Berapa tahun belakangan ini, pemerintah melalui perusahaan swasta mencoba mengadakan studi untuk meneliti kelayakan air terjun ini digunakan sebagai pembangkit listrik. Salah satu kendalanya adalah debit alirnya yang tidak stabil. Pasokan air dari sungai-sungai pendukungnya serng berkurang, terlebih bila musim kemarau. Banyak tempat wisata seperti ini bertebaran di kencamaan ini. Namun belum pernah dimaksimalkan karena kebanyakan masyarakat dikota ini belum menyadari kalau dari sektor parawisatapun sebenarnya mereka bisa hidup.
“Huh….” sahut beberapa orang yang tak setuju.
“Mentang-mentang kebun karet kalian dekat disana,…sekalian berkebun…” timpal yang lain..
Part 3
Hari menjelang sore, perut semakin keroncongan sementara keputusan rapat OSIS belum ada. Rolas masih memberikan waktu bagi semua anggota rapat yang hadir untuk memberikan pendapatnya. Sudah pukul lima sore!. Yup. Dia melirik arloji usang bermotifkan logo sebuah angkatan bersenjata di negeri ini. Arloji pemberian Pamannya ketika pulang kampong setahun lalu. Marnakkok, adalah nama pamanya. Dari beliaulah Rolas belajar banyak tentang alam, tentang petualangan, tentang rimba. Di kesatuanya, Paman Marnakkok ditempatkan di kaviler tempur.
“Tenang,..tenang, bicara bergantian” setengah berteriak, Rolas berusaha menenangkan peserta rapat yang masih pro dan kontra.
Semua diam, membisu.
“Benar apa yang rekan-rekan sampaikan itu, ke Namosarang juga boleh, ke Sampuran Sipulak juga boleh. Dan masing-masing ada nilai plusnya. Catatan yang harus kita pertimbangkan adalah bahwa LongMarch tahun ini, telah kita sepakati harus memiliki beberapa syarat.” Rolas menarik napas pelan.
Dia berjalan menuju papan tulis hitam yang kusam itu. Dan setiap langkahnya yang gagah menjadi perhatian semua siswa di ruangan itu. Bagi rolas sendiri, kegiatan ini menjadi tantangan tersendir baginya, mengingat ini adalah kegiatan terakhir dimasa kepengurusanya. Dan ini adalah kegiatan akbar yang harus sukses dilaksanakan.
“Saya punya alternative lain, dan kemaren sudah berdiskusi dengan pak Pembina pramuka dan juga pak Situmorang, guru Geografi. Beliau-beliau sangat setuju kalau kali ini kita mengadakan study tour ke Banuarea”
“Hah!!!” Banuarea??”
“Mau lihat apaan??, apa tak ada tempat lain lagi??” sanggah yang lain.
Suasana kembali kacau dan gaduh, ada yang besiul dan ada yang tertawa.
“Sekali lagi, tenang!! Tolong denger penjelasan saya. Disana ada sebuah gua alami, sepanjang lima kilometer. Terowongan perut bumi yang alami, yang menghubungkan desa Banuarea dan Desa Sipagabu. Menjelajahi terowongan ini akan menambah pengetahuan kita tentang bumi ini, tentang lapisan bumi, tentang batuan, tentang hewan dan tentang tumbuhan di perut bumi.”
Rolas kembali melanjutkan.
“Di Goa ini ada sebuah sungai yang melinats sepanjang terowongan ini. Lalu beberapa ikan kecil yang belum pernah kita lihat ada hidup didalamnya, dan ada juga tumbuhan sejenis lumut yang menempel di sisi terowongan ini, yang tak dapat hidup selain didalam gua. Dan tak ketinggalan berbagai macam stalknit alami, ini informasi yang saya dapatkan dari penduduk setempat. Dan mereka siap menjadi pemandu kita nantinya”.
Sebenarnya, selain goa ini, masih banyak temapt wisata yang masih alami yang bertebaran di sekitar kaki Dolok Pinapan. Sebutsaja Sampuran Banuarea, yang tingginya sekitar seratus meter. Selain untuk saluran irigasi, sunga dimana air terjun ini berada, juga menjadi tempat penambangan emas secara tradisional.
Hingga kini, masyarakat Banuarea masih melakukan pendulangan emas secara tradisional. Emas yang konon menurut legenda dari masywarakat banuarea sendiri, adalah berasal dari serpihan emas besar didalam perut Gunung Pinapan. Emas sebesar Gajah ini, diturunkan yang maha kuasa dari langit untuk masyrakat Banuarea.
Gunung ini pun sebenarnya punya daya tarik tersendiri. Gunung tertinggi di Tapanuli ini sangat jarang disinggahi orang. Mungkin hanya para petani kemenyaan, penduduk asli desa banuarea yang sesekali naik ke punyak gunung ini. Ribuan pohon kemenyaan dari segala umur, ditanami dan dibudidayakan masyarakat banuarea. Dan, disepanjang jalan menuju puncak gunung, banyak rotan hingga puluhan meter ada disana.
Mendaki Gunung ini harus pagi-pagi sekali, mengingat, setiap pukul sepuluh pagi, gunung ini akan diselimuti awan. Memandang kearah timur, maka dataran tinggi Humbang akan menjadi pemandangan yang terpampang dan di Utara dan Barat adalah teluk Sibiolga dan Barus. Sementara memandang ke a rah utara, maka pegunungan Bukit Barisan berjejer seolah berlomba antara gunung yang satu dengan gunung yang lain, berjejer rapi.
Rolas sendiri sudah beberapa kali menaiki puncak gunung yang konon telah di tandai oleh penjajah Belanda dengan membuat Tapal batas pengukuran puncak.
* * *
Peluh mulai bercucuran. Sinar mentari pagi terasa hangat menyentuh kulit tubuh. Puluhan siswa berjalan beriringan menyusuri pematang sawah. Seolah ingin masuk kedalam perut gunung Pinapan yang menjulang kokoh di depan mereka. Beberapa kelompok nampak bernayanyi riang di iringi gitar, dipetik sambil berjalan. Tak ada tanda kecapean yang tampak dari wajah mereka. Tak ketinggalan ransel kecil dipunggung masing-masing juga botol-botol miuman terselip di pinggan mereka. Siswa bertubuh besar tampak membawa parang panjang, dan senter besar.
Riyanti berhenti sebentar, mencoba memngikatkan rambut hitamnya yang tergerai dimainkan angina. Keringat mulai membasahi kulit wajahnya yang putih mulus itu. Tertatih dia kembali melangkahkan kakinya mencoba mengimbangi langkah kaki rekan-rekan yang sedikit menjauh di depanya. Dia menoleh kebelakang, ada Rumondang yang dari tadi seperti tak ketinggalan memotret setiap moment yang dianggapnya obejk bagus. Barisan paling belakang adalah empat orang laki-lagki bertubuh tetap. Rolas dan tiga orang guru berjalan sambil memperhatikan setiap peserta dari kejauhan.
“Tunggu” seseorang memanggil
Riyanti menoleh sejenak, dilihatnya rolas setelah berlari mendekatinya. Dengan ekspressi datar, Rolas mencoba menawarkan jasa membawa tas gendongan Ryanti.
“Sini tasnya saya bawa, kelihatanya sangat menyusahkanmu, kamu cukup bawa botol airnya saja” seraya menjulurkan tanganya.
Ryanti Ragu.Hingga anggukan Rolas meyakinjanya.
Rolas setengah berteriak memanggil Rumondang, dan mencoba menjelaskan sesuatu dan sepertinya dia ingin Ryanti yang terseok-seok dibelakang dituntun oleh Rumondang.
Rolas menatap kepergian kedua gadis cantik didepanya dan menghela napas berat. Dia berguman dan hati, sungguh, ini akan menjadi perjalanan yang cukup melelahkan bagi Ryanti. Anak Jakarta menempuh perjalanan puluhan kilometer naik dan turun pematang sawah. Mungkin seumur hidupnya hari ini takkan bisa dilupakanya.
* * *
Mungkin tak ada hal yang paling mendebarkan daripada ketika seseorang akan menempuh perjalanan, lorong gelap yang terpampang di depan mata. Tak satu pun bisa melukiskan pemandangan apakah yang akan mereka nimati nantinya. Tanjakan terjal, dengan batu berlumut adalah jalan satu-satunya menuju pintu utama gua itu. Tumbuhan liar dan tetesan air dari atas mulut gua menambah keangkeran tempat itu.
Satu hal yang menakjubkan, suara aliran sungai yang deras dan suara air terjun terdengan cukup jelas dari mulut gua yang walaupun kita tidak melihat sungai dan air terjun itu.
Satu persatu, murid menaiki tangga batu berlumut itu, dan siwa dibagi sedemikian rupa, siwa laki-laki dibagi dengan perempuan dan siswa laki-laki diberikan tanggung jawab untuk setiap kelompoknya. Semua lampu senter sudah dinyalahkan. Kelihatanya, kedatangan manusia kedalam gua mengusik ketentraman para hewan penghuni tetapnya. Beberapa kelelawar dan burung laying-layang mencoba berterbangan. Seoalh menghindari sorotan cahaya senter yang ditembakkan ke dinding gua.
Riyanti mencoba menginjakkan kaki ketangga batu yang cukup licin itu, semenjak tadi, sepatu sudah ditanggalkan, bahwan seluruh pakainya sudah kotor penuh Lumpur. Karena setiap diamerasa letih, maka tanpa sungkam dia menelonjorkan kaki hingga seluruh danya bebaring.
Wajahnya pucat ketika tiba di mulut gua itu. Tiba-tiba dia berteriak histeris. Dan memang beberapa orang dari murid wanita melakukan hal yang sama. Takut dan menyeramkan. Gua gelap itu seolah ingin menelan mereka hidup-hidup. Kakinya gemetar dan mencoba meraba dinding gua.
Salah satu kelebihan guru adalah tahu mengatasi persoalan. Tak salah jika tour ini dipimpin oleh guru Pembina pramuka yang cukup berpengalaman. Dimulut gua, semua murid diajak berkumpul dan berdoa bersama. Meminta keselamatan dan menjauhkan dari gangguan binatang.
AmanTarida, penduduk kampong yang menjadi guide kali ini, maju dan menjadi penunjuk arah. Tak terdenagr dengan cukup jelas, bibirnya berucap halus. Seolah mohon permisi melintas gua gelap itu. Lalu, terdengar suara seraknya melalui pengeras suara, memohon kepada semua orang yang ikut dalam rombongan untuk tidak merusak, tidak mengucapkan kata kotor dan banyak pantangan lainya.
Rolas mendekati Ryanti dan membisikkan sesuatu.
“Aku akan selalu berdiri disampingmu hingga ujung terowongan ini”. Samar wajah cantik Ryanti menatap rolas. Seolah minta ketulusan. Wajah pucatnya ternyata tak mengucarngi kecantikanya. Aba-aba diberikan dan semua senter dan penerangan lain dinyalahkan.
Decak kagum seolah bisa melupakan rasa penat dan rasa takut ketika berada dimulut gua tadi. Sungguh luar biasa, dinding gua seolah dilukis oleh pelukis handal, bercoarak indah. Tetesan air dari atas gau meningalkan stalaknit alami. Dan sungai kecil disebalh kanan terasa dingin kalau kita sentuh. Ikan kecil berwarna putih keperakan tampak berenang didasarnya yang dangkal.
Ada saja pengunjung sebelumnya yang meninggalkan kenangan disana. Bahkan beberapa tulisan dibuat tahun seribu sembialn ratus tujuh lima puluh hingga tujuh puluh. Dan ada beberapa nama-nama orang tertera di dinding, mungkin pengunjung sebelumnya.
Ryanti memegang erat tangan Rolas.
Entah dari mulai kapan jari tangan mereka mulai bergandengan. Baik Rolas maupun ryanti tak sadar, kalau mereka sudah bergandengan tangan. Sejujurnya, perasaan ryanti masih diselimuti rasa takut, seumur hidunya baru kali ini dia berada dalam perut bumi. Dia menoleh kesamping, menatap kea rah Rolas. Terasa hangat ditelapak tanganya. Mata mereka beradu dan gugup. Cepat-sepat Roals melepaskan genggaman tanganya. Dia tak ingin disebut sebagai aji mumpung.
Mereka berdua salah tingkah. Di keremangan suasanya yang hanya diterangi lampu senter, Rolas memperhatikan Ryanti. Gadis manis berambut panjang. Memecah kesunyian, dia mencoba menceritakan apa dan bagaimana legenda-legenda yang ada disekitar dolok Pinapan.
Hawa sejuk dan udara basah menambah kebetahan mereka mau berlama-lama didalam gua. Entah, rasa lain juga menyelimuti perasaan Rolas setiap dia mencoba menatap wajah Ryanti. Mungkin gadis cantik itu juga tahu kalau dirinya diperhatikan, tapi dia pura-pura tak melihat. Dan ketika tangan Rolas kembali merengkuh jari-jarinya, dia bahkan membiarkan saja. Dia menikmati memori dan sensasi yang menghinggapi kalbunya. Dia mencoba melawan tatapan hangat Rolas namun dia tak bisa. Yah. Entah rasa apa yang kini sedang melanda jiwanya.
Bersambung……
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Sai hira cerbung (cerita bersambung) “Pariban dari Bandung” na jukkani di koran SIB, attar dibaen sasapponggol asa penasaran jolma na manjaha i, nga tok jim i, alai denggan do i take.
Lanjutkan
[Balas...]
Latteung:
September 3rd, 2009 | 09:34
@Togar P M P Sidabutar, I do ra amang, tapaima ma udut ni suhutan on..heheheh
[Balas...]
tek jo suhutan on da, gabe taringot muse tu SIPATU TOYO i da.. landorungonma si Rolasi akke.. oh DOLOK PINAPAN.. andigan muse boi au ro tuho. ninna ma hahaha NOSTALGIA di ari udan sarupa mai
[Balas...]