Oleh Op. ni So Tarjua Ro Berkat Rambe Sering menjadi persoalan di dalam bersaudara, seiring dengan sepeninggalnya orang tua. Persoalan ini, selalu terwarisi hingga sekarang. Orang tidak berani memberikan sesuatu yang pasti dari segi hukum adat. Kalau pun ada secara pribadi, belum tentu diterima oleh yang bersangkutan, Hukum adat pun tidak ada yang secara tegas menunjuk, siapa yang berhak atas rumah peninggalan orang tua. Mungkin kalau rumah peninggalan orang tua cukup kebagian satu per satu tidak menjadi masalah. Di Samosir kebiasaan yang dipakai sebagai dasar petunjuk yang berhak mewarisi rumah, adalah, apabila orangtua laki meninggal, maka adek-adek dari anak tertua disebut, “ndang matean ama hamu. Adongdo abang mu ganti ni ama di hamu…..”
Oleh : Beresman Rambe (Oppu ni si Jonathan So Tajua Ro Berkat) (Jaullus) Kematian merupakan peristiwa alami yang harus dialami oleh semua makhluk hidup termasuk manusia. Perbedaannya antara yang satu dengan yang lain adalah ada yang berumur pendek, ada yang berumur panjang. Demikian pula sejarah kehidupan manusia, ada yang berumur ratusan tahun ada pula yang meninggal sewaktu di dalam kandungan, ada yang begitu lahir ke dunia ini meninggal, ada yang didalam usia sekolah, remaja, dewasa, baru berumah tangga, dan seterusnya. Bagi orang batak, peristiwa meninggal, dibagi dalam dua bangian besar yaitu: Peristiwa seseorang yang meninggal sebagai Duka; dan peristiwa meninggal yang dianggap sebagai Suka Cita.
Penyaji : Beresman rambe Konsep-konsep sihabatahon yang di ciptakan pendahulu kita salah satunya "boru ni raja" Konsep ini mengingatkan orang Batak betapa terhormatnya seorang boru di dalam satu keluarga orang Batak. sejak jaman dahulu. sesungguhnya konsep-konsep tersebut, membuat kita sadar, bahwa seorang orang Batak tidak boleh menganggap rendah derajat seorang perempuan. Segudang persoalan terjadi pada diri orang Batak dewasa ini, karena mereka bukan lagi orang Batak yang memahami konsep-konsep tersebut.
Penyaji:St. Drs. Beresman Rambe).(Op. ni si Jonathan So Tarjua Ro Berkat).(Jaullus) Seorang sejarahwan, Addrew Dalby, belakangan ini meneliti tentang kepunahan bahasa di dunia. Sekarang bahasa yang masih dipakai orang didunia ini ada 5000 bahasa. Diperkirakan 100 tahun kedepan, akan tinggal setengahnya. Punahnya sebuah bahasa, akan merugikan manusia, sebab banyak pengetahuan yang ditulis di dalam bahasa-bahasa minoritas yang rentan dalam kepunahan dan pengetahuan yang ada di dalamnya akan punah sejalan dengan punahnya bahasa tersebut.
Dimulana I, songon rumang ni ulaon pamasu-masuon, roma parboru diundurhon ma boruna tu huta ni paranak, laos masuk ma tubagas ni paranak, jala disi ma dijamu paranak nasida songon sarapan asa hobas lao tu gareja (istilah manaru boru). Dung sippul mangan, martangiang ma nasida lao borhat tu gareja. Dung sidung pamasumasuon, di uduti ma tu ulaon adat. Masi pasangapan hula-hula nabe ma paranak dohot parboru, lao patudu hundulan nasida dung jolo masi tomu hula-hula na be. Molo mardongan gondang/music, sambil manottor ma nasida manyambut Dung lengkap pengantin, keluarga, para undangan dohot hula-hula kedua belah pihak lengkap dibogasan bagas, dimulaima acara na ni uluhon ni protokol.
Songon naung hea ni tariasho di huta on, ima di topi Khazanah Bahasa Batak Asli, adong do muse dapot iba sian hombar balok, jala tinakko ma on, takko raja binaen, manang takko parmahan. Jadi hubuat ma saotik hata i. Ia hata batak si nuaeng on, attar sarupa do tu hata jawa. Adong do tingkatanna. Na halus situtu, na halus, na biasa jala na kasar. Nang dihata batak pe tong do songoni. Alai di laon-laon ni ari on, di ulaon ada habatahon pe nunga sude hita on patolhashon sidohonon dohot bahasa batak na somal. Didok do hata BUTONG, ai toho do i alai molo dihata adat attar sila do begeon.
(Oleh Beresman) ** Are you care to your culture ? Let's to be come Bataknese Not to be "HALAK HITA" Tulisan ini didasari kepada observasi penulis dimasyarakat batak yang sebenarnya tidak dapat lagi di kategorikan sebagai orang Batak, cuma tidak dapat kita vonis begitu saja karena mempunyai marga Batak dan sedikit sediki atau bahkan sehari hari berbahasa batak. Seorang orang Batak dimaksudkan penulis adalah aorang batak yang seutuhnya, memahami dan mempunyai jati diri sebagai orang batak.
Masih tentang pengayaan akan kazhanah pengetahuan ke- batakan, maka kali ini saya mencoba memberikan sedikit ulasan tentang asal-usul nama-nama orang batak. Menurut apa yang pernah saya dengar, bahwa banyak nama-nama orang batak itu selalu di mulai dengan kata Raja. Hal ini tentunya bisa kita pahami, karena sudah menjadi rahasia umum, kalau semua orang batak adalah ‘raja’ yang walaupun tak punya bawahan atau anak buah. Dan tentunya semua perempuan batak adalah boru ni raja.
Bagi generasi muda batak sekarang ini, istilah ataupun yang dinamakan BAHASA BATAK asli sudah sangat jarang didengar. Hampir diseluruh aktivitas kegiatan perkumpulan ke-batakanpun, sebut saja misalnya Ulaon Marga, kalau ada acara MANDOK HATA atau pasahathon HATA HORAS-HORAS ataupun yang lazim disebut MARHATA SIGABE-GABE, maka bahasa batak yang kita dengar sudah AMBURADUL dan banyak yang diambil dari bahasa lain atau di-batakkan. Ada yang diambil dari bahasa Indonesia, Bahasa Jakarta, bahkan bahasa Inggris. Tak heran, kalau kita mendengar orang bicara begini " asa marria ni lakka hita mandohoti ulaon i, alai asa tapatupa ma on-time..."
By Ruli Hariati publikasi: Lisbert Tumanggor Untuk memahami lebih jauh bagaimana desa tukka, mungkin dengan tulisan saya ini dapat membantu pembaca untuk mengenal desa tukka. Dalam tulisan saya ini saya menceritakan tentang unsur- unsur kebudayaan masyarakat di desa tukka. Saya mohon maaf jika tulisan ini kurang lengkap dan juga penulisannya kurang sempurna. Sekali lagi saya minta maaf jika ada kekurangan.

Sumber photo : swaberita(dot)com Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatera.

Publikasi : Tommy Sihotang Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si Singamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau,

Sejak dahulu kala etnis Batak Toba sangat setia melaksanakan upacara adat dalam berbagai kegiatan. Adat sebagai bahagian dari kebudayaan elemen untuk mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan merupakan identitas budaya dalam khasanah kebhinekaan di dalam negara tercinta ini. Pada dasarnya adat di dalam implementasinya berfungsi menciptakan dan memelihara keteraturan, ketentuan-ketentuan adat dalam jaringan hubungan sosial diadakan untuk menciptakan keteraturan, sehingga tercapai harmonisasi hubungan secara horizontal sesama warga dan hubungan vertikal kepada Tuhan.
Beberapa saat yang lalu saya coba-coba mengubah Head dari blog ini, salah satu konsepnya dengan menampilkan aksara batak. Sekaligus untuk mencoba software buatan amangboru Prof Dr Uli Kozok MA, yang baru saja dilaunchingkan di Univ. Sisingamangaraja XII beberapa hari yang lalu. Software ini sudah mengalami banyak perubahan, sejak beliau merancang software ini beberapa tahun lalu dalam bentuk FONT yang bisa dicopy langsung ke windows XP, tepatnya ke folder c:\windows\fonts
DOLOK PINAPAN Kalau saya pergi ke Kawasan Puncak-Jawa barat, maka saya akan langsung teringat sama kampung saya, tanah kelahiran saya Pulogodang. Hawanya, dinginya, pemandanganya yang menurutku masih lebih indah Pulogodang, dimana kalau sore hari, kita bisa dengan jelas melihat SUNRISE, melihat MATAHARI sore dengan cakrawala yang jingga kemerahan seolah menarik matahari untuk terbenam, lalu lambat laun, mulai dari seperempat lingkaran, lalu setengah lingkaran hingga tinggal hanya cahaya matahari yang berpendar kemerahan, seorang mengucapkan ’selamat datang malam’. Lalu bagaimana dengan pagi hari? Apakah kita bisa membayangkan bahwa dibawah suhu 25 derajat, kita akan bisa bangun? Iya. Pancaran sinar matahari pagi, yang seolah mengintip dari bukit Dolok Pinapan, juga seolah ikut bergembira ria mengiringin rombongan para ibu ke sawah. Lalu kita bisa melihat seberkas linkaran di langit, Bintang Timur, alias Mars. Lalu apakah nantinya kita akan bisa melupaka kejernihan air disetiao sungai yang mengalir dari perut Dolok Pinapan? Mungkin dengan tanpa rasa kuatir, kita bila langsung meminumnya. Jernih, bersih, dingin,…itulah kesanya.
Negeri Rambe: Persimpangan Peradaban publikasi by Sawandy Sihotang Tano Rambe atau Tanah Rambe didirikan oleh Alang Pardosi, bermarga Pohan, dari Balige sebagai bagian dari tanah Baru yang ...