Rumah bagi orang Batak, merupakan suatu salah satu cita-cita yang paling di prioritaskan dalam hidupnya. Rumah merupakan sesuatu yang sangat didambakan, agar menjadi tempat bernaung, dikala hujan tidak kehujanan, dikala panas terik tidak kepanasan, dikala malam tidak kedinginan. Menjadi tempat memulai segala aktivitas dan keberangkatan untuk menuju tempat kerja. Baik kerja di kantor, pabrik, toko, dan lain-lain, juga untuk memulai kerja di sawah dan lading. Rumah juga menjadi tempat mengumpulkan segala rejeki yang didapatkan dari pekerjaannya, untuk dinikmati (dihalashon) oleh seluruh anggota keluarga. Rumah merupakan tempat yang selalu dirindukan oleh seluruh anggota keluarga yang ingin segera kembali dari tempat kerja maupun dari perjalanan. Rumah sangat penting arti filosofinya bagi orang Batak. Filosofi makan, filosofi berpakaian, filosofi karakter, filosofi-filosofilain di dalam aspek kehidupan seseorang.
Bagi orang Batak, apabila sudah bisa membangun sebuah rumah untuk tempat keluarga bernaung sangat bersenang hati. Tradisi mendirikan rumah bagi orang Batak, hendaknya diberitahukan kepada tulangnya si Bapak untuk memohon doa restu. Biasanya kalau ada seorang bere yang memberitahukan rencana pembangunan rumah kepada tulang, maka tulang tersebut (saudara laki laki-laki dari ibunya si bapak) akan membantu dalam hal pengadaan kuda-kuda dan atap. Kalau keadaan tulangnya kurang, minimal satu lembar atap harus diberikan. Maka tradisi untuk menaikkan kuda-kuda, Tulang harus berada disana untuk memberikan/membacakan doa. Tidak melihat rumahnya yang bagaimana. Gubuk, darurat, semi permanen, permanen, dan gedung. Maka untuk memulai tinggal di dalam rumah tersebut selalu diadakan acara memasuki.
Acara memasuki rumah bagi orang Batak mempunyai tingkatan sesuai situasi dan kondisi rumah yang akan di tempati.
1. “Manuruk bagas”. Kondisi rumah manuruk adalah rumah yang harus ditempati walau keadaan darurat artinya, rumah tersebut gubuk atau permanen belum sempurna sebagai rumah yang sudah selesai. Acara “manuruk” sangat sederhana dan dihadiri oleh kakak adek. Biasanya rumah darurat, tidak diberitahukan kepada tulang, agar sekali memberitahukan apabila keluarga tersebut sudah punya dana untuk meningkatkan kondisi bangunan.
2. “Mangapi-api I” Kondisi rumah belum 100% selesai. Menunggu selesai, mungkin kondisi belun selesai tersebut, hingga rusak tidak selesai juga. Maka menempati rumah adalah untuk merawat kondisi yang belum selesai tersebut. Biasanya rumah yang tidak ditempati, akan lebih mudah rusak dari pada yang ditempati. Untuk acara dalam mangapi-api I, yang di undang adalah sanak keluarga saja ditambah tukang (pande), dan utusan dari tetua setempat.
3. “Memasuki Jabu” Kondisi rumah 100% selesai dan kondisi bangunan permanen, yang pada saat memulai membangun, dihadiri oleh tulang dari bapak dan berdoa untuk keselamatan pande, dalam mengerjakan pembangunan rumah tersebut hingga selesai. Acara mamasuki, dipanggil Hula-hula, Tulang, memungkinkan juga Tulang rorobot (Tulangni inanta). Tudu-tudu ni sipanganon di padoppak ma tu tulang, rapma dohot hula-hula. Boasa tu tulang?
1. Karena kita menganut sistim patrilinil, dianggap bahwa keadaan kekayaan keluarga. Adalah berkat doa tulang, dan dalam sejarahnya, tulanglah yang menumpangkan tangan ke kepala berenya waktu mendoakannya pada saat memberikan paroppanya. Tidak Jarang terjadi, bahwa silaki ketemu jodoh seorang istri yang berpenghasilan bagus atau mertua yang kaya raya, sehingga banyak dana yang dikeluarkan mertua demi keberhasilan anak mantunya termasuk dalam membangun rumah. Bagi orang Batak, mempunyai keyakinan secara adat bahwa itu juga berkat doa tulang sehingga berenya dapat jodoh yang demikian. Segala bantuan yang diterimakan anak mantu sesungguh adalah Kasih terhadap anak (holong marnianakkon) Diperantauan ini menjadi alas an untuk menhadapkan tudu-tudu ni sipanganon kepada hula-hula sepertinya tidak ada lagi peran tulang dalam hal acara yang demikian.
2. Sian sejarahna, Tulang yang memberikan bahkan merancang bentuk kuda-kuda dan atap rumah yang akan dibangun oleh berenya, dengan keyakinan, adalah doa tulang kepada penghuni rumah tersebut yaitu berenya dan keluarga. Dalam memasuki rumah yang demikian, walaupung pihak tulang memberikan ulos, penghuni rumah tidak diharuskan untuk memberikan situak na tonggi kepada pihak hula-hula atau tulang. Bagi orang Batak Pantang untuk mengeluarkan apapun dari dalam rumah kalau acara, “manuruk, Mangapi-api I, memasuki bagas” dan “Mangoppoi Bagas”.
Mangoppoi bagas, adalah sifat pesta memasuki rumah baru, harus mangaliddakkon na gok. Sifat pestanya adalah horja. Proses mulai membangun sama seperti mamasuki bagas. Semua hula-hula memberikan ulos dan harus dib alas dengan situak na tonggi. Daging tidak boleh namarmiak-miak harus sigagat duhut. Rumah yang dioppoi tidak boleh dijual, dan menjadi pusakko bagi keturunannya.
Catatan: Rumah yang dibeli jadi, tanpa merobah\renovasi sebagian dari rumah, tidak ada acara mamasuki, hanya sebagai pemberitahuan kepada sesama family agar mereka tau alamat kita kemudian.
Dengan mengatahui rumah yang dioppoi, maka kita tidak perlu mangoppoi rumah di perantauan/Jakarta, karena adanya perobahan peruntukan lahan atau ada kemungkinan di gusur.(br)
Oleh : St. Beresman Rambe
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Di kota besar, istilah yang dipakai adalah mangapi-apii bagas, manang partangiangan. Menurut saya ini lebih masuk akal dibanding dengan mamasuhi bagas atau mangoppoi jabu.
Jaman sekarang ini, mangapi-apii jabu pun sudah mengundang tulang.
Saya kurang sependapat dengan hal-hal yang dituliskan di atas, karena banyak yang kurang lengkap. perbedaan mangapi-api i jabu dengan mangoppo jabu tidak terlihat. Menurut saya, setiap selesai membangun sebahagian dari rumah, maka ulaon mangapi-apii jabu bisa saja dilaksanakan. Kondisi sekarang ini memang semua mengacu kesana. Khusus di kota besar. Tak ada rumah yang sudah selesai dibangun. Dan tak ada rumah yang tak boleh di jual. Apa hubunganya?.
Rumah yang sudah di appoi tak boleh di jual. Itu menjadi pusaka keluarga. Horja atau pesta bolon yang dimaksud pada point 3 diatas adalah wajib dilaksanakan dengan mangundang Tulang, tukang, dongan tubu, boru, dan dongan sahuta. Jabu pusaka inilah yang harus diappoi, dan memang pada jamanya dulu, tulang memberikan kerangka atap kepada tuanrumah.
Kondisi saat ini, adalah dimana rumah, kebanyakan sudah jadi dari develover. Maka ketika diadakan renovasi kecil-kecilan, diadakanlah acara partangiangan dengan menguncang TULANG. ( Ingat, di point nomor 2 di atas, mangapi-apii jabu dikatakan tak perlu mengundang tulang, disinilah letak ketidak sepahaman saya).
Seumur hidup hanya sekali dan HANYA satu BAGAS atau JABU yang diappoi, tetapi kalau MANGAPI-APII jabu, setiap rumah yang kita beli, sah-sah saja kita melakukanya. Sepulu rumah kita, maka sepuluh kali kita mangapi-api i jabu.
horas ma
[Balas...]
Mauliate di Amang namanurat ADAT MAMASUHI BAGAS on, martamba tamba angka parbinotoan. Kalo memasuki sebuah rumah, baik milik sendiri maupun rumah kontrakan mungkin yang terpenting berdoa pada Tuhan mengucap syukur terlebih dahulu ya.Horas. MAULIATE
[Balas...]
Molo di halak Batak didok sibaganding tua. Di sude jolma/suku do molo nungnga adong bagasna las rohana dang holan di halak Batak. Songon na disurat muna di ginjang “Catatan: Rumah yang dibeli jadi, tanpa merobah\renovasi sebagian dari rumah, tidak ada acara mamasuki, hanya sebagai pemberitahuan kepada sesama family agar mereka tau alamat kita kemudian” Hurang do dengganna molo ni oloan pandok ni amanta panulis on, olo do panggoraon iba, “imadah baen na naung hasea i ho akke, sip-sip do hamu memasuki bagastai, dangadong adat mu ba ninna akka tutur, na sindia do tahe hutam ? gabe mambaen pertanyaan do molo ni oloan nanidok ni penulis on, ale tole ma songoni pe ni pear do tong.
[Balas...]
Alang bahagianya kalau zaman dulu kembali sekarang dimana Tulang memberikan kerangka Atap Rumah kepada Tuan Rumah … adong kodo Tulangku Mangolu godang nai hami berena leanonna …..Imadah anggo Adat on akke!
[Balas...]
Manuruk bagas, kondisi belum selesai, tukang masih bekerja, tetapi karena keadaan mendesak (habis kontrak dan tidk bisa diperpanjang), maka memasuki yang demikianlah disebut Manuruk Bagas
Mangapi-api i, Rumah belum siap/belum selesai, tetapi fungsi-fungsi komponen sebagai rumah sudah lengkap. Namun karena kekaurangan dana penyelesaianya berhenti dan tukangpun sudah pulang. daripada rusak begitu saja, lebih baik diapi-api i.
[Balas...]
mauliatema di di namanurat namamasuhi jabu……….saotik komentar .adong 2 acara mamasuhi jabu na parjolo.partamiangan .dison sebenarna holan hula hulape pe dohot dongan tubu sahuta boru.nga cukup jala olodo piga piga hali on di ulahon dongan.alai molo didok mangoppoi jabu ulaon nabolon do on ikkon jouon do dison tulang.jala holan sahali doon . ai arti ni namangoppoi jabu.nahuboto….ondo: molo marujung ahu tulang muse sian jabu sibagandingkon ma paborhat…..jadi dang mungkin berulang ulang mangoppoi jabu mauliate
[Balas...]
toho do lae Tampi, sahali do mangoppoi bagas di ngolu ni sahalak jolma, molo tung boi.Alai tajaga sotung sala mangantusi akka dongan. Molo di Jakarta manang kota besar, ndang bio sabotulna mangoppoi ala perobahan Rencana Tata Ruang, kemungkinan bagasta hona gusur. Jadi molo tung dipaborhat tulangna pe sian bagas naso dioppoi, sotung gabe luluan bagas na di oppoi, manang sundat dipaborhat tulangna berena ala so sian bagas na di oppoi.
[Balas...]
Sai songon na maralo tulang Hendry HM Lbn Gaol dohot St. Drs. Beresman Rambe (Op. Ni Si Jonathan So Tarjua Ro Berkat), hape pada prinsipna, sarupa do tujuana. Alai, otik hurang pas Catatan ni St. Drs. Beresman Rambe : Rumah yang dibeli jadi, tanpa merobah\renovasi sebagian dari rumah, tidak ada acara mamasuki, hanya sebagai pemberitahuan kepada sesama family agar mereka tau alamat kita kemudian. Hurang do sumani catatan i. Aha do huroa tujuan mamasuki jabu/bagas di hita halak Batak? Aha beda ni jabu dituhor dung sae, dohot jabu na dipature (dipauli) sandiri? sama-sama memasuki go goarna. Tujuanna: Makkamauliatehon pasu-pasu naung dijalo na pauli jabui jala asa gabe bagas panjaloan tua sian Tuhan do bagasi. Holan peletakan batu pertama (Bhs.Batak=kuda-kuda) do beda ni bagas na dituhor jadi dohot mamungka paulihon bagas na baru. Mangapi-api i sarupa do dohot manimus-nimusi, asa marbinoto akka dongan sahuta, dohot sisolhot, naung mian/maringan di bagas i do parjabui. Dang adong aturan na mandok dang undangon Tulang dohot hula-hula molo mangapi-api i (manimus-nimusi). Holan pardalan ni ulaon i do na beda sian na mamasuki bagas dohot na mangompoi. Molo pinarrohahon akka naung di kota, gabe songon na marasing do dohot adat na pinukka ni na parjolo di huta (bona pasogit).Alai boi mai antusan, ala situasi di kota tarsongon Jakarta beda do dohot situasi di huta. Alai unang ma nian humurang sian prinsip utama, mangapi-apai i (manimus-nimusi), mamasuki bagas, dohot mangompoi. Tujuan utama sude ulaon namamestahon bagas ima, mandok mauliate tu Tuhan dohot mangido pasu-pasu sian Tuhan asa gabe bagas ingan panjaloan tua, hagabeon, hamoraon, dohot hasangapon. Lapatan ni hasangapon di surat on: Marparange na uli maradophon tetangga dohot akka sisolhot.
Mauliate.
[Balas...]