Kau pakai margamu, kalau BATAK kau !!!
Orang batak tak pake marga. Wajar dan biasa kata orang.
Bukan mau bilang, kalau ada orang batak tak pakai marga di identitasnya adalah orang yang malu jadi orang batak. Itu menghakimi?. Nggak. Nggak tahu tepatnya. Tapi menurutku ada sedikit kurangnya, kalau orang batak tak mencantumkan marganya. Terilhami dari status Facebook beberapa teman yang yang menyatakan akan menghapus beberapa contact/temannya bila seseorang yang mengaku batak tapi tidak mencantumkan marga di pesbuknya. Maka, saya buru-buru menambahkan kata ‘Lumban’ di antara namaku dan kata terakhir margaku. Jujur, saya merasa ‘tertuduh’ dengan menyingkat atau menghilangkan se-sukukata margaku. Padanan kata “GAOL” dalam marga batak ada dua “HUTA GAOL” dan “LUMBAN GAOL”
Menurut Ilmu Narsisologi yang kupelajari, marga Lumban Gaol lebih terkenal dan lebih banyak dari pada HutaGaol di dunia ini. (Mode Pujidiri: ON). Pelengkapan marga saya dari hanya ‘gaol’ menjadi ‘Lumban Gaol’ di Pesbukku semata bukan karena takut di delet oleh teman saya itu. Alasannya cuman satu. Saya merasa bersalah menghilangkan se-suku kata margaku. Tak ada makna GAOL bila ini berdiri sendiri. Dan Gaol akan menjadi bermakna bila dipadankan dengan Lumban.
Namaku sendiri sudah mengalami dua kali perubahan, dari LATTEUNG, menjadi HENDRY GAOL dan seterusnya menjadi Hendry Lumban Gaol. Bukan hanya mau menunjukkan kebanggaan akan ke-batakan, tapi memang, kewajiban saya sebagai generasi BATAK harus memakai marga saya.
Kalau tak mau memakai marga dibelakang namanya ( sekalipun hanya di Facebook, FS, MP Blogger, ETC) maka nggak usaha jadi orang batak aja sekalian.
Anak kecil tetanggaku saja kalau saya tanya “Namamu siapa nak”
“Larry”
“Larry apa??”
“Larry Simamora”
“Batak dong….”
“Iya dong uda…Batak itu kan keren, makananya enak, apalagi makanan di lapo…”
Nga maup!!!
Jadi bertobatlah para Facebookers Batak, kalau kamu batak, maka cantumkanlah nama margamu dibelakang namamu. Lagian, biar langsung tau kita-kita ini, siapa dirimu. Apparakan, tulangkah, amangborukah, paribankah, anggiboru kah??.
Lagi soal pencantuman nama marga.
Beberapa minggu lalu, saya melihat sebuah undangan resepsi pernikahan nasional yang diadakan oleh seorang BATAK. Nggak usah nunjuk marga. Nggak etis, nanti kalian bawa SORDAK ni PITTU kerumahku….
Setelah kubaca undangan resepsi ini, maka berbagai macam pemikiran menghinggapi otakku yang belakangan ini keseringan mumet. Yang pertama kubaca adalah nama pengundangnya. JAMORDONG. !! ya, hanya satu kata itu JAMORDONG. Lalu di bawahnya ada tulisan HEPPOTRIA. Lengkapnya “JAMORDONG dan HEPPOTRIA”.
Bah, kok nggak ada marganya?.
Aku mencoba memolak-balik kertas undangan yang berukuran setengah halaman kertas kuarto itu. Tak menemukan ada MARGA batak disitu. Apa mungkin jatuh atau tertinggal di dalam ampolopnya. Lalu aku periksa ampolopnya dengan seksama siapa tau marga kedua mempelai itu jatuh di dalam amplop. Tidak ada!. Aku mengernyitkan alisku. Seandainya pun ini resepsi nasional, bukankah sepantasnya dia menyebutkan nama marganya?. Apa dia malu?
Lagi-lagi nggak mau menghakimi ah!. Positip tingking ajalah. Sapatau marganya jatuh di tempat percetakan undangan, atau keselip di undangan yang lain. Yang jelas, sudah berkurang ke-respekanku pada sipengundang.
Walau tak respek lagi membaca secara detail undangan ini, tapi mataku menangkap keganjilan di kalima demi kalimat yang berjejer rapi dengan tulisan indah ber tinta ke-emasan itu.
Turut mengundang Bp. Sutikno-Ketua RT 20, Bp Asep Kepala Pangkalan Ojek Perum Nasonangi, Bp Jaja Sihabiaran Ka-Keamanan Perum Nasonangi, Bp Sumarno Tokoh Masyarakat, Jejen Katua Naposobulung atau Pemuda Setempat.
Bah!!. Bah!….kembali aku membalik undangan itu, melihat halaman depan. Ini undangan orang Batak atau bukan!
Mana nama orang tua mempelai?.
Seandainya orang tua kandung nggak ada disini, maka bagi orang batak adalah lumrah ‘memberikan kuasa’ pada dongan tubu. Saya sudah berkali-kali bilang kepada si mempelai pria lewat saudara-saudaranya perempuan kalau dongan tubunya banyak disini. Bahkan, sebelum hari H resepsi, sudah kusarankan untuk mengundang dongan tubu, gak usah banyak-banyak. Satu dua orang cukup!.
Ada pepatah orang batak bilang “tininggalhon ama, ninadopthon ama, tininggalhon ini, nindapothon do ina” artinya kemanapun kita melangkah, jauh dari orang tua, maka seyogianya kita harus mencari pengganti orang tua kita. Bisa dari dongan tubu, sa-rumbun/marga parsadaan, marga sa-padan didaerah mana kita tinggal. Jonok partubu, jonokan do parhundul artinya orang yang paling dekat dengan aktivitas kitalah menjadi teman berbagi dalam kehidupan ini.
Kembali ke jaman pesbuk nasional.
Beberapa dari teman ‘minta’ menambahkan sebagai ‘teman’, tapi nama dan wajahnya tidak jelas. Nama si JAMORODONG, tak ada marga dan wajah wajah SIPUMPE, maccam mana ini?. Khusus bagi kita-kita yang sejak maraknya pesbuk kurang tertarik menggunakannya. Ceritanya ketika sorang teman meracuni saya untuk ikut berpesbuk ria. Goadaan tipa hari dan selalu mengiklankan kepada saya untuk ikut menjadi member. Jadilah idku LATTEUNG.
So, Gunakanlah pesbuk dengan benar, sebab ada tertulis tidak selamanya manusia itu bisa bersembunyi dalam sebuah nama, jauh dari pada itu, karaakter seseorang bisa dilihat dari caranya menempatkan tanda ‘titik’ disetiap tulisanya.
Penutup
Kata orang patik nya orang batak tidak hanya sepuluh, tapi sebelas, yaitu “Unang masipailaan”, menurut Tokke Latteun, patik ini ada duabelas sebenarnya, mengacu pada banyaknya rumpun marga bangso na pinillit i. Napasappuluduahon ima Dang jadi dohononmu goar ni simatuam, simatuam baoa manang simatuam boru-boru anggo so ture dalanna, jala dang jadi dohononmu goar ni helam nang parumaenmu. Jala dang haliangan ni roham inang baom, amang baom, anggi borum, hahadolim. Dia do lapatanni i? Ondo. Ikkon ringkot dihita marpartuturon na denggan jala toman asa unang hona issak jala asa unang gabe ro bura ni halak tu hita. Molo so i, olo malala baba.
Ngelanturrrrrrrrrrrrrrr
Random Posts:
- Ilmu Pengetahuan Hilang, sejalan dengan “Local Language Died”
- Pakkat 5 Tahun Kedepan
- Ruas Jalan di Ds Arbaan Longsor, Pakkat-DolokSanggul, terputus
- Peduli Bona Pasogit: Forum Intelektual Pakkat Galang Dana
- Gardu Listrik Pakkat Meledak, warga panik















21 komentar pada tulisan “Kau pakai margamu, kalau BATAK kau !!!”
Denggan ma i molo dung disadari be. Nunga diboto halak daba Latteung i Lumbangaol do…Eh maksudhu si Hendry do…hehehehehe…
[Nialusan jo Komentar on]
Monang Naipospos Tulis pesan:
heheheheheh…abbal na i,……
[Nialusan jo Komentar on]
Admin nami! najolo pe nunga diajarhon akka oppunta sijolo tubu, tokka “mangellem” di dok di iba tikki gelleng na pailahon. Jadi tertanam do di roha, molo dohot iba mangan disada jabu ni tetanngga, ikkon adong silakkona. jala tertanam doi nuaeng di akka halak batak. alana molo mangoli anak nisasa halak , halak batak, indang pola dihalomohon halak batak ikkon lao tusi holan mangan. ai dianggap dirina sandiri do “pangellem” ibana disi. Kecuali molo resepsi ni halak dison, sebagai pembinaan hubungan baik ala ndang adong sarana na asing. Mangatasi sifat ni halak Batak roma sebagian dongan naso haru lomo rohana di adat-adat, dibaen ma undanganna so marmarga, asa ro dohot akka “dongan?” Alai nagabe diihuthon halak batak numaen ima format undangan/gokkon molo nanijalo munai, turut mengundang aka rt,rw, kepala hansip dll. format ni gokkon nihalak hita pe, nunga adong na dohot-dohot, ima haha anggina. Ndang sa hasuhuton be halak batak dohot akka anggina kandung, ai di horong ni na “dohot manggokkon” nama jala pengantin pe nunga gabe hasuhuton di pangolionna, ndang be bapa tuana manang na bapaudana songoni nang hahana. Akka nadohot-dohot nama halak i. Ngasurrrrrr-sarrrrrrrrr be!
[Nialusan jo Komentar on]
@ Jaullus (raja mullus-ullus):
Hope amang boru, dohot do tu hata on. Gatti ma goarmi, baen na toho-toho i. Ai markampanye do nuaeng au di psebuk, marhite tulisan on, asa ganup hita mamakke goar dohot margatta be. Boha ninna roham amang boru, naborat do pangidoan hi???
[Nialusan jo Komentar on]
swandy Reply:
November 10th, 2009 at 17:28
“Goar dohot marga”. Boido marga dohot kelakuanma? Misalna margana sihotang, kelakuan bah naburju. bah gabe SIHOTANG NABURJU ma attong dibaen
[Nialusan jo Komentar on]
Jaullus (raja mullus-ullus) Reply:
November 11th, 2009 at 10:00
@admin, Ndang pola naborat tulang mambaeni. Ai husukkun do hamu tikki di Pamulang, “boha, gantionku do goarhi?” alai hamu do mandok, “sombuma songon i” ido alus mu. Jadi ido umbahen tong songoni. Alai nang songoni nunga hea huganti goarhi jala dohot maroppuni. Alai sai tong do i mullop. Web ni tulang do ra ndang olo mangganti goar hi, akkeh!
[Nialusan jo Komentar on]
Taringot tu nambaen marga, ai molo di di DKI adong do Peraturan ndang boi di baen marga, alasanna ala akte i adalah identitas diri seseorang sedangkan marga tidak menggambarkan identitas diri sendiri, tapi identitas banyak orang misalna Sihotang ndang holan sahalak. Boha muse molo songon on
[Nialusan jo Komentar on]
swandy sihotang Reply:
November 11th, 2009 at 09:37
Horas, molo taringot tu peraturan na di DKI i, tentang peraturan pelarangan pencantuman nama marga i, dang berlaku be i.
Songonma cerita na. Ianggo nasaleleng on, yang menjadi pegangan Kantor Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, adalah Surat Direktorat Perdata Ditjen Pembinaan Hukum Departemen Kehakiman tanggal 21 Maret 1974 kepada Walikota Jakarta Timur perihal “Pencatuman predikat/gelar kesarjaan dalam akte kelahiran”.
Dengan mengacu pada pasal 33 ayat (1) Stbld 1920 Nomor 751, Pasal 39 ayat (1) Stbld 1933 Nomor 75c dan Stbld 1849 Nomor 25, Direktorat Perdata Ditjen Pembinaan Hukum Departemen Kehakiman hanya berpendapat bahwa pencatuman gelar/titel kesarjanaan ayah dan atau ibu serta nama keluarga ayah di belakang nama kecil anak dipadang tidak perlu.
Namun selajutnya, Surat Direktorat Perdata Ditjen Pembinaan Hukum tersebut kemudian dipertegas oleh Pemerintah DKI Jakarta dengan memperluas substansi bahwa pencatuman nama keluarga/marga/keturunan di belakang nama kecil adalah “tidak boleh”. Padahal dalam bahasa hukum dan penerapannya terdapat perbedaan pengertian yang sangat mendasar antara kalimat penegasan tidak perlu dan tidak boleh.
Jadi alani ima, jala alani godangni akka keluhan sian masyarakat tentang pelarangan nama marga on di DKI, gabe diterbithon ma aturan baru ima tikki Hari Sabarno sebagai Mendagri, ima “Surat Menteri Dalam Negeri Perihal Pencatuman Nama Keluarga Dalam Pencatatan Kelahiran pada Senin, 14 Jul 2003” dipertegasma dison bahwa pencatuman nama keluarga/ marga/keturunan di belakang nama kecil dapat dipergunakan apabila ada yang meminta, dengan persyaratan bahwa pencatuman nama keluarga/ marga/keturunan tersebut dilakukan melalui pembuktian hukum keturunan.
Songoni ma, jadi memang dang sala molo akka goar asli dohot marga na i bema dipakke akke.
Horasma.
[Nialusan jo Komentar on]
Yang jelas, molo di dunia maya dang dibaen goar aslina dohot margana, berarti dang ’sportif’, seolah bersembunyi dalam sebuah nama. Seolah adong na hinabiaranna. Dan seolah tak ada ‘kebanggaan diri pribadinya’. Secara pribadi, ‘ke-respekanku’ sudah berkurang pada orang tersebut. Itulah alasan saya menuliskan ‘opini’ di atas. Kepribadian seseorang bisa juga dilihat dari NICKNAMEnya, termasuk saya dengan nickname ‘latteung’.
Di website ini juga, kiranya bisa kita tampilkan diri kita. Kenapa?. karena kita satu kampung, satu daerah, jadi buat apa bersembunyi dibalik sebuah nama yang tak jelas?.
Jika satu saat NANTI, ada beberapa rekan NETTER yang mengeluarkan KATA-KATA tidak SOPAN, seperti yang sudah-sudah, maka KAMI sebagai ADMIN tidak akan mensensornya LAGI, karena kami anggap itu tidak di tujukan pada siPEMILIK NAMA ASLI……
[Nialusan jo Komentar on]
Saya sangat setuju dengan opini yang ito admin tulis,,,kenapa saya bilang seperti itu karna di dunia maya ini, kita kan mau berbagi pengalaman,,,bertegur sapa dengan satu sama lain juga mencari teman2 kita yang sudah begitu lama tidak bertemu,,,akan tetapi kalo kita tidak pake nama dan marga kita,,gimana caranya kita kenal sama dia,,begitupun dengan berbagi pengalaman sama orang yang ga kita kenal alias pake nama samaran,,,
Buat saya pribadi nama dan marga itu ada kebanggaan tersendiri,,,,,korban sada pinahan puang mambahen goar i,,,,,hebat nai rai,,,
Trims buat semuanya.GBU
[Nialusan jo Komentar on]
Toho do ni dok ni tulang admin on. Au pe na martabuni do au sabotulna di balik ni goar i. Ndang alani na mabiar ala adong kasus suap manang na kasus rekayasa pengkriminalisasian. Alai asa unang segan do dongan lao mangalusi manang na menyanggah suatu kasus na niajuhon di dunia maya on. Asa hidup diskusi, jala penyanggahan manang na diskusi merupakan satu proses menuju pemahaman. Diskusi di dunia maya di web on tentang “Let’s to be Bataknese, don’t to be Halak hita” saya anggap suatu diskusi yang begitu baik untuk proses pemahaman. Alai stop do diskusi i dung hupaboa ise au. kek gitu tulang!
[Nialusan jo Komentar on]
Risma Panjaitan Reply:
November 13th, 2009 at 16:35
Kwakakakaka teng lengkap nai kale goarmi sampe dohot Op nisi Sotarjua ro berkat. bagus,bagus ihuttononni naparpudi akke..
[Nialusan jo Komentar on]
@ St. Drs. Beresman Rambe (Op. Ni Si Jonathan So Tarjua Ro Berkat:
Kek gini kan enak tulang, jadi loloan na torop pun yang membaca komentar ini sudah tau kalau amang boru sahalak natua-tua. Pasti do marbeda molo na asing muse dibaen hamu goarna. Bicara sola ‘keseganan’, ai di jaman saonari on, nunga lam maju be. Akka naumposo nunga be barani mambaen pandapot di jolo ni taua-tua secara terang-terangan. Nunga be olo akka naumposo mandok “DAONG” molo hira dang satolop tu natua-tua….
horas ma!!
[Nialusan jo Komentar on]
@ Jaullus (raja mullus-ullus):
ai katua do attong disukkun amang boru, ibana pe sojelas. Dibaen sihotang na burju…je halakan rupani gabe dang sihotang naburju….nga tok jim i dah…..
[Nialusan jo Komentar on]
swandy sihotang Reply:
November 11th, 2009 at 18:02
kwkwkwkwak, dang piga-piga naburju dah…..
[Nialusan jo Komentar on]
St. Drs. Beresman Rambe (Op. Ni Si Jonathan So Tarjua Ro Berkat Reply:
November 20th, 2009 at 12:05
@swandy sihotang, Ah sama na hutanda marga sihotang, burju-burju hian do sude. alani burjuna, sai hulului hian do boru hotang manunduti oppung hu alai dang adong na pas. adong ma dapot roha, hape nunga tar jalo hata. teik dakian dapotan iba di haburjuon ni marga sihotang on. a-thok-jim-i
[Nialusan jo Komentar on]
Ditinjau sian segi hajolmaon adong 2 massam naburju ima naburju otik dht naburju godang..jala sian segi sejarah tong adong 2 massam ima naburju najolo alai gabe takkang dht najolo takkang alai nuaeng gabe burju. Ima kani..
[Nialusan jo Komentar on]
Ale kani ittor aha hian ma deba alasanni jolma i manabunihon margana? goar goar keluarga ni halak Barat pe molo niartihon bage luccu doi, contona Sharon Stone (sharon batu), Michael Schumacher (Michael Tukang sepatu), hahaha..na lobi hebatna adong dongan dison kolega ni hallet goarna Markus Dickidümm (markus mokmok loak), sahalak Suster di jerman adong margoar Sr. Margot Spinnenhirn (Sr.Margot Otak Miring)
Je molo dibandinghon tu margatta ba jauh lebih ”ramah” dope pengertian ni i. ahhhh…nga tok jim i molo manurathon marga pe ikkon maila…
[Nialusan jo Komentar on]
Ito Lismawati, tutu hian do nanidok mi, molo sai ditabunihon goar dohot MARGAna sai hira adong AKKAL (gabus ) manang AKKAL-AKKALna akke ?. hehehee,…. je suhutan mi ma jolo tabahas akke ito ? Ianggo Michael Schumacher, family ni TUKANG SIPATU na di Pakkat i do rai, alai ianggo si SHARON STONE I, olo do ra family nami NA LILU DI BOAN HOMANG NAJOLO RA I, alana molo molo di pareso hamu ID Card na i,na tarsurat disi SHARON M. V.STONE (Sharon M.Village Stone) do ra, manang aslina sian SHARON MARBUN LUMBAN BATU . hahahahaha……
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Nialusan jo Komentar on]
Lismawati Hansel - Sinaga Reply:
November 13th, 2009 at 05:22
@Ricardo ap marboen/ edo, huahahahahahaha……..Sharon marbun Lumban batu haaahahaah…..geok nai jo huhilala hahahaha…
[Nialusan jo Komentar on]
Au pe sangat setuju do, dipamakaian Identitas na jelas (Goar dohot Marga). Tarlumobi mai di ala hita halak batak (anak niraja dohot boru niraja) na massai mangkarikkotton Partuturon nang Tarombo di hubunganta tu jolma na asing. Jala ima sada keunggulanta sian bangso na asing, Tarombo ta jelas, partuturonta pe jelas. Jadi molo toho do hamu Anak/Boru ni raja bah denggan ma attong paboa hamu anak/boru (keturunan) ni ise ma hamu, marhite sian Goar dohot Marga i. Hata kasarna : ise ma Bapak ta, ise Oppungta ? Molo so olo manang na maila paboahon i, bah terserahma ate, alai hati-hati hamu bah, Jaga ma sapata ni Natua-tuam mu dohot angka oppung mu, dangi ? Sattabi diangka parilmu tinggi, dang na manggurui alai ima pangantusanku tu Margakku SITUMORANG, dang holan asal marga i, alai sekaligus identitas hu, Bapakku, angka Oppungku, na ikkon sijujungonku ro di ujung ni ngolukku.
Jadi sahali nai, satolop do au dipendapat ni Lae Si Lumban Gaol, tapakke ma identitasta na toho dinamarhubungan hita tu dongan jolma manang na ise pe taho, asa raja hita, mauliate.
[Nialusan jo Komentar on]