Kisah Jamordong

Jamordong melirik kearah jam dinding yang tergantung di ruang tengah itu, dengan sedikit mendelik dia memastikan kalo sekarang sudah pukul 05.00 pagi. Cepat-cepat dia melipat sarungnya dan merapikan bantalnya. Dilihatnya Apuan masih tidur nyenyak disampingnya, demikian juga dengan seluruh penghuni kost-kost an itu, belum pada bangun. Dengan sigap dia menuju kamar mandi dan segera mengguyur air ke seluruh tubuhnya.

Teringat ia akan percakapanya dengan Apuan kemaren, ketika dia baru pulang dari rumah namborunya, namboru jauh dari keluarga amangudanya yang tinggal di Pulogadung. Ketika dia baru melepas sepatunya, Apuan yang sedari tadi asyik baca koran minggu kemaren bilang ” Lae, ada panggilan interview tuh dari PT. Lestari aku taruh di dekat box telepon”

Secepatnya dia berlari ke ruang tengah, dan dengan senyum dia membaca dengan seksama alamat PT yang dimaksud ” hmm..ini panggilan kedua dalam minggu ini, mudah-mudahan…” pikirnya.

“Mantap kali kau lae, baru dua minggu disini dah dua kali kau dipanggil, sementara aku belum pernah sekalipun dipanggil, kau pakai pelet apa?” kata Apuan bercanda. Akhirnya mereka berdua hanyut dalam banyolan dan candaan hingga menjelang sore. Satu persatu anak kost pulang, dan seperti biasa, mereka berdua mengucapkan salam.

Tempat kost ini sebenarnya di kontrak oleh senior mereka, senior alumni dari sebuah perguruan tinggi di Medan. Dengan cerita yang cukup panjang, akhirnya mereka berdua sampai juga menginjakkan kaki di kota besar ini. Sungguh mereka cukup beruntung punya abang senior yang bisa menampung mereka, walau tidurnya hanya di ruang tengah rumah kost itu, tapi mereka cukup senang.

Bang Timbul, senior mereka, dan  seorang Manager di sebuah perusahaan Jepang di kawasan MM2100 Cibitung. Sebenarnya, bisa saja atas rekomendasi dia, mereka berdua langsung bisa diterima bekerja, tapi Bang Timbul punya pemikiran lain. Kalau seorang yang baru tamat dari bangku kuliah harus merasakan betapa susahnya cari pekerjaan, sehingga nantinya ketika dia sudah diterima bekerja dia akan sangat menghargai perkerjaan itu.

“Pagi-pagi buta dah mandi, mo kemana de??”, Jamordong yang baru keluar dari kamar mandi tampak kaget.

“Mau interview bang, di Grogol”
“Jam berapa?”
“Jam 9″
“Bang, aku sudah cuci semua pakaian abang…”
“Hmmm…..kan ada pembantu”
“Iya seh,..sekalian mau pake buat interview”
“Dasar…dah tau aku ituh,..tuh, ambilin aja di kamar abang…”

Dengan cepat, tanpa diperintah dua kali, Jamordong berlari ke kamar Bang Timbul, dan segera mencari baju putih yang dimaksud.

“Abang mau sarapan??..biar saya beli…” Tanya Jamordong, ketika lihat Bang Timbul sedang asyik baca koran di dekat box telepon, satu kebiasaannya, yang sudah dihapal betul oleh jamordong.
“Emang ada duit??….” tanya Tang Timbul, sambil tersenyum simpul.

Jamordong cuma cengengesan.
“Itu.. di kamar abang dekat tipi ada duit limapuluh ribuan, sekalian beli sarapan buatmu dan buat si Apuan.”
“Iya bang..terima kasih, seperti biasakan bang, sarapanya??”
Tanpa mendengar jawaban Bang Timbul, Jamordong sudah berlari ke warung sebelah rumah kost yang merupakan langganan mereka semua. Jamordong tau diri, sudah tinggal di rumah Bang Timbul, dikasih makan lagi, kadang di berikan ongkos kalau mau jalan kemana. Dalam hati, Jamodong berterima kasih sekali punya senior seperti Bang Timbul. Sungguh dia tak menyangka akan kebaikan abang ini. Kalau dilihat hubungan margapun, tidak ada.

*   *   *

Awalnya, ketika mereka sampai kerumah itu dan atas rekomendasi seorang dosen mereka yang juga satu angkatan dari Bang Timbul, mereka ragu juga. Mereka belum perbah bertemu sebelumnya di kampus dan tidak kenal wajah sekalipun. Jamordong ingat, ketika merkeka sampai di teras rumah kost itu, dan kebetulan yang menerima mereka adalah teman Bang Timbul, mereka berdua hanya dipersilahkan duduk diteras rumah itu.

Lalu ketika bang Timbul datang, dengan hormat mereka menyalaminya dan mengenalkan diri dan tujuan mereka. Sikap yang ditunjukkannya pun sangat jauh dari apa yang mereka dengar bahwa Bang Timbul orangnya baik dan ramah. Ketus dan tidak bersahabat!.

Ngapain capek-capek datang?? modal apa kesini?”
Nyari kerja bang, di Medan susah nyari kerja”
“Kamu dah merasa pintar dang sanggup bertahan di Jakarta ini??”
“Belum bang, makanya kami menemui abang, minta petunjuk?
Emang saya bisa ngasi kalian petunjuk??”

Dua minggu berlalu, ternyata Bang Timbul ini orangnya sangat baik dan perhatian. Setiap pulang kerja, Jamrodong dan Apuan selalu ditanya sudah makan apa belum, dan ditanya sudah melamar apa saja hari ini. Lalu, kulkas dengans ayuran, ikan dan persediaan beras diisi, dan berpesan untuk menjaga kesehatan dengan jangan sampai kelaparan biar nggak sakit. Sebagai orang baru, Jamordong dan Apuan bukan tipe orang yang lupa diri, mereka menunjukkan kalau mereka adalah lulusan universitas dan punya nilai tersendiri. Rumah di bersihkan, kamar, dan baju bang Timbul mereka cuci juga.

*   *   *

“Bang ini, sarapanya, dan ini kembalian duitnya”
“Bener nih, nggak butuh uang buat ongkos??”
“Eee…”
“Ambil aja, nggak usa dibalikin, hitung aja sudah berapa utangmu, nanti kau bayar” kata Bang Timbul seraya menyambar sarapan dari tangan Jamordong.

Jamordong tahu kalau bang Timbul hanya bercanda saja, dan dia pun   berujar, ” Gampang bang, sekalian sama bunganya bukan??”
Dengan lahap, Jamordong mengahabiskan sarapan pagi yang terdiri dari ketoprak dan dua biji bakwan yang masih hangat. Apuan yang melihatnya makan cuma tersenyum sendiri di depan televisi

*   *   *

Sudah lima menit Jamordong berdiri di halte bus dekat pintu Tol Bekasi Timur. Matanya selalu awas memperhatikan nomor-nomor bus yang menuju Grogol. Dengan modal informasi dari bang Timbul juga dari calo-calo yang sedari tadi bertriak di halte itu, Jamordong tahu bus yang mau ke Grogol ada lima menit lagi.

Jamordong melipat krah baju putihnya kedalam, supaya keringatnya tidak membasahi krah dan kelihatan kusam. Lalu dia sedikit membetulkan celana panjang hitam yang sedikit kedodoran itu. “Bang Timbul ternyata gemuk, baju dan celana ini ke longgaran” gumanya dalam hati. Lalu dia memperhatikan sepatu kulit warna hitam itu. Sepatu milik apuan, lumayan juga.

Mereka sudah sepakat, kalau ada panggilan intervieu, maka baju, celana dan sepatu saling meminjam saja. Tidak usah beli, uang tidak ada. Sebuah Tas yang berisi ijasah, CV, dan document lain ditentengnya. Tas pinjaman dari Bang haposan, tetangga kamar bang Timbul. Semua serba pinjaman. Lalu, tak ketinggalan rambut jamordong yang cukup mengkilat di terpa sinar mentari pagi yang mulai meninggi itu.

“Bang,…..bagi minyak rambut yah” atanya pada bang Haposan yang sudah siap-siap berangkat kerja. Belum dijawab, tangan Jamordong sudah mencolek minyak rambut yang mirip gel dari sebuah merek minya rambut terkenal. Wangi ternyata.

“Garogol..garogol….” teriak kernet bus sambil melambaikan tangan.

Dengan sigap Jamordong melompat kedalm bus yang sduah berisi penuh. Berdesakan dan dia hampir terhimoit didalam. Tasnya di bekap di depan dadanya. Dia teringat waktu amsa kuliah di medan dulu. Hal seperti ini tak pernah dialaminya.

Perjalan dengan bus yang suoer padat ini menjadi pengalaman pertama dan sungguh berkesan di hati Jamordong. Sungguh, ini menakjubkan, bathin dia dalam hati.

*   *   *

“Permisi pak, apa ini PT Lestari? saya ada panggilan intervieu” tanya Jamordong ke salah satu securiti yang sedang berdiri disitu. Securitinya tampak tersenyum mendengar logat sang tamu. Bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan logat Batak yang kental pula. Jamordong memang Batak Tembak Langsung. Walau sudah lima tahun di Medan, tapi logat batak yang cukup kental, dicampur logat bahasa Pakkatnya yang aneh menurut beberapa rekannya menjadi asing di telinga pak Sekuriti ini.

“Mau bertemu siapa kau”" tanya sekuriti ikut-ikutan logat Batak
“Ibu Reni bagian Ha Er De”
“Bah.,…..sudah janjian kalian?”
Beagu kali ini sekuriti, ujuarnya dalam hati. Dia tahu kalau sekuriti itu sengaja meniru dialegnya. Wajahnya merah, tapi ditahankannya.

Tak sampai lima menit, sekuriti lain mempersilahkan dia masuk ke lobbi kantor itu. Jamordong sungguh takjub melihat ke indahan kantor itu, ada aquarium dengan ikan Arwana yang besar, lalu ada lukisan indah dengan bingkainya yang menurutnya cukup mahal. Tak berselang, seorang karyawati datang menemuinya dan segera mempersilahkan dia masuk ke ruang wawancara.

Memang,  sudah di informasikan kalau hari ini, sekalian intervieu dan test kemampuan akademik dan tentunya ada psikotestnya.Lazimnya sebuah proses rekruitmen di perusahaan adalah seperti itu. Selain mengetahui kemampuan akademik dan keahlian, test kejiwaan juga sangat diperlukan untuk melihat karakter dan sifat si calon karyawan. Banyak cara dilakukan, muali dari menyewa psikolog, hingga melibatkan pihak universitas yang memounya jurusan psikologinya. dan semua coal yang diujikan umunya gampang-gampang,t api punya nilai yang si calon karyawan ini tidak mengetahuinya.

Jamordong sudah mempersiapkan dari tadi malam hingga menjelang subuh. Belajar menyelesaikan soal-soal psiko test dan memperlancar bahasa inggrisnya dengan membaca buku spesial interviue dalam bahasa Inggris yang dibelinya dari Gramedia Mall Metropolitan. Dengan percaya diri yang tinggi Jamordong masuk ke ruang interviue itu.

Agak terkejut, ketika dua orang masuk ke ruang intervieu, seorang wanita muda dengan paras yang cukup cantik. Jamordong sendiri kagum akan ke cantikan si perempuan. Sekilas dia membandingkannya dengan putri Tokke Gota dari aek riman yang menurut orang sePakkat, kalo putri Tokke Gota ini cukup cantik. Tapi bila dibandingkan dengan sosok didepanya ini. Putri Tokke Gota yang panjang ramput dan menajdi primadona di Pasar Pakkat, sekitaran tempatnya kost tidak ada apa-apanya.

Alamak!, cantik amat ni perempuan. Senyumnya dan matanya. Bah..matilah awak ini. Lalu denga tergesa dia mengelap tanganya ke celana hitamnya, dia takut, tangnya ada kotoran dan nanti menempel pulak di tangan wanita berparas cantik didepannya. Dia masih terpana.

“Silahkan duduk, Pak Jamordong”
Bah,..tak hanya wajahnya yang rupawan, suaranya pun merdu kali, bathinya dalam hati. Kembali dia membandingkan dengan wanita pujaan hatinya di Tirulan, brou ni tulangnya, yang kadang kalau manggil dia sering nggak enak di kuping. Sering pulak manonggak-nonggak mentang-mentang boru ni tulangnya.

“Kesasar tadi kesini???” masih si perempuan rupawan itu bertanya basa-basi.

Lalu Interviue dalam bahasa indonesia pun dimulai, semua di jawab oleh Jamordong dengan lugas dan lengkap walaupun dengan logat bahasa Batak yang cukup kental dan kentara yang menyebabkan si perempuan berparas ayu ini tersenyum dan kelihatan lah lesung pipitnya.

“Mati aku..cantik kali…” bathin si Jamordong selalu dalam hatinya.

“Ok…ini rekan saya Mister Edoward melanjutkan intervieu dalam bahasa Inggris, bisa bahasa inggris???”
“Bisa bu”
“Ok please Mr. edoward”
Lalu menyodorkan lembar data pribadi Jamordong ke depan Mr. Edoward ini. Denga senyum sedikit, bule ini mulai menanyakan.

“Lets  you introduce your self”

Dengan sigap Jamorodong menjawabnya, karena sebelumnya dia sudah hapal akan kata-kata itu, dan diapun memulainya.

“My name is Jamordong and my famili name is Banana Village, i was born in HigthLander on thirty years ago, my family name of my mother is the JABs….

“I’am sory…you said your family name Banana Village?? whats meaning??…” Bule dan si wanita cantik itu pun bingung.

“Yes sir, Banana Village. Its meaning Lumban Gaol, Lumban sama dengan kampung, Gaol adalah Pisang” Jamordong mencoba menjelaskan arti dari marganya itu.

“And your mother??”
“My mother family name is the JAB….artinya Manullang, Bahasa Batak itu Manullang, dan bahasa Indoensia Menikam, jadi bahasa Inggrisnya the JABS..”

“Ok..next question, you said HightLander? where is it?”
” Yes Sir,  I was born in Hight Lander, in West Humbang, Nort Sumatera”
“what??”  si bule mulai bingung.

“Bisa anda jelaskan dalam bahasa Indoensia?? nanti saya bantu menjelaskan ke Mr. Edoward, apa yang anda maksudkan itu?? tanya Ibu Marni si perempuan pemilik lesung pipit itu.

“Oh..begini bu, Maksud saya HightLander itu Tanah Tinggi dan west Humbang adalah Humbang Hasundutan…” Jamordong menjelaskan maksunya dia.

Kembali Bu Marni tersenyum dan kembali pula di Jamordong menikmati senyuman bu Marni itu, walau dia tidak tau kalau si perempuan rupawan itu tersenyum karena ulah dia.

Wawancara berjalan terus tak terasa hingga setengah jam. Lalu ketika mau selesai, Jamordong dioberikan kertas untuk mengisi diodata kembali. Dengan cekatan dia pun mengisinya. Akhirnya, setelah mengucapkan terima kasih dia pun bersalaman kembali dengan kedua pewawancara itu

“Pak Jamordong??….sebentar..” Panggil Bu Marni ketika Jamordong mau keluar ruangan dan sudah membuka pintu.
“Ya bu….”
“Ini data-datanya belum lengkap, coba kemari lagi,…”
“Yang mana bu???…”
Lalu Bu Marni menunjukkan data data yang belum di isi termasuk kolom jenis kelamin.

Jamordong sedikit bingung, ketika hendak mengisi kolom SEX, lalu tangannya seketika berhenti menulis dan terlilah gugup.

“Kenapa pak??” kata si perempuan didepanya, yang sedari tadi terseyum.
“Anu bu….. sedikit bingung…”
Lalu diberanikanya, mengisi kolom itu dengan angka NOL ( 0 ) dan ditulisnya NEVER.

“Loh kok??”
Bu Marni bingung, ketika melihat kolom itu.
Jamordong menjelaskan dalam bahasa inggris ” I Never doing it….”

“Hah..what do you say?? kata sibule.
“Yes Sir, I am virgin, i never doing sex..”
“Are you crazy….??”
“Suer Sir….I never…”

Saking malunya, lalu Jamordong cepat-cepat berlalu dari hadapan mereka, meninggalkan kedua pewawancara yang masih kebingungan melihat tingkah si Jamordong.

===bersambung,

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

5 Responses to Kisah Jamordong

  1. Elephant stone

    balongkang. hah hah hahahaha

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. Aga fuang, hurasa dang songon ni sarjana (lulusan perguruan tinggi) sian Medan akke. Nga tok jim i bah.

    Tapi, lupakanlah itu ha ha. Yang sedikit mengganjal dalam sarita ini, adalah bang Timbul itu. Anggaplah 7 tahun masuk SD, lalu sampai lulus kuliah (lancar terus), umur 24. Lalu untuk manjadi seorang manager di perusahaan asing, kira-kira butuh 10 tahunan. Bah, sudah ‘Panglatu’ juga bang Timbul itu. Apa ga ada boru halak hita di Cikarang sana yang mau? Ada yang mau ga? Ha ha ha…

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. Mantap nai kani ceritaon
    songon nadi senggol sotik bahhh

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. Lucu cerita on, alai hurang tabo molo di dok lulusan Perguruan tinggi sian Medan.

    Alai disambung ma jolo hatop bah, asa sai semangat iba manjaha2 di Pakkat News on.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. LINDA SIMBOLON

    Cerita ni si Jamordong on ganjang hian alani boru2 na lesung pipit i gabe mordong hian ma .kwakakaaaaa

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>