Bagian Pertama bisa dibaca di sini
Rolas masih terdiam dan terpesona akan kecantikan gadis disampingnya, “Bang..permisi, mau lewat….’ Kembali suaranya yang merdu dengan aksen bahasa Indonesia yang halus sekali, hamper tak terdengar….
Part 2
Entah bagaimana ceritanya, yang pasti Rolas semakin akbrab dengan Riyanti, gadis yang hingga kini selalu membuat jantungnya berdebar makala dia mencuri pandang ke arah kursi disebelahnya. Duduk sebangku denganya kadang membuatnya hilang konsentrasi dan grogi. Rolas kurang merasa nyaman menikmati wajahnya yang manis seperti dia memandang setiap murid-murid perempuan yang punya wajah bak selebritis dikelasnya. Rolas tak berani beradu pandang dengan Riyanti, pandangan matanya sangat teduh dan membuat jatungnya semakin berdenyut tak karuan. Tak seperti biasanya, bila berhadapan dengan gadis lain, Rolas bisa mempermainkan perasaanya, mampu berkata-kata, mampu melemparkan guyon yang menyegarkan. Tak heran kalau dia banyak disukai murid perempuan di sekolah itu. Mungkin faktor lain adalah, kepintaran yang dimilikinya.
Mereka akhirnya satu mejapun tak disangka-sangkanya. Kalau boleh memilih, Rolas tidak menginginkanya, takut segala kebiasaan buruk yang dimilikinya tak bisa dilakukanya lagi.
Pagi itu, seperti biasanya, sebelum masuk kelas dia langsung menuju bangunan kantin dibelakang sekolah itu. Yang pasti, dia sudah kelaparan berat. Dari rumah tak makan, jauh dan bangun kesiangan. BatuGajah bisa dibilang jauh dari sekolahnya. Jalan kaki 10km cukup menguras tenaganya. Sisa-sisa energi yang dimilikinya hanya cukup mengantarkan kakinya ke kantin sekolah. Dibelakangnya Tumpal setengah berlari mengejarnya. Tumpal satu kelas dan satu tim volly, yang kebetulan adalah olahraga kegemaran mereka berdua.
“Tunggu…” tumpal setengah berteriak meanggil Rolas
“Apaan”
“Besok kita ada pertandingan..”
“Nggak bisa..”
“Kenapa? ”
“Besok sore mau survey ke Sipagabu, mau ikut??”
“Untuk acara LongMarch bulan depan, sekalian untuk perisahan kelas 3″
“Lah..bukanya kemaren??”
“Nggak jadi, aku ketiduran di Warung Situmorang sebelah”
“Eh…ada anak baru dikelas kita..cantik dan manis…”
“Masa….”
Tak terasa, hingga jam delapan pagi mereka masih asyik ngobrol di kantin, hingga mereka kelabakan menghabiskan makananya ketika Namboru Parkantin mengingatkan kelas sudah masuk. Dengan tergopoh mereka beranjak keluar kantin. Setengah berlari dan senyum-sendyum sendiri.
“Masuk..berdiri disitu…” Pak Marbun menyuruh mereka masuk. Wajahnya kelihatan dingin dan tidak bersahabat. Sepertinya beliau sudah hapal kebiasaan mereka yang setiap mata pelajaranya selalu masuk terlambat. Lima belas menit mereka masih berdiri disitu. Yang tak kala mengangetkan Rolas, dilihatnya wajah cantik yang ditemukannya di warung Parpossalan di balerong Pakkat. Hah!!..ternyata murid baru disini. Duduk di mejaku??.
“Pilih hukuman berdiri setengah jam lagi atau keluar sebentar mungutin sampah didepan kelas??” Pak Marbun bertanya dengan tetap menghadap ke papantulis depan, menyelesaikan gambar anatomi tubuh manusia.
“Bersihkan sampah pak ” kata rolas
“Bagus”…..
Sepuluh menit berselang, tampak keduanya berjalan memasuki ruangan kelas. Pak Marbun mempersilahkan duduk dan tetap asik didepan papan tulis itu.
Sedikit rasa kaget terlihat di wajah Ryanti manakala Rolas berjalan menuju ke arahnya. Dengan santai Rolas menghempaskan tubuhnya ke bangku dan mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya dan mengelap keringatnya. Ryanti melirik dan melemparkan senyum. Rolas sedikit tergagap di lirik seperti itu. Ryanti menutup mulutnya dengan lengan kirinya. Tampak bulu halus tumbuh di ruas tanganya yang putih mulus itu.
“Kenapa??” tanya Rolas setengah berbisik
Ryanti menjawab pertanyaannya dengan mengelengkan kepala. Hampir tak kelihatan.
“Keringatku bau yah..” tanya Rolas lagi
“Bukan aku yang bilang”
Sial. Rolas mengumpat dalam hati. Cantik-cantik kok hatinya judes. Huh..awas nanti. Riyanti menuliskan sesuatu di secari kertas dan menaruhnya ke atas buku Rolas. Sebuah nama tertulis disana. Rolas melirik tanpa membalas tulisna itu.
“hmmmm namanya Ryanti….huhhh…” dengan cuek Rolas mengibas buku ke wajahnya yang cukup kegerahan akibat kerja rodi sebentar tadi. Dongkol dihatinya belum sembuh, walau dia tahu kalau ini semua akibat kelakuan buruk mereka. Sekali-sekali dia mencuri pandang ke arah iyanti saat gadis itu sibuk menulis atau sibuk mendengarkan pelajaran dari Pak Marbun.
Dari cerita Tumpal, Rolas tau kalau gadis didampingnya itu masuk kelas kemarin dan telah memperkenalkan diri. Karna satu-satunya meja yang masih kosong adalah mejanya dia, maka tak ada pilihan lain, Ryanti harus duduk disana.
*****
Suasana kembali riuh ketika beberapa orang dari perwakilan kelas mengajukan pendapat. Tampak Rolas berusana menenangkan peserta rapat dengan mengetuk meja berkai kali. Rapat OSIS kali ini adalah untuk membicarakan Tempat terakhir dari LongMarch tahun ini, yang juga sebagai kegiatan ekstrakokurikuler yang digabung dengan acara perpisahan seluruh kelas 3.
“Sampuran Sipulak menurutku sangat bagus dan lokasinya sangat strategis” Tonggor mencoba memberikan argumen dan narasi kenapa dia lebih memiilh Sampuran sipulak dibanding dengan temat wisata lainya.
Sipulak tidaklah terlalu jauh. Selain airnya yang jerih, sampuran ini memiliki daya magis yang kuat yang membuat orang-orang yang datang berkunjung kesitu menjadi beah berlama-ama disana. Jeramnya yang mempunya medan yang susah menjadi satu tantangan tersendiri bagi setiap orang yang datang berkunjung kesana. Lokasi ini sangat cocok bagi mereka yang suka dengan tantangan alam. Sampuran ini memamng jarang dikunjungi orang kalau hanya untuk berwisata. ’Keangkeran’ menajdi alasan utama sehingga orang jarang berkunjung kesana.
Lokasinya persisi ditengah huta sebelah Barat Daya dari Pakkat dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kali sejauh 10km. Sampuran ini merupakan hilir dari beberapa sungai yang mengalir dari hulunya di Dolok Pinapan. Beberapa sungai besar seperti sungai Temba menajadi aliran utama sampuran ini.
Dengan ketinggian sekitar 70meter saja cukup memberikan kesan angker ditambah suasananya yang selalu sunyi dan hanya suara air terjunlah yang seolah sahut menyahut dipantulkan tebing curam itu.
Berapa tahun belakangan ini, pemerintah melalui perusahaan swasta mencoba mengadakan studi untuk meneliti kelayakan air terjun ini digunakan sebagai pembangkit listrik. Salah satu kendalanya adalah debit alirnya yang tidak stabil. Pasokan air dari sungai-sungai pendukungnya serng berkurang, terlebih bila musim kemarau. Banyak tempat wisata seperti ini bertebaran di kencamaan ini. Namun belum pernah dimaksimalkan karena kebanyakan masyarakat dikota ini belum menyadari kalau dari sektor parawisatapun sebenarnya mereka bisa hidup.
“Huh….” sahut beberapa orang yang tak setuju.
“Mentang-mentang kebun karet kalian dekat disana,…sekalian berkebun…” timpal yang lain..
Bersambung
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Teng… hebat ni cerita on jo bah, hayalan do manang na kisah nyata on. Ianggo si Rolas on ra tingki i mantaf do style na, biasana digulung do lengan bajuna na, jala masuk baju satonga holan na dipudi di jolo dipakaruar.
Hebat…gabe niingot sude angka najoloi namangallang possal i.
Horas Pakkat.
[Balas...]
dang tabo suhutan on molo sai marsambung-sambung
[Balas...]
Tabo situtu do Suhutan i bah, alai godang sukkun-sukkun taringot tu pangalaho ni suhutan i. Atik na panggorit na i do ro suhutan on na roha ma dah.
[Balas...]
Ah…anggo lae on, nalomoan rohana cerita na bersambung. gabe penasaran na manjaha……ha….ha…ha…!!!!!!
Je bohama naeng ending ni cerita on akke he…????
[Balas...]
hahahahha..hurasa cerita on,pengalaman pribadi do ate??
lucu,lucu,,gabe taringot dabah waktu dipakkat…
[Balas...]
Pingback: Masih ada Cinta di Balereong Pakkat - 3 - | Par Pakkat Online
jago do cerita on bah, mungkin ra boi ma muse dikarang mandongani halletna marbola di puylobali. kwkwkwkwkwkwkwkkw
[Balas...]