http://hariansib.com/news/wp-content/themes/blue-tech/images/postheaderend.gifPosted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Oktober 15th, 2008
Doloksanggul (SIB)
Tuntutan masyarakat Desa Sion Timur I Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan tentang ganti rugi pohon kemenyan yang ditebang pihak kontraktor PT TPL belum terpenuhi. Padahal sudah tiga kali diadakan pertemuan termasuk di PT TPL Sosor Ladang Porsea.
Demikian disampaikan Camat Parlilitan Drs Elson Sihotang kepada SIB, Senin (13/10) di Doloksanggul ketika dimintai keterangannya tentang hasil pertemuan masyarakat Parlilitan dengan PT TPL. Elson menjelaskan sebanyak 135.450 pohon kemenyan milik 50 warga masyarakat telah ditebang kontraktor PT TPL. Namun sampai 3 kali diadakan pertemuan belum membuahkan hasil. Sehingga masyarakat tetap bertahan supaya PT TPL bersedia membayar ganti rugi. Keterangan masyarakat kepada Camat Parlilitan, lokasi kemenyan itu telah dikuasai sejak ratusan tahun lalu secara turun temurun dan hidup dari kemenyan tersebut. Bahkan kayu alam di lokasi tersebut ikut ditebang. Padahal pesan orangtua terdahulu, pohon tersebut tidak bisa sembarangan ditebang kecuali ada masyarakat setempat mempergunakan untuk keperluan membangun rumah.
Masyarakat Parlilitan tetap menuntut supaya diadakan ganti rugi. Kemudian PT TPL menanam kembali di Lokasi lahan yang telah ditebang PT TPL. Ditentukan batas wilayah PT TPL dengan milik masyarakat karena penebangan pohon itu sudah melewati hutan register. Masyarakat minta kepada PT TPL supaya mengganti rugi pohon kemenyan yang ditebang Rp150.000/batang. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa PT TPL siap menanam kembali dan mengadakan perkebunan percontohan kemenyan. Ir Tagor Manik dari pihak PT TPL pernah mengatakan kepada SIB bahwa penebangan pohon kemenyan itu dilakukan sesuai dengan undang-undang. Kemudian pohon kemenyan yang ditebang adalah kemenyan jalanan artinya tumbuh sendiri. (T10/g)
Komentar via ID Facebook Anda, silahkan Login...:
Sekarang Parlilitan, sebentar lagi Pakkat…….
Bersiap-siaplah….
[Balas...]
Horas….
Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya ketika membaca artikel ini. Pertanyaan akan bermuara pada ‘sesuatu’
1. Siapakah sebenarnya pemilik saham terbesar PT. Toba Pulp Lestari / PT TPL (dulunya bernama PT Inti Indorayon Utama / PT IIU, yang sering dikenal Indorayon dengan segala ‘kehebohannya’).
2. Seandainya di cek aliran dana kas mereka, kepada pejabat siapa sajakah mereka memberi? Kalaupun pengeluaran sengaja dimanipulasi ke pos lain sehingga pos ‘suap’ ini tidak kelihatan, tetap akan bisa diperiksa kemana saja alirannya!
3.Bagaimana dengan MoU sebelum dan sesudah ‘keributan’ terjadi?
Lalu, coba kita lanjutkan…..
Saya coba muat artikel dari hariansuarasumut.com (Mei 2007)
BERHASIL meyakinkan Pemerintah RI dan masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan, bahwa PT Toba Pulp Lestari (TPL) akan memberikan yang terbaik, ternyata tidak menjadi jaminan jika perusahaan tersebut berlaku baik. PT TPL yang dulu bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) ternyata telah berbuat kecurangan, yakni dengan cara memanipulasi pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) kepada Pemerintah RI. Jumlahnya lumayan besar. Untuk pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan dana yang dimanipulasi sebesar Rp 183 juta. Sedangkan Dana Reboisasi mencapai US$ 51 ribu. Hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Penerimaan Bukan Pajak terhadap PSDH di Dinas Kehutanan Sumut, Tapsel, Madina, Tobasa dan Humbang Hasundutan menunjukkan kondisi tersebut.
PT TPL memperoleh Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara No. 522.21/846/IV /2005 tanggal 31 Januari 2005. IUPHHK tersebut mendapat pengesahan Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2005 dengan target produksi sebanyak 1.260.296,96 m3, diantaranya sebayak 485.413,72 m3 berada di Kabupaten Humbang Hasundutan untuk pemanfaatan hutan alam.
Hasil pemeriksaan atas dokumen-dokumen terkait dengan produksi kayu bulat serta pembayaran iuran kehutanan PT TPL Tbk, diketahui realisasi produksi hutan alam PT TPL sebanyak 166.800,05 m3 dan pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) sebesar Rp651.030.130,60 serta DR sebesar US$438.624,56
Dari realisasi produksi hutan alam tersebut, realisasi produksi kayu bulat rimba campuran PT TPL Tbk sebanyak 9.876,35m3. Diantaranya, sebanyak 3.660,74 m3 terdiri dari jenis kayu Medang sebanyak 1.423,13 m3, Simartolu sebanyak 872,19 m3, Kapas-kapas 1.100,86 m3 dan Haundolok 264,56 m3.
Ternyata, hasil pengecekan lebih lanjut atas dokumen kayu tersebut pembayaran PSDH dan DR kayu jenis Medang, Simartolu, Kapas-kapas, dan Haundolok sebanyak sebanyak 3.660,74 m3 dimasukan dalam kelompok rimba campuran.
Kesan manipulasi muncul, mengingat tariff PSDH kelompok rimba campuran hanya Rp30.000/m3 dan DR US$12/m3. Sedangkan seharusnya jenis kayu Medang masuk jenis Meranti dengan tarif PSDH Rp50.000/m3 dan DR US$14/m3.
Hal tersebut terntu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal 50 ayat (3) huruf h menetapkan setiap orang dilarang mengangkut, menguasai atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan.
Pasal 78 ayat (7) menetapkan barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 50 ayat (3) huruf h, diancam dengan pidana penjara paling lama lima (5) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000
Selain itu juga bertentangan dengan Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan No. 163/ Kpts-II/2003 tanggal 26 Mei 2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan. Lampiran keputusan Menhut itu menyatakan, kayu jenis medang dan mayang merupakan kelompok jenis meranti. Lho, jadi bagaimana? (red)
Komentar : Mereka (=PT TPL) berani menipu Pemerintah ! Itu baru yang kelihatan, yang tidak kelihatan mungkin nominalnya besar lagi.
Muncul pertanyaan lagi apakah pemerintah menandatangani berbagai perjanjian yang menguntungkan PT TPL. Kalau ya, berarti ada praktik suap. Kalau tidak kenapa tidak ditindak? Pertanyaan lagi, kok berani ya, siapakah pemiliknya? Lalu, itu pemerintah yang mana? Pusat atau Daerah? Bah, berputar-putar terus masalahnya, ga selesai-selesai. Sementara kayu dibabat terus.
Kesimpulan :
Hepeng do na mangatur daba….accit nai akke….
[Balas...]
Hea do hubege sian orang dalam, adong do biaya CSR sebanyak 1 miliar untuk setiap kabupaten yang berada di sekeliling PT TPL yang diberikan ke Pemporv. Masalahnya juga (masih banyak masalah yang lain), apakah biaya ini diberikan oleh pemprov ke kabupaten yang bersangkutan?
wallahualam
swy
[Balas...]
Accit nai tutu na Merdeka on.
Tatapma hami on Tuhan.
Pamarenta naung pinillit Mi gabe panggomgomi di Tano Indonesia on, boasa loasonMu nasida mamparsuragehon na tinompa Mi?
[Balas...]
Seseorang yang baca ini bilang begini….EGP!!
[Balas...]
Sega sude tombak i, marsik aek i, sega nang dalan dibahen truk na i, bau alogo i molo mamolus hita sian Porsea. Perusahaan ni ise do on?
[Balas...]
jonok do hutanami tu PT TPL on…
selama on tung so adong do keuntungan naboi berengon sian TPL i tu daerah Tobasa khususna,
alana sega dalan dibaen truknai, habis hau gabe marsik matani aek, bauna sumattak,
molo ninna do menambah PAD, busyeet do i sude,
holan di akka pejabat i doi, alai bohama bahenon, nunga berusaha masyarakat menutup, alai dang adong hasil,
alai adongdo sada tahe keuntungan ni perusahaan i ???
ima, dang adongbe api narokkok, alana habis soban na dibuat indorayon (TPL)
hehehehehe….just joke biar tak tegang
peace…..
[Balas...]
Haha…
Hape kilas berita ni SIBOLIS LUCIFER NEWS mandok, api narokko makin panas, ala dang be pakke soban ninna na manutung i.
Pakke BBG na ma, ido asa langka gas nuaeng on. Nungga diborong akka sisean ni Sibolis ala godang ni akka situtungon di BANUA TORU (godang na tamba akka pangisina ninna, mulai sian mantan kades, mantan camat, mantan bupati, mantan gubernur, dohot akka mantan presiden, dna)
Wakakak…
[Balas...]
Hape nang pe godang order BBG, tong do rugi Pertamina…kwa..kwa..kwa..
Bah…hassur kali…
[Balas...]
Takkas takkas dokhon ise “seseorang yang membacca” itu appara Hendry.
Bulung sungkit diallang gajah
Disampur saotik gula sakka
Tung hansit pe na hona jajah
Humansitan na MERDEKA.
Molo penjajah na jolo, murnido mangahut tu ngadol tujuanna. Molo pamarentanta, kesjahteraah rakyat sebesar besarnya do tujuanna (Manusia Seutuhnya)
Alai………….
[Balas...]
na jelas dang au mandokkon i bang,..nang pe dohot au tupertemuan na tolu i….
suanon nama latong di sude humaliang Dolok pinapan bah,…asa unang ro namasa-masa i manabai hau i,…molo dnag latong, sitorngom….
adong bibit ni latong di sakkumi bang???
[Balas...]
Tappang ni Latong Hibrida jenis T.Lx-1 do adong appar, dang sossok i di tano ngali, Hehehehe.
[Balas...]
eah hamu ito na dua sia bariba i nisossot ton ma, latong manang sitorngom i ma ta suan di dolok pinapan i akke satuju do ahu bah …disi
[Balas...]
Agia pe ra batang ni sitorngom manang latong, tong do sossok i mambaen harotas (pulp) jadi tong do sarbutonnai. Tapaimama, ianggo dolok pinapan i, pasudaonna namai……
[Balas...]
Tahun 1988 ( 20 tahun yll), Pak Aji (demikian panggilan beliau) asal Aceh mengatakan di depan kelas saya di STAN:
“… berdasarkan penelitian, hamijon (kemenyan) di Indonesia hanya tumbuh di Tapanuli Utara (taput dulu, mungkin maksudnya lokasinya di HUMBAHAS) dan Irian Jaya (sekarang Papua)……pemerintah telah berusaha meyadarkan pedagang untuk memberikan harga yang pantas kepada petani karena telah diselidiki harga penjualan ke pihak singapur berlipaat-lipat ganda dibanding harga ke petani….”
Beliau dapat mengatakan seperti itu karena beliau (Bapak Aji asal Aceh) menjabat sebagai Staff Ahli Menko Ekuin yang juga diugasi sebagi dosen di STAN untuk “Ekonomi Pembangunan”.
So, 20 tahun kemudian harusnya petani Hamijon di tapanuli harusnya sudah bagaimana? he…..bat!!!
Akan sangat disayangkan kalau malah akan jadi musnah. Tanamlah Hamijon disana.di Pakkat (mis.di Pusuk), Parlilitan, Dolog Sanggul..(Taput dulu).dan Papua….. dan jangan musnahkan….karena ditempat lain gak tumbuh………!!!!
[Balas...]
St. Drs. Beresman Rambe (Op. Ni Si Jonathan So Tarjua Ro Berkat:
December 3rd, 2009 | 15:49
@Berliana Purba, Persoalanna ito br. Purba! bukan soal menanam, tetapi kebun kemenyaan, di daftar si Kaban namabaori sude kobun haminjon bage hutan/ masuk ke HPHnya PT. TPL. Sehingga PT. TPL dengan leluasa menebangi pohon kemenyaan untuk dijadikan PULp. Pada hal, kebun kemenyaan tersebut sudah di kuasai oleh para orang tua kita jauh sebelun negara ini ada (merdeka.red) dan kebun kemenyaan itu seingat saya dikontrol oleh Raja Huta agar tidak merambah ke tebing pengunungan layaknya wilayah pegunungan yang dilindungi, Jadi hanya dilereng pegunungan saja, Apakah si Kaban namabaor i tidak melihat penataan ruang daerah pegunungan yang dilakukan oleh para orang tua kita ? Kenapa para Pejabat Daerah membiarkan atau tidak mengontrol luas HPHnya PT. TPL? Mencakup hutan mana saja yang menjadi areal kerjanya? itu yang perlu diperjelas. Tulang Henry Juga lalai dalam hal ini kalau ada kesempatan seperti itu.
[Balas...]
Bagaimana cara tanamnya ito berliana, sude tombak i nunga di registrasi pamarenta.
[Balas...]
Bah tahe!!! Dang diboto ra?? Adong ma nian songon tim ni Pak Aji ate? Asa khsusus hamijon on dipelihara na adong ditanom muse tambahan.
[Balas...]
Boha molo ta bahen ma tim na baru ito, asa tasuani tombak naung pinasuda di pamarenta marhita hite TPL i.
Molo tohodo na nidok ni ito nangkinan i arga do hape haminjon i, asa tapadenggan tataniagana i.
Mauliate.
[Balas...]
Denggan mai ito! Ta pa sahat ma anon to FIP asa ditambah project hamijon sbg salah satu program asa lancar sude. Sabotulna godang do investor na melirik tu potensi ni hutata. To nilam ga adong na menyediahon 100M alai ikon di Fiseability Study ma jo ninna. Ai na godang an hepeng ni halak i di luar an.
Ba na penting sonari ikkon tasadari namamora sambing do hutta ta i!!
[Balas...]
Denggan mai ito! Ta pa sahat ma anon to FIP asa ditambah project hamijon sbg salah satu program asa lancar sude. Sabotulna godang do investor na melirik tu potensi ni hutata. To nilam nga adong na menyediahon 100M alai ikon di Feseability Study ma jo ninna. Ai na godang an hepeng ni halak i di luar an asal ma adong project na denggan tor ro do i.
Bah na penting sonari ikkon tasadari namamora sambing do hutta ta i!!
Horas!!
[Balas...]
Adong do guruktu tikki i,guru sejarah tikki SMA mandok, ianggo haminjon on, holon di tapanuli do adong on. dang adong diluat naasing. Jadi najolo, lomo do roha ni putri firaun sian mesir manganggo asap ni haminjon on, gabe terkenal ma barus ala ni on, ai holan sian barus do boi didapot halaki haminjon on. Tentu saja, par-barus pe manuhor sian pedalaman tapanuli do. Di Kitab Suci PB pe adong do didok, tiga raja dari timur yang mencari bayi Yesus membawa emas, mur dan kemenyan. Kemungkinan kemenyan ini juga asalnya dari tapanuli, huta ni bangsoi. Kemudian haminjon ini menjadi sangat mahal, bahkan lebih mahal dari harga emas. Kota Pakkat yang menjadi persinggahan para pedagang dari dari barus dan pedalaman tapanuli menjadi kota transit dan dihuni banyak pedagang bangsa cina. Kota Pakkat menjadi salah satu nadi penggerak ekonomi di Tapanuli dan daerah pesisir.
Banyangan kota Pakkat menjadi kota yang akan cukup maju, musnah seketika!!!! Mengapa????
Jerman, sebagai sebuah negara yang baru berubah menjadi negara industri membangun sebuah perusahaan pembuat pewangi-wangian tanpa membutuhkan kemenyan sebagai bahan dasarnya. Harga kemenyan jatuh drastis sampai merosot jauh kebawah. sampai akhirnya sekarang ini kemenyan hanya dipakai sebagai bahan untuk obat-obatan atau sebagai salah satu alat untuk perayaan ibadah dari satu agama tertentu. Walaupun begitu harga kemenyan masih cukup tinggi apabila dibandingkan dengan hasil tanaman yang lain.
Semoga tapanuli, kelak tetap bisa manjadi penghasil kemenyan yang bisa memakmurkan masyarakatnya.
Horas.
swy
[Balas...]
Horas PAKKAT nimmu ma !
[Balas...]
Alai dang mungkin na salah manaba par PT. TPL i kan? Manang na di paula-ula dang diboto do?? Didia do akka wakil rakyat i? Dohot do mambela masyarakat? Tong do dipaula-ula dang diboto..wakakak….
[Balas...]
Horas…
Perjuangan sebagian masyarakat Batak Toba seperti tak pernah berhenti atas makin gundulnya tanah leluhur, penyerobotan kepemilikan tanah, serta pencemaran lingkungan. Jatuhnya korban jiwa menambah catatan hitam di Porsea, Sumatera Utara. Izin operasi dari pemerintah untuk pabrik pulp PT Indorayon—kini Toba Pulp Lestari—dituding sebagai biang bencana.
Namun kini pendapat masyarakat mulai terbelah, sebagian mendukung kebijakan dan sebagian yang lain menolaknya, sehingga tiga pilar kehidupan masyarakat Batak, dalihan na tolu, pun retak, ibarat selembar ulos yang mulai sobek di sana-sini. Mengapa mereka begitu gigih berjuang? Dan apa saja harga yang harus dibayar untuk perlawanan itu?
Bila arah jarum jam diputar ulang, pabrik itu banyak memendam cerita bagaimana pemerintahan Soeharto memberikan banyak kemudahan kepada konglomerat kelas kakap. Birokrasi sudah memberikan stempel “lulus” studi kelayakan lingkungan. Semua surat izin pemerintah dari pusat sampai daerah sudah pula dikantongi. Tapi Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim menolak. Emil didukung pakar ekologi Otto Soemarwoto dan kelompok aktivis lingkungan hidup. Kepala Otorita Asahan waktu itu, A.R. Soehoed, yang mengelola proyek pembangkit listrik Bendungan Asahan, dan pabrik pengolahan aluminium joint venture dengan Jepang, yakni PT Inalum, juga mendukung Emil. Indorayon diduga kuat akan mencemari Asahan, mengganggu produksi Inalum, dan bisa merusak PLTA Asahan. Tapi si empunya kuasa, Soeharto, punya keputusan lain. Indorayon boleh terus, dengan beberapa perbaikan proposal. (Tempo, 5 Juli 2004)
Info tentang PT. TPL (Sinar Harapan setahun yang lalu)…”Para Pemilik Saham PT. TPL”
Pinnacle Akan Beli Toba Pulp Lestari
Jakarta-PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL), perusahaan bubur kertas yang dahulunya bernama PT Inti Indorayon Utama milik konglomerat Sukanto Tanoto, saat ini diincar Pinnacle Limited, sebuah perusahaan investasi asal Kepulauan Seycheles.
Pinnacle merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Republik Seychelles, sebuah negara kepulauan di tengah Samudra Hindia. Negara ini bertetangga dengan Mauritius, Komoro, dan Maladewa. Pinnacle berencana mengakuisisi seluruh saham TPL sebanyak 1.260.420.864 lembar saham dengan harga Rp 500 per saham, setara Rp 630,2 miliar.
“Rencana akuisisi itu memang benar. Pinnacle juga ingin membeli pada harga Rp 500 per saham. Sebagai manajemen, kami siap bekerja sama dengan siapa pun pemilik TPL nantinya,” kata Direktur TPL, Firman Mulia Nauli yang dihubungi SH, Sabtu (20/10).
Lebih lanjut, Nauli menyatakan bahwa pihaknya menerima surat penawaran dari Pinnacle yang berniat membeli saham TPL dari seluruh pemegang saham yang ada saat ini. “Semuanya ditawari Pinnacle,” kata Nauli.
Sebagai informasi, TPL saat ini sahamnya dimiliki Stearn Capital Ltd-Mauritius (31,67 %), Gold Forest Holding Ltd (16,46 %), Stearn Capital Ltd-Virgin Island (11,79 %), Allenby Trading Ltd (9,22 %), dan publik sebesar 3,86 %. (dik/ant)
“Apa daya, Sukanto Tanoto adalah pemilik kelompok usaha RGM (Raja Garuda Mas). Dia adalah orang terkaya yang dinobatkan oleh majalah Forbes Edisi September 2006. Jadi perlawanan pada waktu itu, seperti semut melawan gajah.
Pernah pula dia diseret ke Pengadilan atas tuduhan Pembalakan Liar. Apa daya lagi, dia berhasil ‘lolos’ (atau diloloskan?). Sampai sekarang, pria kelahiran Belawan tahun 1949 itu, tak tahu dimana rimbanya.
Uang memang lebih menggoda, kawan…..Mata hati sudah buta, harga diri dan budaya telah tergadai, demi uang.
Lalu…..selama PT. TPL ada di Toba, cepat atau lambat semuanya akan habis……”
Seorang yang baru keluar dari lapo di seberang sawah berjalan sempoyongan, di kegelapan malam desa Patane 1, Sosor Ladang berguman, Kami tetap tidak menginginkan kehadiran PT TPL….
Horas
[Balas...]
Bah! ito swy, patut ma sibong ni oppung na jolo na balga2, sabalga kaleng permen pagoda. Tong do namboruku pake sibong songoni. Na diboan do i sian luar an hape (mungkin sian mesir mai ate?). Hea do di majalah hujaha di kalimantan adeng na marsibong songoni. Ai dang hea diproduksi songoni i di indonesia.
Jadi memang nga sian na jolo hian maju Pakkat. Nga go internasional kodo!!
[Balas...]
Aha do tindakan pencegahan na boi ta ulahon untuk isu perusakan lingkungan na nibaen ni PT. TPL alias Indorayon on?
Asa unang hita bage Pahlawan Kesiangan, alai tepat guna mengenai sasaran secara perlahan namun pasti. Memang dang di daerahta lokasi ni pabrik i, alai dampak annon tu sude wilayah do i.
Mari kita mencoba mencegah, daripada menyesal di kemudian hari.
Horas
[Balas...]
Hatorangan na di ginjang i, 135.450 pohon kemenyan milik 50 warga masyarakat telah ditebang kontraktor PT TPL.
Pandok ni kontraktor i, haminjon jalangan (liar) do ninna na ditabai i. Molo na huboto, dang pola songon i godang ni haminjon jalangan, sada sada do i, timbo jala balga balga, olo do sampe sampulu polang i (10x2m = 20 meter) timbona.
Maksudhu, pittor di photo ma bona ni haminjon naung di tabai i, dibahen ma hatorangan na so haminjon jalangan do i, alai masyarakat i do manuan i. Molo tungpe haminjon jalangan i, ala naung di usahai, dang boi sembarangan nasida manaba i.
135.450 pohon hali saparopat kilo sataon, mungkin menghasilkan dope haminjon i 30 taon nai, jadi tuntutan tu TPL = 135.450 x .5kg x rp100.000 x 30taon = 2.031.750.000.000 (dua triliun tolupulusada miliar pituratus limapulu juta rupiah. On ma si tuntuton tu TPL. Tamba uang tarsonggot, ai tarsonggot do penduduk i, burju rohana lao manigi diboan bakkul dohot talipolang, hape nunga hona tabaan haminjonna, tamba muse angka na asing. Minimal 3 triliun situntuton on.
Mauliate.
[Balas...]
Horas…
Setelah saya melihat AD/ART FIP, saya tidak melanggar apabila mencoba membuat ‘tulisan’ ini. Saya juga mencoba mempelajari permasalahan yang ditimbulkan oleh PT TPL ini.
Dengan rendah hati, saya mencoba membuat wacana tuntutan terhadap PT TPL ini. Saya juga mengajak semua saudara sekalian, dari tempat, lingkungan dan komunitas anda masing-masing agar menyuarakannya dengan cara anda.
Tuntutannya adalah :
1. Menghentikan Aktivitas PT TPL di seluruh Hutan Lindung di Sumatera Utara, dengan perhatian khusus di Hutan Lindung Sitonggi-tonggi Register 41 Hutagalung dan di DTA Danau Toba sekarang juga, dan untuk Selama-lamanya !
2. Menutup PT TPL di bumi Samosir sekarang juga dan untuk selama-lamanya !
3. Mengusut tuntas alih fungsi Hutan Lindung di Sumatera Utara, dengan perhatian khusus Hutan Lindung Sitonggi-tonggi yang menjadi HPHTI PT TPL !
“Mari kita suarakan terus !
Mari selamatkan hutan-hutan di Sumatera Utara !
Mari selamatkan Danau Toba !
Mari selamatkan Lingkungan kita !”
HORAS
[Balas...]
Bah….gabe lam tajom piso on ateh….ise maggarut on…ula-ula ni se naeng on akke
[Balas...]
Horas Appara,
Dang biasa au diTUNGGANGI bah, molo MANUNGGANGI sering…hehehe
Horas
[Balas...]
Ai na lupa do nasida naeng tu ende ” JANGAN SAMPAI 3 X ” ?,
Bah!!, molo dilanggar do i, berarti ikkon do botoonna tong lagu ” KU CARI JALAN TERBAIK “.
hehehehehe,…….. SAPOT !!
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
[Balas...]
horas
parmasalahan PT indorayon (saonari gabe berobah nama Toba Pulp Lestari) holan akkal2an ate!!
naujui molo dang sala au taon 2004, hea do au dohot team sian KLH inspeksi tu son jala marjanji halak on naeng padengganhon/ konsen tu dampak na di timbulhon ni kegiatan niperusahaan on. alai selanjutna dang huikuti be perkembanganna, ai songon dia rupana saonari perkembanganna………….
Horas
GBU
[Balas...]