Inang br Simbolon dari Siambaton martambal demi keluarga

tambalSebenarnya dari beberapa bulan yang lalu, saya sudah mengenal beliau ini, kala itu saya ketemu di sebuah rumah makan batak di kawasan industri Cibitung, MM2100. Dan kalau tak salah kami sudah saling berkenalan dimana yang punya rumah makan memperkenalkan kami, sesama orang pakkat.

Lelaki yang sangat kental logat Pakkat-Siambaton  terheran-heran ketika saya banyak bertanya dan bercerita tentang kampung halamanya. Mungkin dia sudah lupa ketika kami sudah pernah saling menyapa. Panjang lebar dia bercerita tentang dunianya, dunia tambal ban yang di gelutinya sejak sebelas tahun lalu, semenjak dia menginjakkan kaki di Cibitung ini.  Belum dihitung ketika dia tinggal di Jakarta.Bersama dengan istri dan anaknya yang paling besar saling bahu membahu. Tambal ban mereka yang terletak di jalan alternatif kawasan MM2100 dan Kalimalang – Cibitung ( depan RM Padang, BERINGIN ) ini buka 24 jam. Di mana kalau malam hari, tambal ini di jaga oleh anak dari pak Situmorang yang paling besar.

Dengan cekatan, inang boru Simbolon yang juga berasal dari Siambaton – Pakkat ini, mengeluarkan peralatan ganti ban, setelah saya informasikan bahwa ban kanan belakang saya kempes. Yang tak kala menakjupkan, salah seorang dari putri mereka yang baru datang setelah menyelesaikan sekolahnya di SMU RK Pakkat, ikut membantu ibunya menyiapkan air untuk mengecek kebocoran ban. Sembari bercerita dengan mereka, saya memperhatikan pekerjaan inang ini dengan seksama dan tidak kalah dengan pekerja laki-laki, bahkan menurutku lebih teliti. Segenggam demi segenggam air di oleskan hanya untuk mencari gelembung yang disebabkan oleh kebocoran. Selesai!.

Kamipun mulai bercerita dan saling bertanya tentang pribadi masing-masing. Salah seorang putri dari pasangan Situmorang, dan inang Boru Simbolon ini masih bersekolah di SM RK Pakkat. “Sekiolah di Pakkat tak ada kalahnya dengan sekolah di sini,…..”. Hingga cerita tentang kondisi jalan ke Pakkat yang sangat rusak saat ini.

“Saya heran dengan keadaan jalan di kampung kita, mulai dari saya merantau 15 tahun lalu, hingga saat ini, jalan masih sama, padahal kendaraan disana makin banyak…”

Saya manggut-manggut saja. Lalu dia bercerita ketika peresmian  Angkutan Bus Pakkat – Jakarta, MUARA NAULI, dimana salah satu kerabatnya menjadi supirnya. Aku pun ikut berpikir, bagaimana mungkin bus setengah besar itu mampu bertarung ditengah rusaknya jalan?.

Itulah sekilas gambaran sebuah keluarga, amang Situmorang dan inang Br Simbolon serta borunya siakkangan yang bahu-membahu bekerja dan saling menolong. Salut buat mereka!17112008112

Berita lain ...

Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:

9 Responses to Inang br Simbolon dari Siambaton martambal demi keluarga

  1. BerNanto - Tukka

    Kehidupan di ibukota memang semakin keras, namun bagi orang gengsian akan luluhlantah bahkan bisa hidup enggan namun mati pun tidak mau, Untuk zaman sekarang, apapun yang dikerjakan setiap insan akan sangat mulia bila dikerjakan dengan tulus. Hidup ini harus selalu disyukuri, apapun pekerjaannya, bila selalu berucap syukur akan terasa indah dan nikmat, kebahagiaan itu tidak hanya diukur dari materi, tapi bagaimana kita bisa selalu mensyukurinya maka semuanya akan terasa indah. Ayo bagi semua insan jangan merasa rendah diri bila kehidupan kita tidak lebih baik dari orang lain, Semangat dan semangatlah terus untuk selalu berkarya..

    >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

    Lora Sijarango:

    Benar kata ito Bernanto, hidup di Ibukota ini tidak perlu gengsi.Pekerjan apapun yang bisa dilakukan, lakukanlah dengan ketulusan hati dan mensyukuri hasil yang didapatkan. Sebab jika dilakukan dengan ikhlas Tuhan pasti memberi berkat yang melimpah. Tuhan memberkati. Horas…

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  2. Ibu Ini merupakan sosok seorang istri dan sekaligus ibu rumah tangga yang sangat teguh dan kuat dalam menjalani kehidupan di ibukota Jakarta.Kita patut bangga sebagai warga Pakkat karena mempunyai seorang wanita yang patut diacungi jempol.Dengan semangat dan tanpa merasa lelah beliau (inang boru Simbolon) dapat membantu suami untuk menopang perekonomian keluarga, dan juga kerja sama diantara keluarga mereka sangat baik.Kerja sama ini perlu dicontoh dalam keluarga kita masing – masing.

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  3. Kehidupan di ibukota katanya lebih kejam dari ibu yg kejam …tapi itu hanya pribahasa saja sebenarnya dimanapun kita berada disitu kita mencari hidup utuk keluarga kita tdk terkecuali kpd kel.Amangboru Situmorang dohot Namboru br Simbolon yg kebetulan di daerah Cibitung semua itu dikerjakan dgn ketulusan hati demi utk keluarga …..
    Hugogo pe mancari -arian nang bodari asal ma dapot pansarian (hepeng ) tu keluarga ku hahipason ido na ummarga di au….
    Horas Amang boru dohot Namboru sian maenmu Linda br Simbolon

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  4. sihotang sitembak naburju

    I do tahe ate halobian ni boru hita i…………..jala i do umbaen dang olo tata roha marnida boru jawa i,

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  5. Maya s -sijarango

    Kt orng ibukota lbh kjm dr ibu tiri,,,
    Bnr kalee itu ito,,
    Tp kunciny tetep da di dri kt msng2 kok,klu kt mau brusaha pst bs lbh baik lg,,
    Bravo bwt nanguda br simbolon,,,

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  6. Lisdo Hasugian

    Horas……
    sattabi ma jolo ate, boi do ra manukkun saotik iba?
    Boi do huboto manang ise na manerbithon postingan on????
    minta tolong jolo ate……
    mauliate

    <<  |  <  |  >  |  >>  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

  7. Joster Mahulae ( Sian Pusuk I)

    bah onma nanidokna istilah Hidup menanggung dan menjawab. Pertama : menanggung beban hidup yg semakin lama bukan makin membaik malah getir apalagi hidup di ibukota yg terkenal angker, keji, kejam, dan tak bersahabat atau yg paling familiar dengan sebutan siapa loe siapa qua Kedua : Menjawab segala tantangan, hambatan dan rintangan tanpa harus memimikirkan apakah itu kotor, jorok, tak pantas, atau sebutan lainnya. itulah hidup yang sebenarnya. melihat inang boru simbolon satu ini saya jadi teringat para saudara kita yg hidup di batam yg familiar dgn sebutan inang- inang yang tanpa gengsi mengelilingi seluruh sudut kota batam mengais rejeki dari sampah alias tukang botot (mangarea/istilah kerennya) namun tak sedikit pula yang sudah berhasil dari pekerjaan dimaksud. Intinya apapun pekerjaan jika dilakukan dengan tulus hati dan penuh tanggungjawab Tuhan akan memberi jalan, aku yakin itu. mauliate bah di laetta Si Latteung Theme Creator .

    <<  |  <  |  Balas Komentar ini  |  Quote

    [Balas...]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>