HIDUP

Oleh : Tommy Sihotang

Manusia dalam mengartikan hidupnya sungguhlah beragam. Manusia memandang hidupnya juga sangat beragam. Dan manusia menghadapi hidupnya sangatlah bermacam cara. Tak ada yang sama, tergantung persepsi dan persfektif masing-masing individu apa artinya hidup. Akan tetapi dari setiap belahan dunia itu ada persamaan pandangan-pandangan yang universal tentang hidup. Kemudian dipandang sebagai ajaran atau falsafah hidup (menjadi pegangan) yang dapat diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Setiap kelompok masyarakat dari berbagai bangsa pastilah mempunyai ajaran-ajaran tentang hidup atau secara sederhana bisa disebut sebagai falsafah hidup. Bagi masyarakat Batak misalnya, falsafah pokok hidupnya ada dan terangkum dalam Dalihan Na Tolu (Tungku dengan 3 batu penyangga). Leluhur kita mengatakan dengan sangat bagus bahwa unsur Dalihan Na Tolu itu adalah Somba Marhula-hula, Elek Marboru dan Manat Mardongan Tubu. Dalam hal penjabarannya ini, saya masih kurang kompeten, jadi secara sederhana saya mengatakan bahwa inti dari falsafah ini adalah keseimbangan. Apabila satu tidak dijalankan, maka keseimbangan akan terganggu lalu tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya.

Masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah mempunyai hal sperti itu juga. Walau juga saya tidak dapat merangkum dengan detail, karena memang bukan itu tujuan tulisan saya ini, akan tetapi saya bisa mengungkapkan bagaimana jawaban ketika saya bertanya kepada orang-orang tua yang sudah sepuh (di atas 70 tahun) apa itu ‘hidup’. Saya sering menyusuri lereng-lereng gunung di Pulau Jawa. Sangat menyenangkan. Saat ini, saya mencoba bercerita tentang Gunung Merapi. Di desa terakhir, di daerah Kinahrejo, ada seorang Juru kunci Merapi dengan nama Mbah Maridjan. Jauh sebelum jadi terkenal bak selebritis karena iklannya itu seperti sekarang ini, beliau ini sudah dekat dengan mahasiswa pecinta alam di Yogyakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. Mengapa? Karena dulu, sebelum letusan Gunung Merapi tahun 1994, pendakian Gunung Merapi melaui jalur Selatan (Daerah Kaliurang Sekitarnya/Kinahrejo) adalah jalur favorit bagi anak-anak Yogya karena selain sangat representative (sumber air yang banyak, tidak jauh tetapi cukup terjal) serta setiap yang mau naik ke Merapi selalu ‘sowan’ si Mbah ini dulu. Kebetulan rumahnya memang jadi tempat base camp. Setiap kelompok rombongan yang melewati jalur Selatan ini, sebaiknya harus ‘bertanya’ kepada beliau, apa bisa naik atau tidak. Beliau akan mengatakan silahkan naik kalau memang ‘situasi baik’ atau jangan naik kalau beliau mengatakan jangan naik! Atau ada beberapa orang dari rombongan kita yang akan ditunjuk bahwa dia tidak boleh naik. Biasanya orang-orang akan ‘nurut’ karena kalau ‘melanggar’ bisa-bisa mendapat situasi yang kurang baik bahkan bisa-bisa kehilangan nyawa. Kadang tidak masuk akal, tetapi inilah salah satu kearifan lokal (mungkin adaptasi). Mbah Maridjan memang sangat dekat dengan Gunung Merapi, bahkan beliau bisa berkomunikasi dengannya. (Saya mengartikan ini bahwa Mbah Maridjan bisa paham dengan alamnya, mengerti tanda dan isyarat yang diberikan Gunung Merapi). Orang sering menghubungkannya dengan mistik, tapi itu terserah mereka, yang pasti kalau tidak ‘nurut’ pastilah celaka. Ah, saya sekilas jadi teringat orang tua yang sangat ramah itu. Saya pernah merokok tembakau lintingan yang diraciknya sendiri lalu diberikan ke saya. Seperti seorang perokok ulung saya menyumut dan menhisapnya dalam-dalam. Dalam hitungan detik saya terbatuk tidak karu karuan, sementara beliau terkekeh menampakkan giginya yang masih rapi diiringi deraian tawa teman-teman rombongan mahasiswa pecinta alam lainnya dari Univ. Sanata Dharma Yogyakarta.

Ketika malam, sehabis makan, sambil menunggu jam naik, saya kembali mendekati beliau di dekat perapian di dapur rumahnya. Saya mulai ngobrol-ngobrol dengan beliau bermacam-macam hal. Sampai di satu pertanyaan, seperti yang didalam topik tulisan ini. ‘Mbah, nuwun sewu nggih. Kulo badhe tanglet’(Mbah permisi ya. Saya mau bertanya), tanya saya berusaha berbahasa Jawa dengan terbata-bata, logat Batak pula. Teman-teman lainnya sudah tertawa lagi. Biasanya memang teman-teman dari luar Jawa, akan sering ditertawai karena berbahasa Jawa dengan logat daerahnya masing-masing. Logat yang khas adalah Batak dan dari Indonesia Timur (seperti NTT, Ambon, Papua atau Makasar).

‘Artine urip ki opo tha Mbah?’ Saya tetap beranikan bertanya walau bahasa saya bukan bahasa Jawa yang ‘halus’ tetapi bahasa jawa pasaran atau ‘ngoko’. Tapi beliau antusias menjawab.

‘Kowe kie seko ngendhi tha Le’ (Kamu itu dari mana sih nak?) ‘Kethok e kowe ora wong kene’ (kelihatannya kamu bukan orang Jawa).

‘Inggih Mbah, kulo mboten wong Jowo. Kulo saking Sumatera, kulo wong Batak. Batak Toba. (Iya mbah, saya bukan orang Jawa. Saya dari Sumatera, saya orang Batak. Batak Toba).

‘O inggih, saya tau’ katanya dengan bahasa Indonesia yang medhok. Lalu sambil menghela nafas dalam-dalam dia bergumam, ‘Urip ki mampir ngombe.’

Lalu beliau mengatakan bahwa hidup itu adalah ‘mampir minum’. Mampir minum di dunia fana ini. Artinya hidup adalah sangat sebentar. Lalu silahkan maknai sendiri tentang arti minum itu sendiri. Saya mendapat jawaban semacam ini bukan hanya dari si Mbah itu saja, tetapi kakek dari teman-teman saya yang ada di seputaran DIY selalu menyertakan falsafah yang satu ini. Begitu juga waktu saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di derah Gunung Kidul, desa Watu Gajah. Jawaban itu selalu disertai hal yang itu. (Watu Gajah = Batu Gajah. Dikatakan seperti itu karena di desa ini banyak sekali batu besar sebesar gajah. Kalau desa Batu Gaja di Pakkat kenapa ya dikatakan Batu Gaja? (Mene ketehe…..Tanya aja orang-orang sana…hehehe).

Kembali ke topik semula, mengenai falsafah hidup. Yogya memang kota yang unik. Beberapa rekan mungkin sudah kesana entah berlibur, tugas atau melajutkan sekolah disana. Banyak yang unik seperti kota-kota lainnya, ada sesuatu yang khas. Pernak-pernik kehidupan kota, dengan falsafah hidup sebagai mozaiknya.

Tulisan tentang ini memang pernah diangkat oleh Kompas. Mereka membahasa guratan-guratan tema falsafah hidup. Ada falsafah dengan ungkapan seperti untuk membakar semangat, ada yang berbunyi tentang kesabaran, kebijaksanaan bahkan jeritan-jeritan hidup yang dialami setiap detik di nafas kehidupan ini. Saya memperhatikan body becak. Baragam tulisan dan ekspresi tentang hidup sering terpampang pada sudut-sudut bak becak. Saya perhatikan di daerah-daerah lain juga ada. Tulisan-tulisan itu sepertinya menggambarkan kepripadian pendayung becak itu, yang walaupun belum tentu benar. Terkadang memang hanya tulisan dengan falsafah singkat, tapi betul-betul mengena dan terasa spontan.

Beberapa contoh yang pernah saya lihat dan catat di buku saya (ada kebiasaan bagi saya, setiap saya pergi selalu ada pinsil/ballpoint dengan buku saku kecil, jadi sewaktu-waktu bisa mencatat apa saja). Tulisannya beragam, dari yang ‘serius’ sampai yang ‘nyeleneh’ yang sering kita tersenyum untuk membacanya. Misalnya, ‘Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’ (di depan sebagai teladan, ditengah sebagai penyemangat dan dibelakang sebagai pendorong), tulisannya disertai lukisan pemandangan gunung di kiri kanannya. Ada juga yang berbunyi, ‘Ayu rupane, rung tentu ayu atine’ (Cantik wajahnya,belum tentu cantik hatinya). Gambarnya seorang gadis Jawa yang berkebaya. Ada tulisan lainnya yang nyeleneh seperti, ‘Ojo lali karo genjotanku’ (jangan lupa dengan dayunganku). Gambarnya wanita bahenol, tentu saja yang membaca bisa senyum-senyum simpul karena akan dikonotasikan lain. Itu adalah sedikit contoh dari banyak contoh lainnya yang pernah saya tulis.

Saya termasuk pengamat tulisan-tulisan seperti ini, baik di bus maupun truk. Tetapi paling menarik adalah tulisan-tulisan di bak (body) truk. Sama seperti di becak, tulisan di truk pun bisa yang serius seperti ‘Utamakan Selamat’ atau ‘Jaga Jarak’. Ada juga yang berbau filosofis seperti, ‘Berjuang di atas roda berburu dollar’, ‘Pergi untuk Kembali’. Ada juga yang nyeleneh seperti ’Rinduku setebal dompetmu’, ‘Beranak dalam Kubur’, ‘Sopir bercinta kernet sengsara’, ‘Buronan mertua’, ‘Jablay Pantura’, ‘Malam Check in, pagi Cekak’…. de el el.

Lalu bagaimana dengan orang Batak yang ada di Ibukota dengan moda transportasi yang mereka miliki seperti metromini, kopaja, mikrolet bahkan truk? Tak jarang kita melihat tulisan-tulisan seperti itu, entah di kaca bagian belakang kendaraan atau di depan, bahkan disamping dalam bahasa Batak. Hal itu adalah ungkapan-ungkapan yang jujur dari realita kehidupan sehari-hari. Mari kita coba perhatikan di metromini, ada yang berbunyi, ‘Dibagasan tangiang ni da Inang’, ‘Holong mangalap holong. Ada juga yang nyeleneh seperti ‘Si Birong galot’, ‘Si ganjang dila..de el el.

Nah teman-teman semua, mungkin anda juga pernah melihat hal yang sama, khusus tulisan-tulisan ‘hata Batak’ yang ada di kendaraan-kendaraan seperti di atas. Mungkin anda pada waktu itu sedang ke luar kota, atau sedang menuju kantor atau lagi marhallet gandengan terus melihat tulisan-tulisan seperti itu dari yang yang serius seperti filosofi hidup sampai mungkin lucu bahkan nyeleneh sehingga bisa membuat kita tersenyum. Nah silahkan di tambah, tetapi yang berbahasa Batak….

Tetapi, saya berharap agar tetap berhati-hati dalam berkendara, jangan karena melihat tulisan-tulisan itu menjadi kurang konsentrasi dan terjatuh…hehehe..Horas….

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

22 Responses to HIDUP

  1. swandy sihotang

    Diboto hamu do ise juru kunci ni TOMBAK SIMARSIK? Hupaboa pe tikki RAKER on dah?

    Molo tulisan di truk ni halak kita di jakarta na hea mambaen au mekkel hian ima: SIBOLIS NABURJU.

    Horas,

    swy

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. I POLICE TOBA DO HAVE.
    FAR FOR SEA NAULI.
    BAWANG MULANA.
    HAMINJON MULANA.
    PODA NI DAINANG.
    PATIK PALIMAHON.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. DOLOK PINAPAN.
    RURA SILINDUNG.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. Ricardo AP Marbun/ Edo

    udutna :
    ” ANDILO ”
    ” Ala ni Pogos “, ” Pandiori sihumisik ”
    ” Parjalang na sundat “, ” Par Along-along “.
    ” IKKON HU LULUI “, ” Ikkon hu diori ”
    ” ALA NI HO “, ” Nasundat Hela “, ” Sidoli na burju ”
    ” SI BOAN TONA”
    “Pos Negara” (emangnya Sanggulmas / Silangit) hehehe….
    ” Ngolungku di atas roda “, ” Silele Hepeng ”
    ” Ondihon ahu ale Tuhan “, ” Tuhan do haposanhu ”
    ” Ramoti ahu ale Tuhan ”
    ” Anak hasian “, ” Anak naburju “,
    “Buhabaju na burju” , “Siampudan naburju ” (hehehe,,, ndang adong dope hubereng dibahen “sipaitonga naburju”).
    ” Par rengge-rengge ” , ” Bunga na bontar “, ” Bunga Harotas”
    ” Holong na so marhadohoan ”
    ” SO I SEE “, “SO ALA GOGO”

    Na agak nyeleneh :
    ” Tena ni Hatullik ”
    ” Bagudung tano ”
    ” Pangalutung “,
    ” Pangalakkup ” (hehehe,.. awas!, jaga be nambuatna )
    ” JUNGGUL MEONG ”

    Perjuangan yg takkan berhasil:
    ” Silele hilap ”
    ” Silele Halilu ”
    ” Si lele Begu ”

    Alai adong do tong na salah manurathon akka bahasa asing, hape artina bage asing :
    ” PULL MUSIC ” hehehe….. F jadi P—> bage bingung bule i.

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. swandy sihotang

    sai hira KAMUS BERJALAN :)

    swy

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  6. Ricardo AP Marbun/ Edo

    Neah, onma ho, dipangido ditambahi hape didok kamus berjalan, ach ! JA YA NA MA I, NGA TOK JIM hian ho , Kale-kale.
    Attong, “MARDANDI NAMA AHU”, ndang be olo ahu “KABOAHON” na huboto, ndang be hulehon ho “maniru”, annon bage dohot ahu dimuruki guru i.
    Hehehehe,….. ai behama akka “PANGAROBE-ROBE” je gok na ni idana. Iiiiiimaaaa…… kale-kale.

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  7. swandy sihotang

    Ha hahah, unang mardandi abang ah, annon gabe ise kaboahon tu akka hamion akka cerita-cerita i, ai lam godang do dapot akka parbinotoan dison. jadi muse molo dang tarsurat akka cerita i olo do bage mago heheheheh..

    horas,

    swy

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  8. “MOLOBOY”

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  9. Rura partangisan do portibion…, ditano on mardagang ahu….di surgo sambulonhi,…horas horas…horas

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  10. Humbang Hasundutan

    Parhatobanan Misir do tano on.
    Alai unang hita diparhatoban hagiot ni portibi on.
    Horas.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  11. Ricardo AP Marbun/ Edo

    “LAND IT DO HAVE DALAN ON”

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  12. udutna:

    “Masipature Pamanganna Be”.

    Horas.

    hp

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  13. adong tambana,…
    NEW FEAR THE ME IS TREE,

    Molo di pakkat na huingot

    Siboan Hare
    Siboan Barita
    Bawang mulana
    Togel mulana
    salak mulana
    Ondihon,

    diuduti tutur ma

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  14. Lismawati Hansel - Sinaga

    Eme sitamba tua,
    Rangging masiranggongan,
    badatta padao dao
    tonditta masigonggoman,

    ehh…boha do tahe na tikkos??
    Patagi- tagihon do iba tahe bah…

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  15. Ricardo AP Marbun/ Edo

    Hupatingkos jo saotik da ito,

    Eme sitamba tua
    Parlinggoman ni SIBOROK
    Badanta padao-dao
    Sudema hita di PAROROT.

    Napuran tano-tano,
    Rangging masiranggoman.
    Badanta padao-dao,
    Tondinta i masigomgoman.

    hehehehe,….. ,molo so salah ahu dah.
    Ai bohama ito, nipelajaran (Bhs Daerah) di tikki SMP taon 1975 do, dilehon gurunami si HASUGIAN par AEK SOPANG, hapengna numaeng on, sai KUMAHA-KUMAHA nama na jotjot binege di Jawa Barat an.
    hehehehe,……… Pakkat Nauli, MAJU TERUS !!!!!

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  16. swandy sihotang

    HANSUR DEMI KAWAN

    swy

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  17. HANSYR DEMI KAWAN,…

    Bukan gitu nulisnya

    HAN SURE THE ME COW ONE

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  18. Ricardo AP Marbun/ Edo

    Eah ipe huingot ito, hurang tikkos do hape ahu :

    Eme sitamba tua,
    Parlindungan ni si borok.
    DEBATA DO NA MARTUA.
    Sude ma hita diparorot.

    Hehehehe,,,, tong alani na hurang sayur iba on akke..

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  19. Lismawati Hansel - Sinaga

    Pas do ra i Ito Parlinggoman do dang Parlindungan.
    Ai di toru ni eme i do attong marlinggomi akka Siborok i.
    Ineengg…akka siborok dohot siburiccak tahe ah…balga balga boltokna…

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  20. Ricardo AP Marbun/ Edo

    Hehehe. nipatikkos hape bage ndang tikkos ningon dah.
    Ima na nidokna, ” bage paol-paol ”
    Je songon do ra antar natikkos ateh ito ?

    Eme sitamba tua
    Parlinggoman ni si Borok.
    Debata do namartua
    Sude ma hita di parorot.
    —- emmmmaaaaa tutu !—–

    Horas jala gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  21. SITASTAS NAMBUR
    ANAK PANGGOARAN
    BORU PANGGOARAN
    PARIBAN TAPE
    PARLAKKA TIBU
    SIBOLA HUTA

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  22. Lismawati Hansel - Sinaga

    Ale Ito attar huingot -ingot museng, songon on do ra lengkapna:

    Eme sitamba tua
    parlinggoman ni Siborok
    Horas ma hita jala martua,
    jala Debata ma na marorot

    Tong kodo sala naeng i?

    #Ito, ada lagi umpasa seperi ini
    Habang binsat-binsat, Songgop tu bulung pisang
    Unang alani saotik, Gabe habang isang – isang ;)

    Binsat-binsat=sejenis burung kecil

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>