Hari beranjak senja. Inang partiga possal memperhatikan laki-laki muda berpakaian rapi dan necis, sepertinya memang dia mengenalnya. Ya, sebaliknya laki-laki itu masih cukup kenal dengan inang parpossal ini. Rolas merasa risih dipandangi sedemikian. Walau sudah 10 tahun Rolas tinggalkan kota ini, Dia merasa seolah baru kemarin dia singgah di tempat itu, semuanya masih seperti dulu, dari jenis masakan, tatanan dagangan, mangkok tempat possal hingga wajah inang ini tak ada yang berubah.
Mungkin dia masih bertanya-tanya dalam hatinya, siapa Rolas. Dengan tak mempedulikan rasa penasaran si inang penjual possal itu, Rolas dengan santainya menyantap bidangan possal di depanya. Menghabiskan possal pesanan hingga kedua kalinya. Rasa heran dan penasaran semakin nampak di raut NaiMarolop, demikian sebutan yang Rolas tahu selama ini. Possal naiMarolop. Juga rasa heran yang ditunjukkan setiap pembeli yang duduk berhadapan dan di sebelah Rolas. Mungkin juga, karena dengan santainya Rolas dua porsi lengkap dengan sayuran yang beraneka ragam, mulai dari ikkau rata, leo dan potongan kecil sayur kool.
Ada dua alasan kenapa Rolas melRolaskan ini, pertama karena possal inang ini memang rasanya beda dari setiap possal yang ada di sekitaran pasar ini. Tak heran, walau tempatnya berada di pojok Balerong tua ini, setiap hari senin, hari onan, selalu ramai dikunjungi pembeli, sehingga tak sulit untuk menemukanya. Setiap onan selalu saja banyak orang yang mengantri untuk membeli possalnya. Mulai dari dimakan sini hingga dibungkus saja, dan dibawa ke kampong.
Alasan kedua, ada kenangan manis dan sangat mengesankan yang tak pernah terlupakan bermula dari sini, di tempat par-possalan inang ini di sudut balerong pasar Pakkat.
Siang itu, seperti biasa sehabis pulang sekolah Rolas jalan-jalan ke onan sama teman-temanya. Hari ini Rolas bolos lagi mulai dari jam pelajaran ke tiga, hingga ke enam. Seperti biasanya, hari senin, jam pelajaran sengaja diperpendek, karena ini hari onan. Dimana setiap orang orang di kota ini dan juga yang datang dari kampong atau desa-desa disekitar kkota kecil ini akan datang berkunjung ke onan Pakkat, berbelanja kebutuhan sehari-hari. Onan ini satu-satunya pasar rakyat, diadakan seminggu sekali, pada hari senin. Semua tumpah ruah di pasar rakyat yang sempit ini, mulai dari membeli kebutuhan rumahtangga sembako, dan kebutuhan keluarga lainya seperti baju dan keperluan sekolah.
Tak seperti kota besar lainya, seperti Medan atau Siantar, kampung ini hanyalah sebuah ibukota kecamatan, kota kecil dengan onannya yang kecil juga.
Sudah lewat tengah hari, panas dan terik. Rasa lapar mulai menyerang perutnya, Rolas cepat-cepat berjalan kearah balerong lama. Ke pojok balerong, tempat jualan possal. Possal merupakan makanan favorit disini. Di sekitaran pasar ini banyak yang jual possal, tapi entah kenapa, rasa Possal disini lebih enak, juga karena tempatnya tepat berada di pojok Balerong, sehingga sambil menikmati possal, pengunjung bisa memandang ke arah jauh, keluar, ke arah kerumunan orang-orang .
Di daerah lain, menu ini dinamakan dengan bermacam-macam nama. Possal di kampung ini terbuat dari bahan mie lidi, yang besar-besar, lalu daung singkong, leo atau genjer, dan sayur kool yang diiris kecil dan tipis-tipis, lalu dicapur dengan bumbu dan kuah. Sangat enak.
“Namboru, lapar nih…cepatlah dikit yah….” Lalu Rolas langsung duduk dan melemparkan buku yang sedari tadi dijepit di ketiaknya. Hanya dua lembar buku tulis tipis. Lalu matanya celingukan, memandang keluar, menyaksikan ramainya suasana onan menjelang sore itu. Onan semakin sore semakin ramai, seiring dengan selesainya jam sekolah dan kantor. Ibu-ibu pegawai negeri dan anak sekolahan tumpah ruah di onan, menambah semaraknya suasana onan.
“Cepatan dikilah nanboru dah lapar kali ini….” seraya memegangi perutnya, lalu mendelik kearah panutuan tempat mengulek bumbu kacang dan hasior, juga andaliman. Inang partiga possal itu sudah tau selera Rolas, mungkin karena seringnya Rolas mampir kesini.
Sembari menunggu, Rolas mencoba membuka buku tulisku yang terlipat dua. Satunya buku matematika yang pada jam pertama dan kedua masih sempat dia ikuti. Mencoba membahasa dalam pikiranku rumus-rumus matematika yang dijabarkan Ibu Siagian hari itu. Sembari mengang danuk-anggukkan kepalanya, berguman kecil seolah Rolas paham betul rumus-rumus itu. Inang par-possal itu, sendyum sendiri melihat tingkah Rolas. Masa bodo.
“Bang…geseran dikit…” Rolas dikejutkan oleh suara asing, Rolas kaget dan segera menutup buku yang tadi dibacanya. Seorang gadis manis berbaju abu-abu, wajah yang tak asing dan bekenal, dengan pita putih dan tas warna biru muda. Rolas terdiam membisu. Dan mencoba memandangnya. Keningku berkerut, dan mengingat-ingat, siapa gerangan gadis manis ini. Um pernah dilihat sebelumnya
Setauku, nggak ada gadis secantik ini di kota ini, Toh, kalau ada, artinya aku sudah harus tahu” guman Rolas dalam hati. ” .
Rolas masih terdiam dan terpesona akan kecantikan gadis disampingnya, “Bang..permisi, mau lewat….’ Kembali suaranya yang merdu dengan aksen bahasa Indonesia yang halus sekali, hamper tak terdengar….
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Molo taringot ni namarbaju ittor humalaput do akka itoan on akke nang pe sona tinan dana akke.
salam kenal ninna hamu majo hahahaha…
[Balas...]
Anigan ma hira2 sidung saritaon sai songo na gantung do nihilala.
[Balas...]
Iteeng…doli-doli mangallang possal di Onan, nga tok jim i da…hehehe. Alai doli-doli na mangallang possal i, jot jot do i manakko salak di paccur salak…kwkwkwkw
[Balas...]
Au dang hian hupati molo borua i mandok ” Bang geseran dikit “.
Pasti songonon didok: Geser jo sotik ito….Balga hian ipput mu……!!!! ha..ha…ha…
[Balas...]
# rihardi tinambunan Said,
Au dang hian hupati molo borua i mandok ” Bang geseran dikit “.
Pasti songonon didok: Geser jo sotik ito….Balga hian ipput mu……!!!! ha..ha…ha…
Huauauuaua…..ai hea didok anak boru tu lae songoni????
[Balas...]
di do bang tommi on, manakko salak di paccur salak.
gabe songon na TERSUNGGING iba daba, selaku warga parluasan najonok tu paccur salak.
heheheheh
[Balas...]
Wakakaka…
[Balas...]
Hehehe,…mantafff do ra suhutan on, sambil marningot masa-masa disihadanakon NAJUNGKAN i.
Molo menurut ahu dah, kalimat ” Bang geseran dikit “, tutu do ra songon i didok itoan i, alana mungkin na sian kota do itoan i, alai ndang pala sadia leleng KODO marsikkola di Pakkat (sesuai kalimat : “Bang..permisi, mau lewat….’ Kembali suaranya yang merdu dengan aksen bahasa Indonesia yang halus sekali, hampir tak terdengar…)
Alai tutu, molo ndang na sian kota itoan i, DATUNG ma tutu songon i pandok na, alai songon on ma na pas ” MENESIH ITO !, PAOROT HAMU JO SAOTIK, ASA BOI IBA HUDDUL ” ninna songon satonga marhusip.
Jala museng, ditikki naeng lao itoan i (naeng parmisi) di dok ma museng songon on :
” Santabi ito, paorot hamu saotik tu tonga-tonga, unang mapinggir hu hamu hundul, sotung PIKKAL annon bangku on, bage MAGORBAS annon hamu, alana naeng jong-jong jala parmisi ma jolo ahu” ninna itoan huhut mansai lambok begeon hatana i.
Hahahaha,…. ai memang tung na lambok do begeon irama ni molo par Pakkat manghatai.
Hehehehe,….. torushon ma SUHUT-SUHUTAN mi kale-kale.
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
kwakakkak
adong do songoi naeng boru – boru di Pakkat??? makkatai
[Balas...]
Je ujung na, ianggo tokoh ni suhutan i, ima itoan si Rolas i, marhamulian ma nasita tu sabola Lae koh-koh, tu na margoar Laongali. Di undangan nasida, tung paltak ma disurathon goar nasida : LAO NGALI dohot oroanna RO LAS.
Jala tubu ma ianakkonna dua halak, dibahen ma goarna 1. si GUR-GUR dohot tinodohonna margoar si DANGOL-DANGON SISILON
Alai ianggo panggoaran ni oppung ni dukak i, didok ma : Oppu SIMARUAP-UAP.
Je, ima ujung ni suhutan i, botima.
Hahahahaha…………..
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Pingback: Masih ada cinta di Balerong Pakkat-2 |