Kiriman dari Risma Panjaitan
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, Ibu tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, Ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata: “Makanlah Nak, Ibu tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel. Dari hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata: “Cepatlah tidur nak, Ibu tidak Capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Ibu yang tegar dan gigih menungguku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk Ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata: “Minumlah nak, Ibu tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap Sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, Dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kami pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat Kondisi keluarga yang semakin parah, Ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk Menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata: “Saya tidak butuh cinta” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku dan kakakku semuanya bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau , Ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang Tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata: “Ibu masih punya uang” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian Memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika. Berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, Ibu berkata kepadaku “Ibu tidak terbiasa” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit Kanker Lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudera Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk Ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya Setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti Ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata: “Jangan menangis anakku, Ibu tidak sakit” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih Ibu”
Coba dipikir-pikir, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Sebagai bahan bacaan selanjutnya, coba buka di http://latteung.wordpress.com/2009/10/29/boan-ma-au/
[Balas...]
RISMA.p:
October 30th, 2009 | 15:55
ipe hujaha di Blog mu ito, “BOAN MA AU” karya yang sangat bagus menyentuh,,, alai bait terakhir nai songonna seram do ba… dang barani kodo iba dohot .. ala gok kodo dosa hahaha
[Balas...]
Seuju dan terima kasih atas wejangannya. Menurut teman beragama lain “surga itu ada di telapak kaki ibu” artinya seseorang Ibu harus sangat dihormati. Kalau direnungkan kita-kita sudah bagaimana…………………Tapi ada kalanya kita tidak dapat berbuat banyak terhadap pengorbanan yang telah begitu banyak diberikan oleh orangtua. Salam, GBU.
[Balas...]
Mauliate godang.. di Op Swandy atas kesediannya memuat tulisan ini. kejadian nyata tu pribadi, sering kita lupa untuk menghargai, dan mengakui, bahkan melupakan begitu besar pengorbanan, kasih Ibu terhadap anaknya.. songonima nuaeng niahap dung berkeluarga, sai lalap na hurang do pakkilalaan mambaen lao pamajuhon ianakkon, songon ende HUGOGOPE MACCARI ARIAN NANG BOTARI LAO PASIKKOLAHON GELLENGKI dst….. ima taingot akke.. Horas..
[Balas...]
Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa,, hanya memberi tak akan kembali bagai surya menyinari dunia……… agia pe he marsuraki umak nibai manjou alani maol di suru alai tong do holong rohana tu gellengnai,, tarbukti molo naeng borhat mangaratto he tek sai tangis do Umak nibai lupa di bijal niba i ah tahe Uma Uma na burju…..
[Balas...]
Parratto:
October 30th, 2009 | 13:21
Sarupa tu endenta ima nimmu da. Marudur do sude ……………………………………………………………….dst
[Balas...]
Jawaban dari semua kebohongan seorang ibu adalah sepucuk surat dari anaknya.
[Balas...]
Risma P:
November 2nd, 2009 | 13:34
teng marsisir imbulu manjaha suhutan on, ala do tutu masa sisongon on akke, alai daomai unan ma adong sian hita sisongoni, pariri nai di Inang nai noni.. bagiakki namanubuhon ho ninna inang nai.. nga dao sian i “Sorga ditelapak kaki IBU”
[Balas...]
Parratto:
November 3rd, 2009 | 13:02
Ini Fakta atau hanya cerita hiburan?
[Balas...]
I miss you ( my lovely Mom). Thank you so much for loving us.
[Balas...]
Itulah hidup..walaupun kita sudah merantau jangan sampai lupa orang tua kita..terutama ortu kita di Pakkat…Hidup di Pakkat..susah..cari uang sangat susah..tapi kalau kita ada hati pasti hati kita tergerak…
[Balas...]
Mauliate godang ma di hamu. setiap naeng martelepon au tu hallet hu gabe sai huingot do cerita on. (gabe parjolo ma husukkun kabar di huta , baru ma asa husukkun kabar ni hallet hu.).
[Balas...]