PENDAHULUAN
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang cukup penting, dikenal dengan nama Patchouly Oil. Minyak nilam bersama dengan 14 jenis minyak atsiri lainnya adalah komoditi ekspor menghasilkan devisa. Minyak nilam Indonesia sudah dikenal dunia sejak 65 tahun yang lalu, volume ekspor minyak atsiri selalu mengalami peningkatan, tahun 2001 mencapai 5.080 ton dengan nilai US $ 52,97 juta atau 4,4% nilai perdagangan minyak atsiri dunia, Indonesia pemasok utama minyak nilam dunia (90%).
Sementara kebutuhan dunia berkisar 1.200 ton/tahun dengan pertumbuhan sebesar 5%. Sebagai komoditi ekspor, minyak nilam mempunyai prospek yang cukup baik, karena permintaan akan minyak nilam sebagai bahan baku industri parfum, kosmetik, sabun, dan lainnya akan terus meningkat. Fungsi minyak nilam dalam industri parfum adalah untuk mengfiksasi bahan pewangi dan mencegah penguapan sehingga wangi tidak cepat hilang, serta membentuk bau yang khas dalam suatu campuran (Ketaren, 1985), hal ini menyebabkan minyak nilam mutlak diperlukan dalam industri parfum. Walaupun tanaman nilam sudah lama diperdagangkan dan merupakan sumber mata pencaharian petani nilam, namun sampai sekarang budidaya nilam masih berbentuk perladangan berpindah-pindah. Dengan pola budidaya berpindah-pindah ini biaya pemeliharaan lebih murah karena tanpa pemupukan dan produksinya lebih stabil.
Pada tanah bukaan barumemiliki ketersediaan hara, bahan organik dan meneral yang cukup. Tetapi membiarkan pola pengembangan tanaman nilam secara berpindah-pindah ini, akan mengakibatkan petani selalu membuka hutan untuk perladangan baru yang akhirnya menyebabkan kerusakan lingkungan. Sebagai gambaran perkembangan perluasan tanaman nilam di Indonesia rata-rata mencapai 150 ha per tahun, ini berarti terjadi kerusakan lingkungan seluas tersebut diatas setiap tahun oleh penanam nilam saja. Selain itu akibat kebiasaan lading berpindah-pindah, petani tidak akan pernah berfikir untuk memiliki alat penyulingan sendiri, karena dalam penyulingan memerlukan sumber air yang baik dan kontinu. Sementara itu, melihat fluktuasi harga minyak nilam dan ternanya yang sangat besar, menyebabkan pendapatan petani yang hanya menjual bahan berangkasan akan rendah sekali, pendapatan petani akan dapat ditingkatkan kalau menjual dalam bentuk minyak nilam hasil suling, baik secara perorangan maupun berkelompok.
Di daerah pengembangan seperti di Majalengka Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah petani telah melakukan budidaya tanaman nilam secara menetap artinya petani tidak melakukan bukaan lahan baru untuk menaman nilam, tetapi telah menanam nilam di satu lahan secara bergilir dan menetap, namun mutu nilam yang dihasilkan masih rendah seperti PA (Patchouly Alkohal) yang hanya mencapai 30 sementara di daerahasalnya dapat mencapai 42. Oleh sebab itu tantangan yang dihadapi dalam budidaya nilam adalah upaya mengubah pola berladang berpindah menjadi pola budidaya menetap dengan mutu minyak yang tinggi. Teknologi untuk menunjang pola budidaya nilam secara menetap sudah tersedia, perinsipnya adalah mengkondisikan lahan pertanamannilam sama dengan lahan bukaan baru (virgin soil), mempertahankan kesuburan tanah, menanam nilam di daerah yang sangat sesuai dan sesuai, bahan tanaman yang baik, dan perbaikan teknik budidaya serta pasca panen (pengolahan).
Tulisan ini menguraikan beberapa aspek yang mendukung pengembangan tanaman nilam secara menetap dan berwawasan agribisnis, sehingga dapat menahan lajunya pembukaan hutan, meningkatkan pendapatan petani nilam, dan meningkatkan produktifitas dan kualitas minyak nilam Indonesia.
BUDIDAYA TANAMAN NILAM SECARA MENETAP
Ketersediaan teknologi
Kesesuaian lahan dan iklim
Tanaman nilam dapat tumbuh, pada ketinggian 0 – 1.500 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan 2.500 – 3.000 mm per tahun penyebaran merata sepanjang tahun. Suhu udara antara 24 – 28oC dengan lengas nisbi yang tinggi di atas 75% (Tasma dan Hamid, 1990. Werkhoven dalam Tasma dan Hamid, 1990) menyatakan nilam dapat diusahakan pada daerah bercurah hujan rendah (1.750 – 2.000 mm/tahun) dengan pemberian naungan dan mulsa.
Membudidayakan nilam tidaklah sulit, tanaman nilam bisa dikembangkan di lahan apa saja, seperti pekarangan, sawah, kebun, dan tegalan. Namun untuk mendapatkan produktifitas yang tinggi, tanaman nilam memerlukan lapisan tanah yang dalam, subur, kaya humus, berstruktur gembur, dan drainase yang baik. Tanaman nilam yang diusahakan di dataran rendahmempunyai kandungan minyak lebih tinggi dari pada di dataran tinggi, sebaliknya mengandung “patchoully alkohol” yang rendah. Tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi dapat memberikan hasil yang lebih baik, sedangkan yang tergenang air, atau air tanah yang dangkal, kelembaban yang tinggi, mendorong penyakit baik cendawan phytophtora sp maupun bakteri menyerang tanaman nilam, untuk itu diperlukan parit-parit drainase.
Tanaman nilam respon terhadap naungan, nilam yang ditanam di bawah naungan mempunyai daun lebih lebar dan tipis dengan warna kehijauan, tetapi mempunyai rendemen minyak yang rendah, sebaliknya yang ditanam dilahan terbuka, pertumbuhan tanaman kurang rimbun dengan habitus yang lebih kecil, daun lebih tebal, dan berwarna kekuning-kuningan sedikit merah, namun mempunyai rendemen minyak yang tinggi (Mansur dan Tasma 1987).
Mengenal kebutuhan optimal tanaman terhadap kondisi iklim dan lahan adalah langkah awal untuk pengembangkan tanaman secara profesional. Rosman et al., (1998), telah mengkarakterisasi berbagai kondisi iklim dan lahan, untuk tanaman nilam dalam bentuk kesesuaian lahan dan iklim. Kesuaian lahan dan iklim yang sangat sesuai adalah sebagai berikut :
Ketinggian 100 – 400 dpl, jenis tanah andosol dan latosol, drainase baik, tekstur lempung, kedalam air tanah > 100 m, pH 5,5 – 7, C-Organik 2 – 3%, P2O5 16 – 25 ppm, K2O > 1,0 me/100mg, KTK > 17 me/100mg, curah hujan 2.300 – 3.000 mm/thn, hari hujan 120 – 180 hari per tahun, bulan basah > 9 bulan, kelembaban 70 – 90% dan temperature 26oC. Menanam tanaman nilam pada daerah yang sangat sesuai akan megurangi biaya usahatani, sehingga pendapatan petani menjadi lebih baik.
Bahan tanaman
Tanaman nilam merupakan penghasil minyak atsiri, yang lebih mengutamakan mutu daripada kuantitas produksi. Untuk tanaman yang demikian, peran mutu genetic lebih dominan dari pada mutu fisiologis dalam menunjang nilai hasil produksi. Tanaman nilam umumnya dikembangkan secara vegetatif, yaitu dengan mempergunakan potong-potongan cabang.
Bibit yang baik untuk ditanam harus berasal dari induk yang sehat, berasal dari bahan tanaman jenis unggul dan dijamin terbebas dari kontaminasi hama dan penyakit utama, karena hal ini dapat menggagalkan panen sampai 100%. Mutu fisiologis yang baik untuk setek nilam berperan dalam penghematan biaya produksi bila persentase setek hidup cukup baik. Mutu fisiologis setek yang rendah dapat pula mempengaruhi hasil panen karena tingkat kesuburan dan pertumbuhan tanaman tidak merata (Rumiati et al., 1998). Dalam upaya meningkatkan mutu bibit, telah dikembangkan penggunaan bibit yang telah diakarkan lebih dahulu (Tasma, 1989) serta penggunaan setek pendek (Sufiani et al., 1997).
Dengan penggunaan teknik tersebut pemakaian bahan tanaman lebih hemat, pertumbuhan bibit cepat dan keberhasilan pertumbuhan di lapangan lebih tinggi. Perbanyakan tanaman dapat juga melalui setek pucuk. Setek pucuk diambil yang mempunyai 5 pasang daun, dua pasang daun termuda dibuang. Setek yangmempunyai tiga pasang daun ini, setiap helai daun ditinggalkan separoh (dipotong) lalu setek ditanam di bak pasir. Sebelum ditanam setek direndam dalam zat pengatur tumbuh NAA 500 ppm, selama 30 menit. Selama pertumbuhan kondisi persemaian dijaga tetap lembab dengan menyiran 2 – 3 kali sehari disungkup dengan plastik. Selama 2-3 minggu setek sudah mulai keluar akar.
Pada umur satu bulan setek sudah bisa dipindah ke polibag berisi campuran tanah dan pupuk kandang yang telah matang (1 : 1), dan dipelihara di bawah naungan dan disiram. Setelah 1 – 1,5 bulan dalam polibag, bibit sudah cukup kuat untuk ditanam ke lapangan (Sufiani dan Hobir, 1998). Tanaman induk yang subur, dan telah berumur 6 – 12 bulan, pucuknya dapat disetek setiap dua bulan, sehingga dengan cara ini factor multiplikasi dapat meningkat menjadi 1 : (40-60) per bulan, meningkat sekitar 3 kali lipat dari cara perbanyakan melalui setek batang atau cabang (Rumiati et al., 1998). Saat ini telah tersedia beberapa jenis bahan tanaman (klon) seperti klon No. 0003, 0007,0011 dan 0013. Klon tersebut akan segera dilepas. Selain itu tersedia juga beberapa klon harapan hasil somaklonal yang sedang dimantapkan penelitiannya.
Teknik budidaya Mempertahankan kesuburan tanah
Tanaman nilam termasuk tanaman yag memerlukan hara yang cukup tinggi (Wahid et al., 1986). Hasil analisis kadar hara dari batang dan daun yang dipanen menunjukan bahwa kandungan N, P2O5, K2O, CaO, dan MgO mencapai masing-masing 5,8%, 4,9%, 22,8%, 5,3% dan 3,4% dari bahan kering atau sama dengan pemberian pupuk 232 kg N, 196 kg P2O5, 912 kg K2O, 212 kg CaO dan 135 kg MgO. Hal ini menunjukan bahwa untuk mempertahankan produksi agar tetap optimal pemberian pupuk sangat menentukan, apalagi kalau ditanam secara menetap.
Tanpa pemupukan produksi selanjutnya akan menurun secara drastis dan masa panen akan lebih pendek. Hasil percobaan yang dilakukan di Kebun Bangun Purba (Sumatera Utara) pada tanah podsolik coklat kemerahan (dengan kadar N, dan Ptanah termasuk rendah dan kadar K termasuk cukup dan pH = 6,0) menunjukkan bahwa pemupukan dengan 120 kg N + 80 kg P2O5 + 100 kg K2O dapat menghasilkan terna kering 4058 kg (pada umur tanaman 4 bulan setelah tanam) produksi meningkat 275% (Adiwiguna et al., 1973).
Hasil penelitian yang dilakukan pada tanah latosol merah kecoklatan dengan kandungan hara tanah N, P, K, Ca dan Mg (rendah) dan C-organik (sedang) pH = 4,4. Dengan pemberian 280 kg Urea + 70 kg TSP +140 kg KCl/ha, produksi terna dan minyak meningkat masing-masing 64 dan 77%. Dengan peningkatan pupuk dua kali lipat dosis di atas yaitu 560 kg Urea + 140 kg TSP + 280 kg KCl/ha produksi terna dan minyak, naik menjadi masing-masing 98,4% dan 77%.
Bila erlakuan tersebut ditambah mulsa, maka peningkatan produksi terna dan minyak, masing-masing mencapai 159 – 286% dan 182 – 286% (Tasma dan ahid, 1988).
Penggunaan mulsa secara nyata dapat meningkatkan produksi dan kualitas terna dan minyak. Keadaan ini disebabkan karena mulsa dapat menambah bahan organik dalam tanah melalui pelapukan. Jelas bahwa pemberian mulsa (semak, belukar, ampas penyulingan, jerami palawija,dan ampas sagu dan lain-lain) dalam budidaya nilam menunjukkan harapan untuk mengkondisikan lahan kembali ke satatus kualitas virgin soil, kondisi mana sangat diperlukan oleh tanaman nilam dan dapat meningkatkan efisiensi produksi.
Dengan catatan, jangan memberikan mulsa dari semak belukar yang sedang berbunga, sebab dapat tumbuh gulma di sekitar tanaman. Penggunaan mulsa alang-alang mampu meningkatkan produksi daun dan minyak masingmasing 159,6% dan 181,7%. Mulsa belukar meningkatkan produksi sebesar 286,5%.
Bercocok tanam nilam
Persiapan lahan
Persiapan lahan dilakukan sebelum atau bersamaan dengan persiapan pembibitan, agar penanaman di lapangan dapat dilakukan bersamaan dengan tersedianya bibit (umur bibit 1 – 1,5 bulan). Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara intensif tidak seperti budidaya berpindahpindah, agar diperoleh kondisi tanah yang gembur dan bebas gulma. Pada saat pengolahan tanah dibuat juga paritparit drainase agar air tidak mudah tergenang, air yang tergenang menyebabkan tanaman nilam mudah diserah hama/penyakit. Untuk lahan miring, parit-parit dibuat searah dengan garis kontur, guna menghindari terjadinya erosi.
Jarak tanam
Jarak tanam akan menentukan populasi tanaman dan luas permukaan daun yang aktif melakukan fotosintesa sehingga akan mempengaruhi kompetisi tanaman dalam penggunaan cahaya, air dan unsur hara, kerapatan yang tinggi kompetisi akan tinggi dibandingkan dengan yang lebih jarang. Jarak tanam yang edeal adalah sesuai bagi perkembangan tanaman bagian atas serta tersedianya ruang bagi perkembangan perakaran dalam tanah.
Jarak tanam yang umum dipakai yaitu 75 – 100 cm antar baris dan 50 – (75 – 100) cm dalam baris.
Pada lahan datar dan subur dapat digunakan jarak tanam yang lebih lebar misalnya 100 x 100 cm, sedangkan dilahan miring jarak tanam yag digunakan lebih sempit misalnya 50 x 75 cm atau 75 x 75 cm. Kebutuhan bibit tergantung dengan jarak tanam ini.
Penanaman
Penanaman dapat dilakukan dengan menanam setek langsung dilapang atau dengan mempersiapkan bibit dipolybag lebih dahulu bersamaan dengan persiapan lahan, setelah tumbuh baru dilakukan penanaman di lapangan. Penanaman setek secara langsung memerlukan penyiapan jumlah bahan setek yang cukup besar (2 – 3 setek/lobang), karena resiko kematian cukup tinggi terutama bila curah hujan rendah/minimum. Pembuatan lubang dengan cara dicangkul, sesuai dengan jarak tanam. Seminggu sebelum bibit ditanam, lubang diberi kompos dari ampas daun nilam yang telah diambil minyaknya.
Tiap lobang tanam ditancapkan 1 – 2 setek untuk setek langsung, dan satu bibit untuk bibit yang telah dtumbuhkan. Setelah tanam tanah disekitar tanaman dipadat, agar bibit tidak mudah rebah. Satu bulan setelah setek ditanam, tunas-tunas baru sudah mulai tumbuh.
Pemeliharaan
Nilam memerlukan pemeliharaan yang intensif terutama pada awal pertumbuhan dan setelah panen. Pemelihaharan yang dilakukan berupa penyulaman tanaman yang mati, penyiangan, pembumbunan, pemangkasan, pemupukan dan pemberian mulsa. Pemberian pupuk dan mulsa sangat penting sekali dilakukan terutama setelah panen pertama (umur 6 bulan), tujuannya guna merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. Sedangkan pemangkasan dilakukan apabila tanaman tumbuh sangat subur dimana perkembangan kanopinya sangat lebar, yang menyebabkan tanaman saling menutupi, sehingga kekurangan cahaya matahari dan lembab, kondisi ini akan mengundang penyakit.
Pergiliran tanaman dilakukan setiap selesai satu siklus pertanaman nilam, yaitu dengan menggunakan tanaman-tanaman yang sesuai dan berfungsi ganda, selain berfungsi memotong siklus hama dan penyakit juga dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Upaya pencegahan serangan hama dan penyakit, dilakukan sejak evaluasi kesesuaian lahan untuk tempat areal pertanaman, pemilihan bahan tanaman, tindakan pemupukan dan melakukan aspek-aspek lain yang dapat mencegah berkembangnya serangan hama dan penyakit yang sekaligus merupakan syarat-syarat untuk pembudidayaan nilam secara menetap.
Polatanam tanaman nilam
Umumnya tanaman nilam diusahakan secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain, seperti dengan tanaman palawija (jagung, cabe, terung, dan lainnya). Selain dengan tanaman palawija, nilam dapat di polatanamkan dengan tanaman tahunan seperti diantara kelapa, kelapa sawit, karet yang masih berumur muda, karena tanaman nilam masih berproduksi dengan baik pada intensitas cahaya minimum 75%.
Polatanam ini akan memberikan keuntungan antara lain, menekan biaya operasional terutama biaya pemeliharaan, mengurangi resiko terjadi penurunan harga, kegagalan panen akibat serangan hama/penyakit, curah hujan yang sangat tinggi atau kekeringan, dan meningkatkan produktivitas tanah oleh hasil tanaman sela. Selain itu bila limbah padat nilam hasil penyulingan dikembalikan ke lahan, dimana limbah padat ini masih mempunyai aroma dan bau khas, maka limbah ini akan berfungsi sebagai penolak serangga (insect repelen), sehingga tanaman selanya terhindar dari serangan hama. Dari hasil penelitian polatanam menunjukan bahwa nilam, dapat di polatanamkan dengan jagung atau nilam + kacang tanah atau nilam + kedele, atau nilam + kacang hijau, atau nilam + jagung + kacang tanah. Pada prinsipnya hampir semua tanaman dapat ditumpang sarikan dengan nilam asal ; 1) tidak menimbulkan persaingan dalam hal penyerapan unsur hara, air, dan cahaya matahari, 2) tidak merupakan sumber hama/penyakit bagi tanaman nilam sebaiknya yang saling menguntungkan. Oleh sebeb itu waktu dan jarak tanaman antara sesama tanaman pokok dan antara tanaman pokok dengan tanaman sela harus diperhitungkan dengan cermat. Polatanam nilam dapat juga dilakukan dengan pergiliran tanaman/ rotasi, dimana setelah penanaman nilam 1 – 2 siklus, dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman lain seperti legum, palawija yang tidak banyak menguras usur hara, setelah itu kembali ditanami nilam. Pergiliran tanaman untuk nilam sangat diperlukan, gunanya untuk mempertahankan kesuburan tanah, mengindari efek alelopati dan memutus siklus hama/penyakit.
Panen dan penanganan prapanen
Panen pertama dilakukan saat umur tanaman 6 – 8 bulan, dan panen berikutnya dilakukan setiap 3 – 4 bulan sampai tanaman berumur tiga tahun. Setelah itu sebaiknya tanaman diremajakan, karena hasilnya sudah makin menurun. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau menjelang malam hari agar kandungan minyaknya tetap tinggi. Bila pemetikan dilakukan siang hari, sel-sel daun sedang berfotosintesa sehingga laju pembentukan minyak berkurang, daun kurang elastis dan mudah robek. Di samping itu, pada siang hari transpirasi daun berlangsung lebih cepat sehingga jumlah minyak yang dihasilkan berkurang. Panen sebaiknya dilakukan sebelum daun nilam menjadi coklat Perkembangan kemerahan, karena daun yang berwarna coklatkemerahan rendemen minyak sudah berkurang.
Kandungan minyak tertinggi terdapat pada 3 pasang daun termuda yang masih berwarna hijau. Alat untuk panen bisa dipergunakan sabit dengan cara memangkas tanaman pada ketinggian 15 – 30 cm dari permukaan tanah. Ada baiknya kalau setiap kali panen ditinggalkan satu tanaman tetap tumbuh untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru pada fase selanjutnya.
Cara panen yang lain dapat dengan memungut daun dan ranting memakai ani-ani tidak dengan sabit, dengan cara ini jarak waktu panen selanjutnya menjadi lebih pendek hanya setiap 2 bulan. Hasil pangkasan dipotongpotong sepanjang 3 – 5 cm kemudian dijemur selama 1 – 2 hari atau dijemur 5 jam dan dikering anginkan selama 2 – 3 hari untuk mengurangi kadar airnya sampai 15%. Tebal lapisan penjemuran sekitar 50 cm dan harus dibalik 2 – 3 kali sehari.
Daun yang telah cukup kering dapat disimpan atau dilakukan penyulingan. Hindari pengeringan yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Pengeringan yang terlalu cepat membuat daun menjadi rapuh dan sulit disuling. Kalau terlalu lambat seperti musim hujan, daun menjadi lembab dan mudah terserang jamur, hingga redemen dan mutu minyak yang dihasilkan rendah.
Produksi
Produksi tanaman nilam tergantung sekali pada jenis/varitas yang ditanam, keadaan tanah, pertumbuhan tanaman. Produksi yang baik dapat mencapai 15 – 20 ton daun basah atau 5 ton daun kering per ha. Dengan rendemen minyak 2,5 – 4%, sehingga produksi minyak mencapai 100 – 200 kg/ha/tahun.
Analisa ekonomi budidaya nilam secara menetap
Budidaya tanaman nilam secara berpindah–pindah selama ini dianggap lebih menguntungkan, karena tidak membutuhkan pemupukan. Ternyata budidaya tanaman nilam secara menetap apabila dilakukan sesuai dengan semestinya juga sangat menguntungkan, karena produksinya dapat mencapai 2 – 3 kali lipat budidaya berpindah-pindah.
Dengan produksi 5 ton daun kering/ha/tahun, dan harga Rp. 2.000,-/kg, hasil penjualan daun kering sebesar Rp. 10.000.000,-, dengan biaya sebesar Rp. 7.735.000,- pada tahun pertama, yang terdiri dari biaya sewa lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja.
Maka pendapatan petani sebesar Rp. 1.265.000,-/ha/tahun pada tahun pertama. Pada tahun ke II dan ke III, biaya usahatani hanya sebesar Rp. 1.150.000,-, sehingga pendapatan petani pada tahun Ke II dan Ke III mencapai masing-masing Rp. 8.850.000,-/tahun. Pendapatan yang diterima petani akan lebih besar dari angka di atas apabila biaya tenaga kerja (tenaga kerja keluarga), sewa lahan dan bibit tidak dibayarkan. Bagi petani yang sekaligus menjadi pengrajin, mempunyai alat suling sendiri dan menjual dalam bentuk minyak, hasil penjualan dapat mencapai Rp. 40.000.000,-/ha/tahun (dengan harga minyak Rp. 200.000,- dan produksi minyak 200 kg/ha), dengan biaya investasi hanya Rp. 8.725.000,- yang terdiri dari peralatan, unit penyulingan dan kompor, serta biaya operasional sebesar Rp. 3.139.000,- yang terdiri dari penyusutan alat, penyusutan suling, kompor, upah penyulingan dan BBM.
KESIMPULAN
Hasil penelitian membuktikan bahwa tanaman nilam mengangkut unsur hara yang cukup tinggi setiap panen, mengakibatkan lahan semakin miskin akan unsur hara, hal ini merupakan salah satu penyebab budidaya berpindah-pindah.
Budidaya nilam menetap yang telah dilakukan di daerah pengembanganpun belum memperlihatkan hasil dengan mutu yang baik Selain menanam nilam di daerah yang sesuai dan sangat sesuai, hal yang sangat penting dilakukan adalah menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah, unsur hara yang terangkut panen, perlu dikembalikan, baik dengan pemupukan anorganik maupun dengan pupuk organic (mulsa).
Penambahan mulsa alangalang atau mulsa semak belukar dapat meningkatkan produksi nilam (daun) antara 159,6% – 286,5%. Hasil ini menunjukan bahwa budidaya tanaman nilam secara menetap sangat mungkin dilaksanakan, dengan rinsip mengkondisikan lahan pertanaman nilam sama dengan lahan bukaan baru (virgin soil). Guna mengurangi resiko kegagalan panen dan fluktuasi harga, serta untuk meningkatkan produktivitas lahan, sebaiknya pengembangan nilam dilakukan dengan polatanam, baik tumpangsari maupun sebagai tanaman sela.
Dalam polatanam ini yang perlu diperhatikan antara lain, waktu tanam dan jarak tanam, baik antar tanaman pokok maupun antara tanaman pokok dengan tanaman sela. Setiap selesai satu siklus pertanaman untuk mencegah akumulasi hama dan penyakit, dan juga dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, satu siklus pertanaman nilam hanya selama tiga tahun, kemudian dilakukan pergiliran tanaman, dan siklus selanjutnya dilakukan pada tahun ke lima.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 1993. Efisiensi usahatani tataniaga dan peningkatan mutu minyak atsiri (nilam, akar wangi, serai wangi dan kenanga).
Laporan Penelitian ARMP, 1992 – 1993. Balitro (tidak diterbitkan). 48 hal.
Askarach, A., 2000. Pertumbuhan dan hasil tumpangsari pada berbagai jarak tanam nilam dan populasi jagung.
Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
BPS., 1998. Statistik tanaman nilam Balai Pusat Statistik Jakarta.
BPEN., 1993. Bayers Guide of Indonesia. Badan Pengembangan Ekspor Nasional. Departemen Perdagangan RI.
Dhalimi, A. S. Rusli, Hobir dan Emmyzar, 2000. Status dan Perkembangan Penelitian Tanaman Nilam.
Makalah utama pada gelar teknologi pengolahan gambir dan nilam, 24 – 25 Januari 2000 di Padang. 4 hal.
Djazuli, M. dan Emmyzar, 1998. Polatanam dalam monograf nilam. Monograf no. 5. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Hal. 70 – 74.
Hasan, Z., 1994. Beberapa cara budidaya nilam secara menetap di Pasaman – Sumatera Barat.
Pros. Seminar Penelitian Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Sub Balittro Solok. Mulyodihardjo, S., 1991.
Program pengembangan penanaman atsiri di Sumatera. Prosiding Komunikasi Ilmiah Pengembangan Atsiri di Sumatera, Bukittinggi, 31 – 8 – 1991.
Balittro Bogor.
Tasma, I dan A, Hamid, 1990. Pembudidayaan nilam secara menetap.
Makalah pada Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Minyak atsiri.
Buku VII (Tanaman Atsiri) Puslitbangtri: 1076 – 1082.
Rusli, S. dan Hobir, 1990.
Hasil penelitian dan pengembangan tanaman minyak atsiri Indonesia. Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Puslitbangtri – Bogor.
Tasma, I dan P. Wahid, 1988. Pengaruh mulsa dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil nilam.
Pember. Penelitian Tanaman 15 (1 – 2) : 34 – 41. Wahid, P., 1992.
Peningkatan intensitas tanaman melalui tanaman sela dan tanaman campuran.
Prosiding Temu Usaha Pengembangan Hasil Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Balittro, Bogor. hal 85 – 86.
Wahid, P., M. Pandji. L, E. Mulyono dan S. Rusli, 1986.
Masalah pembudidayaan tanaman nilam, seraiwangi dan cengkeh. Diskusi Minyak Atsiri V. 3 – 4 Maret 1986 di Bogor. 36 hal.
Wikandi. E.A, Ariful Asman dan Pasril Wahid, 1990.
Perkembangan Penelitian Nilam. Edisi Khusus Littro. Vol. VI. No. 2, 1990. 7 hal.
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
horas,
budidaya nilam saonari nungga terpinggirkan alias dang piga-piga be di hutatta na marnilam. nilam sempat primadona alani argana, nuaeng argani nilam torbang surut, jadi dang tottu. anggo di hutatta saonari, boi dohonon, nilam dang populer be, dang piga-piga be manuan nilam. selain mungkin dang olo repot laho manuling miyak nai, lahan na naeng si suanon pe nungga habis. alana, di hitaan, molo naeng manuan nilam, cenderung do mambukka lahan na imbaru, artina ikkon mambukka sada tobbak asa boi manuan nilam, hape tobbak pe nunga habis.
pola budidaya nilam sebenarna dang rumit, suan…rawat…panen…sahali manuan boi dipanen piga-piga taon tetapi dengan syarat ikkon dirawat.
proses penyulingan miyak nai dihitaan, masih sangat tradisional, dan memakan waktu yang panjang dan bahan bakar kayu yang banyak. nuaeng adong do na lebih praktis, nungga godang mesin suling na lebih praktis dipasaran.
salam
leodigna
“Papatar Menuju Pertanian yang Tangguh dan Berdaya Saing”
[Balas...]
Horas…
Di kompas minggu na lewat, adong do tulisan di kompas mengenai Nilam (alai ndang huingot be ari aha)
Nilam di daerah Kepulauan Mentawai dan pesisir Sumatera Barat.
Menurut au, ala mulai mago pe petani nilam di hutatta, ala ndang dinikmati nasida hasilna. Tong ma songon sistem tengkulak, jadi patani tetap sengsara.
Faktor lain, sistem pertanian masih tradisional, artina ndang dirawat alai terkesan asal tubu di ramba i.
Berikut, ima ala maol petani memasarkan miak nilam, jadi mdabu ma tu tangan ni Tengkulak yang pasti dengan harga semau gue.
Untuk ‘mengamankan’ produk pertanian mungkin dengan sistem koperasi atau dengan pembentukan kelompok2 tani yang diharapkan mandiri dan tidak terlalu tergantung kepada satu distribusi (Tengkulak alias tokke).
Jadi disini, koperasi atau kelompok tani menampung hasil untuk kemudian nanti bisa dilempar ke pasar dengan harga yang manusiawi. Tentu yang susah adalah untuk membentuk kelompok2 tani ini.
Horas….
[Balas...]
horas,
tutu do memang laho membentuk kelompok2 tani sangat susah, belum tentu langsung diterima masyarakat. olo sipata curiga, atek boha adong kepentingan na asing dibalik ni pembentukan kelompok i. hape niat ta, boha ma asa maju, dang adong di balik ni i. disamping ni i, petani dang olo menanggung resiko sekecil apapun. molo dang adong dope dibereng na berhasil, dang olo mencoba.
salam
leodigna
[Balas...]
Wah! Ternyata ada topik NILAM ya?!!! Bagus sekali!
saya telah berkomentar tentang nilam di FIP Bid. Ekonomi yg al:
…(melalui) PT Pakkat Prima Patchouly, kami akan memberikan harga yang tetap selama 3 tahun 11x panen dari satu kali penanaman Rp5rb per kg daun kering. Perusahaan kami yang akan melakukan penyulingan sehingga kualitas produk yg akan kami jual terjamin dan kontinuitas penjualan kepada end buyer terjamin.
Berdasarkan perhitungan yang kami buat, petani nilam dapat menghasilkan Rp20jt/ha/bulan. Wow! Jadi orang kampung tapi rejeki kota toh! Semoga ya!!!
Petani yang akan menjadi penjual kepada kami akan membuat perjanjian kemitraan tentang harga tersebut dengan perusahaan kami sehingga ada kepastian. Tentu saja tehnology yg digunakan dalam pengawasan kami agar hasil rendemennya menguntungkan semua pihak.
Ayolah! Wajar saja petani perlu bukti!
Mari kita buktikan bersama.
[Balas...]
saad:
July 2nd, 2011 | 05:11
@Berliana Purba, kami memiliki kelompok binaan cukup banyak sangat membutuhkan biaya operasional budidaya nilam di sulawesi tenggara dan sulsel minimal perorang butuh dana Rp 10 juta. kalau bisa bantuan hibah atau paling tidak kredit lunak dikembalikan setelah panen ke empat tahun ke 3. Tanggungjawab pengembalian adalah Yayasan Bina Mandiri Indonesia yang berkantor Pusat di Kendari Sultra.demikian atas bantuan dan kerjasamanya di ucapkan terima kasih. kami tunggu infonya.
[Balas...]
horas….
saya mahasiswa FP-USU… saya sedang mengerjakan skripsi tentang evaluasi kesesuaian lahan tanaman nilam, tetapi sampai skarang saya masih belum dapat data karakteristik kesesuaian lahan tanaman nilam??? bila saudara-saudara ada yang memiliki data tersebut, saya minta tolong dikirimkan ke email: danielsydney14@yahoo.com
terimakasih ya
[Balas...]
admin:
March 23rd, 2009 | 09:04
silahkan hubungi Ibu Berliana Purba, anggota FIP websitenya liohat di blogroll website ini,..mereka sekarang lagi mengembangkan tanaman nilam di pakkat.
[Balas...]
Horas ito Daniel Simamora!!!
Sudah saya kirimkan bahan yang dibutuhkan, semoga masih belum terlambat karena saya baru sempat buka topik ini.
Entah bagaimana ya Ito, Tanah Pakkat adalah salah satu yang terbaik untuk Nilam diantara sedikit daerah yang juga baik yitu Sidikalang, Tapaktuan, Manduamas (begitulah yg saya dengar). Dan satu lagi, tanah Pakkat juga salu satu yang terbaik untuk Hamijon. Yang men pedagang Hamijon, konon di seluruh dunia diakui hanya tumbuh di Tapanuli Utara. Menurut penelitian hanya bisa tumbuh di Taput dan Papua. Kenyataannya dia memang tumbuh di kampoengku itu.
Horassss,
Berliana Purba
[Balas...]
ranto:
June 1st, 2009 | 15:18
dh,
Horsa ito,
Saya Ranto Banurea, saat ini tinggal di Kaltim saya tertarik untuk berusaha di perkebunan nilam. Bisa disharing artikel2 tentang budidaya nilam dan tips and trick untuk berusaha nilam (private message aja, alamat emailku : rantosb@itb98.com)
//ranto
[Balas...]
Tahun 2008 kemaren saya baru menyelesaiakn satu buku (belum publikasi) diolah kembali dari skripsi S1 saya di Teknik Mesin. Judulnya “modifikasi ketel penyuling minyak nilam kapasitas olah 40 kg daun nilam kering/ 6 jam untuk meningkatkan efisiensi ketel”. Buku ini sebenarnya ditulis sebagai syarat kepangkatan di kopertis wil I Sumbagut. belum terlalu bagus, masih sangat butuh penyempurnaan,tapi barangkali ada yang butuh untuk informasi tambahan, dapat mengcopy nya kapan saja dibutuhkan.
Sediit informasi tentang buku dimaksud, modifikasi ketel dapat menghemat bahan bakar hinga 76%. Kualitas minyak nilam lebih baik.karena konstruksi ketel dari AISI 304, tidak bereaksi dengan minyak.
Oh ya, mohon doa rekan2, saya sedang menyusun proposal, cari biaya untuk membuat ketelnya (paling tidak 1 unit) buat disumbangkan ke petani nilam pakkat (harapannya begitu)…
Saya mau kasih berita sedikit tentang petani nilam kita (berdasarkan penelusuran yang saya lakukan di dua tempat, Paronggil Dairi dan Pakkat Humbang hasundutan).
Persoalan mutu muncul karena mereka masih menggunakan sistem pertanian tradisional termasuk pola penyulingannya. Rendahnya randemen juga terkait masalah sistem pertanian ini. mereka tidak melakukan pananganan khusus di areal dan pasca panen. hanya mengikuti pola pertanian tradisional.
Harga pokok produksi mereka masuk dalam rantai masalah. teknologi mereka sangat boros energi (bahan bakar).
Jalur pasar lokal dan internasional tidak mereka kuasai. sehinga mereka sama dengan petani indonresia pada umumnya, tidak terlibat dalam menentukan harga.
Mental petani kita yang buruk juga memberi andil, beberapa dari mereka melakukan manipulasi pada saat penyulingan untuk menaikkan randemen. manipulasi ini merusak mutu nilam, misalnya menurunkan bilangan PA.
Dalam buku yang saya tulis memang hanya menyinggung masalah teknologi. namun saya punya harapan di masa yang akan datang, petani nilam kita dapat mengatasai maslah2 yang saya kemukakan tadi.
[Balas...]
irawan:
May 15th, 2009 | 12:13
Pak Arnold saya tertari dengan buku yang bapak tulis mengenai modifikasi mesin suling untuk meningkatkan efisiensi,mungkin bapak bisa kasih saya petunjuk untuk mendapatkan buku tersebut.terimakasih
[Balas...]
Pertama-tama proficiat atas bukunya appara. Suatu study dan terobosan yang baik sekali.
Komentar tentang pertanian, petani dan jalur distribusi pemasaran. Saya pikir, sistem plasma yang sedang dikembangkan ito BP di Pakkat perlahan akan meninggalkan sistem pertanian nilam tradisional, distribusi tradisional dan unfairness benefit kepada petani, semoga.
Horas
[Balas...]
saya tertarik dengan minyak nilam , mohon bantuanya bagi yang bisa memberikan saya datateknis alat penyuling minyak kapsitas 2000kg sitem uap dan air kohobasi,terimakasih banyak tolong di @mail ke ping_irawan@yahooco.id
[Balas...]
@Pak Irawan :
posisi di mana?
Di Medan kah?
Kapasitas 2 ton?? besar ya Pak?
bisanaya petani yang saya kenal (di Paronggil dan Pakkat) berkapasitas 40 kg.yang bapak cari 50 kalinya!
hmmm..
sekarang bapak pake sistem apa? sistem uap apa air? lalu masalah nya di mana? boros bahan bakar apa randemen yang kecil?
Randemen kecil tidak selalu masalahnya di alat penyuling. Jenis nilam sangat mempengaruhi. Umumnya jenis nilam yang randemenya besar (2,5-5%) adalah jenis yang banyak di Aceh dan Sumut (Dairi dan Humbang). Nama ilmiahnya Pogostemon Cablin BENTH. secara fisual dapat kita lihat ciri – cirinya, jarang berbunga.
Diantara jenis tanaman nilam di Indonesia (Jawa, Banten, Lampung, Padang, Nias, Aceh-Sumut,dll), yang terbaik adalah yang di Aceh – Sumut, karena umumnya nilam di daerah ini adalah jenis yang saya sebut tadi.
penanganan pasca panen sebelum penyulingan juga sangat berpengaruh.soal pasca panen saya tidak terlalu paham. namun saya punya beberapa orang kenalan bisa bantu bapak dalam hal ini.
@Abang Parbatto :
Harapan kita sama kakanda.
[Balas...]
Wah! Mantap kali itu buku ito Arnold!
Sukses Ito!!
Jangan lupa copynya agar tersedia di Perpustakaan FIP di Pakkat.
Kita semakin optimis di Nilam ini. Walau perlahan tapi pasti mencapai keberhasilan petani nilam kita dan Pakkat nya.
Mesin yang kami pesan (sedang dlm pengerjaan) berkapasitas 150kg daun kering. Dalam pengembangannya tentu buku yang ito buat akan sangat berguna sebagai referensi penyempurnaan.
Selamat berkarya terus!!
BP
[Balas...]
nando:
February 5th, 2010 | 01:01
@Berliana Purba, @ Berliana Purba. Senang sekali membaca informasi Budidaya Nilam nya. Kalau boleh di bagikan informasinya tentang design alat penyulingan yang berkapasitas 150 kg daun nilam kering dengan bahan kabar apa dan sekalian alamat PT Pakkat Prima Patchouly biar sekalian mampir ke sana pada bulan Juli 2010 nanti. Terima kasih banyak ya ito, di email attachment nya ke: behot_one@yahoo.com.
[Balas...]
Berliana Purba:
February 6th, 2010 | 14:44
@nando, Ito Nando, sudah diemail ke alamat ito design yang diminta. Design tersebut telah terpasang di pabrik kami di Sitinjo, Pakkat dan telah diuji coba namun kami merasa perlu penyempurnaan untuk efisiensi waktu agar sepenuhnya dapat berproduksi 3 kali penyulingan dalam sehari. Saat ini modifikasi sedang dibuat di Workshop Medan, dan diharapkan akan terpasang kembali di Sitinjo dalam 2 minggu ke depan dan dapat beroperasi kembali. Silahkan berkunjung ke tempat kami karena bulan Juli 2010 tentunya diharapkan mesin telah beroperasi secara normal. CV Pakkat Prima Patchouly dan PT Pakkat Internasional Indonesia berada di Desa Sitinjo, Purba Sianjur, Pakkat – Humbang Hasundutan. Selamat berkreasi!!!
[Balas...]
nando:
February 18th, 2010 | 01:25
@Berliana Purba, Horas Ito,
Terimakasih banyak atas balasan email nya, tetapi saya tidak bisa membuka attachment nya dimungkinkan sistem computer yang ku miliki (Window XP2000) tak dapat membukanya atau ada kesalahan tehnis yang lain. Untuk meneruskan komunikasi lanjutan, kalau boleh di email alamat lengkap dan telephone PT Pakkat Prima Patchouly nya supaya informasi yang berguna itu dapat dimiliki sebelum meninjau langsung ke Bonapasogit. Horas, mauliate godang.
[Balas...]
Berliana Purba:
February 18th, 2010 | 08:26
@nando, Mungin computer ito tidak ada fasilitas WinRAR-archive, sehingga tidak bisa dibuka. Saya sedang email extractnya supaya bisa dibuka.
Mesin dirancang dengan bahan bakar kayu/batubara/solar/gas. Untuk solar dengan menambahkan Burner.
Saat ini kami menggunakan Burner dengan bahan bakar solar karena praktis. Namun kedepan akan kita ganti dengan batubara ataupun gas supaya lebih efisien.
[Balas...]
Salam kenal,
Kami baru dalam nilam ini. Daun nilam kami sdh bewarna coklat yg katanya sdh terlambat panen meskipun umurnya baru memasuki 6 bulan. Dengan kejadian ini, apakah perlu dilakukan pengeringan lagi, mengingat cuaca dari minggu kemaren sdh panas (budidaya ini di kalsel). Kemudian apa sebagai patokannya bahwa nilam sdh bisa dipanen, sehingga daunnya tdk terlanjur bewarna coklat?
Demikian. Terima kasih atas bantuannya.
Kami sangat menunggu tanggapannya
Salam
Armand
[Balas...]
admin:
February 5th, 2010 | 09:43
@armand, Dear armand,…silahkan hubungi ibu Berliana, kaeran beliau sekarang sedang giat-giatnya mengembangkan tanaman ini. wassalam
[Balas...]
Berliana Purba:
February 6th, 2010 | 15:15
@armand, Salam kenal juga pak Armand!!! Saya cukup sering mengadakan perjalanan ke Kalimantan Selatan. Di Plehari-Kalsel juga ada banyak petani nilam. Apakah pak Armand juga di Plehari? Pertumbuhan nilam sangat dipengaruhi bibit, hara tanah, air yang cukup. Bibit stek yang berasal dari induk yang masih muda di bawah 8 bulan) lebih rentan terhadap penyakit dan rusak. Prinsipnya panen pertama adalah 6 bulan sejak penanaman pertama kalinya, 3 bulan setelah panen pertama. Di Kalimantan problem yang seing dijumpai adalan kurang cukup air. Curah hujan kurang. Harus sering dilakukan penyiraman. Penduduk Pakkat dapat merasa lebih optimis bertani nilam karena prinsiply curah hujan cukup. Namun tetap perlu memperhatikan kondisi tanah untuk tanah yang sudah sering ditanami sebelumnya (bukan hutan). Kamis lalu, 4 Feb 2010, pihak kami melakukan pengujian terhadap salah satu kebun kami yang kurang subur di Pakkat, ternyata karena tanah tersebut mengandung banyak pasir sehingga panas dan terutama tidak lagi ada humusnya. Sehingga disarankan penanaman dilakukan setelah lebih dahulu menggemburkan tanah dan mencampur dengan pupuk yang lengkap seperti NPK (organik). Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan seperti sekarang ini. Salam! .
[Balas...]
hanat:
October 17th, 2010 | 22:00
@armand,
salam kenal dengan pak Arman
saya Hanat di landsan ulin, bisa saya minta alamat dan no telp bapak
mungkin kita bisa bekerja sama.
klo bs tlg kirim ke email sy di hanataje@yahoo.co.id
trims
[Balas...]
assalamualaikum
saya mahasisiwa pertanian unsyiah lagi meneliti pengaruh kualitas bahan baku dan alat suling terhadap biaya produksi.saya membutuhkan bahan dan jurnal mengenai tabel perbedaan harga minyak nilam seluruh indonesia 5 tahun terakhir..saya sangat mengharapkan bantuan kakak dan abang..terimakasih banyak atas bantuannya…
[Balas...]
Berliana Purba:
July 19th, 2010 | 21:14
@failani, Hallo Failani, sebenarnya saya lagi sibuk tetapi ingin sekali menjawab pertanyaan kamu untuk melengkapi bahan penelitian kamu berdasarkan pengalaman, dan diskusi saya dengan beberapa produsen nilam lainnya.
Pertama, mengenai alat suling: alat suling dapat berupa drum (untuk ukuran 30 kg bahan baku nilam kering), alat suling yang terbuat dari bahan besi atau juga bahan stainless yang terbagi pula dengan kapasitas 50, 100, dan 150 kg bahan baku nilam kering. Tentu saja kapasitas yang efisien tergantung dari banyaknya bahan baku yang akan diolah. Jika bahan baku cukup cukup banyak maka kapasitas 150 kg akan menghasilkan biaya produksi yang lebih effisien antara lain karena lama penyulingan akan memakan waktu yang sama yaitu antar 7-8 jam sehingga dapat menekan biaya bahan bakar per kg produksinya.
Meskipun peralatannya sama, bahan bakar yang digunakan juga akan banyak mempengaruhi biaya produksi. Peralatan yang menggunakan bahan bakar kayu tentunya lebih murah daripada yang menggunakan solar misalnya, tetapi kayu susah diperoleh saat ini. Alat dengan bahan bakar gas akan lebih murah biaya produksinya daripada menggunakan solar. Semakin canggih alat produksinya maka akan semakin besar biaya produksinya karena alatnya sendiri sudah akan lebih mahal. Namun semakin canggih alatnya maka hasilnyapun akan semakin baik dari segi kualitas mutu. Mesin yang paling baik akan dapat menghasilkan minyak nilam dengan elemen yang lebih banyak dari pada peralatan yang biasa-biasa dan bahan stainless menghasilkan warna yang lebih jernih. Jadi meskipun nilai produksi lebih mahal namun nilai jualnya pun akan lebih tinggi, karenanya secara persentase terhadap harga jualnya bisa lebih rendah dari alat produksi yang menghasilkan harga nominal lebih murah tetapi persentase terhadap harga jual tinggi karena nilai jualnya juga murah. Jadi kakak sarankan kamu membuat perbandingan harga berdasarkan kapasitas, bahan bakar, dan persentase terhadap nilai jual produk.
Kedua, kualitas bahan baku. Hal ini akan berpengaruh langsung kepada biaya produksi per kilogramnya, bukan per penyulingannya. Untuk harga produksi sekali penyulingan biayanya akan sama, baik pada kualitas bahan bakunya buruk maupun kualitas bahan baku bagus. Namun tentu saja biaya produksi per kg nya menjadi mahal untuk kualitas bahan baku yang buruk. Kualitas yang baik akan memberikan hasil olah yang lebih banyak dengan rendemen 3-5%. Disamping itu kualitas bahan baku yang baik akan menghasilkan minyak nilam dengan kualitas yang baik pula mis. menghasilkan persentase Patchouly Alkohol yang lebih tinggi bahkan hingga 60%. Bahan baku dengan rendemen yang buruk biasanya berasal dari tnaman yang kurang mendapat sinar matahari disamping juga unsur hara yang tidak cocok untuk tanaman tersebut. Misalnya nilam yang berasal dari Sumatera pada umumnya lebih baik daripada nilam yang dari Jawa. Nilam dengan kualitas istimewa diakui yang tumbuh di daerah Pakpak Barat Sidikalang, Manduamas, Tapaktuan, Nias, Mentawai, Parlilitan, Tara Bintang, dan PAKKAT.
Berdasarkan pengalaman uji coba produksi yang kami lakukan dengan Mesin Pengolah Stainless Steel. dengan bahan baku yang baik dengan menghasilkan rendemen 3% atau 4,5 kg dari bahan baku 150kg kering. dan PA di atas 40%. Biaya produksi adalah 150kg bahan kering yang berasal dari 600 kg bahan baku basah @700/kg total Rp420rb, Solar 40 liter @6000/liter, total Rp240.000, tenaga kerja langsung 2 orang Rp140rb (gaji harian+makan), Penyusutan mesin dan pabrik dan kendaraan angkut Rp125rb, Total biaya langsung Rp925rb overhead antara 12-15%, kira2 Rp 138rb. Total Biaya Produksi Rp1.063.000,- untuk 4,5 kg atau biaya produksi per 1 kg Rp236rb/kg. Dengan harga jual lokal saat ini sekitar Rp 350rb – 400rb , maka keuntungan per kg adalah Rp114rb rupiah.(tentu saja jika diekspor akan lebih mahal/lebih menguntungkan). Namun pada kesempatan lain kami mendapat bahan baku yang buruk yang ternyata berasal dari tanaman yang tidak mendapat sinar matahari – dengan rendemen 1,5% maka harga produksi per kg akan menjadi 2X lipat menjadi Rp 472rb/kg, sehingga penjulan dengan harga akan merugi sebesar Rp 122rb/kg. Untuk itu kami akan melakukan seleksi terhadap petani berdasarkan lahan tanamnya. Dengan harga 700rb per kg basah (2,8jt kering) kami standarkan untuk rendemen 3% hasil olah sedangkan petani dengan bahan baku yang kualitasnya baik yang dapat menghasilkan rendemen yang lebih tinggi akan kami beri premi rendemen sebagai tambahan harga bahan bakunya, sebaliknya yang menghasilkan dibawah standar 3% akan kami kenakan penalthy rendemen yang akan kami sosialisasikan setelah mulai berproduksi. Apabila perusahaan telah dapat menutupi biaya investasi, tentu saja kami akan lebih banyak memberikan perhatian kepada kesejahteraan petani sehingga diharapkan dapat saling membangun.
Mengenai harga, sangat berfluktuasi, di tahun 2008, penjualan lokal antara yang saya ketahui dari pembeli yaitu Rp 450 rb – Rp 700rb per kg, tahun 2009 turun sangat drastis bahkan ada yang hanya menyanggupi di harga Rp275rb per kg. di tahun 2010, berdasarkan realisasi penjualan yang terlacak di internet berkisar Rp300rb – Rp 350rb di bulan Maret bahkan ada yang lebih tinggi namun informasi terakhir bulan ini harga telah turun lagi. Jika belum ada jurnal yg didapat, coaba saja membuat tabel sendiri berdasarkan data realisasi penjualan yang terinformasi lewat intrnet.
Demikian penjelasan saya, kalau ada pertanyaan kepada saya, dapat menghubungi saya melalui email: berliana@berlianoil.com
Selamat berkarya dan Sukses!!
[Balas...]
tlg infokn tntang psar nilam nasional ato untuk espor..,gmn proses penyulingan yg baik..,gmn pluang hrg nilam dunia bbrp thn kdpan..? Krn sy mau dirikn pabrik nilam slwesi..,krn nilam suda sngat menjamur..,tp psrn nilam slalu berplutuasi..,thanks infox.
[Balas...]
Berliana Purba:
February 8th, 2011 | 18:35
@ballido,
Optimis saja Pak! Indonesia penghasil 80% untuk kebutuhan dunia. Ini produk unggulan kita. Daftar saja di Alibaba, pasti banyak calon pembeli yang akan menghubungi Bapak namun perlu selektif agar menjual kepada yang mau membayar di lokasi bapak saja karena kita belum mengenal mereka. Hindari pembayaran cif (cost insurance and freight).
[Balas...]
wahai nilam , kenapa sekarang jadi sepi ?
[Balas...]
Berliana Purba:
February 8th, 2011 | 18:29
@abdurrahman alwani,
Apanya yang sepi Pak? Sudah banyak yang melirik Nilam dan mengusahakannya. Harga Nilam juga sekarang sedang bagus. Pemerintah juga sudah mulai memberi perhatian pada produksi nilam.
Salam
[Balas...]
@ saad:
Pak Saad, Kelompok Tani Nilam di Pakkat mendapat pinjaman dari BRI pak! Dikembalikan setahun, setelah panen kedua. Besar pinjaman Rp5jt per Petani. Yang penting Mesin Penyulingan Nilam sudah siap beroperasi. Saya ada mendengar info ttg adanya hibah dari program pemerintah, saya mau pastikan dulu. Jika benar maka Bapak perlu pastikan Mesin siap beroperasi dan sudah ada kelompok tani binaan. Saya rasa, sambil menunggu bantuan hibah dari pemerintah, kita perlu juga membuktikan bahwa usaha nilam ini menguntungkan banyak orang, dengan memanfaatkan pinjaman BRI yg ada berupa KUR (Kredit Usaha Rakyat) yg bearnya Rp5jt per Petani sebagaimana sy sebutkan di atas. Semoga Sukses!
[Balas...]