Aku melongok keluar jendela kelasku, kuperhatikan anak-anak kelas lain sudah berhamburan dari kelasnya. Seperti biasanya pelajaran sejarah, yang merupakan pelajaran paling trakhir hari ini membuatku semakin pusing. Ada dua hal yang selalu menghinggpai pikiranku setiap hari senin. Pertama adalah nanti hari pekan, –onan, merupakan satu-stunya hari onan di kotaku. Kegemaranku menonton tukang obat dan pedagang kaki lima lainya. Yang paling saya gemari adalah bila tukang obatnya punya hewan peliharaan seperti ular dan bodat alias monyet. Lalu, kalau ada sisa jajan, sesekali ikut adu nasib mani janggar-janggar.
Hewan ini dipakai untuk menarik minat orang-orang datang ke tempatnya. Terkadang kesal juga, sudah duduk satu harian penuh, ular-ular yang dijanjikan bisa menari, tak kunjung dikeluarkan dari goninya. Belum lagi janji situkang obat yang berusaha memanggil satu persatu nama hewan peliharaanya untuk segera beraksi ditengah lapangan kecil yang dijejali penonton tua, muda. Nyatanya nggak jadi. Selalu kembali ke pokok pekerjaanya, mempromosikan obat yang dijual.
Salah satu teknik tukang obat menarik perhatian pengunjung adalah dengan menggunakan hewan,…lalu teriakan..” ini ular bukan sembarang ular, ular datang dari india…matsssssss……segala bisa!!. Dan trik ini dilakukan pada saat satu-persatu penonton yang membentuk lingkarang, beranjak dari tempat duduknya.
Hal kedua adalah hari ini aku harus membantu omak berjualan sendor atau cendol. Tadi pagi sebelum berangkat berjualan di pasar, bapak sudah berpesan, memintaku cepat-cepat pulang mengambil sisa atau stok sendor dari rumah dan tentu, secepatnya menyusul ke pasar. “Jangan sampai orang-orang sudah pulang baru kau bawakan itu sendor, mau makan apa kita nanti kalau nggak jualan sendor”.
Itulah kalimat yang selalu di ungkapkan bapak kepadaku setiap hari senin pagi. Anak kecil sepertiku hanya menurut saja. Tanpa menjawab. Diam seribu bahasa.
Aku tersadar dari lamunanku oleh suara nyaring ibu guru yang menutup mata pelajaran sejarah hari ini. Cepa-cepat aku mebereskan buku-buku kedalam tasku yang kusam dan habis warna itu. Kudengar teman-teman sudah berisik dan berencana jalan-jalan di onan seharian ini.
* * *
Kukayuh sepeda butut, satu-satunya harta yang paling berharga milik kami, sepeda pembelian bapak. Sepeda besar yang sengaja dibeli supaya bisa digunakan untuk berjualan es atau pun sendor. Sebenarnya aku tergiur oleh ajakan si Jatenggar, temanku satu bangku yang mengajakku cepat-cepat ke pasar, melihat tukang obat yang baru.
Katanya tukang obat ini punya hewan peliharaan yang lain dari yang lain, yaitu buaya. Seumur-umur aku belum pernah melihat buaya secara langsung, paling-paling kullihat di tipi ,–di rumah tetanggaku, pemilik tipi satu-satunya yang berwarna. Tapi, niatku urung juga mengingat pesan bapak.
Walau masih duduk di bangku sekolah dasar tapi ayah sudah membebankan pekerjaan kepadaku. Selain menjaga adek-adek, juga menemaninya berjualan sendor dengan gerobak dorong yang disain sendiri oleh bapak sedemikian rupa. Kalau musim penghujan datang, maka jualan sendor menjadi pekerjaan nomor dua. Bapak bekerja di tempat oppung mengurusi kebun salak atau ke sawah, lalu saya dan emak yang jualan sendor. Musim hujan adalah musim yang paling tidak mengenakkan bagi kekuarga kami.
Akan bisa terhitung bebrapa banyak orang yang beli sendor. Paling juga para supir dan kenek mobil. Aku semakin mengerti kenapa bapak jadi leboh gampang marah bila musim penghujan tiba. Hanya karena saya ribut dengan adek saya, bapak bisa marah bukan kepalang. Belakangan ini aku menyadari bahwa keadaan ekonomi kamilah yang membuat dia kadang marah tak karuan.

inilah foto jalan yang selalu di lewati gerobak sendor itu,….kasihan memang tukang sendornya…..
Jarak rumahku dengan pasar, –onan tidak lah jauh. Namun yang menjadi permasalahan kalau aku mengayuh sepeda ini cepa-cepat, es dan sendor yang aku bawakan bisa tumpah ruah di jalan. Masih ingat hari senin dua minggu yang lalu, bapak memarahi ku habis-habisan. Kalau tak ada emak, mungkin aku sudah dipukulnya dengan gagang sapu.
“Kerja yang benar, mau makan apa kita hari ini, kerjanya main melulu, kau pikir kau anak orang kaya??” kata ayahku.
Dan pada hari yang sama, aku tahu dari teman-temanku, kalau pagi hari tak kala bapak mendorong gerobak sendor ini ke onan, sebuah motor menyenggol gerobaknya. Motor ini berusaha menghindari lubang yang menganga dan seonggokan batu besar tak beraturan di jalan itu. Yang jadi korban adalah gerobak bapak. Hampir separuh isi jualanya tumpah ke jalan itu.
Bapak hampir menangis waktu itu. Dagangan hari ini habis sudah. Tumpah kejalanan.
Demikian juga waktu saya mengantar sendor sisa yang tinggal dirumah, genangan air yang menutupi hampir separuh jalan ini menjadi biang mala petaka nya. Aku tak menyadari bahwa di tengah genangan air itu ada lubang besar, dengan santainya aku mengayuh sepeda besar ini. Bajuku bahas kuyup akibat siraman kuah sendor yang tumpah dari jok belakang.
Sesampai di onan, bapak marah lalu aku mencoba berkilah “aku tak tau kalau jalan itu sudah rusak….”
“Apa kau bilang??… tidak tau?, nggak kau perhatikan jalan itu?? muali dari Dolok Sanggul sana sampai ke sini sudah kubangan semua, apa kau nggak lihat juga. Nggak bisa kau tuntun rupanya sepedamu di kubangan jalan itu. …”
Aku diam membisu.
Aku mencoba membela diri, kalau aku tidak salah, jalan itu yang menipuku membuat sepedaku terjatuh. Mungkin saking kesalnya bapak bilang “Kalau sudah begini kita mau makan apa? pemerintah ini pun nggak becus, bagaimana rakyat kecil bisa merusaha, berjualan dengan baik kalau jalanan sudah kayak kubangan kerbau? apa sih kerjaan bupati si Loak itu, kalau nggak bisa ngurusin kepentingan rakyat yah, mundur aja, jadi tuang sendor aja biar tau sakitnya mendorong gerobak di jalanan berlubang. Seraya menyebut kalau bupati di kabupaten kamilah yang menyebabkan tumpahnya sendor kami.
Ada-ada saja bapak ini, pikirku.
- – - – - o0o – - – - – -
Malam sudah mulai beranjak larut, aku memandangi tubuh ke dua adek-adekku yang tergolek lemah, mungkin karena kecapekan bermain seharian. Aku baru saja memberesin PRku. Sejenak aku memperhatikan buku tulisku satu-satunya yang tersisa. Itupun tinggal beberapa lembar lagi. Emak masih asyik dengan pekerjaanya, memilah-milah buah salak untuk di bawa besok, dijual ke Dolok Sanggul. Sesekali menimpali pembicaraan bapak yang dari tadi siang uring-uringan.
“Makanya kalau milih orang jangan asal pilih, jangan mau dibeli hanya dengan harga manuk sioto-oto, beginilah jadinya kampung ini kalau dipimpin oleh orang yang tak becus. Dari dulu sudah saya suarakan di kampung ini kalau kita jangan mau dibeli, nyatanya hampir semua penduduk disini ikut menikamti uang sogokan itu”
“Udalah….yang lalu biarlah berlalu….” emak mencoba tak menanggapi omelan bapak sambil tanganya terus dengan cekatan memilah milah buah salak yang penuh berduri ini.
“Buat apa lagi kau jualan salak, kalau sudah nggak ada untungnya…”
“Trus kalau gak jualan ini, mau makan apa?…..”
“Saya nggak habis pikir, harga satu goni salak tak lebih dari tigapuluh ribu, sementara ongkos antarnya bisa lebih mahal, kelewatan….” timpal bapak
“Iya,….. memang semua ini karena jalannan yang rusak ini…” seolah emak mengiyakan opini bapak yang menyebabkan semua ini adalah rusaknya jalan ke kamung mereka.
“Sebentar lagi pilkada, apa penduduk kampung ini mau dibeli lagi??…sudah muak dengan ini semua..” .ujar bapak lagi
Bapak adalah salah seorang tim sukses dari calon bupati yang pada pemilihan kepala daerah kemarin kalah. Bapak mau jadi tim suksesnya, mau mengorbankan hari-harinya berjualan es, kadang mau memberikan sendornya gratis kesetiap par-onan karena dia tau persis siapa calon yang dia dukung itu. Seseorang yang dari awal punya idealisme membangun daerah ini. Waktu bapak berjualan sendor di Dolok Sanggul, sang calon, yang waktu itu masih belum mencalonkan diri, adalah langganan setia bapak. Sering mereka berdua berdiskusi tentang kondisi masyarakat, khususnya kampung kami.
Dari bapaklah calon bupati yang kalah ini tahu, kalau sarana jalanlah yag paling penting diselesaikan sekarang. Hampir 100 persen jalan ke kampung kami adalah kubangan kerbau. Ongkos hasil bumi dinaikkan para pemilik angkutan, lalu harga minyak tanah dan sembako lainya melambung tinggi, dan pupuk langka.
Kadang kalau musim hujan, kampung kami terisolasi oleh banyaknya badan jalan yang tertimbun tanah longsor, lalu pada malam hari akan gelap gulita karena listrik ikut-ikutan berulah. Si calon bupati ‘yang kalah’ mencoba membuktikan ucapan bapak dengan beberapa kali datang ke kampung kami, dia cukup terenyuh melihat jalan yang sudah lebih parah dari jalanan kerbau itu.
Sudah beberapa pekan bapak tak pergi jualan ke onan Dolok Sanggul, alasanya cukup simpel, ongkos mahal. Ya dibanding harga sendor bapak, ongkos cukup mahal.
“Ya udah…..kau saja yang jadi bupati!!” timpal emak seraya menyelesaikan barang danganganya.
“Ya, ….aku pun bisa jadi bupati..apa susahnya jadi bupati. Kalau aku jadi bupati semua jalan-jalan di kabupaten ini akan saya bangun di tahun pertama saya, lalu anggaran tahun kedua adalah pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan, lalu tahun ketiga sarana lain…setrusnya dan seterusnya”
“Sudahlah, tinggi kali angan-anganmu yang tukang sendor ini, jual dulu sendormu banyak-banyak baru bisa mimpin jadi bupati…..jual yang banyak biar ada duit jadi bupati” sergah emak. Aku masih setia mendengar percakapan mereka diantara terjaga dan tidurku.
” Ini nih…yang ini penyebabnya…duit. Kalau jadi bupati sudah main duit, tentunya dia harus mikir kapan balik modal. Semua proyek dihitung dari untung tidaknya pada pemasukan pribadinya. Tim sukses minta balas jasa dengan jatah proyek….ah makin kacaulah. Pokoknya pemilu nanti jangan mau terima uang. Kita harus idealis, pilih yang benar-benar mau membangun kampung ini. Biar kita miskin, tapi harga diri kita tak bisa dibeli dengan harga satu manuk sioto! “
“Dengar-dengar ada calon yang mau membayar lebih mahal untuk satu kepala, lumayan buat tambah modal bikin sendor….” ujar emak.
“Enggak!!! itu uang haram..aku tak mau anakku makan uang haram, saya punya harga diri…biar miskin, tapi tak bisa dibeli,…..”
Jam dinding terus berputar, penguasa malam menguasai waktu, aku sudah tertidur pulas, kecapekan, tak terdengarlagi suara bapak. Biarlah hari esok lebih baik dari pada hari ini dan semoga nggak turun hujan, sendor nggak lagu, jalanan kembali berkubang. Saya bermimpi kalau angan-angan bapak jadi kenyataan. BApak saya yang tukang sendor benar-benar jadi bupati. Saya menyaksikan sendiri kalau pesta syukuran hanya dengan minum sendor. Semua rakyat bersuka cita, dengan sendor yang dibungkus plastik di tanganya masing-masing. Bapak punya gelar baru, si Bupati par-sendor!!!.
Foto lain ada di http://pakkatnews.wordpress.com/2008/05/09/inilah-jalan-ke-kotaku/
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
boasa holan foto na sada on di komentari hamu??
…..
ai ibban na adong i do anak boru mar kareta???
nga tok jim hamu bah…..
hape nunga binaen suhutan taringot tu seddor…..
[Balas...]
Baaaah…ai godang kodo hapeng foto nai dison??
Tudia do naeng nipi niba nattuari dang niida?
Saya sangat senang inti ni cerita tukang sendor on. Kemiskinan memang bisa diubah, tapi HARGA DIRI harus tetap dipertahankan!!!
Uang bisa membeli banyak hal, tapi tidak semuanya…
[Balas...]
Akka dongan tole be ma attong tabahen muse Komentar ta di Website Humbahas, ahu tiap ari do mambukka i ale saonari nga bage lange tong hita par Pakkat disi.
Pesimis do nian iba ai lakso hea ditanggapi. Tapi adakah kita punya pilihan lain untuk memberi suara??
[Balas...]
Eeh…. tahe molo logo ari lakku do anggo sendor da?? jala dalan i tarida ma akka lobang2 ni dalan nga tok balga 2 alai molo ro udan sendor dang be lakku dalan pe godang aek di tutupi ma lobang dang tarida be dalan hansit nai nian akke.
[Balas...]
Nungga masihol iba minum sendor bah..!
[Balas...]
Minum SENDOR huhut MARUNDOT-UNDOT / MARNGECCUT-NGECCUT di hau na maruppak akke anggia ?
Hehehehe……
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
Risma:
July 24th, 2009 | 13:06
Kwakakak,heheheh hi, iteng jo marunggot unggot,marundot undot,maengeccut ngenccut, sarupa doi?? sai na unik2 do anggo hata ni ito on. loja au mekkel.. ach tahe akka naposo on gok nabinotona. horas maju terus.. sukses Pakkat dalan siparesoon.
[Balas...]
Risma:
July 24th, 2009 | 13:09
ito. adong kodo sada nai: Marungal unggal. hahaha hihi huihut mai mangkuling kuling batang nihaui akke ngeccut ngeccut ngik ngik ninna
[Balas...]
Ito, Hendry… tersentuh hian au di ceritamon nadirasahon akka par huta di kehidupan nyata. sai anggiatma nian dijaha akka nasida namartugas di pamaretta naterpilih nuaeng akke. mekkel tangis au manjaha kale, luar biasa ceritamon, gari iba dang Bupati alai mangkuling mudar mangkilala di roa ni dalani. alai akke ikkon bengetma hita unang pola sai naik dara tinggi songon Bapai olo gabe ro sahit. mamikkiri arga ni salak,argani gota,arganigadong teng dang hian mar arga, ach kasihan deh
[Balas...]
admin:
February 4th, 2010 | 14:39
@Risma, ini komentar lama, sebentar lagi pilkada nanguda,…apa cerita ini akan berlanjut, dengan urutan kisah tragis lainya???
[Balas...]
sabar ma hita mamereng kenyataan on, andigan ma dalan tu hutanta Pakkat nauli i dipature…
[Balas...]
Aku melihat ada tao-tao (tidak tao benaran) di jalan raya kami, kalau ditanami ikan bisa mancing dong ya?. Kalau pulang kampung aku mancing achhh
[Balas...]