Melongok Kampanye Terbuka

Kampanye Terbuka sudah memasuki hari ke 3 dan itu diliput oleh para kuli tinta (=media massa) seantero nusantara bahkan manca. Bagaimana komunikasi para jurkam partai ‘membual’ dihadapan massa? Seperti biasanya, kecap ngakunya nomor satu semua, mutunya paling bagus. Mari kita lihat berbagai ‘jualan’ partai kali ini yang sudah melakukan kampanye terbuka di sejumlah daerah, yang dihimpun dari berbagai sumber.

Pada awal-awal bulan kemarin, beberapa partai sudah kasak-kusuk untuk koalisi. Seperti biasanya, bahasa politik yang kental silat lidahnya akan dipakai dalam mengomentari momen seperti itu. Tidak ada yang mengakui, semuanya malu-malu kucing, mengatakan bahwa itu adalah silaturahmi atau kunjungan biasa. Tidak lupa pula pers akan memberi bumbu sehingga ‘pertemuan politik’ antar partai itu ditafsirkan bermacam-macam kalangan secara berbeda-beda. Tampaknya ada juga para pengamat dan kaum intelektual yang disetting menjadi ‘koki’ sehingga memberi komentar untuk membangun sebuah opini publik atas suatu kejadian tertentu untuk menambah macam-macam masakan dalam kejadian pertemuan antar partai tersebut. Berbagai macam cara dilakukan, semuanya untuk Pemilu 2009 ini.

Gerindra, yang sangat gencar dalam iklan-iklannya kelihatan sangat menonjol dan ambisius. Beberapa politisi yang pernah berkiprah di partai lain direkrut. Sebut saja Permadi, pria yang suka berpakaian hitam-hitam ini dulunya politisi PDIP. Mengundurkan diri dari partai moncong putih itu, menyeberang ke partai yang berlambang kepala Garuda ‘milik’ mantan menantu penguasa Orde Baru itu. Yang paling mengejutkan bagi berbagai kalangan adalah, putri Gus Dur, yang biasa disebut Yenny Wahid itu, menjadi jurkam Gerindra. Dia menyerukan kepada kader dan simpatisan PKB pro Gus Dur agar ‘memilih’ Gerindra dalam pesta demokrasi nanti. Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa Yenny telah ‘disediakan suatu kursi’ apabila Prabowo menang dalam Pilpres. Sampai saat ini, ‘belanja politik’ Gerindra diperkirakan adalah yang paling mahal. Hal itu dikarenakan Gerindra cukup agresif dalam iklan politik dan ‘transfer pemain’ dalam kepengurusan partai. Kalau Sutrisno Bachir (SB) saja menghabiskan 15 M dalam sebulan untuk iklan layar kaca, tentu jumlah itu bisa beberapa kali lipat apabila dibandingkan dengan seorang Prabowo yang mendapat dukungan dari kalangan pengusaha selain dari asset perusahaannya yang memang sudah mulai menggurita.

Untuk satu stasiun televisi di ibukota, jika beriklan secara excessive rata-rata biaya iklan adalah Rp 500 juta, maka sebulan adalah 15 M. Silahkan hitung apabila beriklan di 7 stasiun TV. Untuk baliho ukuran sekitar 4 m persegi, berbiaya sedikitnya sekitar Rp 2 juta selama setahun, tergantung daerah pemasangan. Jika seorang politisi atau parpol memasang sekitar 500 papan iklan seukuran 4 m tadi dalam 2 bulan, termasuk biaya pengerjaan dan pemasangan di berbagai daerah, maka dalam hitungan kasarnya mencapai Rp 160 juta. Bagaimana dengan media cetak? Koran Nasional yang bergensi, satu halaman penuh hitam putih sekitar Rp 80 juta, kalau berwarna naik menjadi Rp 150 juta. Talk show selama 1 jam di televisi Jakarta, politisi akan merogoh kocek sekitar Rp 1.5 M. Satu slot iklan di televisi Jakarta berdurasi 30 detik akan dibanderol paling murah Rp 20 juta. Menurut Associate Media Director Hotline Advertising, Zainul Muhtadin, bahwa pada Pemili 2004 biaya iklan kampanye berkisar Rp 60 – 100 M per calon, kini minimal setiap calon harus menyediakan dana Rp 100 M (detiknews).

Ratusan milyar rupiah habis dalam hitungan bulan. Jika ada 5 orang calon pemimpin negeri ini, maka dalam setahun bisa menghabiskan Rp 1 trilyun lebih!

Sisi lainnya, dalam kampanye terbuka, ‘jualan’ partai Gerindra misalnya adalah kemiskinan dan segala tetek bengek turunannya. Katanya, Gerindra adalah suatu gerakan nasional untuk perubahan. Kata perubahan menjadi kata yang paling laku diucapkan oleh partai setiap kali musim pemilihan, entah pemilihan apapun itu! Padahal kata itu sudah seabad lebih yang lalu dikumandangkan oleh Boedi Oetomo dkk dalam moment kebangkitan nasional. Kampanye Gerindra di Sidoarjo, Jatim, dan Yogyakarta masih meneriakkan kata perubahan. Permadi bahkan mengatakan di Yogyakarta, bahwa Prabowo, yang belum mempunyai istri lagi itu, adalah titisan Soekarno, periden RI pertama. Belum lagi setiap tahun akan membagikan 1 juta laptop apabila mantan Danjen Kopasus itu menjadi pemimpin negeri ini. Sulapan iklan politik yang bernilai ratusan milyaran itu seolah-olah telah menempatkan seorang Prabowo menjadi calon penyelamat bangsa Indonesia. Sementara orang telah begitu mudah melupakan tragedi Semanggi dan penculikan para aktivis pada masa transisi dahulu. Belum lagi ‘pengakuan’ pensiunan Jenderal Sintong Panjaitan (baca buku Perjalanan Seorang Parjurit Para Komando) yang menyatakan bahwa mantan Danjen Kopassus itu akan melakukan kudeta. Kejadian-kejadian itu memang di Jakarta, tetapi apakah orang-orang di daerah tidak tahu? Jika mengendalikan pasukan dibawahnya saja tidak bisa, apalagi nanti jadi presiden, kata Indria, badan pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Menurutnya, kapasitas Prabowo sebagai seorang Danjen Kopasus dalam kasus penculikan orang hilang adalah sangat penting. Kita lihat saja bagaimana akhir dari sepak terjang Prabowo menuju RI 1, yang selalu meneriakkan kata perubahan dalam iklan dan kampanye politik, yang sampai saat ini masih menjomblo.

Partai Persatuan Pembangunan atau PPP memanfaatkan kampanyenya di stadion pacuan kuda, jl. Daeng Tata, Makasar, Sulawesi Selatan. Partai berlambang Ka’bah  itu menghadirkan 2 penyanyi dangdut seksi, dan satu penyanyi mirip Rhoma Irama, berusaha mengajak ratusan massa dan simpatisan yang berkumpul agar memilih partai no. 24 itu. Tidak lupa menyelipkan janji manis dimana PPP akan memfasilitasi naik haji gratis bagi rakyat miskin apabila memenangkan Pemilu 2009. Sedangkan Rhoma Irama yang asli beserta Soneta Groupnya pada tanggal 16 Maret lalu, telah menghibur massa PPP di lapangan Blok S, Jakarta Selatan. Salah satu lagu yang dibawakannya adalah ‘Adu Domba’.

Sementara PAN yang berkampanye di alun-alun Yogyakarta pada 18 Maret 2009, juga meneriakkan kata perubahan. Kata itu konon bisa diucapkan juru kampanye puluhan kali ketika berpidato dalam satu sesi kampanye. Politisi yang sering dianggap plin plan ini mengkritik asset Negara yang terus digadaikan. Dia juga mengatakan hasil polling PAN yang mencapai urutan ke tujuh perlu dibuktikan, bahkan kalau bisa menjadi urutan ke lima dalam Pemilu 2009 nanti. Partai yang akhir-akhir ini diplesetkan Partai Artis Niyee karena PAN begitu doyan merekrut barisan partainya dari kalangan artis, mengatakan bahwa menempatkan PAN dalam urutan 7 adalah tidak benar. Amin juga mengkritik iklan Partai Demokrat (PD), yang memakai kata ‘lanjutkan’, walau dia tidak menunjuk ke salah satu partai, akan tetapi jelas ke partai mana muara kritikannya itu. Katanya, kalau ingin lanjut, maka akan ada kontinuitas yaitu pengangguran meningkat, angka kemiskinan tetap tinggi dan sumber daya yang terus digadai ke luar negeri. Artinya, kata ‘lanjutkan’ dalam iklan politik PD diinterpretasikan Amin sebagai kelanjutan keterpurukan bangsa. Semoga tidak tergolong black campign. Kita lihat saja, apakah Amin masih ‘bergigi’ dalam Pemilu kali ini, sebab di 2004 Amin yang maju menjadi capres dari PAN dikatakan nafsu kuat tenaga kurang. Belum lagi ketua Umumnya SB yang dipandang beberapa kalangan kurang berlatar belakang intelek serta ‘nila setitik’ kasusnya dengan salah seorang artis ibukota yang sedikit banyak melorotkan citra PAN. Baru-baru ini, anggota legislatifnya sendiri sedang diperiksa KPK atas dugaan kasus korupsi di Departemen Perhubungan. Semoga uang milliaran rupiah yang digelontorkan PAN untuk memoles ‘rupa’ SB dan upaya menaikkan citra PAN tidak sia-sia.

Bagaimana dengan partai Golkar? Sejumlah politisi kawakan partai berlambang pohon beringin ini diberitakan ‘turun gunung’ menjadi jurkam di sejumlah daerah. Tanggal 18 Maret 2009, sebut saja Akbar Tandjung berada di KalBar, Fahmi Idris di Sulawesi Barat, Agung Laksono di NAD dan Muladi di Bengkulu. Jadwal pada hari berikutnya, Aburizal Bakrie akan berkampanye di kampung halamannya, Lampung. Sedang Surya Paloh akan unjuk gigi di NTT. Hari berikutnya, Sultan HB X akan beraksi di Bangka Belitung, sementara si NTB akan diisi oleh Akbar dan Sulawesi Tengah oleh Andi Matalatta. Sementara pada hari berikut, Jusuf Kalla (JK) akan tampil habis-habisan ditanah kelahirannya, Makasar di lapangan Karebosi, yang dilanjutkan ke Sumsel.

Seperti partai lainnya, Golkar dalam iklan politik seolah telah melakukan perubahan dengan semboyan memberi bukti, bukan janji. Keberhasilan yang diraih negeri ini diklaim menjadi keberhasilan dan kerja keras Golkar juga.

Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) yang berlangsung tanggal 18 Maret di Gelora Bung Karno, berusaha memecahkan rekor MURI pada kampanye terbuka perdananya. Partai ini berusaha menerbangkan bendera PPRN berukuran 40 x 60 meter. Tidak tanggung-tanggung, direncakanan bendera itu akan diterbangkan oleh 4 balon raksasa yang berisi hydrogen masing-masing 1250 kg per balon. Sayang, bendera yang baru terbang setinggi 4 meter, luruh ke tanah dan bendera robek. Lalu ketua umum PPRN Amelia Yani menghibur diri dengan berucap, ‘Ini pertanda perjuangan menegakkan nasib rakyat tidaklah mudah”. Ada-ada saja.

Bagaimana dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Menurut Tifatul Sembiring, partainya akan berhemat. Dalam iklan di layar kaca pun, iklannya tidak begitu bombastis. Dalam salah satu iklannya, dengan diiringi lagu dangdut, pesan-pesan PKS pun disampaikan. Di kecamatan Manggala, Sulsel, kampanye sosialisasi dilakukan dari rumah ke rumah alias door to door. Sebanyak 500 kader disebar untuk kampanye ini. Rapat akbar baru akan dilaksanakan pada 23 Maret 2009 di lapangan Karebosi, yang akan dihadiri oleh jurkam nasional, Tifatul Sembiring. ‘”Insya Allah” begitu kata ketua DPD PKS Sulsel tentang kehadiran Tifatul.

Bagaimana dengan partai-partai baru lainnya dan yang tergolong partai gurem? Sepertinya tenggelam dalam hiruk pikuk partai-partai besar dan bermodal. Begitulah hukumnya, uangnya banyak, massanya banyak. Walaupun belum tentu demikian. Iklan politik memang meriah bagi yang bisa mengumpulkan massa, yang tentu saja menghabiskan ratusan milyar rupiah. Lalu, biaya yang telah dikeluarkan itu, apakah tidak ada niat untuk dikembalikan? Apa ambisi partai dibalik kucuran dana milyaran rupiah itu. Demokrasi itu sangat mahal memang.

Semua partai selalu berkata akan memperjuangkan ‘rakyat’, mensejahterakan ‘rakyat’, peduli ‘rakyat’, menjalankan amanat ‘rakyat’, serta banyak lagi kata yang mengatasnamakan ‘rakyat’ yang diiringi dengan goyangan kata ‘perubahan’! Pertanyaannya adalah, rakyat yang mana sih? Perubahan yang bagaimana sih? Bagaimana sih caranya? Segampang itukah?

Mari jangan tertipu visi, misi dan program partai ! Berhati-hati, too much politic will kill you :)

Tommy M J Sihotang, dari berbagai sumber.

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>