Penyaji:St. Drs. Beresman Rambe).(Op. ni si Jonathan So Tarjua Ro Berkat).(Jaullus)
Seorang sejarahwan, Addrew Dalby, belakangan ini meneliti tentang kepunahan bahasa di dunia. Sekarang bahasa yang masih dipakai orang didunia ini ada 5000 bahasa. Diperkirakan 100 tahun kedepan, akan tinggal setengahnya. Punahnya sebuah bahasa, akan merugikan manusia, sebab banyak pengetahuan yang ditulis di dalam bahasa-bahasa minoritas yang rentan dalam kepunahan dan pengetahuan yang ada di dalamnya akan punah sejalan dengan punahnya bahasa tersebut.
Hasil penelitian tersebut, menyentak pikiran penulis dan membenarkan hasil penelitian tersebut, mengingat naskah-naskah kuno yang ada di setiap suku di Indonesia yang belakangan ini dicari orang sebagai benda antik dan dan dibeli dengan harga mahal. Dikaitkan dengan naskah-naskah yang masih dipelihara dan disimpan dengan sangat rahasia, dijadikan sebagai benda pusaka secara turun temurun oleh orang Batak dikenal dengan “pustaha dan tombaga holing”
Benda ini terdiri dari lempengan-lempengan dari kulit kayu atau kayu yang tipis, dilipat sambung-menyambung.
Setiap lembar berisi tulisan akasara Batak kuno, merupakan informasi tentang sejarah/silsilah, pengetahuan obat-obatan, Ramalan, horoscop dan lain-lain. Dalam usaha menyatukan satu wilayah yang akan dijadikan dalam satu negara, salah satu alat pemersatu adalah bahasa yang dijadikan menjadi bahasa Nasional. Munculnya suatu bahasa nasional, memicu perhatian masyarakat untuk menomorduakan bahasa local, bahkan cenderung meninggalkannya.
Dalam keadaan seperti itu, bahasa dan tulisan Batak yang bersatu di dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bahasa nasional Bahasa Indonesia, maka bahasa Batak dan tulisannya berada pada posisi “local language diet”.
Apabila tidak berusaha untuk memelihara bahasa/tulisan tersebut, apa yang dikatakan Addrew Dalby, orang Batak akan mengalami kerugian besar dimasa yang akan datang.
Bukan hanya bangso Batak atau keturunannya yang rugi tetapi juga sebagai asset nasional (naskah kuno asli Indonesia, yang belum terungkap isinya) Juga akan rugi.
Generasi muda Batak juga harus sadar, bahwa “Tombaga Holing” tidak bisa hanya dibanggakan, Di dalamnya terdapat pengetahuan yang harus disingkap untuk kepentingan generasi masa sekarang dan yang akan datang. Orang Batak pada umumnya, memang sudah kesulitan untuk menggali pengetahuan dari naskah kuno demikian, karena naskah-naskah demikian juga ditulis dalam aksara dan bahasa Batak kuno. Sedangkan bahasa dan tulisan batak yang tertuang didalam naskah kuno tersebut, sudah ditinggalkan pemiliknya artinya tidak ada lagi yang memahami atau megerti.
Tentunya, kita sebagai generasi muda orang batak, sadar betapa pentingnya untuk memelihara bahasa dan tulisan tersebut, sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Jangankan akasara kuno seperti tulisan pada naskah kuno Tombaga Holing, aksara batak modern pun sudah sangat langka orang Batak yang memahaminya. Usaha melestarikan khas Pakkat, di website Pakkat merupakan “embrio perhatian” (cuture attention embryo) untuk melestarikan budaya.
Hal ini patut didukung oleh semua pihak, untuk lebih mendekatkan Pemuda-pemudi Pakkat dengan budaya Batak. Website Pakkat juga perlu member perhatian dalam bidang pegetahuan tulisan Batak. Ully Kozok, peneliti budaya dan tulisan Batak sudah membuat program computer mengenai tulisan Batak. Dan untuk menyegarkan ingatan kita, bisa dilihat di link berikut ini.
http://www.pakkatnews.com/aksara-batak.html
http://www.pakkatnews.com/bahasa-langka-versi-2.html
JuGul :
Songon na sukkun do rohakku mamereng Surat/aksara Batak Na diginjang on, aha do arti ni i, Na adong surat batak na baru, Dang BAHASA BATAK ra artina i Alana aksara naparjolo i manjaha i BA manang BU, ( Tolong di patorang akka dongan Na umbotosa alana tikki SMP do di parsiajaran on. MAULIATE….HORAS
[Balas...]
Jaullus (raja mullus-ullus) :
Ala so huboto margam jadi ndang hubotopatuturan tu ho JuGul! anggiat ma unang na jugul akkeh!
menurut naung hea hu parsiajari tulisan na parjolo manjaha na “BUHASA”, tulisan napaduahon manang na di toru i , manjahana “TOBA”. Jadi mungkin maksud ni namambaen i sian tulisan na dua baris i “BAHASA TOBA” do ra maksudna. oCCE ! HORAS,,,MAJUUUUU…..TERUSSSS….GBU
[Balas...]