Medan (SIB)
Keberadaan tanaman enceng gondok menjadi dilema tersendiri bagi kawasan Danau Toba. Sebab, gulma yang hidup terapung di air danau dinilai bisa menguntungkan, sekaligus merugikan bagi system ekologis Danau Toba.
“Satu sisi, enceng gondok ini bisa menjadi tempat memamahbiak ikan-ikan di sekitar danau. Terus, masyarakat sekitar juga sering menggunakan enceng gondok jadi pupuk kompos cair,” ujar Humas PT Aquafarm Nusantara Toba Growout Project, Johnson Hutajulu SE, kepada sejumlah wartawan di Ajibata, Parapat, Sabtu (1/5).
Hutajulu mengatakan hal itu seusai pelaksanaan kegiatan pembersihan Danau Toba dari enceng gondok, serta penanaman pohon sebagai upaya reboisasi hutan. Dua kegiatan ini adalah bagian dari kegiatan corporate social responciblity (CSR), sekaligus memenuhi permintaan warga setempat.
Saat itu Hutajulu didampingi oleh pihak manajemen PT Aquafarm Nusantara setempat seperti Manager Bambang Kuntoro Setyo SPi, Kabag Umum R Buttu Sidabutar, Legal Accounting Rela Sembiring SE, Kepala Laboratorium Friska Saragih serta lawyer Edi Purwanto SH.
Hutajulu melanjutkan, sisi negatif enceng gondok adalah bisa mengotori Danau Toba, terutama bila jumlahnya sangat banyak. “Jika sudah banyak jumlah enceng gondoknya, masyarakat pun sebenarnya sangat kesulitan menyerap enceng gondok untuk dijadikan pupuk cair,” kata Hutajulu.
Kalau enceng gondok banyak mengotori danau, juga bisa menghambat sinar mentari untuk masuk ke dalam danau. Padahal sinar matahari sangat penting bagi kelangsungan ekosistem danau.
Selain itu, enceng gondok juga banyak berserakan di danau yang bisa mengotori danau terindah di dunia ini. “Panorama danau bisa menjadi kumuh, terutama bila hujan deras,” sambung Hutajulu.
Karena itu, sambung Hutajulu, PT Aquafarm Nusantara Toba Growout Project dan sejumlah elemen masyarakat sekitar berupaya mengatasi persoalan ini, dengan cara melakukan pembersihan danau dari enceng gondok.
Pihaknya telah menyediakan kapal Aqua Clean, yang bisa melakukan proses sanitasi danau. “Kapal ini ukuran besar, muatannya sampai sepuluh ton,” ujar Hutajulu.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Friska Saragih menyebutkan, kapal ini memiliki kelebihan, yakni mampu memproses langsung enceng gondok yang diambil dari danau, menjadi pupuk cair. Hal ini sudah mereka buktikan dengan uji laboratorium dan praktek di masyarakat sekitar.
“Dan pupuk cair dari enceng gondok ini kami berikan kepada masyarakat petani secara gratis,” tambah Friska. Selain itu, pihaknya juga berhasil membuat pupuk cair dari ikan-ikan yang sudah mati.
Friska menyebutkan tidak ada satupun limbah dari bahan hidup yang tidak berguna bagi lingkungan sekitar. “Enceng gondok berguna, ikan mati berguna. Jadi, semuanya berguna bagi kehidupan kita,” kata Friska.
Manager Bambang Kuntoro Setyo menyebutkan, kegiatan reboisasi dan pembersihan danau tersebut dihadiri oleh aktifis Save Lake Toba Community Annette br Sialagan, warga asal Jerman yang telah menjadi “halak hita”, serta sarjana lingkungan lulusan Monash University, Christ.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri sejumlah kepala desa seperti Kepala Desa Sibaganding Rudy Sidabutar, Kepala Desa Pardamean Ajibata Irma Sirait, Kepala Desa Pardomuan Ajibata Hasudungan Sirait, Kepala Desa Tomok Martumpak Sidabutar, Kepala Desa Sirungkungan Gunawan Manurung, Kepala Desa Lontung Jakob Sinaga, Camat Ajibata Labinsar Sirait, serta sejumlah unsur muspida setempat.
Sementara Christ mengaku, dirinya dibiaya oleh Monash University untuk terjun ke masyarakat sekitar Danau Toba, guna melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah yang benar. Salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan ke Danau Toba.
Legal Accounting Rela Sembiring menyebutkan, kegiatan CSR ini telah menjadi kegiatan tetap perusahaan. Mereka telah mengalokasikan sejumlah dana khusus untuk setiap kegiatan CSR, termasuk dalam pengadaan kapal Aqua Clean tersebut. (M35/y)
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Bah… ai gabe sai hira naumpetting do Danau Toba on di halak luar negeri dari pada di halak Indonesia on akke, jangan-jangan dang dianggap sebagian halak na marhuaso bahwa Danau Toba + Samosir on bagian ni Indonesia akke, je dang pola porlu dipelihara (di jaga kelestariannya). Sai unang ma dah dohot-dohot akka bangso na ditoru pe dohot-dohot songoni, gabe sarupa rupani, “lok ma disi, pardigil tai ninna be”. Daga daga daga, hancur ma molo songo ni akke.
[Balas...]
hendra parluhutan pinem:
September 28th, 2010 | 13:24
kalau masalah siapa yang melakukanya itu ngak penting,yang penting danau kita bersih dari penyakit,tidak mengganggu pemandanggan,mari kita sama menjaga kelestarian danau toba,karna danau toba adalah warisan leluhur kita.mari kita himbau masyarakat melestarika danau toba.terimakasih
[Balas...]
Mungkin adong do ra generasi batak na boi mengelola eceng gondok on gabe hasil kerajinan akke… songon na di jawa boi dibaen gabe kerajinan songon tas, assessoris na asing… je selain memperbaiki ekosistem danau toba boi do muse gabe menghasilkan…
[Balas...]
tarsongoni do molo bangso na malas. jolo di ida jolo pambahenan jolma na asing asa di contoh. olo muse doi dang diulahon alias holan na di komentari. hami sian rakyat sibolga, komunitas pecinta laut gabe dohot maila. Tu hamu sude angka dongan, libathon hamu hami molo adong naeng sibantuon nami. horas tano batak
[Balas...]
Lora Simamora:
May 24th, 2010 | 12:32
@Lian Rose, jadi beha ma tabaen bangsonta on,asa unang malas dohot pembeo.? Boasa pola maila parsibolga huroa, bangsontaon ningon ma da. Jangankan melibatkan parsibolga. Sedangkan par luar negeri nga turun holan mangurus danau toba. Kita buatlah lebih jernih permasalahan bangsa ini minimal mamberikan komentar yang baik bukan menjelek-jelekkan… HORAS…
[Balas...]
pupuk dari eceng gondok, itu suatu upaya penanggulangan eceng gondok yang sangat bangus.
[Balas...]
danau toba mempunyai banyak hasil yang bisa diambil,dari itu kita harus menjaga supaya danau toba bersih dari hama,terutama ajibata karna hasil danau toba sudah banyak diambil masyarakat ajaibata seperti:pora pora,rekreasi wisata,jadi janganlah kita mengambil hasil tai kita tidak merawat mata pencarian kita.
[Balas...]