by Laura Tiur br Marbun
Pagi ini, setelah berdoa pagi, aku pakai untuk membaca bagian dari karya Joel Osteen, “Your Best Life Now” yang menjadi The #1 New York Times Bestseller sambil ditemani oleh album Hill Song yang memberi ketenangan sanubari.
Salah satu bagian dari bukunya “ Berdiri Teguh di Dalam diri Anda” membawa aku untuk merenungi bahwa ternyata begitu banyaknya orang yang terlalu mudah menyerah saat segala sesuatu tidak sesuai dengan keinginan mereka.”
Daripada bertahan, mereka menjadi rusak. Tidak lama kemudian mereka depresi dan putus asa. Itu dapat dimengerti. Khususnya saat mereka bergumul dengan suatu masalah atau kelemahan untuk waktu lama, tidak aneh untuk sampai pada titik dimana kita menyerah.
“ Aku dah kirim lamaran puluhan kali, tapi nga ada satupun yang tembus!”
Duh, kayanya dah belajar, tetep aja IPK gw segini –gini aje.”
“Banyak program tapi nga ada yang mau terpanggil buat bantu ngerjain, ya udahlah yang ada aja.”
“Kayanya hubungan ma bosku nga akan bisa baik.:(“
“Yah, aku selalu ngalamin penyakit ini, kukira aku tidak akan pernah sembuh.”
Sebagian dari kejadian diatas mungkin kita alami saat ini.
Saat dimana kita mungkin jatuh dan nga yakin bisa berdiri lagi.
Mungkin kita kerja dengan orang-orang yang selalu merendahkan kita, salah memperlakukan kita dan berusaha untuk membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri.
Sahabat-sahabat terkasih, mereka mungkin berusaha menjatuhkan kita dari luar, tetapi mereka tidak dapat menjatuhkan kita dalam diri kita.
Aku pun pernah mengalaminya dan sempat berpikir untuk mengibarkan bendera putih dan segera pergi dari tempat itu.
Namun aku sangat bersyukur punya “DIA” didalam diriku dan memberi pencerahan melalui keluarga dan teman-teman yang menguatkanku untuk tetap berdiri teguh dalam diri kita.
Untuk mencari solusi dari keadaan yang sangat membingungkan dan menakutkan saat itu, dan bukan duduk-duduk diam sambil berkabung atas apa yang terjadi.
Kadang keadaan mungkin memaksa kita duduk sementara waktu, tetapi kita tidak boleh tetap duduk. Bahkan saat kita kelihatan sedang duduk, kita harus memandang diri kita sendiri sedang berdiri dalam diri kita!”
Suatu kali aku bertemu dengan seorang teman yang memutuskan keluar dari perusahaan yang membayar dia 3 kali lipat dan masuk ke perusahaan yang hanya membayar sepertiganya. Ditambah baru saja kehilangan mobil, buku perdana yang gagal terbit dan sudah delapan tahun berumah tangga belum dikarunia keturunan.
Namun banyak hal yang bisa aku pelajari dari orang ini.
Saat dia bertemu saya, ia tersenyum lebar dan berkata. “ Tiur, keputusan untuk keluar dari pekerjaan terdahulu mungkin untuk sebagian orang dianggap “gila”, aku belajar dari nol lagi di lingkungan yang membayar aku lebih kecil dan aku nga punya pengalaman didalamnya. Aku baru kehilangan mobil dari hasil kerja kerasku dan buku yang seharusnya diterbitkan oleh Gramedia dibatalkan. Bahkan sampai saat ini aku belum dikarunia anak.
Namun ini adalah titik kebangkitanku.”
“Aku akan bangkit dan keadaan ini tidak akan mengalahkanku. Aku tahu bahwa aku adalah pemenang dan bukan korban. Aku tahu saat pintu tertutup, Tuhan akan membuka pintu yang lebih besar dan lebih baik lagi!”
Sahabat tahu apa yang Tuhan boleh kerjakan untuk dia?
Dari buku perdana yang gagal diterbitkan tidak membuat dia berhenti menulis, bahkan saat ini tulisan-tulisan karyanya mendapat bintang dari sebuah website motivasi terkenal dan dari hasrat dia untuk selalu menulis, dia berhasil menciptakan “Sales tools” atau alat bantu penjualan di perusahaan tempat dia bekerja.
Bahkan harta miliknya yang dulu hilang, ditambahkan oleh Tuhan berkali lipat. Nilai investasinya di salah satu reksadana memberi dia keuntungan luar biasa.
Beliau dan istrinya tidak pernah berhenti untuk berusaha memperoleh keturunan.
Sungguh suatu karya yang Tuhan boleh bagikan untuk siapa saja yang menemukan kekuatan melalui kesukaran.
Tidak perduli apapun yang sedang kita alami atau betapa pun sukar tampaknya keadaaan kita, kita dapat berdiri dalam diri kita. Memang akan dibutuhkan keberanian; memang akan dibutuhkan tekad, tetapi kita dapat melalukannya jika kita memutuskan untuk melakukannya. Kita bertindak atas kemauan kita, bukan hanya atas emosi-emosi kita.
Kita mungkin letih dan lesu, terkuras habis dan siap menyerah.
Kita mungkin sedang berkata, “ Penghasilanku begitu rendah, dan utang-utangku begitu banyak; aku tidak pernah melihat keadaan keuanganku akan lebih baik”. Atau” Aku telah berdoa selama bertahun –tahun, tetapi tidak tampak seolah-olah jodoh akan datang buatku.”
Jangan ijinkan diri kita menyerah. Kita harus keluar dari mentalitas pencundang. Tuhan ingin kita jadi pemenang dan bukan seorang yang cengeng. Teruslah bangkit berdiri lagi dan Tuhan akan melihat keputusan kita, IA melihat tekad kita.
Dan saat kita melakukan segala sesuatu yang dapat kita lakukan, itulah saat Tuhan akan melangkah ke dalam dan melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan.
Sudahkah kita menjadi PEMENANG ditengah kesukaran dan meresponi KaryaNYA yang luar biasa buat hidup kita?
Semoga menjadi inspirasi buat kita semua.
Sebuah inspirasi dari “Joel Osteen!”
Salam kasih,
Tiur Marbun
Catatan Redaksi…: Tulisan ini sudah pernah dimuat di pakkatnews.wordpress.com namun hilang, sori yah….
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Photonya sekalian untuk ajang Promisi buat itoku yang cantik ini……
[Balas...]
cantik kali kau inang bah, tapi nantilah kubaca ya, sudah malam ini bah.
HOras
[Balas...]
Adong do bakat ni Eda br Marbun songon Maryo Super akke anggo adong sponsor ittor masukma nian Televisi Nasional asa dohot tu huttanta par Pakkat naeng mamereng.
[Balas...]
Hidup adalah Pilihan sist….
[Balas...]
test
[Balas...]
Dalammmmm.
Lumayan.!!
[Balas...]