Oleh : Radot Manalu
Ada istilah yang sering digunakan dalam pergaulan yakni low profile. Sebutan ini sering ditujukan pada seseorang yang sebenarnya potensial namun tidak mau menonjolkan diri di hadapan publik. Karena pembawaannya, orang yang low profile umumnya rendah hati. Hampir-hampir selalu menghindari berdebat keras di depan umum. Atau ekstremnya tidak banyak ngomong. Namun bukan berarti introvert. Di dunia organisasi kalau toh orang itu punya gagasan selalu disampaikan lewat atasannya. Sifat itu berkaitan dengan kultur, sifat bawaan orang bersangkutan, dan bisa berkait dengan perekayasaan yakni semacam aturan tertulis dan konvensi.
Tidak jarang seseorang, misalnya yang memiliki kedudukan wakil direktur (wa-dir) dihadapkan pada kesulitan ketika akan menyampaikan gagasan dalam suatu rapat manajemen. Kesulitan ini berkaitan dengan semacam “tatakrama” dalam hal tutur kata dan hirarki jabatan. Ada semacam aturan tidak tertulis atau konvensi ketika atasan hadir dalam rapat tersebut sebaiknya wakilnya jangan proaktif banyak bicara. Kecuali dimintai atau diberi kesempatan berpendapat. Termasuk juga ketika ada “obrolan yang melibatkan para direksi dan wa-dir. Ada semacam konvensi, sang wa-dir sebaiknya low profile karena “khawatir” atasannya merasa tersinggung dan wibawanya turun. Belum lagi ada pertanyaan menggoda kalau wa-dir proaktif bicara dan bekerja ; lalu mana yang sebenarnya real direktur? Apakah sang direktur atau wakilnya?
Sifat low profile seseorang sering dihadapkan pada keputusan dilematis. Hal ini kalau low profile itu diposisikan sebagai hasil suatu rekayasa aturan. Ambil contoh saja, di satu sisi sang direktur jarang bicara dan kalau pun bicara tetapi mutunya rendah. Dan cenderung tidak bersemangat menerima gagasan dari wakilnya. Sementara di sisi lain wakilnya jauh lebih cerdas. Namun karena bersifat low profile yang artifisial maka gagasannya berhenti hanya di dalam hati saja. Padahal untuk menghadapi beberapa hal yang mendesak dan strategis, keputusan cemerlang perlu segera diambil. Bisa ditebak apa akibatnya bagi pengembangan unit yang dipimpin direksi bersangkutan.
Dalam dunia usaha yang beroperasi semakin mengglobal maka dibutuhkan terobosan-terobosan cemerlang. Terobosan itu lahir melalui proses manajemen perubahan. Di dalamnya ada kegiatan diskusi intensif di antara para manajemen dan karyawan. Dalam model manajemen kemitraan (partnership) siapapun didorong untuk mengemukakan pendapat. Begitu pula kalau perusahaan sudah menjadi organisasi pembelajaran. Perusahaan mengembangkan transparansi, akuntabilitas, dan pelatihan-pengembangan diri di kalangan karyawan (manajemen dan non-manajemen).
Karena itu perilaku low profile yang direkayasa manajemen puncak sudah ketinggalan zaman. Model itu akan menghambat perkembangan inisiatif, kreatifitas, dan daya inovasi manajemen dari para subordinasi. Biarkanlah mereka secara terbuka dan khusus langsung ke atasan dan sesama mitra kerja untuk menyampaikan semua gagasannya.
Namun di sisi lain sifat bawaan low profile yang mencerminkan kerendahan hati dan tidak menonjolkan diri sangatlah dibutuhkan perusahaan. Itu penting sebagai modal integritas pribadi karyawan dalam meningkatkan pengembangan diri sendiri. Termasuk pengembangan hubungan kerja dan sosial yang saling mengerti dengan mitra kerja dan dengan atasan. Selain itu sebagai pekerja keras dan cerdas, salah satu ciri seorang karyawan yang baik adalah low profile. Malah konon sebagian khalayak berujar, biarkan saja seseorang itu bersifat low profile asalkan high bonafide.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Nabinoto, dang adong kodo parPakkat na LOWPROFILE alai na sipanggaron tok GOK do.
[Balas...]
Risma:
July 31st, 2009 | 13:50
Sipanggaron dohot pajago jagohon, didiape saina parmonangan. je gabe mura ditanda jolma. molo na LOWPROFILE adongdo di Pakkat si MANUASA, jala tenar hian doon sekitar taon 70 – 80 an.
[Balas...]
Porlu dope nian lae na low profile on alai dang disude bidang,ai olo do na low profile on gabe lam lonong dang boi mumbang. horas
[Balas...]
Molo si Togap Rajagukguk dah, nungga inna diteraphon buku: Marketing The Second Generation karangan Hermayan kartaya, ima…
ikkon sipanggaron hian i…
Horas
[Balas...]
Jaullus (raja mullus-ullus):
July 29th, 2009 | 15:29
@swandy,
tulang Hendry eL Gi, Manullang@tmk dohot tulang Swandy. ra naung muba do ra pradigma pemikiran ni par Pakkat saonari on alani perpustakaan FIP i siala naung godang manjaha buku-buku ibaratna “self development”, self promotion”, “marketing the second generation” dohot “Human resources development” jadi tuani ma. Najolo tikki jaman nami tung mansai maol do luluan bukku lao jahaon. Jadi pesan ni natua tua do lohot di otak niba, ima unang gijang roha, unang patoal-toalhon, sereb jala benget marroha, ido pesan i. Niterjemahkon ma on, molo adong kemampuan unang ittor nianggangkon, parjolo do dohonon “ta coba” nangpe dipikkiran soal na mura do anggo karejo i. Jala jaman nami, tarboan doi tu pangarantoan, tu daerah na maju, naikkon malo do iba mempromosikan diri tentang kemampuan professi diri. hata “coba” manang “suba” tidak ada kepastian. Ketika orang terdesak, terpaksa manjalo pertolongan na mencoba nakining. Sikonsumen menilai hasil kerja ni na mencoba tadi, sangat professional, sehingga menilai orang yang mencoba tadi “low profile”. Dilihat dari self promotion, adalah sangat lemah. Tidak dapat memanfaatkan kelebihannya sehingga orang tidak tau. Molo binereng numaen akka naupposo, jauh dibawah umur, memamng tarsonggot do iba mamereng sikap na jauh berbeda tu tona ni natua-tua tu iba. Kadangkala nidok roha ma “nunga tung sigijang roha jolma sian Pakkat on” siala kemampuan naso apala “wah” dibagasan roha, nunga berani mampromosihon diri tu natorop. Hape ido tutu. sikap na ni anut selama on adalah suatu kelemahan. Bangga do iba didok low profile, hape holan sahalak do umboto kemampuan niba. tenggelam ma iba attong, jala dang olo mumbang be. Low profile, dihapiani halak dung sude dongan umboto kemampuan manang professionalisme niba, ido na denggan. Horas,,,,, Majuuu….Terusss…GBU
[Balas...]
Tulisan Low Profile, Perlukah dikutip dari : Sjafri Mangkuprawira, sekaligus untuk menanggapi komentar dari : Jaullus dalam Dumaisi Hutabarat Selalu mengandalkan Tuhan Dalam Segala hal, yang mengatakan bahwa kelemahan par Pakkat “Low Profile” dan sangat rendah hati.
Horas, GBU
[Balas...]
HORAS..KAMI SALAH SATU BLOG DARI SEKIAN BANYAK BLOG YANG MENYAJIKAN INFORMASI KEPADA ANDA.
BILA ANDA HOBI MENULIS KARYA ILMIAH, INFORMASI LOWONGAN KERJA ATAU MEMILIKI IDE-IDE BRILIAN YANG BERMANFAAT UNTUK KHALAYAK RAMAI, SILAHKAN KLIK :
http://htts.wordpress.com/.
TERIMAKASIH.
HELMUT TODO TUA SIMAMORA, M.Si
BADAN LINGKUNGAN HIDUP DAN LITBANG
KABUPATEN SAMOSIR-PROV.SUMUT
[Balas...]