banyak bergumul dengan kegiatan gerejawi…..
[Balas...]
Horas…
Kita manusia memang sudah terkodrat diciptakan untuk ‘menuntut’. Menuntut orang lain seperti yang kita maui. Ketika saatnya sudah seperti yang tidak kita maui, maka akan terjadi konflik kepentingan.
Seringkali dengan sikap penuntut kita itu, maka sesering itu pula kita memberi ukuran kepada orang lain, celakanya ukurannya menurut ukuran kita pula. Lalu akan muncul sikap men’judge’ (=menghakimi). Bukankah lebih baik ‘mengunyah’ buah bagi diri kita sendiri daripada ‘menguyahkan’ buah itu untuk orang lain?
Tetapi itulah sifat manusia selama ada di dunia, karena manusia bukanlah malaikat yang sempurna. Idealnya, untuk dunia yang lebih baik, kita diajak untuk BERUSAHA bertindak dan berbuat seperti dalam inti tulisan di atas. Namanya juga usaha…
Lalu kembali ke tulisan di atas, dimana kita dipanggil untuk menjadi berkat. Secara sederhana saya mengunyahnya bagi diri saya bahwa pernyataan itu sama dengan ‘jadilah garam dunia’ (menjadi garam bagi sesama).
Horas…
[Balas...]
Hendry LG, unang muruk ho kale-kale, attar diguratton ho letter na balga tu hat “PALING MUAK”. Tenang…tenang. Setuju!!! Porlu konsistensi di pakkataion nang pangalaho. Alai nian dang holan tu angka pandita manang angka pastor, nang angka pejabat parugamaon na asing berlaku on, dohot do ra tu hita angka ruas/jemaat/umat na. Dao ma istilah NATO ( No Action, Talk Only) ate,
Salam liburan!
KS
[Balas...]
Angka damang dohot angka dongan na hinaholongan. Terima kasih benyak atas komentar yang mencerahkan, meneguhkan (bahkan yang agak ‘nyerempet’
) Saya melihat benang berah dari semua komentar di atas adanya kerinduan kita semua untuk kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Perkenankanlah saya merespon beberapa secara acak begini.
1. Pengertian berkat, saya belum cek persisnya apa menurut kamus bahasa Indonesia EYD. Tetapi intinya, ‘berkat’ adalah pemberian Tuhan yang kita gunakan sebaik-baiknya secaraa bertanggungjawab untuk kebaikan diri kita, kebaikan orang lain dan kemuliaan Tuhan. Jadi, ada makanan, kebutuhana lain, ya…..rongkap ni tondi juga di situ.
2. Mengenai perlunya keteladanan Pendeta, Pastor dan pelayan Tuhan lainnya (bahkana semua umat kristiani seperti lae Kasdin sebutkan, saya sangat setuju. Tidak ada keraguan. Kita doakan;ah, kita dukunglah agar mereka-mereka hidup dengan benar di hadapan Tuhan dan umat. Tukang kritik sudah banyak, yang lebih kita butuhkan adalah orang yang memberi keteladanan. Caranya? Mulai dari diri sendiri; mulai dengan hal-hal kecil; mulai detik ini. Terima kasih banyak untuk lae Tommy Sihotang yg komentarnya di atas sangat meneguhkan hati.
Songon i ma jolo angka dongan. Otik nari pinatandahon diriniba, Ia natuatua i boru Sihotang do jala ompung pe boru Sihotang do. Tabe ma secara khusus tu angka tulangniba Sihotang.
[Balas...]
Saya juga tidak membutuhkan Kotbah, tapi seorang Teladan.
Baik Keteladanan dari Tokoh Agama maupun dari para Pemimpin Masyarakat.
Bahkan sebaliknya, orang orang kecil pekerja keras pun bisa juga jadi Teladan yang baik.
[Balas...]
Bah pahebathu do hamu ito. Ai holan hamu huroha jolma di partukkoan on. Godang dope hami na membutuhkan akka siraman rohani….
[Balas...]
Ito Lismawati. Dalam satu hal yang sangat prinsip, saya setuju dengan ito: butuh teladan. (keteladanan sebenarnya juga adalah khotbah; jadi kalau ito butuh keteladanan, sebenarnya ito membutuhkan khotbah juga). Kalau ito sulit menemukan teladan, tolonglah ito sendiri merelakan diri memulainya. Misalnya, memberi keteladanan bahwa kotbah itu kita butuhkan. Sebab, orang yang mengatakan tidak butuh kotbah, sesungguhnya adalah yang tidak menunjukkan keteladanan. Ketika kita melihat awan mendung, pastikan apakah kita sudah membuka kaca mata hitam
Mungkin tidak nyambung ya ito….maklumlah saya tidak menangkap secara lengkap yang ito maksudkan.
[Balas...]
Ampara Jeperis Nahampun dan Lae Hendry Gaol, mungkin saja apa yang Ampara dan Lae lihat atau alami beberapa pengkotbah yang tidak sesuai isi kotbahnya dengan kata-katanya. Keadaan seperti ini memang memperihatinkan. Dalam hal ini perlu kita pertimbangkan dua hal.
Pertama, kita coba lihat ke kedalaman hati kita. Sebab, penilaian kita kepada orang lain umumnya menggambaran apaa yg ada di dalam hati kita. Misalnya, ada beberapa orang melihat pengkotbah yang sama: tetapi penilaian dan sikap berbeda-beda. Mengapa itu terjadi? Karena masing-masing orang melihat dengan suasana hatinya, keadaan pikirannya atau kondisi emosionalnya. Ada orang yang tidak sampai muak mendengar pengkotbah walaupun pengkotbah itu ada kekurangan. Tetapi, ada juga yg muak. Sekali lagi, perbedaan penilaian itu terjadi karena perbedaan yang memberi penilaian.
Kedua, kita coba usahakan dengan setulus hati membantu si penegkotbah, mulai dengan mendoakannya. Saya percaya, ketika kita mendoakan si pengkotbah, cara pandang dan sikap kita terhadapnya pasti berbeda. Kemudian, berusahalah menjadi sahabat baginya, sehingga dengan persahabatana itu kita bisa memberi masukan bahkan kritik yg sehat untuk membangun.
Ketiga, kalau sudah mereka tidak ada perubahan, siapa tahu ampara dan lae bisa menggantikan mereka atau anak-anak disuruh masuk seminari untuk menjadi pastor atau pendeta.
Intinya adalah, dunia ini akan lebih amana dan damai kalau kita lebih banyak ”menuntut” diri sendiri ketimbang menuntut orang lain. Cara yang paling ntuk mengubah orang lain adalah dengan mengubah diri sendiri.
(Tambahan: kaya tidak salah dan bukan dosa; silahkan Ampara Nahampun, semoga kelak lebih kaya alagi. Hanya saja perlu kita ajukan pertanyaan dalam memperjuangkannya: (1) Dari mana kita adapatkan –harus halal; (2) Bagaiamana menggunakannya –untuk membangun tdk merusak (3) Apakah kita peduli dengan orang lain. jangana kekayaan kita dibangun dengan mempermiskin orang lain).
[Balas...]
Amin…Amin…Amin….
Saya cuma berharap di negara ini lebih banyak lagi bermunculan orang orang yang bisa dijadikan Teladan dalam Perbuatan.
Kalo dalam Perkataan sih…sudah sangat banyak!!!
(btw,saya heran ada aja orang yang mangaitkan komentar saya dengan egoismus belaka dari saya!)
MERDEKA OOOOIIIIIII….. !!!!
[Balas...]
Horas..
ido Perbuatan do na porlu unang holan hata
[Balas...]
Bersama Toba, on October 3rd, 2008 at 3:11 pm Said:
Horas..
ido Perbuatan do na porlu unang holan hata
[Balas...]